Aku menatap akta di tangan Bram tanpa mampu mengucapkan apa pun.
Ruangan yang beberapa menit lalu dipenuhi suara orang kini terasa begitu sunyi hingga bunyi pendingin udara terdengar jelas.
Adrian berdiri di seberang meja dengan wajah pucat.

“Pak Bram,” katanya akhirnya. “Apa maksud Anda saham itu bukan milik saya?”
Bram tidak langsung menjawab. Ia membuka tas dokumennya, mengeluarkan beberapa lembar bersegel, lalu meletakkannya di samping laporan auditku.
“Perusahaan pertama yang kemudian berkembang menjadi Wijaya Group didirikan oleh tiga orang. Surya Wijaya, Ratna Wijaya, dan Laras Prameswari.”
Aku menatap foto lama di tanganku.
Nama itu terasa asing, tetapi wajah perempuan dalam foto tersebut terasa terlalu dekat.
“Laras memiliki tiga puluh dua persen saham,” lanjut Bram. “Ketika beliau meninggal, kepemilikan itu tidak pernah dialihkan kepada keluarga Wijaya.”
Ratna tiba-tiba berkata, “Cukup.”
Bram menoleh kepadanya.
“Belum, Bu Ratna. Justru selama dua puluh sembilan tahun, semuanya terlalu lama disembunyikan.”
Adrian menggeleng.
“Kalau memang ada saham sebesar itu, kenapa tidak pernah muncul?”
Bram mengeluarkan satu dokumen lagi.
“Karena setelah Laras meninggal, hak atas saham tersebut ditempatkan dalam perwalian sampai anak kandungnya memenuhi syarat tertentu.”
Mataku beralih kepadanya.
“Anak kandungnya?”
Bram menatapku.
“Anda.”
Aku hampir tertawa karena semuanya terdengar terlalu mustahil.
“Ayah dan ibu yang membesarkanku bukan keluarga Wijaya.”
“Benar,” kata Bram. “Mereka orang tua angkat Anda.”
Kakiku mendadak lemas.
Aku duduk kembali.
Potongan-potongan ingatan masa kecil berkelebat. Ayah yang selalu menghindari pertanyaanku tentang foto bayi. Ibu yang menangis ketika aku bertanya mengapa tidak ada foto dirinya saat mengandungku.
Selama ini aku menganggap itu bagian dari masa lalu yang tidak perlu dibongkar.
Ternyata masa lalu itu sedang duduk di hadapanku.
Aku menatap Ratna.
“Anda tahu?”
Ratna tidak menjawab.
“Selama enam tahun aku tinggal di rumah ini. Anda tahu siapa aku?”
Rahangnya mengeras.
“Aku tahu setelah Adrian membawamu pulang dan mengatakan ingin menikahimu.”
“Lalu Anda membiarkan pernikahan itu terjadi?”
“Aku mencoba menghentikannya.”
Aku teringat bagaimana Ratna selalu mengatakan aku tidak pantas untuk Adrian.
Aku mengira ia membenciku karena keluargaku sederhana.
Ternyata alasannya jauh lebih rumit.
Bram menyela.
“Pak Surya yang mengizinkan pernikahan itu.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Karena beliau sudah mencari Anda bertahun-tahun.”
Dadaku sesak.
Bram menunjuk foto di meja.
“Pak Surya dan Laras memang sangat dekat, tetapi Nadira bukan anak biologis Pak Surya. Ayah kandung Nadira adalah tunangan Laras yang meninggal dalam kecelakaan sebelum Nadira lahir.”
Aku tidak tahu mengapa penjelasan itu membuatku sedikit bisa bernapas.
Bram melanjutkan, “Setelah Laras meninggal, Nadira diasuh kerabat jauh. Pak Surya kehilangan jejak. Beliau baru mengetahui keberadaan Nadira ketika Adrian memperkenalkan calon istrinya.”
Aku menatap Adrian.
Ia terlihat sama bingungnya denganku.
“Papa tidak pernah mengatakan apa pun kepadaku.”
“Karena beliau takut Anda menikahi Nadira karena sahamnya,” jawab Bram.
Kalimat itu membuat Adrian membeku.
Pak Darmawan yang sejak tadi diam akhirnya berkata pelan, “Pak Surya sangat menyayangi Ibu Nadira. Bukan sebagai menantu. Beliau menganggap Ibu sebagai anak dari sahabat yang gagal beliau lindungi.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Aku teringat ayah mertuaku.
Satu-satunya orang di keluarga Wijaya yang tidak pernah memandang rendah pekerjaanku.
Ketika Ratna mengkritik masakanku, Surya selalu memakannya sampai habis.
Ketika Adrian terlalu sibuk untuk datang ke acara ulang tahunku, Surya mengirim bunga.
Aku selalu mengira ia hanya mertua yang baik.
Ternyata setiap kebaikannya menyimpan rasa bersalah puluhan tahun.
Namun Bram belum selesai.
“Ada satu syarat dalam perwalian Laras.”
Ia membalik dokumen.
“Hak kepemilikan saham diberikan sepenuhnya kepada Nadira ketika berusia tiga puluh tahun atau apabila terjadi tindakan yang membahayakan kepemilikan tersebut.”
Aku mengerutkan kening.
“Aku belum tiga puluh.”
“Benar.”
“Jadi saham itu belum menjadi milikku?”
“Secara manfaat, tetap milik Anda. Tetapi hak pengendalian sementara berada pada wali yang ditunjuk.”
Adrian langsung bertanya, “Siapa walinya?”
Bram tidak menjawab.
Ia malah mengambil laporan auditku.
“Pertanyaan itu berhubungan dengan Rp438 miliar yang ditemukan Nadira.”
Kezia yang sejak tadi berdiri dekat sofa perlahan mundur.
Aku melihatnya.
“Kamu mau ke mana?”
Semua orang menoleh kepadanya.
“Aku tidak ada urusan dengan masalah perusahaan kalian.”
Ia mengambil tas.
“Aku pulang.”
Aku membuka halaman lain dari laporan audit.
“PT Karya Sentosa Advisory.”
Langkah Kezia berhenti.
Aku membaca.
“Didirikan empat tahun lalu. Pemegang saham mayoritasnya Kezia Hartono.”
Wajahnya kehilangan warna.
Adrian menatapnya.
“Kezia?”
Aku melanjutkan.
“Dalam tiga tahun terakhir perusahaan itu menerima Rp96 miliar dari beberapa anak usaha Wijaya Group.”
“Itu pembayaran jasa konsultasi!” bentaknya.
“Untuk jasa apa?”
Ia terdiam.
“Perusahaanmu tidak memiliki pegawai tetap. Kantornya virtual. Laporan pekerjaan yang diajukan bahkan menggunakan template yang sama pada sebelas proyek berbeda.”
Aku mengambil dokumen berikutnya.
“Dan setelah uang masuk, tujuh puluh persen dipindahkan ke rekening investasi.”
Kulempar satu lembar ke meja.
“Rekening bersama atas nama Kezia Hartono dan Adrian Wijaya.”
Ratna menampar meja.
“Adrian!”
Adrian terlihat panik.
“Itu bukan seperti yang Mama pikirkan.”
Aku hampir tersenyum mendengar kalimat klise itu.
“Lalu seperti apa?”
“Nadira, dengarkan aku.”
“Enam tahun aku mendengarkanmu.”
Aku menunjuk cek Rp12 miliar yang masih tergeletak di meja.
“Sekarang giliran kalian mendengarkan.”
Kezia tiba-tiba berteriak, “Dia juga terlibat!”
Adrian menoleh tajam.
“Kezia!”
Tetapi perempuan itu sudah kehilangan kendali.
“Kamu yang menyuruh aku membuat perusahaan!”
“Diam!”
“Kamu bilang uang itu nanti menjadi modal kita setelah kamu menguasai perusahaan!”
Ratna memegang sandaran kursi.
Wajahnya seperti baru saja ditampar.
Adrian mendekati Kezia.
“Kamu tidak tahu apa yang kamu katakan.”
“Aku tahu!”
Kezia mengeluarkan ponselnya.
“Kamu bahkan yang mengirim semua instruksi!”
Adrian mencoba merebut ponsel itu.
Aku berdiri.
“Jangan sentuh dia.”
Ia menoleh kepadaku.
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun pernikahan kami, aku melihat Adrian tanpa lapisan pesona yang selama ini membuatku bertahan.
Ia ketakutan.
Bukan karena kehilangan aku.
Karena kehilangan semuanya.
Bram kemudian membuka halaman terakhir laporan audit.
“Masalahnya bukan hanya Adrian dan Kezia.”
Ratna mendadak menegang.
Aku memperhatikannya.
Bram mendorong halaman itu ke tengah meja.
“Semua transaksi membutuhkan otorisasi pemegang hak pengendalian atas saham Laras.”
Aku membaca nama di bagian bawah.
Ratna Wijaya.
Aku mengangkat kepala perlahan.
Seluruh keluarga membeku.
Adrian berbisik, “Mama?”
Ratna tidak menjawab.
Aku akhirnya memahami telepon yang diterimanya tadi.
Notaris bukan sekadar mengonfirmasi keberadaan saham.
Mereka menemukan sesuatu yang lebih besar.
“Jadi Anda wali saham ibuku?” tanyaku.
Ratna menutup mata.
Bram menjawab untuknya.
“Benar.”
Aku merasa mual.
“Berarti selama hampir tiga puluh tahun Anda mengendalikan aset milikku.”
“Nadira…”
“Dan selama tiga tahun uang perusahaan dipindahkan dengan persetujuan Anda.”
“Aku bisa menjelaskan.”
“Silakan.”
Ratna menatap semua orang di ruangan itu sebelum akhirnya duduk.
“Aku tidak pernah berniat mencuri milikmu.”
Aku tertawa pendek.
“Rp438 miliar keluar dari perusahaan dan Anda mengatakan tidak berniat mencuri?”
“Uang itu tidak semuanya hilang.”
Ia memandang Adrian.
“Aku menemukan transaksi Adrian dua tahun lalu.”
Adrian langsung pucat.
“Aku mencoba menutupinya.”
“Ma…”
“Aku pikir dia hanya melakukan kesalahan kecil.”
Suara Ratna mulai bergetar.
“Tapi jumlahnya semakin besar. Setiap kali aku mencoba menghentikannya, Adrian mengancam akan membuka dokumen lama Laras.”
Aku menatap Adrian.
Jadi ia tahu.
Tidak semuanya, tetapi cukup banyak.
Adrian menunduk.
Ratna melanjutkan, “Aku takut jika rahasia itu terbuka, keluarga ini akan hancur. Aku menandatangani dokumen untuk menutup lubang sebelumnya. Lalu muncul lubang baru.”
“Dan Anda menggunakan saham ibuku sebagai jaminan.”
Ratna menangis.
Untuk pertama kalinya aku melihat perempuan itu menangis.
Namun anehnya, aku tidak merasakan kemenangan.
Hanya kelelahan.
“Aku membencimu sejak pertama melihatmu,” katanya.
Aku terdiam.
“Bukan karena kamu miskin. Bukan karena kamu tidak pantas untuk Adrian.”
Ia menatap foto Laras.
“Karena wajahmu mengingatkanku kepadanya.”
Suasana berubah.
Ratna menarik napas panjang.
“Laras adalah sahabatku.”
Aku tidak menyangka kalimat berikutnya.
“Dan orang yang seharusnya menjadi pemimpin Wijaya Group.”
Ia mengusap air matanya.
“Dia lebih pintar daripada aku. Lebih berani daripada Surya. Banyak ide yang membuat perusahaan bertahan pada tahun-tahun pertama berasal darinya.”
“Lalu kenapa namanya hilang?”
“Karena setelah Laras meninggal, aku membiarkannya hilang.”
Ratna menunduk.
“Aku iri.”
Dua kata sederhana itu terdengar lebih berat daripada semua angka dalam laporan audit.
“Aku ingin perusahaan itu menjadi milik keluarga Wijaya sepenuhnya. Aku meyakinkan diriku bahwa saham Laras akan lebih aman jika kukendalikan.”
Ia menatapku.
“Lalu kamu muncul.”
Aku akhirnya mengerti gelang giok itu.
Bukan sekadar penghinaan.
Ratna memberikan simbol keluarga kepada Kezia karena ia ingin menghapusku sebelum hak kepemilikan Laras jatuh ke tanganku.
“Karena itu Anda mendukung Kezia?”
Ratna mengangguk perlahan.
“Aku pikir kalau kamu bercerai dari Adrian sebelum semuanya terbuka, kamu akan pergi.”
Aku memandang cek Rp12 miliar.
Tiba-tiba jumlah itu terasa sangat kecil.
Bram berdiri.
“Ada satu hal terakhir.”
Ia menyerahkan dokumen bersegel kepadaku.
“Pak Surya mengubah struktur perwalian enam bulan sebelum meninggal.”
Aku membukanya.
Tanganku gemetar ketika membaca klausul terakhir.
Jika wali terbukti menyalahgunakan kewenangan, seluruh hak kendali otomatis berpindah kepada penerima manfaat.
Aku mengangkat wajah.
“Artinya?”
Bram tersenyum tipis.
“Sejak audit independen mengonfirmasi penyalahgunaan tiga hari lalu, secara hukum hak pengendalian saham Laras telah berpindah.”
“Kepada siapa?”
“Kepada Anda.”
Adrian terduduk.
Kezia menutup mulut.
Ratna tidak bergerak.
Bram melanjutkan, “Dengan kepemilikan langsung, saham perwalian, serta hak suara khusus yang diberikan Pak Surya melalui wasiatnya, Nadira kini memegang tiga puluh tujuh persen hak suara Wijaya Group.”
Aku menatapnya.
“Itu cukup untuk apa?”
“Menjadi pemegang hak suara terbesar.”
Ruangan kembali sunyi.
Enam tahun aku berusaha diterima keluarga ini.
Pagi itu aku mengetahui bahwa aku tidak pernah membutuhkan penerimaan mereka.
Adrian mendekatiku.
“Nadira.”
Nada suaranya berubah total.
“Aku tahu semuanya terlihat buruk.”
Aku menatapnya.
Ia benar-benar mengatakannya.
“Terlihat buruk?”
“Aku melakukan kesalahan. Tapi kita bisa memperbaikinya.”
Kezia menatapnya tidak percaya.
“Adrian!”
Ia mengabaikannya.
“Kita masih suami istri.”
Aku mengambil cek Rp12 miliar dari meja.
Kezia mengira aku akan menyimpannya.
Sebaliknya, aku merobeknya menjadi dua.
Kemudian empat.
Kutaruh potongannya di depan Adrian.
“Kamu benar.”
Matanya menyala penuh harapan.
“Kita memang masih suami istri.”
Aku mengambil satu dokumen dari tasku.
“Tapi hanya sampai pengadilan mengabulkan gugatan ini.”
Kuserahkan kepadanya.
Surat gugatan cerai.
Wajahnya runtuh.
“Apartemen Kuningan juga tidak perlu kamu berikan,” kataku. “Apartemen itu dibeli melalui perusahaan investasi yang dananya berasal dari rekening milikku.”
Aku menatap Kezia.
“Mobilnya juga.”
Kemudian aku menghadap Ratna.
“Dan gelang itu.”
Kezia refleks menutup pergelangan tangannya.
Aku menggeleng.
“Tidak. Aku tidak menginginkannya.”
Ratna terkejut.
“Gelang itu milik menantu utama keluarga Wijaya.”
“Itulah masalahnya.”
Aku mengambil foto Laras dan memasukkannya ke tas.
“Selama enam tahun aku menghabiskan hidup untuk menjadi perempuan yang pantas memakai gelang itu.”
Aku memandang mereka satu per satu.
“Hari ini aku tahu ibuku membantu membangun rumah yang membuat kalian merasa berhak menentukan harga diriku.”
Aku berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, aku berhenti di samping Pak Darmawan.
“Pak.”
“Ya, Bu?”
“Terima kasih sudah menjaga amanat Papa.”
Matanya berkaca-kaca.
Aku baru melangkah beberapa meter ketika Bram memanggil.
“Nadira.”
Aku menoleh.
“Ada satu pertanyaan yang belum Anda tanyakan.”
“Apa?”
“Siapa yang meminta audit independen itu dilakukan?”
Aku mengernyit.
“Aku sendiri.”
Bram menggeleng.
“Siapa yang pertama kali mengirimkan data transaksi anonim kepada auditor Anda empat bulan lalu?”
Aku terdiam.
Memang benar.
Audit itu bermula dari sebuah surel anonim berisi daftar delapan rekening.
Tanpa daftar tersebut, mungkin aku membutuhkan bertahun-tahun untuk menemukan polanya.
“Siapa?”
Bram memandang Pak Darmawan.
Tetapi kepala rumah tangga itu justru menggeleng.
Kemudian sebuah suara datang dari belakangku.
“Aku.”
Aku berbalik.
Kezia berdiri dengan wajah basah oleh air mata.
Adrian menatapnya seperti melihat orang asing.
Kezia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari tas.
“Aku tahu Adrian mencuri uang perusahaan sejak tahun pertama kami bersama.”
Aku menatapnya tanpa berkata-kata.
“Aku ikut karena awalnya kupikir dia benar-benar akan menikahiku.”
Ia tertawa pahit.
“Lalu aku menemukan dokumen tentang Laras.”
Adrian membentak, “Kezia!”
“Diam!”
Kezia berteriak balik.
“Aku sadar kalau Adrian berhasil mengambil kendali perusahaan, aku akan menjadi orang berikutnya yang dia singkirkan.”
Ia menatapku.
“Video tadi malam sengaja kukirim.”
Aku membeku.
“Cek Rp12 miliar?”
“Untuk memancing dia mengaku di depan keluarganya.”
Ia meletakkan flashdisk di meja.
“Semua rekaman percakapan, instruksi transfer, kontrak palsu, dan pesan Adrian ada di sini.”
Aku tidak tahu harus membenci atau berterima kasih kepadanya.
Mungkin keduanya.
Kezia melepaskan gelang giok dari tangannya.
Ia meletakkannya perlahan di depan Ratna.
“Saya tidak pernah menginginkan gelang ini, Tante.”
Kemudian ia menatap Adrian.
“Saya hanya terlalu lama menginginkan laki-laki yang salah.”
Pagi itu tidak ada yang memenangkan apa pun.
Adrian kehilangan pernikahan, kekasih, dan kendali perusahaan.
Kezia harus menghadapi konsekuensi hukum atas keterlibatannya.
Ratna kehilangan kekuasaan yang dipertahankannya hampir tiga puluh tahun.
Dan aku mendapatkan kekayaan yang bahkan tidak pernah kuketahui keberadaannya.
Namun ketika berjalan keluar dari rumah Wijaya, hal yang paling berharga di dalam tasku bukan akta saham bernilai ratusan miliar.
Melainkan foto seorang perempuan bernama Laras.
Perempuan yang wajahnya hidup di wajahku.
Enam bulan kemudian, gelang giok keluarga Wijaya tidak pernah kembali ke brankas.
Aku meminta Ratna melelangnya.
Seluruh hasil penjualannya digunakan untuk mendirikan program beasiswa atas nama Laras Prameswari bagi perempuan muda yang ingin membangun usaha sendiri.
Pada hari peluncuran program itu, Bram memberikan sebuah surat terakhir dari Surya.
Hanya ada satu kalimat yang ditulis tangan.
“Nadira, jangan habiskan hidupmu meminta tempat di meja orang lain ketika ibumu adalah salah satu orang yang membangun meja itu.”
Aku membaca kalimat tersebut dua kali.
Kemudian kulipat surat itu dan tersenyum.
Selama enam tahun aku mengira kemenangan berarti akhirnya diterima sebagai keluarga Wijaya.
Ternyata kemenangan sesungguhnya adalah saat aku berhenti meminta mereka menentukan siapa diriku.
