Rendra Wijaya tidak langsung marah ketika membaca laporan medis di layar ponsel Dokter Farid.
Dia justru diam.
Diam yang begitu panjang sampai aku bisa mendengar suara pendingin ruangan berdengung di sudut ruang pemeriksaan.
Tatapannya berpindah dari layar ponsel ke benda hitam kecil di dalam wadah plastik, lalu ke arah Mira.
“Jelaskan.”
Hanya satu kata.

Namun wajah Mira langsung pucat.
“Mas, ini pasti salah paham.”
“Jelaskan.”
Nada Rendra tidak berubah.
Mira menarik napas.
“Dokumen lama bisa saja keliru. Raka sudah diperiksa berkali-kali setelah itu. Semua hasilnya menunjukkan gangguan pendengaran berat.”
Dokter Farid mengangkat kepala.
“Saya belum mengatakan bahwa Raka memiliki pendengaran normal.”
Mira menoleh kepadanya.
“Tapi Anda membuat seolah-olah keluarga kami menyembunyikan sesuatu.”
“Saya hanya membaca catatan medis.”
Dokter Farid memperbesar dokumen di layar.
“Pada usia sebelas bulan, Raka menjalani pemeriksaan respons batang otak dan otoacoustic emission. Telinga kirinya memang menunjukkan gangguan sangat berat. Tapi telinga kanan masih memiliki respons.”
Rendra menatap layar lebih dekat.
“Seberapa besar?”
“Cukup untuk ditindaklanjuti dengan evaluasi dan kemungkinan alat bantu dengar.”
Mira langsung menyela.
“Itu tujuh tahun lalu.”
“Benar.”
Dokter Farid menatapnya.
“Dan benda yang baru saja kami keluarkan dari telinga kanan Raka tampaknya berasal dari earmold lama.”
Aku merasa tengkukku merinding.
Rendra menatap adiknya.
“Raka pernah memakai alat bantu dengar?”
Mira tidak menjawab.
Rendra mengulang pertanyaan itu, lebih pelan.
“Raka pernah memakai alat bantu dengar?”
Mira memejamkan mata.
“Sebentar.”
Rendra membeku.
“Sebentar itu berapa lama?”
“Beberapa minggu.”
Rendra seperti kehilangan kemampuan bicara.
Aku berdiri dekat Raka. Anak itu menatap satu per satu wajah orang dewasa di ruangan tanpa memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi.
Tangannya meraih ujung bajuku.
Aku menggenggamnya.
Rendra melangkah mendekati Mira.
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
Mira menatapnya tajam.
“Karena waktu itu hidupmu berantakan.”
“Itu bukan jawaban.”
“Karena kamu hampir tidak pernah ada di rumah.”
“Bukan jawaban.”
Suara Rendra mulai meninggi.
“Karena Laras tidak ingin kamu tahu!”
Nama itu membuat suasana berubah.
Laras.
Ibu Raka.
Perempuan yang meninggal ketika Raka berusia dua tahun.
Sejak aku bekerja di rumah Wijaya, namanya hampir tidak pernah disebut.
Foto-fotonya pun hanya ada beberapa.
Rendra menatap Mira seolah baru saja ditampar.
“Apa hubungannya Laras?”
Mira tertawa pendek, pahit.
“Kamu sungguh tidak tahu apa-apa tentang rumahmu sendiri waktu itu.”
Rendra mengepalkan tangan.
Dokter Farid segera berkata, “Pak, saya rasa percakapan keluarga sebaiknya dilakukan setelah kondisi Raka diperiksa lebih lengkap.”
Rendra memejamkan mata beberapa detik.
Ketika membukanya, dia kembali menjadi lelaki yang dingin dan terkendali.
“Periksa anak saya.”
Malam itu Raka menjalani beberapa tes awal.
Hasilnya belum cukup untuk menentukan kemampuan pendengarannya secara pasti, tetapi satu hal mulai terlihat jelas.
Raka dapat merespons beberapa frekuensi suara melalui telinga kanan.
Tidak sempurna.
Tidak selalu.
Namun nyata.
Aku melihat sendiri ketika dokter mengetuk alat kecil di belakang tubuhnya.
Raka menoleh.
Ketika suara bernada tinggi diperdengarkan, alisnya berkerut.
Ketika suara rendah dimainkan, dia terlambat bereaksi, tetapi tetap bereaksi.
Rendra duduk di sudut ruangan sambil menutup mulut dengan tangan.
Untuk pertama kalinya aku melihat lelaki yang selama ini dikenal sebagai pengusaha keras kepala itu tampak benar-benar rapuh.
Setelah pemeriksaan selesai, kami pulang menjelang tengah malam.
Tidak ada seorang pun berbicara di mobil.
Bu Mira naik mobil lain.
Begitu kami sampai di rumah, Rendra meminta aku membawa Raka ke kamar.
Namun Raka menolak.
Dia menggenggam tangan ayahnya.
Rendra menunduk.
Raka membuat gerakan bahasa isyarat.
“Ayah marah?”
Rendra terdiam.
Kemudian dia menjawab dengan bahasa isyarat yang kaku.
“Tidak.”
Raka menunjuk telinganya.
“Aku dengar.”
Rendra menelan ludah.
“Apa?”
Raka mengulangi.
“Aku dengar.”
Kemudian dia menunjuk ke arah Rendra.
“Suara Ayah.”
Wajah Rendra berubah.
Aku belum pernah melihat seseorang mencoba menahan tangis sekeras itu.
Dia berlutut di depan anaknya.
“Sejak kapan?”
Raka terlihat bingung.
Dia tidak memahami semua kata.
Aku membantu dengan gerakan sederhana.
“Sejak kapan Raka dengar suara?”
Raka berpikir cukup lama.
Lalu dia menunjuk telinganya, kemudian membuat gerakan kecil seperti seseorang mengetuk pintu.
“Kadang.”
“Kadang ada suara?”
Dia mengangguk.
Kemudian menunjuk ke luar kamar.
“Pintu.”
Dia menunjukkan gerakan seperti bunyi ledakan.
“Duk.”
Lalu menunjuk dapur.
“Mesin.”
Blender.
Tanganku dingin.
Semua reaksi yang selama ini kulihat ternyata bukan kebetulan.
Rendra memalingkan wajah.
“Ayu.”
“Ya, Pak?”
“Besok pagi ikut saya.”
Aku tidak bertanya ke mana.
Pukul delapan pagi kami berangkat menuju sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.
Bukan hanya satu dokter yang memeriksa Raka.
Ada dokter THT, audiolog, dan dokter anak.
Pemeriksaan berlangsung berjam-jam.
Menjelang siang, kami masuk ke sebuah ruangan konsultasi.
Dokter spesialis bernama Dr. Nabila membuka hasil pemeriksaan.
“Telinga kiri Raka mengalami gangguan pendengaran sangat berat.”
Rendra mengangguk pelan.
“Telinga kanan?”
“Gangguan sedang hingga berat pada beberapa frekuensi. Tetapi ada sisa pendengaran yang bermakna.”
Rendra menutup mata.
“Jadi anak saya tidak pernah tuli total?”
Dr. Nabila menjawab hati-hati.
“Berdasarkan hasil hari ini, tidak.”
Ruangan terasa berputar.
Rendra menatap meja.
“Tujuh tahun.”
Tidak ada yang menjawab.
“Tujuh tahun anak saya dibesarkan seolah tidak bisa mendengar satu suara pun.”
Dokter melanjutkan, “Kemampuan bicara dan pemrosesan suara tidak otomatis berkembang hanya karena masih ada sisa pendengaran. Karena Raka tidak mendapatkan stimulasi auditori secara konsisten, otaknya lebih dominan menggunakan informasi visual.”
“Bisakah diperbaiki?”
“Bukan istilah yang tepat.”
Dokter menatap Raka yang sedang menggambar.
“Tapi masih banyak yang bisa dilakukan.”
Rendra menatap anaknya.
“Alat bantu dengar?”
“Mungkin. Kita perlu proses fitting yang hati-hati.”
Kemudian dokter menunjuk hasil pemindaian telinga kanan.
“Ada satu hal lagi.”
Aku dan Rendra langsung menoleh.
“Saluran telinganya menunjukkan bekas iritasi lama. Kemungkinan ada benda yang pernah tertinggal atau berulang kali dimasukkan.”
Wajah Rendra mengeras.
“Benda hitam yang dikeluarkan semalam?”
“Mungkin salah satunya.”
“Salah satunya?”
“Kami tidak bisa memastikan tanpa riwayat lengkap.”
Dalam perjalanan pulang, Rendra hanya berkata satu kalimat.
“Saya mau semua arsip medis Raka dikumpulkan.”
Siang itu rumah Wijaya berubah seperti kantor investigasi.
Map-map dikeluarkan.
Hard disk lama dibuka.
Email dicari.
Tagihan rumah sakit diperiksa.
Aku tetap bersama Raka, tetapi dari ruang keluarga aku bisa mendengar suara Rendra menelepon satu demi satu rumah sakit.
Menjelang sore, sesuatu ditemukan.
Bukan dari rumah sakit.
Dari gudang.
Pak Darto menemukan sebuah kotak bayi lama milik Raka.
Di dalamnya ada pakaian kecil, mainan, buku kesehatan, dan sebuah wadah plastik berlogo perusahaan alat bantu dengar.
Rendra membukanya.
Kosong.
Namun di bawah lapisan kain terdapat secarik kertas.
Jadwal fitting alat bantu dengar.
Nama pasien: Raka Wijaya.
Usia: sebelas bulan.
Nama wali: Laras Wijaya.
Rendra duduk di lantai gudang cukup lama.
Aku tidak sengaja melihatnya dari pintu.
Dia memegang kertas itu dengan kedua tangan.
Kemudian dia berkata tanpa menatapku,
“Ayu.”
“Ya, Pak?”
“Panggil Mira.”
Bu Mira datang satu jam kemudian.
Dia sudah tahu bahwa kebohongannya tidak mungkin bertahan.
Rendra meletakkan dokumen di meja.
“Mulai dari awal.”
Mira duduk perlahan.
“Laras membawa Raka diam-diam ke klinik.”
“Kenapa diam-diam?”
“Karena kalian sedang bertengkar.”
Rendra mengerutkan dahi.
“Aku ingat.”
“Kamu ingin membawa Raka ke luar negeri untuk perawatan. Laras menolak.”
“Karena apa?”
Mira menatapnya.
“Karena dia takut.”
“Takut apa?”
“Takut kamu mengambil Raka darinya.”
Rendra terdiam.
Mira melanjutkan.
“Waktu itu pernikahan kalian buruk. Kamu hampir tidak pernah pulang. Laras yakin kalau kamu tahu Raka masih punya sisa pendengaran, kamu akan memaksakan perawatan apa pun dan membawa dia ke luar negeri.”
“Itu dugaan dia.”
“Benar.”
“Lalu apa yang kamu lakukan?”
Mira menggigit bibir.
“Dia meminta bantuanku.”
Rendra mencondongkan tubuh.
“Membantu apa?”
“Mengurus pemeriksaan.”
“Dan?”
“Raka sempat dipasangkan alat bantu dengar.”
Aku melihat tangan Rendra bergerak pelan di atas meja.
“Lalu kenapa dihentikan?”
Mira mulai menangis.
“Raka terus menangis saat memakainya.”
“Bayi memang bisa menangis.”
“Laras panik. Dia menganggap alat itu menyakitinya. Lalu suatu malam earmold-nya lepas.”
Rendra menatap benda hitam di dalam wadah.
Mira mengangguk.
“Kami pikir sudah keluar seluruhnya.”
“Jadi potongan itu ada di telinga anak saya selama tujuh tahun?”
“Aku tidak tahu.”
“Jangan bohong lagi.”
“Aku benar-benar tidak tahu!”
Rendra berdiri.
“Lalu kenapa setelah Laras meninggal, kamu tetap mengatakan kepada semua dokter bahwa Raka tuli total sejak lahir?”
Mira terdiam.
Itulah pertanyaan yang paling penting.
Aku melihat wajahnya berubah.
Bukan takut.
Malu.
“Karena aku sudah terlanjur mengatakan itu kepadamu.”
Rendra tidak bergerak.
Mira mengusap air matanya.
“Setelah Laras meninggal, kamu hancur. Kamu menyerahkan semua urusan Raka kepadaku. Aku seharusnya mengatakan semuanya.”
“Kenapa tidak?”
“Karena aku takut kamu menyalahkanku.”
Rendra tertawa kecil.
Tidak ada humor di sana.
“Jadi kamu memilih berbohong.”
“Aku meyakinkan diriku bahwa dokter-dokter setelahnya akan menemukan kebenaran.”
“Mereka menerima riwayat dari kamu.”
Mira menunduk.
“Aku tahu.”
“Setiap dokter bertanya sejak kapan dia tidak mendengar.”
“Aku bilang sejak lahir.”
“Setiap dokter bertanya apakah pernah memakai alat bantu dengar.”
Mira mulai menangis keras.
“Aku bilang tidak.”
Aku merasa dada sesak.
Bukan karena Mira adalah monster.
Justru karena dia bukan monster.
Dia hanya seseorang yang melakukan satu kebohongan, lalu kebohongan kedua untuk menutupi yang pertama, kemudian kebohongan ketiga untuk mempertahankan semuanya.
Sampai tujuh tahun berlalu.
Rendra duduk kembali.
“Keluar.”
Mira menatapnya.
“Mas.”
“Keluar dari rumah saya.”
“Rendra—”
“Sekarang.”
Mira berdiri dengan tubuh gemetar.
Sebelum pergi, dia menatap Raka yang sedang duduk di tangga.
Anak itu tidak mengetahui seluruh percakapan.
Namun dia tahu sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Mira mengangkat tangan, mencoba membuat bahasa isyarat.
Raka tidak membalas.
Malam itu aku pikir semuanya sudah selesai.
Ternyata belum.
Tiga hari kemudian, ketika alat bantu dengar percobaan dipasang pada telinga kanan Raka, seluruh keluarga menunggu dengan tegang.
Audiolog mengatur volume sangat rendah.
Raka duduk diam.
Aku berada di sampingnya.
Rendra duduk beberapa langkah di depan.
Audiolog berkata pelan,
“Raka.”
Tidak ada reaksi.
Dia menaikkan sedikit pengaturan.
“Raka.”
Mata Raka berkedip.
Audiolog mencoba lagi.
“Raka.”
Kepala anak itu bergerak.
Dia menatap kami.
Kemudian Rendra memanggil.
“Raka.”
Suara Rendra pecah.
Raka menatap ayahnya.
Untuk beberapa detik tidak ada yang bergerak.
Lalu Raka tersenyum.
Bukan senyum lebar.
Hanya senyum kecil yang muncul perlahan.
Dia membuat bahasa isyarat.
“Suara Ayah.”
Rendra menangis.
Benar-benar menangis.
Dia memeluk anaknya sambil berulang kali meminta maaf.
Namun beberapa minggu kemudian, kejutan terakhir datang.
Ketika kami sedang mengurus barang-barang lama milik Laras, aku menemukan sebuah flash disk di dalam kotak perhiasannya.
Ada satu folder bernama RAKA.
Isinya puluhan video.
Rendra memutar video pertama.
Laras muncul di layar sambil menggendong Raka yang masih bayi.
Di telinga kanan bayi itu terlihat jelas sebuah alat bantu dengar kecil.
Laras tersenyum sambil berkata,
“Raka, dengar Mama.”
Bayi itu menoleh.
Video berikutnya menunjukkan hal yang sama.
Suara lonceng.
Raka menoleh.
Suara Laras.
Raka tersenyum.
Video terakhir direkam beberapa minggu sebelum Laras meninggal.
Wajahnya terlihat lelah.
“Aku tidak tahu apakah suatu hari Rendra akan melihat ini.”
Rendra membeku.
Laras melanjutkan dari layar.
“Aku marah kepadanya. Aku takut kepadanya. Tapi aku juga tahu ketakutanku membuatku mengambil keputusan sendiri untuk Raka.”
Dia menarik napas.
“Kalau aku tidak sempat memperbaikinya, tolong jangan biarkan Raka tumbuh dalam kebohongan.”
Mira ternyata bukan satu-satunya orang yang mengetahui video itu.
Di akhir rekaman, Laras berkata,
“Aku sudah mengirim salinan semuanya kepada Mira.”
Rendra menutup laptop.
Ruangan menjadi sunyi.
Beberapa bulan kemudian, Mira tidak pernah kembali tinggal di rumah Wijaya.
Namun Rendra tidak melaporkannya ke polisi.
Dia hanya mengatakan satu hal ketika Mira datang untuk meminta maaf.
“Aku tidak bisa mengembalikan tujuh tahun hidup anakku. Kamu juga tidak bisa. Jadi jangan minta aku melupakan hanya supaya kamu merasa lebih baik.”
Raka menjalani terapi auditori bersama bahasa isyarat yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Tidak ada yang memaksanya meninggalkan dunia yang selama ini dia kenal.
Dia tetap berkomunikasi dengan bahasa isyarat.
Dia juga mulai belajar mengenali suara.
Suara pintu.
Suara hujan.
Suara blender yang dulu membuatnya berkedip.
Suara langkah ayahnya.
Suatu sore, aku sedang menyapu teras ketika Raka duduk di dekat taman.
Aku menjatuhkan gagang sapu secara sengaja.
Tok.
Raka langsung menoleh.
Aku tersenyum.
Dia berlari kepadaku.
“Ayu.”
Suaranya belum jelas.
Sangat pelan.
Tapi aku mendengarnya.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Dia tertawa.
Kemudian dia menunjuk telinganya.
“Aku dengar.”
Aku mengangguk sambil menahan air mata.
Dari pintu rumah, Rendra berdiri memperhatikan kami.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, wajah lelaki itu tidak menunjukkan rasa bersalah.
Hanya rasa syukur.
Saat itulah aku memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun, semua orang sibuk menentukan apa yang tidak bisa dilakukan Raka.
Tidak ada yang benar-benar bertanya apa yang sebenarnya dia rasakan.
Dan kadang-kadang, sebuah kebohongan besar tidak bertahan karena semua orang mempercayainya.
Ia bertahan karena orang-orang yang melihat tanda-tandanya terlalu takut untuk mempertanyakan cerita yang sudah dianggap benar.
Sampai suatu hari seorang anak kecil menekan telinganya, menunjuk satu benda hitam, dan mengatakan satu kata yang seharusnya sudah didengar semua orang sejak lama.
“Suara.”
