SUAMI SAYA PERNAH PERGI DARI RUMAH IBU SAYA HANYA KARENA SAMBAL, TAPI EMPAT TAHUN KEMUDIAN SAYA MELIHATNYA MENYENDOK CABAI BUATAN IBU SAHABAT MASA KECILNYA—DAN SAAT ITU, SESUATU DI DALAM DIRI SAYA BENAR-BENAR MATI

Wajah Arga berubah seketika ketika aku menyebut angka itu.

“Rp480 juta yang dulu aku titipkan padamu untuk investasi,” ulangku pelan. “Kembalikan minggu ini.”

Tangannya yang semula memegang gelas berhenti di udara.

“Kenapa tiba-tiba membahas uang?”

Aku menatapnya.

Pertanyaan itu justru membuat dadaku semakin dingin.

Uang itu berasal dari tabunganku selama bertahun-tahun. Sebagian dari gaji, bonus mengajar, honor pelatihan, dan uang peninggalan almarhum Ayah yang Ibu serahkan kepadaku setelah aku menikah.

Dua tahun lalu Arga mengatakan ada instrumen investasi yang dikelola salah satu kenalannya.

Katanya aman.

Katanya uang itu tetap milikku.

Katanya kapan pun aku membutuhkannya, aku bisa menariknya.

“Aku sedang membutuhkannya sekarang.”

Arga meletakkan gelas.

“Untuk apa?”

“Itu uangku. Aku tidak perlu izin untuk menggunakannya.”

“Naila.”

Nada suaranya mulai berubah.

“Kita suami istri. Jangan bicara seperti orang asing.”

Aku hampir tertawa.

Orang asing.

Lucu sekali mendengar kata itu dari lelaki yang beberapa jam sebelumnya menyebut ibu dan adikku sebagai orang luar.

“Aku kasih waktu tujuh hari.”

Aku berbalik.

“Naila!”

Aku tidak menjawab.

Malam itu aku tidur di kamar tamu.

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun pernikahan kami, aku mengunci pintunya.

Keesokan paginya, Arga sudah pergi sebelum aku bangun.

Tidak ada pesan.

Tidak ada penjelasan.

Hanya satu cangkir kopi yang belum dicuci di wastafel.

Biasanya aku akan membersihkannya.

Pagi itu aku membiarkannya di sana.

Di sekolah, aku menerima telepon dari pengacara bernama Ratih Kusuma.

Ia meminta beberapa dokumen pernikahan, bukti kepemilikan aset sebelum dan selama menikah, serta catatan transfer uang kepada Arga.

Aku mengirim semuanya.

Sore harinya Ratih menelepon lagi.

“Naila, transfer Rp480 juta ini ada keterangannya?”

“Investasi.”

“Ada kontrak?”

Aku terdiam.

“Tidak.”

“Portofolio?”

“Arga yang pegang.”

“Nama perusahaan pengelolanya?”

Aku mencoba mengingat.

Tidak ada.

Selama ini aku begitu percaya kepadanya sampai tidak pernah meminta bukti.

Ratih menarik napas.

“Coba jangan tanyakan terlalu banyak dulu. Minta dia mengembalikan uangnya secara tertulis lewat pesan. Kita perlu melihat jawabannya.”

Malam itu aku mengirim pesan kepada Arga meski kami tinggal di apartemen yang sama.

Aku membutuhkan Rp480 juta milikku dikembalikan paling lambat Jumat.

Pesan itu dibaca.

Tidak dibalas.

Dua hari kemudian, sesuatu yang lebih aneh terjadi.

Hana meneleponku dari kampus.

“Kak, aku mau tanya sesuatu.”

“Apa?”

“Kak Arga kenal keluarga Wibowo?”

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

“Kenapa?”

“Tadi ada senior ngomong soal sebuah kedai bakpao baru. Katanya pemiliknya keluarga pengusaha yang kena kasus penggelapan. Aku iseng cari di internet.”

Hana mengirim sebuah foto.

Itu unggahan promosi pembukaan kedai enam bulan lalu.

Bu Melati berdiri di tengah bersama Kirana.

Di belakang mereka ada Arga.

Aku memperbesar foto itu.

Di salah satu sudut terlihat papan kecil bertuliskan nama badan usaha.

PT Melati Rasa Nusantara.

Aku mencarinya.

Tidak banyak informasi tersedia.

Namun sebuah unggahan lama dari akun pemasok peralatan dapur membuatku berhenti bernapas.

“Terima kasih PT Melati Rasa Nusantara atas kepercayaannya. Semoga sukses untuk pembukaan cabang pertama.”

Di bawahnya ada foto serah terima.

Arga berdiri sambil memegang dokumen.

Aku mengirim semuanya kepada Ratih.

Dua jam kemudian ia menelepon.

“Naila, saya sudah cek data perusahaan yang bisa diakses.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Direkturnya Kirana Wibowo.”

Aku sudah menduganya.

“Tapi ada hal lain.”

“Apa?”

“Modal awal yang tercatat cukup besar untuk usaha sekecil itu.”

Darahku terasa turun ke kaki.

“Berapa?”

Ratih menyebut angka yang membuatku harus duduk.

Rp450 juta.

Selisihnya hanya Rp30 juta dari uang yang kutitipkan kepada Arga.

Malam itu aku tidak langsung menuduhnya.

Aku menunggu.

Aku ingin memberinya kesempatan terakhir.

Arga pulang hampir pukul sebelas malam.

“Aku mau bukti investasiku.”

Ia berhenti membuka sepatu.

“Nanti.”

“Sekarang.”

“Aku capek.”

“Nama instrumennya apa?”

“Naila, jangan mulai lagi.”

“Perusahaan mana yang mengelola?”

Ia terdiam.

Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto PT Melati Rasa Nusantara.

Wajahnya berubah.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi cukup.

“Uangku ada di bisnis Kirana?”

Arga langsung berdiri.

“Jangan membuat kesimpulan sendiri.”

“Jawab.”

“Aku memutarnya.”

“Memutar uang siapa?”

“Uang kita.”

“Uangku.”

“Naila!”

Untuk pertama kalinya ia membentakku begitu keras.

Lalu seolah menyadari dirinya kehilangan kendali, ia menurunkan suara.

“Keluarga Kirana sedang terpuruk. Aku melihat peluang. Kita bisa dapat keuntungan.”

“Kita?”

Aku tertawa.

“Namaku ada di perusahaan itu?”

Tidak.

“Namaku ada di perjanjian modal?”

Ia diam.

“Berapa persen sahamku?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengangguk.

“Berarti bukan investasi.”

Aku menatap matanya.

“Kamu mengambil uangku untuk menyelamatkan perempuan lain.”

“Jangan dramatis.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya hancur kemarin.

Aku mengambil sebuah amplop dari tas.

Di dalamnya ada salinan konsultasi hukum dan daftar dokumen yang harus disiapkan.

“Aku mengajukan cerai.”

Arga menatap amplop itu beberapa detik, lalu tertawa pendek.

“Kamu bercanda.”

“Tidak.”

“Karena sambal?”

“Bukan.”

Aku mengulang kalimat yang pernah ia ucapkan kepada ibuku empat tahun lalu.

“Ini bukan soal cabainya.”

Wajahnya membeku.

“Ini soal bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.”

Aku berjalan ke kamar.

Namun Arga mengejarku.

“Naila, dengar dulu.”

Aku berbalik.

“Empat tahun ibuku merasa bersalah.”

Suaraku bergetar, tetapi aku tidak menangis.

“Empat tahun dia takut memasak kalau kamu datang. Empat tahun dia mengira satu potong cabai membuat menantunya membencinya.”

“Aku pikir kamu memang punya masalah kesehatan.”

“Aku membelamu setiap kali Ibu bertanya kenapa kamu tidak pernah pulang ke Solo.”

Aku menunjuk ke arahnya.

“Ternyata kamu bisa makan sambal. Kamu bisa memperbaiki lampu. Kamu bisa mengurus izin usaha. Kamu bisa meminjamkan kamar. Kamu bisa datang begitu seseorang menelepon.”

“Semua hal yang katanya terlalu melelahkan ketika aku atau keluargaku membutuhkanmu.”

Arga terdiam.

Lalu mengatakan sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan.

“Karena kalian tidak membutuhkan aku seperti mereka.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Kamu selalu bisa sendiri.”

Ia mulai bicara cepat, seolah akhirnya menemukan pembenaran.

“Kamu punya pekerjaan tetap. Keluargamu sederhana, tapi mereka baik-baik saja. Hana pintar. Ibumu punya rumah.”

“Kirana kehilangan semuanya.”

“Ayahnya dipenjara. Rumah mereka disita. Bisnis keluarga hancur.”

“Kalau aku tidak membantu, siapa?”

Aku mengangguk pelan.

Akhirnya aku mengerti.

Arga tidak mencintai orang yang kuat.

Ia mencintai perasaan dibutuhkan.

Dan selama bertahun-tahun aku telah melakukan kesalahan terbesar.

Aku mengira menjadi istri yang tidak merepotkan akan membuat pernikahan kami lebih ringan.

Ternyata itu hanya membuatnya merasa bebas memberikan seluruh tenaganya kepada orang lain.

“Tolong kembalikan uangku,” kataku.

Hanya itu.

Tiga hari kemudian, aku menerima kunci hunian baruku.

Apartemennya jauh lebih kecil.

Dua kamar sederhana dengan jendela menghadap deretan pohon dan lapangan sekolah.

Aku masuk bersama Ibu dan Hana.

Ibu melihat sekeliling.

“Bagus.”

Kemudian ia menatapku cemas.

“Arga tahu?”

“Belum.”

Ibu langsung memahami sesuatu.

“Naila…”

Aku memeluknya.

“Bu.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Maafin aku.”

Ibu bingung.

“Kamu minta maaf untuk apa?”

“Empat tahun Ibu minta maaf soal cabai itu.”

Aku memeluknya lebih erat.

“Padahal Ibu tidak salah.”

Ibu terdiam.

Lalu tangannya mengusap kepalaku seperti ketika aku masih kecil.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami makan bersama tanpa takut.

Hana membeli ayam goreng.

Ibu mengeluarkan sambal kering dari Solo.

Aku mengambil satu sendok besar.

Ibu tertawa sambil menangis.

“Pelan-pelan, nanti sakit perut.”

Ternyata kebebasan kadang sesederhana bisa makan sambal di rumah sendiri tanpa merasa bersalah.

Namun masalahnya belum selesai.

Hari Jumat tiba.

Uangku belum kembali.

Arga hanya mentransfer Rp30 juta.

Pesannya singkat.

Sisanya sedang diusahakan.

Ratih langsung meminta kami bertemu.

Ia menunjukkan beberapa dokumen.

“Naila, ada kabar buruk.”

Rp450 juta memang masuk ke perusahaan Kirana.

Tetapi bukan sebagai pinjaman.

Uang itu dicatat sebagai penyertaan modal atas nama Arga.

Artinya secara dokumen, Arga menggunakan uangku untuk membangun kepemilikan bisnis atas namanya sendiri.

Aku menutup mata.

“Bisa dikembalikan?”

“Kita perjuangkan.”

Ratih berhenti sebentar.

“Tapi saya menemukan sesuatu yang mungkin lebih penting.”

Ia memutar layar laptop.

Ada salinan sebuah dokumen digital.

Perjanjian pengalihan saham.

Nama Arga tercantum di sana.

Begitu pula Kirana.

Tanggalnya hampir setahun lalu.

Jauh sebelum kedai bakpao dibuka.

Aku membaca klausul demi klausul.

Kemudian sampai pada sebuah bagian yang membuatku membeku.

Jika target ekspansi tercapai, sebagian saham akan dialihkan kepada Kirana dan Arga sebagai pemegang bersama.

“Jadi ini bukan bantuan enam bulan,” kataku.

Ratih menggeleng.

“Kelihatannya sudah direncanakan lebih lama.”

Malam itu aku pulang ke apartemen lama untuk mengambil sisa barang.

Arga menungguku.

Di ruang tamu ada Kirana.

Untuk pertama kalinya aku bertemu langsung dengannya setelah bertahun-tahun hanya mendengar namanya.

Kirana berdiri.

“Naila, aku bisa jelaskan.”

Aku meletakkan kardus.

“Silakan.”

Ia tampak gugup.

“Aku tidak pernah bermaksud merusak rumah tangga kalian.”

Aku memandang Arga.

“Apakah ibumu tahu dia sudah menikah?”

Kirana diam.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

“Kirana tahu,” kata Arga.

Aku menoleh.

“Sejak kapan?”

“Sejak awal.”

Kirana mulai menangis.

“Arga bilang pernikahan kalian sudah lama tidak bahagia.”

Aku tertawa pelan.

Kalimat klasik.

Begitu sederhana sampai hampir memalukan.

“Apa dia juga bilang istrinya memberikan Rp480 juta yang kemudian dipakai sebagai modal perusahaan kalian?”

Wajah Kirana langsung berubah.

Ia menoleh kepada Arga.

“Apa?”

Sekarang giliran Arga yang pucat.

Aku berhenti.

Ada sesuatu yang tidak cocok.

“Kamu tidak tahu?”

Kirana menggeleng.

“Arga bilang modal itu uang investasinya sendiri.”

Ruangan menjadi sunyi.

Kirana mengambil ponsel.

Tangannya gemetar.

“Mas, uang itu milik Naila?”

Arga mencoba mendekatinya.

“Kirana, dengar dulu.”

“Jangan sentuh aku.”

Aku hampir tidak percaya pada apa yang kulihat.

Ternyata bukan hanya aku yang dibohongi.

Bu Melati muncul dari lorong beberapa menit kemudian. Rupanya sejak tadi ia berada di kamar.

Begitu melihatku, wajahnya langsung pucat.

“Mbak yang waktu itu…”

Aku mengangguk.

“Saya Naila.”

Aku menatap Arga.

“Istrinya.”

Bu Melati memegang meja.

“Kamu sudah menikah?”

Kali ini aku benar-benar tertawa.

Arga ternyata menjalani dua kehidupan dengan dua kebohongan berbeda.

Di rumahku, keluarga Kirana hanyalah teman lama yang sedang kesulitan.

Di rumah mereka, aku adalah istri yang pernikahannya konon tinggal menunggu perceraian.

Bu Melati menampar Arga.

Suara tamparannya menggema di ruang tamu.

“Keluar.”

“Tante…”

“Keluar!”

Dua minggu kemudian, Kirana dan Bu Melati memberikan salinan percakapan serta dokumen bisnis kepada pengacaraku.

Mereka juga sepakat mengembalikan modal yang berasal dari uangku melalui penjualan sebagian aset usaha dan pengalihan kepemilikan Arga.

Prosesnya tidak cepat.

Namun untuk pertama kalinya aku tidak terburu-buru.

Aku sudah mendapatkan hal yang jauh lebih penting.

Kejelasan.

Enam bulan kemudian, proses perceraianku selesai.

Sebagian besar uangku berhasil kembali.

Sisanya dibayarkan bertahap berdasarkan kesepakatan hukum.

Arga kehilangan sahamnya di perusahaan itu.

Kirana memutus seluruh hubungan pribadi dengannya.

Dan sesuatu yang ironis terjadi.

Kedai bakpao Bu Melati justru berkembang.

Suatu sore sepulang mengajar, aku melewati cabang baru mereka.

Aku tidak masuk.

Aku hanya melihat papan namanya dari seberang jalan dan tersenyum.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Ibu.

Pulang kapan? Ibu bikin daging tumis. Cabainya banyak.

Aku tertawa.

Aku membalas bahwa aku akan pulang ke Solo akhir pekan itu.

Sebelum memasukkan ponsel ke tas, sebuah pesan lain muncul.

Dari nomor yang sudah lama tidak kusimpan.

Arga.

Aku minta maaf. Sekarang aku baru sadar apa yang sudah hilang.

Aku membaca pesan itu sekali.

Lalu menghapusnya.

Karena akhirnya aku memahami sesuatu.

Ada orang yang baru menghargai sebuah rumah setelah pintunya tertutup untuk mereka.

Dan ada perempuan yang menghabiskan hidupnya menjadi kuat karena mengira kekuatan adalah bentuk cinta terbaik yang bisa ia berikan.

Aku pernah menjadi perempuan itu.

Aku memasak sendiri ketika suamiku lelah.

Memperbaiki masalah sendiri ketika ia sibuk.

Menelan kecewa agar tidak dianggap menuntut.

Aku bahkan mengajari ibuku berjalan dengan hati-hati di rumah tanggaku sendiri.

Namun sekarang aku tahu.

Menjadi kuat bukan berarti kita pantas menerima lebih sedikit perhatian.

Menjadi mandiri bukan berarti kita tidak perlu dibela.

Dan cinta yang sehat tidak membuat seseorang harus terlihat rapuh terlebih dahulu agar layak dirawat.

Akhir pekan itu aku pulang ke Solo.

Ibu menaruh sepiring tumis daging di depanku.

Di atasnya terlihat irisan cabai merah.

Ia sempat ragu.

“Pedas, lho.”

Aku mengambil satu suapan.

Lalu tersenyum.

“Enak, Bu.”

Ibu tersenyum kembali.

Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, tidak ada seorang pun di meja itu yang meminta maaf karena cabai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang