Di Hari Ulang Tahunku Yang Ke-23, Kekasihku Rizky Malah Menyuapkan Udang Balado Pertama Kepada Indah Sahabat Masa Kecilnya Dan Membiarkan Gaun Batik Putih Kesayanganku Tersiram Soda Pekat Tanpa Rasa Bersalah Sedikit Pun Sebelum Pengkhianatan Terkejam Mereka Terbongkar!

Tubuhku membeku seketika. Jantungku seakan berhenti berdetak, meninggalkan rasa dingin yang jauh lebih menusuk daripada soda yang tadi membasahi gaunku.

Rp800 juta.

Saham PT Surya Nusantara Batik.

Namaku.

Nama Indah.

Dan suara laki-laki yang selama tiga tahun kupanggil kekasih sedang membicarakan masa depanku seolah aku hanyalah dompet berjalan yang terlalu bodoh untuk menyadari sedang dirampok.

Aku menutup mulut dengan kedua tangan agar isak yang hampir pecah tidak terdengar dari luar kamar.

Indah terkikik pelan.

“Kamu benar-benar yakin dia tidak akan curiga?”

“Putri?” Rizky tertawa pendek. “Dia bahkan masih percaya aku sibuk lembur setiap kali kita pergi berdua. Selama aku bilang sayang dan minta maaf sedikit, dia pasti luluh.”

Darahku mendidih.

Jadi selama ini bukan hanya perasaanku yang dikhianati.

Semua lembur itu.

Semua perjalanan dinas mendadak.

Semua malam ketika pesan WhatsApp-ku hanya dibaca tanpa balasan.

Ternyata ada Indah di belakangnya.

Aku meraih ponsel, menyalakan perekam suara, lalu meletakkannya sedekat mungkin dengan celah bawah pintu.

“Aku cuma khawatir soal uang warisan itu,” kata Indah. “Kalau dia mengecek rekeningnya bagaimana?”

“Dia jarang buka rekening warisan. Lagipula akses mobile banking-nya pernah tersimpan di laptopku. Aku cuma memindahkannya bertahap lewat rekening penampung. Sudah aman.”

Aku hampir kehilangan keseimbangan.

Laptopku.

Enam bulan lalu Rizky pernah meminjamnya dengan alasan laptop kantornya rusak. Saat itu aku bahkan memberikan kata sandiku sendiri.

Betapa bodohnya aku.

Namun sesaat kemudian, rasa sakit itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tenang.

Kemarahan.

Aku mengusap air mata sampai kering.

Kalau mereka menganggapku bodoh, malam ini aku akan membiarkan mereka terus percaya.

Aku mengganti gaun peninggalan Bapak dengan kaus longgar dan celana panjang. Gaun putih itu kulipat hati-hati lalu kumasukkan ke tas. Noda hitam dan merah memenuhi bagian bawahnya, tetapi entah mengapa aku tidak lagi merasa ingin menangis.

Sebelum keluar kamar, aku mengirim pesan kepada Siti.

Besok pagi temani aku ke bank dan kantor pengacara. Jangan tanya dulu. Ini serius.

Jawabannya datang kurang dari sepuluh detik.

Aku datang jam tujuh. Apa pun yang terjadi, kamu tidak sendirian.

Aku membuka pintu.

Rizky dan Indah langsung menoleh.

“Nah, sudah baikan?” Rizky tersenyum seolah lima menit lalu dia tidak sedang merencanakan pencurian seluruh hidupku.

Aku memaksakan senyum.

“Maaf tadi aku sensitif. Mungkin benar, aku cuma kecapekan.”

Wajah Indah langsung terlihat lega.

Rizky berdiri lalu merangkul bahuku.

“Begitu dong. Aku tahu kamu paling pengertian.”

Tubuhku ingin menolak sentuhannya, tetapi kutahan.

Aku bahkan menyandarkan kepala sebentar ke bahunya.

“Besok jadi makan malam lagi?”

Mata Rizky berbinar.

“Jadi. Aku sudah reservasi tempat bagus. Ada sesuatu yang penting juga yang harus kita bicarakan.”

Aku tersenyum.

“Aku juga punya kejutan.”

Dia mengecup keningku.

Aku hampir muntah.

Pagi berikutnya, pukul tujuh tepat, Siti sudah menunggu di lobi apartemenku dengan rambut masih setengah basah dan wajah tanpa riasan.

Begitu aku memutar rekaman semalam, wajahnya berubah pucat.

“Putri, ini bukan selingkuh lagi. Ini kriminal.”

“Aku tahu.”

“Kita ke polisi sekarang.”

“Belum.”

Siti menatapku tidak percaya.

“Aku butuh bukti yang lebih kuat. Kalau aku menyerang sekarang, mereka bisa menghapus semuanya.”

Kami pergi ke bank tempat rekening warisan Bapak disimpan.

Setelah proses verifikasi yang panjang, petugas menunjukkan riwayat transaksi yang membuat tanganku dingin.

Selama lima bulan terakhir, uang keluar sedikit demi sedikit ke empat rekening berbeda.

Rp45 juta.

Rp70 juta.

Rp120 juta.

Rp185 juta.

Totalnya hampir Rp800 juta.

Semua rekening penerima terhubung pada satu nama perusahaan kecil yang belum pernah kudengar sebelumnya, PT Indah Kreasi Bersama.

Direkturnya adalah Indah Larasati.

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Siti meremas tanganku.

“Masih mau menunggu?”

Aku menarik napas panjang.

“Sekarang kita ke pengacara perusahaan.”

PT Surya Nusantara Batik bukan sekadar perusahaan.

Itu warisan terakhir Bapak.

Beliau membangunnya dari toko kain kecil di Solo sampai memiliki jaringan butik di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta. Setelah beliau meninggal karena serangan jantung dua tahun lalu, sebagian besar saham diberikan kepadaku.

Aku memang tidak terlibat langsung dalam operasional karena masih bekerja di bidang pemasaran digital, tetapi secara hukum aku memegang empat puluh enam persen saham perusahaan.

Rizky tahu itu.

Ternyata justru itulah alasan dia bertahan.

Pak Adrian, pengacara perusahaan yang sudah bekerja bersama Bapak sejak aku masih SMA, mendengarkan rekaman dengan rahang mengeras.

“Putri, apakah Rizky pernah memiliki surat kuasa atas rekening atau saham kamu?”

“Tidak pernah.”

“Pernah menandatangani dokumen kosong?”

Aku berpikir sejenak.

“Sekitar tiga bulan lalu. Dia bilang itu formulir asuransi perjalanan.”

Pak Adrian menutup matanya sebentar.

“Mulai sekarang jangan tanda tangan apa pun yang dia berikan.”

Aku tersenyum hambar.

“Justru saya ingin menandatangani sesuatu malam ini.”

Siti menatapku bingung.

Aku menjelaskan rencanaku.

Malam itu Rizky membawaku ke sebuah restoran rooftop di kawasan SCBD. Lampu-lampu gedung Jakarta berkilauan di belakangnya. Meja kami dihiasi bunga putih dan lilin kecil.

Indah tidak terlihat.

Rizky mengenakan kemeja terbaiknya dan jam tangan yang pernah kubelikan sebagai hadiah ulang tahunnya.

Ironis sekali.

“Kamu cantik,” katanya.

“Terima kasih.”

Setelah hidangan utama selesai, dia mengeluarkan map hitam dari tas kulitnya.

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Apa itu?”

Dia tersenyum lembut.

“Aku sedang menyiapkan rencana masa depan kita.”

Rizky membuka beberapa lembar dokumen.

“Aku kepikiran kalau aset perusahaan kamu sebaiknya direstrukturisasi dulu. Ini demi pajak dan keamanan. Kamu tinggal tanda tangan beberapa bagian. Aku sudah konsultasi dengan orang yang mengerti.”

Aku membaca halaman pertama.

Benar.

Dokumen pengalihan hak saham.

Penerima manfaat akhirnya adalah perusahaan milik Indah.

Aku mengangkat wajah.

“Kalau aku tanda tangan, semuanya akan lebih aman?”

“Jauh lebih aman.”

“Dan kamu sudah baca semuanya?”

“Tentu.”

Aku mengangguk perlahan.

“Kalau begitu aku percaya.”

Tangan Rizky hampir tidak mampu menyembunyikan kegembiraannya saat menyerahkan pena.

Aku menandatangani halaman terakhir.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Rizky langsung menutup map sebelum aku sempat melihat lebih lama.

“Terima kasih sudah percaya sama aku.”

Aku tersenyum.

“Sama-sama.”

Ponselnya bergetar di atas meja.

Nama Indah muncul sesaat sebelum Rizky membalikkan layar.

Aku pura-pura tidak melihat.

Lima belas menit kemudian kami meninggalkan restoran. Di area parkir, Rizky memelukku erat.

“Aku sayang kamu, Putri.”

Untuk pertama kalinya aku mampu menjawab tanpa merasakan apa pun.

“Aku juga pernah sangat menyayangimu.”

Dia mengernyit.

“Pernah?”

Aku hanya tersenyum.

“Selamat malam, Rizky.”

Aku naik taksi dan tidak menoleh lagi.

Keesokan paginya aku sudah berada di Bandara Soekarno Hatta bersama Siti.

Dua koper berdiri di sampingku.

Satu koper berisi pakaian.

Satu lagi berisi beberapa benda peninggalan Bapak, termasuk gaun batik putih yang sudah kubersihkan sebisanya.

“Masih belum bilang soal Singapura?” tanya Siti.

“Tidak.”

“Dia bakal gila.”

Aku melihat pesawat yang bergerak perlahan di balik kaca terminal.

“Biarkan.”

Tepat sebelum boarding, ponselku berdering.

Rizky.

Aku mematikannya.

Dua menit kemudian dia menelepon lagi.

Lalu lagi.

Kemudian pesan-pesan masuk bertubi-tubi.

Putri, kamu di mana?

Kenapa apartemenmu kosong?

Angkat telepon.

Ini tidak lucu.

Aku memasukkan ponsel ke tas dan berjalan menuju gerbang keberangkatan.

Yang tidak diketahui Rizky adalah dokumen yang kutandatangani semalam bukan dokumen asli.

Pak Adrian sudah menggantinya sebelum pertemuan melalui seorang staf notaris yang bekerja sama dengan restoran tersebut.

Dokumen itu adalah surat pernyataan yang mencatat bahwa Rizky mengaku telah membaca dan memahami seluruh dokumen transaksi yang dibawanya sendiri, serta menyatakan bahwa semua informasi yang diberikan berasal darinya.

Tanda tanganku tidak mengalihkan satu lembar saham pun.

Sebaliknya, dokumen itu memperkuat bukti bahwa dialah pihak yang secara aktif mencoba melakukan pengalihan.

Tiga hari setelah aku tiba di Singapura, Pak Adrian menghubungiku lewat panggilan video.

“Polisi sudah menerima laporan. Bank membekukan rekening yang terkait. Sebagian besar dana masih bisa ditelusuri.”

Aku menutup mata dengan lega.

“Indah?”

“Sudah diperiksa. Dan ada hal lain yang mungkin akan mengejutkan kamu.”

“Apa?”

“Perusahaan milik Indah ternyata dibentuk menggunakan dana yang berasal dari rekening Rizky juga. Tetapi rekening Rizky memiliki banyak transfer dari orang lain.”

Aku mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

“Sepertinya kamu bukan korban pertama.”

Penyelidikan kemudian membuka sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan.

Selama hampir empat tahun, Rizky telah mendekati beberapa perempuan dengan latar belakang keluarga berada. Hubungannya tidak selalu berlangsung lama, tetapi polanya sama.

Membangun kepercayaan.

Meminjam akses akun.

Mengaku membutuhkan dana usaha.

Kemudian menghilang setelah memperoleh uang.

Aku adalah target terbesarnya.

Yang lebih mengejutkan, Indah ternyata bukan sahabat masa kecilnya.

Mereka memang pernah bersekolah di kota yang sama, tetapi baru benar-benar dekat empat tahun terakhir.

Mereka adalah pasangan.

Pasangan sungguhan.

Aku hanyalah bagian dari rencana mereka.

Ketika mendengar itu, aku tidak menangis.

Anehnya, justru terasa seperti bagian terakhir dari teka-teki akhirnya jatuh ke tempatnya.

Enam bulan kemudian aku pulang ke Jakarta untuk menghadiri proses hukum sekaligus rapat pemegang saham perusahaan.

Rizky terlihat jauh berbeda.

Tidak ada lagi rambut rapi, kemeja mahal, atau senyum percaya diri. Wajahnya kurus dan matanya cekung.

Saat kami berpapasan di lorong gedung pengadilan, dia memanggilku.

“Putri.”

Aku berhenti.

Petugas berdiri beberapa langkah darinya.

“Aku cuma mau bicara sebentar.”

Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Apa?”

Dia menelan ludah.

“Aku salah.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

“Tiga tahun, Rizky. Kamu punya seribu kesempatan untuk berhenti.”

“Aku benar-benar pernah sayang sama kamu.”

Kalimat itu justru terasa paling menyakitkan.

Bukan karena aku mempercayainya.

Melainkan karena dulu aku mungkin akan mempercayainya.

Aku menggeleng perlahan.

“Orang yang mencintai seseorang tidak menghitung berapa banyak uang yang bisa dia curi darinya.”

Dia menunduk.

“Indah yang pertama kali punya ide itu.”

Aku tersenyum tipis.

Bahkan di saat terakhir, dia masih mencari orang lain untuk disalahkan.

“Bukan Indah yang meminjam laptopku. Bukan Indah yang tidur di sampingku sambil mengatakan akan menjagaku seumur hidup. Bukan Indah yang memanggil ibuku dan meyakinkannya bahwa aku aman bersamamu.”

Rizky tidak mampu menjawab.

Aku melangkah pergi.

“Putri.”

Aku berhenti sekali lagi.

“Selamat ulang tahun yang terlambat.”

Aku menoleh.

“Aku justru harus berterima kasih.”

Dia menatapku bingung.

“Karena kalau malam itu kamu memberikan udang pertama itu kepadaku, kalau gelas soda itu tidak jatuh, mungkin aku tidak akan masuk ke kamar. Dan kalau aku tidak masuk ke kamar, aku mungkin tidak pernah mendengar percakapan kalian.”

Wajahnya membeku.

Aku tersenyum untuk terakhir kalinya.

“Kadang kehancuran kecil menyelamatkan kita dari kehancuran yang jauh lebih besar.”

Setahun kemudian, aku berdiri di sebuah ruang pamer kecil di Singapura.

Di tengah ruangan tergantung sebuah gaun batik putih.

Gaun peninggalan Bapak.

Noda soda dan balado pada bagian bawahnya tidak pernah benar-benar hilang. Aku sengaja meminta penjahit untuk tidak menutupinya. Sebagai gantinya, bagian yang rusak disulam dengan benang emas membentuk bunga-bunga kecil yang tumbuh dari noda tersebut.

Di samping gaun itu terpasang sebuah kartu sederhana.

Bukan semua noda harus dihapus. Ada yang perlu kita simpan agar kita ingat bahwa kita pernah terluka, lalu memilih untuk tumbuh.

Aku menatapnya lama.

Dulu aku mengira malam ulang tahunku yang ke-23 adalah hari ketika hidupku dihancurkan.

Ternyata aku salah.

Itulah malam ketika hidupku akhirnya dikembalikan kepadaku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang