ENAM HARI AKU TERKUBUR DI BAWAH RERUNTUHAN PABRIK TUA. SETIAP HARI SUAMIKU MEMBISIKKAN JANJI AKAN MENYELAMATKANKU—SAMPAI AKU MENDENGAR DIA MENYURUH TIM SAR MENUNGGU AKU MATI PERLAHAN, MENYIAPKAN PERNIKAHAN BARU DENGAN SEKRETARISNYA, DAN MEMAKSAKU MENYERAHKAN SAHAM WARISAN AYAH SENILAI PULUHAN MILIAR RUPIAH SEBELUM NAPASKU BENAR-BENAR BERHENTI.

Suara mesin itu meraung dari sisi timur, lalu tanah di bawah tubuhku bergetar seperti jantung yang hendak meledak. Debu beterbangan. Bongkahan beton jatuh makin dekat. Aku menekan punggungku ke dinding sempit yang sudah retak, memeluk lutut, dan untuk pertama kalinya dalam enam hari itu aku tidak lagi takut mati karena kecelakaan. Aku takut karena sekarang aku tahu seseorang sedang berusaha membunuhku dengan sengaja.

Namaku Alya Prameswari. Enam hari sebelumnya, aku datang ke gudang tua milik PT Arunika Medika di kawasan industri Padalarang atas permintaan suamiku sendiri. Katanya ada inventaris alat laboratorium lama yang harus dicek sebelum audit internal. Permintaan itu terasa aneh, karena selama ini aku tidak pernah turun langsung ke gudang. Aku memang pemegang tiga puluh satu persen saham perusahaan warisan ayahku, tapi urusan operasional sehari-hari lebih sering ditangani direksi. Raka, suamiku, sudah bertahun-tahun memintaku menyerahkan hak kelola saham itu kepadanya. Selama bertahun-tahun pula aku menolak dengan halus.

Pagi itu dia bersikap terlalu manis. Dia bahkan menyiapkan kopi sendiri dan mencium keningku sebelum aku berangkat. Tiga jam kemudian bangunan tua itu runtuh.

Hari-hari pertama di bawah reruntuhan masih terasa kabur di kepalaku. Gelap, sesak, debu, darah, dan rasa nyeri yang menempel di seluruh tubuh. Lalu suara Raka datang dari sela beton. Dia memanggil namaku dengan suara serak, memintaku bertahan, mengatakan tim penyelamat sedang berusaha menembus struktur yang tidak stabil. Dia mengirim air dan biskuit lewat selang kecil. Dia bercerita tentang rumah kontrakan pertama kami di Jakarta Timur, tentang motor bekas kami yang sering mogok, tentang nasi goreng pinggir jalan yang dulu kami makan berdua ketika rekening kami nyaris kosong.

Aku percaya semua itu. Aku percaya suamiku masih mencintaiku, hanya terlalu sibuk untuk mengingatnya. Aku percaya bencana ini membuatnya sadar bahwa aku berharga. Sampai hari keenam, ketika demamku makin tinggi, dan aku mendengar dua laki-laki berbicara di atas kepalaku seolah aku sudah setengah mayat.

Mereka menyebut nama Nadine. Sekretaris pribadi Raka. Mereka tertawa saat mengatakan bulan depan perempuan itu mungkin akan menikah. Dengan Raka. Salah satu dari mereka berkata kalau alat sebenarnya sudah bisa masuk dari sisi barat sejak dua hari lalu, tetapi Raka melarang. Katanya terlalu berisiko. Yang satu lagi bilang air dan makanan tetap dikirim supaya aku tidak mati terlalu cepat. Kalau aku meninggal setelah seminggu karena luka dan infeksi, tidak akan ada yang curiga.

Saat itulah seluruh dunia di dalam dadaku runtuh untuk kedua kalinya.

Aku lalu berpura-pura tetap percaya. Ketika Raka datang lagi, aku menjawab lemah. Aku berbohong bahwa airnya sudah kuminum. Aku menyembunyikan biskuit dan memeriksa air pahit itu dengan semut. Gerak serangga kecil itu melambat setelah menyentuh cairan tersebut. Kecurigaanku berubah jadi kepastian saat sore harinya Raka datang bersama Nadine. Lewat retakan beton, aku mendengar semuanya. Aku menyalakan perekam suara di ponsel retak yang baterainya tinggal delapan persen.

“Aku sudah ubah daftar orang hilang dari area perusahaan,” kata Raka tenang. “Nama Alya tidak tercantum.”

Dadaku sesak. Jadi bukan cuma tubuhku yang dikubur. Keberadaanku juga dihapus.

Lalu aku mendengar soal saham. Soal notaris. Soal sidik jari. Soal nilai empat puluh enam miliar rupiah. Dan yang paling mengerikan, aku mendengar sendiri suara Raka yang dingin, datar, asing.

“Aku duduk di sini enam hari bukan karena kasihan.”

Malamnya dia mengirim dokumen lewat selang, lengkap dengan ampul obat dan jarum suntik. Katanya itu penghilang nyeri. Katanya setelah disuntik, aku akan lebih tenang sebelum menempelkan sidik jari ke surat kuasa. Tetapi isi dokumen itu bukan sekadar surat kuasa. Ada pengalihan hak saham permanen, ada pernyataan pelepasan aset, ada semuanya. Raka tidak cuma ingin aku mati. Dia ingin aku mati dalam keadaan kosong, tanpa hak, tanpa warisan, tanpa suara.

Aku tidak menyuntikkan obat itu. Aku mengambil sedikit darah dari telapak tanganku yang luka, membuat cap palsu di halaman terakhir, lalu merobek beberapa lembar kunci dan menyembunyikannya di balik tulangan besi. Cairan dari ampul kuteteskan ke biskuit untuk tikus yang sering muncul di ujung rongga. Beberapa menit setelah memakannya, tikus itu mati kaku. Saat itulah aku mengerti bahwa setelah mendapatkan dokumennya, Raka tak pernah berniat membiarkanku keluar hidup-hidup.

Dan sekarang, di malam keenam itu, ketika Komandan Damar dari tim SAR gabungan menemukan tanda kehidupan dari bawah reruntuhan, seseorang menyalakan excavator dari sisi timur untuk menguburku lagi.

“Matikan alat itu!” teriak Komandan Damar dari atas.

Getaran makin kuat. Salah satu dinding sempit di kiriku pecah. Debu masuk ke mulutku. Aku batuk keras, meraih potongan besi, lalu memukulkannya ke pilar beton sekuat tenaga. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Irama itu menggema.

“Ada ketukan lagi!” suara seseorang berteriak.

Lalu terdengar keributan di atas. Langkah kaki berlari. Perintah saling bersahutan. Aku mendengar Komandan Damar memaki seseorang, lalu suara lain yang kuduga milik Raka berteriak bahwa area itu tercemar bahan kimia dan semua orang harus mundur. Tetapi kali ini suara Raka tak lagi meyakinkan. Ada kepanikan di dalamnya.

Beberapa menit kemudian, dari sisi barat terdengar bunyi bor kecil dan gesekan alat yang lebih terukur. Cahaya tipis menembus lubang baru. Aku mengangkat tangan meski rasanya seperti ada ribuan jarum menusuk dari bahu sampai ujung jari.

“Bu! Kalau dengar saya, ketuk sekali!” teriak seorang petugas.

Aku memukul besi ke lantai.

“Bagus! Bertahan, Bu!”

Aku tidak tahu berapa lama proses itu berlangsung. Lima menit atau lima jam rasanya sama saja di dalam kegelapan. Yang kuingat hanya cahaya yang makin lebar, udara dingin yang mulai masuk, dan suara Komandan Damar yang terus mengarahkan tim dengan tegas. Lalu sesuatu yang besar disingkirkan, beberapa tangan masuk, dan untuk pertama kalinya setelah enam hari, langit malam terlihat di hadapanku.

Begitu tubuhku ditarik keluar, aku menjerit. Seluruh rusuk kiriku seperti terbakar. Kakiku nyaris tidak bisa digerakkan. Aku mendengar seseorang berkata tekanan darahku rendah, dehidrasi berat, kemungkinan ada infeksi, dan harus segera dibawa ke ambulans.

Di antara lampu sorot dan orang-orang berseragam, Raka berlari mendekat dengan wajah penuh air mata.

“Alya! Ya Tuhan, Alya!”

Andai aku tidak tahu kebenarannya, mungkin aku akan luluh seperti biasa.

Dia memegang tanganku. Aku menatap matanya lama sekali, lalu berbisik pelan, “Jangan sentuh aku.”

Raka tersentak. Mungkin dia mengira aku sedang delirium. Mungkin dia mengira tidak akan ada siapa pun yang percaya pada perempuan setengah sekarat yang baru keluar dari bawah beton. Dia mencoba lagi dengan suara gemetar, “Sayang, kamu syok. Kita bicara nanti.”

Komandan Damar yang berdiri di samping tandu menatap kami sekilas. Tatapannya tidak suka, dingin, dan waspada. Saat aku didorong ke ambulans, aku menggenggam pergelangan tangannya lemah.

“Ponsel… saku kanan…” bisikku.

Dia mendekat. “Ada apa?”

“Jangan kasih ke suami saya.”

Matanya berubah. Dia mengangguk sekali.

Aku pingsan sebelum pintu ambulans tertutup.

Saat sadar, aku sudah berada di ruang perawatan intensif di sebuah rumah sakit di Bandung. Lenganku dipasangi infus. Rusuk kiriku retak, bahuku bergeser, kakiku memar parah, dan tubuhku mengalami infeksi akibat luka terbuka serta dehidrasi berkepanjangan. Dokter juga menemukan jejak zat sedatif tertentu dalam darahku, meski kadarnya rendah karena aku tak benar-benar menyuntikkannya. Mereka menduga zat serupa tercampur dalam air yang selama ini kukonsumsi.

Hari itu juga, Bu Mira datang menemuiku. Dia adalah pengacara lama keluarga kami, orang yang dulu dipercaya ayahku menangani hampir semua urusan hukum perusahaan. Rambutnya sudah lebih banyak putih, tetapi sorot matanya tetap tajam.

“Damar menyerahkan ponselmu ke polisi sebelum siapa pun sempat menyentuhnya,” katanya pelan. “Rekamanmu utuh.”

Air mataku langsung jatuh.

Untuk pertama kalinya sejak enam hari di bawah reruntuhan, aku merasa tidak sendirian.

Ternyata tim SAR gabungan datang ke lokasi bukan karena laporan perusahaan, melainkan karena seorang pekerja kontraktor mengirim pengaduan anonim ke BPBD. Dia curiga karena sejak awal Raka menahan akses dan menolak bantuan dari luar. Ketika alat pendeteksi kehidupan menunjukkan getaran, Komandan Damar memutuskan mengambil alih meski ditentang pihak perusahaan. Setelah aku dievakuasi, operator excavator sisi timur juga diperiksa. Dia mengaku mendapat perintah langsung dari manajer keamanan yang disewa Raka untuk “menutup area berisiko”. Semuanya mulai saling terhubung.

Tetapi Raka belum menyerah.

Tiga hari kemudian, saat aku masih di rumah sakit, dia datang bersama ekspresi seorang suami setia yang lelah berjaga. Di belakangnya ada Nadine, kali ini mengenakan pakaian formal serba hitam dan membawa map.

“Aku cuma mau memastikan kondisi kamu baik,” katanya lembut.

Aku menatapnya tanpa bicara.

Dia duduk di kursi dekat ranjang. “Alya, polisi sedang menafsirkan semuanya secara berlebihan. Kamu tahu sendiri situasi saat itu kacau. Soal suara di rekaman, mungkin konteksnya salah paham.”

Nadine menunduk, lalu menambahkan dengan suara tertata, “Ibu Alya, kami juga sedang menunggu dokumen final untuk gaji karyawan. Kalau Ibu berkenan, ada beberapa lembar yang perlu dilengkapi ulang karena berkas sebelumnya rusak.”

Aku hampir tertawa melihat keberanian mereka.

“Keluar,” kataku.

Raka menghela napas panjang. “Alya, jangan keras kepala. Aku ini suamimu.”

Aku menatap lurus ke matanya. “Justru karena itu kamu harus keluar sebelum aku menjerit minta polisi masuk.”

Wajahnya akhirnya retak. Nadine menarik lengannya pelan. Keduanya pergi. Dari celah pintu yang belum tertutup penuh, aku mendengar Raka berbisik dengan gigi terkatup, “Dia belum cukup lemah.”

Kalimat itu menancap seperti pisau, tetapi pada saat yang sama membuatku sadar sepenuhnya. Selama ini aku bukan pasangan baginya. Aku hanya hambatan menuju sesuatu yang dia inginkan.

Seminggu kemudian penyidikan resmi dimulai. Hasil laboratorium keluar. Air minum yang tersisa di botolku mengandung campuran sedatif dosis kecil. Ampul yang kukembalikan ke polisi mengandung obat yang bisa menekan pernapasan jika digunakan pada pasien yang dehidrasi dan lemah. Rekaman suara dipastikan asli. Daftar orang hilang memang telah diubah dari sistem internal perusahaan. Dokumen pengalihan saham yang diklaim Raka pun bermasalah, karena halaman-halaman substansialnya hilang dan cap jempol yang ada hanya noda darah yang tidak memenuhi standar verifikasi biometrik.

Namun pukulan terbesar untuk Raka datang bukan dari sana.

Bu Mira membuka satu map cokelat tua dan meletakkannya di pangkuanku.

“Ini surat yang dibuat ayahmu dua tahun sebelum meninggal,” katanya. “Dia memintaku menyimpannya sampai ada keadaan darurat.”

Tanganku gemetar saat membukanya.

Di dalamnya ada pernyataan wasiat korporasi. Ayahku rupanya tidak pernah sepenuhnya percaya pada Raka. Dia sudah menyiapkan klausul perlindungan: bila terjadi ancaman, paksaan, manipulasi, atau ketidakmampuan sementara pada diriku, seluruh hak suara sahamku otomatis dialihkan sementara kepada trust keluarga yang dikelola independen oleh Bu Mira sampai aku pulih dan mampu mengambil keputusan sendiri. Dengan kata lain, sekalipun Raka berhasil memperoleh dokumen palsu itu, dia tetap takkan bisa mengendalikan PT Arunika Medika.

Aku menutup wajahku sambil menangis. Bukan karena sedih. Tetapi karena akhirnya aku mengerti mengapa ayahku dulu menggenggam tanganku erat dan berkata, jangan pernah serahkan kendali penuh kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang mengaku mencintaimu.

Sebulan setelah penyelamatan, aku menghadiri rapat dewan pertama setelah keluar dari rumah sakit. Tubuhku masih lebih kurus, langkahku masih pelan, tetapi punggungku tegak. Di ruang rapat itu, Raka duduk dengan wajah pucat. Di sampingku ada Bu Mira. Di ujung meja ada dua penyidik kepolisian dan Komandan Damar yang dipanggil sebagai saksi untuk menjelaskan kronologi penghalangan proses penyelamatan.

Raka masih mencoba. Dia berkata semua ini hanya kesalahpahaman, bahwa dia sudah enam hari berjaga sebagai suami yang setia, bahwa dia adalah korban fitnah. Lalu Bu Mira memutar rekaman dari ponselku.

Ruangan itu hening.

Suara Raka sendiri memenuhi ruang rapat. Dingin. Jelas. Telanjang.

“Aku duduk di sini enam hari bukan karena kasihan.”

Wajahnya berubah abu-abu. Nadine yang duduk dua kursi darinya mulai menangis, tetapi tak seorang pun memandangnya. Polisi kemudian berdiri dan membacakan status penahanan untuk Raka atas dugaan percobaan pembunuhan berencana, pemalsuan dokumen, penghalangan operasi penyelamatan, dan manipulasi data korban. Nadine ikut dibawa atas dugaan keterlibatan dan pemalsuan administrasi.

Sebelum digiring keluar, Raka menoleh padaku. Ada kemarahan, ada ketakutan, ada kehancuran total di matanya.

“Kamu menghancurkan hidupku,” katanya serak.

Aku menatapnya tenang. “Tidak. Kamu menghancurkan hidupmu sendiri ketika memilih menjadikan cintaku alat untuk membunuhku.”

Dia dibawa pergi.

Setelah semua orang keluar, ruang rapat mendadak terasa sangat sepi. Komandan Damar berdiri hendak berpamitan. Aku menghampirinya pelan.

“Terima kasih,” kataku.

Dia menggeleng. “Bukan saya yang menyelamatkan Ibu sepenuhnya. Ibu yang memutuskan untuk melawan.”

Aku tersenyum tipis. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti pintu yang terbuka dalam diriku.

Beberapa bulan kemudian, aku kembali ke gudang lama itu. Bukan untuk mengenang rasa takut, melainkan untuk menutup lingkaran. Lokasinya sudah dipasangi garis pembongkaran total. Besi-besi tua diangkut satu per satu. Aku berdiri di sana sambil menarik napas panjang. Luka di tubuhku belum sepenuhnya hilang. Mungkin tidak akan pernah. Tetapi aku tidak lagi merasa terkubur.

Dari seluruh hal yang nyaris merenggut nyawaku, yang paling menyakitkan ternyata bukan reruntuhan beton, bukan haus, bukan racun, bukan gelap. Yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa orang yang selama ini kupanggil rumah ternyata sedang menggali kubur untukku.

Namun dari tempat paling gelap itu juga aku belajar satu hal yang tak pernah dia pahami. Warisan paling berharga yang ditinggalkan ayahku bukan saham, bukan perusahaan, bukan puluhan miliar rupiah. Melainkan keberanian untuk tidak menyerahkan hidupku ke tangan orang yang salah.

Aku terkubur enam hari di bawah reruntuhan. Tetapi yang bangkit keluar dari sana bukan lagi perempuan yang sama.

Dan kali ini, aku tidak akan pernah kembali menjadi korban.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang