KAKEK DATANG DENGAN MOBIL MEWAH KE KONTRAKAN KUMUH KAMI DAN BERTANYA, “MANA RUMAH SENILAI RP28 MILIAR YANG KUBERIKAN UNTUKMU?” LIMA MENIT KEMUDIAN, PESTA SUAMIKU BERANTAKAN!

Nadia baru melangkah dua meter ketika petugas keamanan buru-buru menghadangnya.

“Maaf, Bu. Saya tidak bisa membiarkan Ibu masuk tanpa izin pemilik rumah.”

Nadia berhenti.

“Pemilik rumah?”

Petugas itu mengangguk gugup.

“Pak Handoko dan keluarga.”

Untuk pertama kalinya sejak pagi, Nadia tersenyum tipis.

Bukan karena lucu.

Justru karena ia akhirnya memahami betapa jauh Handoko telah membangun kebohongannya.

“Saya Nadia Pratama,” katanya tenang. “Rumah ini dibeli atas nama perwalian saya dan anak saya, Rizky Pratama.”

Petugas keamanan terlihat semakin bingung.

Sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara berat terdengar dari belakang.

“Dan saya yang membelinya.”

Opa Suryo berdiri beberapa langkah dari mereka.

Pria tua itu datang bersama seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun yang membawa tas dokumen hitam.

Nadia mengenal perempuan tersebut.

Ibu Rina, pengacara keluarga Pratama yang dulu beberapa kali datang ke rumah mereka ketika Nadia masih kuliah.

Petugas keamanan langsung menundukkan kepala.

“Opa?”

Nadia menatap kakeknya.

Opa Suryo hanya mengangguk.

“Aku bilang datang dan lihat dengan mata kepalamu sendiri. Sekarang sudah cukup melihatnya.”

Ibu Rina mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

“Pak, berdasarkan akta perwalian dan sertifikat yang sah, rumah ini bukan milik Pak Handoko. Pak Handoko juga tidak memiliki hak untuk menyewakan, menjaminkan, menjual, atau mengaku sebagai pemilik rumah.”

Wajah petugas keamanan pucat.

“Saya tidak tahu, Bu. Selama ini Pak Handoko bilang rumah ini milik keluarganya.”

“Saya tahu,” jawab Nadia.

Ia tidak marah kepada petugas itu.

Orang yang paling bersalah sedang berada di dalam rumah, mempersiapkan pesta pertunangan.

Begitu gerbang terbuka, Nadia melihat sesuatu yang membuat langkahnya kembali terhenti.

Halaman rumah dipenuhi rangkaian bunga putih.

Sebuah panggung kecil berdiri di dekat kolam renang.

Puluhan kursi sudah tersusun rapi.

Meja panjang penuh makanan mewah memenuhi sisi taman.

Para pekerja katering mondar-mandir membawa baki.

Di dekat pintu utama bahkan ada papan dekorasi besar bertuliskan nama Handoko dan Clarissa.

Clarissa.

Jadi itulah nama perempuan yang memakai gelang ibunya.

Nadia menatap tulisan itu lama.

Opa Suryo berdiri di sampingnya.

“Kamu ingin pulang?”

Nadia menggeleng.

“Tidak.”

“Kamu yakin?”

Nadia menarik napas.

“Selama dua tahun saya selalu pergi ketika Handoko menyuruh saya pergi. Hari ini tidak.”

Mereka masuk.

Beberapa tamu yang sudah datang mulai memperhatikan Nadia.

Pakaiannya sederhana dan sangat kontras dengan gaun pesta serta setelan mahal yang dikenakan para tamu.

Namun Nadia tidak menundukkan kepala.

Rizky menggenggam tangannya erat.

Dari dalam rumah terdengar suara Bu Ratna.

“Bunga di depan kurang banyak. Saya sudah bilang pesta ini harus terlihat berkelas.”

Perempuan itu muncul dari pintu utama sambil membawa ponsel.

Begitu melihat Nadia, wajahnya langsung berubah.

“Kamu?”

Bu Ratna menghampiri dengan langkah cepat.

“Bagaimana kamu bisa masuk?”

Nadia belum menjawab ketika Bu Ratna melihat Opa Suryo.

Ekspresinya membeku.

“Pak Suryo.”

Opa Suryo tidak menjawab sapaan itu.

Ia hanya menatap perempuan tersebut dari ujung kepala sampai kaki.

Anting berlian.

Tas bermerek.

Sepatu mahal.

Semuanya terasa seperti penghinaan setelah melihat cucunya tinggal di rumah kontrakan yang atapnya bocor.

“Dari mana uang untuk semua ini?” tanya Opa Suryo.

Bu Ratna menelan ludah.

“Saya tidak mengerti.”

“Kalau begitu kita tunggu anakmu. Mungkin dia bisa menjelaskan.”

Keributan kecil itu segera menarik perhatian tamu.

Beberapa orang mulai berbisik.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Mercedes yang tadi membawa Handoko kembali memasuki halaman.

Handoko turun lebih dahulu.

Clarissa menyusul.

Keduanya tertawa sampai Handoko melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumah.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

“Nadia.”

Nadia menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Handoko kemudian melihat Opa Suryo dan Ibu Rina.

“Kenapa Opa ada di sini?”

Opa Suryo tertawa kecil.

“Pertanyaan yang lebih tepat adalah kenapa kamu ada di sini.”

Handoko mencoba tersenyum.

“Opa, kita bicara di dalam saja.”

“Tidak.”

Suara Opa Suryo keras.

Beberapa tamu berhenti berbicara.

“Aku ingin semua orang mendengar.”

Clarissa terlihat tidak nyaman.

“Handoko, siapa mereka?”

Handoko cepat-cepat memegang lengannya.

“Masuk dulu.”

Namun Nadia menatap gelang di tangan Clarissa.

“Gelang itu milik ibu saya.”

Clarissa refleks melihat pergelangan tangannya.

“Apa?”

“Gelang zamrud itu. Warisan ibu saya.”

Clarissa menoleh tajam kepada Handoko.

“Kamu bilang ini gelang keluarga kamu.”

Handoko mulai panik.

“Nad, jangan bikin keributan.”

Nadia hampir tertawa.

Dua tahun lalu kalimat seperti itu bisa membuatnya diam.

Hari itu tidak lagi.

“Saya yang bikin keributan?”

Nadia mengeluarkan ponsel.

Ia memutar rekaman dari pagi tadi.

Suara Clarissa terdengar jelas.

“Tolong usir perempuan itu dari depan rumah. Hari ini kami ada pesta pertunangan. Jangan sampai ada pengemis merusak pemandangan.”

Wajah Clarissa memerah.

Para tamu mulai berbisik lebih keras.

Handoko maju dan mencoba meraih ponsel Nadia.

Opa Suryo langsung mengetukkan tongkatnya ke lantai.

“Jangan sentuh cucuku.”

Handoko berhenti.

Rizky yang sejak tadi diam akhirnya bersembunyi di belakang kaki Nadia.

“Ayah marah?”

Suara kecil itu membuat suasana berubah.

Semua orang melihat anak berusia empat tahun itu.

Clarissa memandang Rizky.

Lalu memandang Handoko.

“Dia memanggil kamu Ayah.”

Handoko tidak menjawab.

Clarissa mundur satu langkah.

“Kamu bilang kamu duda.”

Nadia memejamkan mata sebentar.

Ternyata kebohongan Handoko bukan hanya kepada dirinya.

Namun itu tidak mengurangi apa pun.

Handoko tetap memilih semua ini.

Clarissa menatap Nadia.

“Anda istrinya?”

“Masih sah.”

Clarissa langsung melepas gelang zamrud dari tangannya.

Tangannya gemetar.

“Dia bilang istrinya meninggal dua tahun lalu.”

Suasana seketika senyap.

Nadia menatap Handoko.

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada melihat suaminya bersama perempuan lain.

Selama dua tahun ia hidup dalam kemiskinan karena percaya Handoko sedang berjuang untuk mereka.

Sementara kepada dunia baru yang dibangunnya, Handoko bahkan menghapus keberadaan Nadia.

Bukan bercerai.

Bukan berpisah.

Meninggal.

Clarissa memberikan gelang itu kepada Nadia.

“Maaf. Saya benar-benar tidak tahu.”

Bu Ratna langsung maju.

“Clarissa, jangan percaya perempuan itu. Dia memang istrinya Handoko, tapi rumah tangga mereka sudah lama bermasalah.”

Nadia memandang ibu mertuanya.

“Masalah yang mana, Bu? Ketika saya menjual cincin ibu saya untuk membayar kontrakan? Atau ketika Rizky demam tiga hari dan saya tidak punya uang untuk membawanya ke rumah sakit karena Handoko bilang gajinya belum turun?”

Bu Ratna terdiam.

Opa Suryo menoleh kepada Handoko.

“Kamu menerima dua miliar rupiah untuk biaya pemulihan Nadia setelah melahirkan.”

Nadia langsung menatap kakeknya.

“Apa?”

Opa Suryo mengangguk.

“Dua miliar. Selain rumah ini.”

Kaki Nadia terasa lemas.

Handoko buru-buru berkata, “Uang itu habis untuk pengobatan.”

Ibu Rina membuka map.

“Tidak.”

Ia mengeluarkan laporan transaksi.

“Sebagian digunakan untuk membeli mobil Mercedes. Sebagian masuk ke rekening ibu Anda. Sisanya digunakan sebagai modal perusahaan konstruksi yang Anda dirikan menggunakan alamat rumah ini.”

Para tamu mulai mengambil ponsel.

Handoko melihat sekeliling dengan panik.

“Tolong jangan direkam.”

Namun sudah terlambat.

Ibu Rina melanjutkan.

“Dan ada masalah lain.”

Handoko membeku.

“Selama dua tahun terakhir, Pak Handoko juga menggunakan rumah ini sebagai bukti aset untuk memperoleh fasilitas kredit perusahaan.”

Nadia mengerutkan kening.

“Bukankah rumah ini tidak bisa dijaminkan?”

“Benar.”

Ibu Rina menatap Handoko.

“Karena itu dokumen yang digunakan diduga dipalsukan.”

Bu Ratna langsung duduk di kursi terdekat.

Handoko berteriak, “Itu bukan pemalsuan.”

“Bagus,” jawab Ibu Rina. “Berarti Anda bisa menjelaskannya kepada penyidik.”

Dua mobil berhenti di luar gerbang.

Beberapa petugas turun.

Nadia menatap Opa Suryo.

“Opa sudah melapor?”

“Delapan bulan lalu aku mulai curiga.”

Ternyata ketika Handoko berkali-kali menghalangi Opa Suryo bertemu Nadia, pria tua itu meminta tim hukum keluarga memeriksa seluruh aset yang pernah diberikan kepada cucunya.

Mereka menemukan tagihan listrik rumah Pondok Indah yang sangat tinggi.

Lalu ditemukan pula perusahaan atas nama Handoko yang memakai alamat tersebut.

Puncaknya terjadi dua minggu sebelumnya ketika pihak bank menghubungi pengelola perwalian untuk melakukan verifikasi terhadap dokumen aset.

Saat itulah Opa Suryo tahu seseorang telah mencoba menggunakan rumah tersebut dalam transaksi yang seharusnya mustahil dilakukan tanpa tanda tangan Nadia.

Handoko mundur.

“Opa, saya bisa jelaskan semuanya.”

“Kamu punya dua tahun untuk menjelaskan kepada Nadia.”

Handoko menatap istrinya.

Untuk pertama kalinya, kesombongan di wajahnya benar-benar hilang.

“Nad, dengar dulu. Aku lakukan semua ini supaya kita punya kehidupan lebih baik.”

Nadia hampir tidak percaya.

“Kita?”

“Iya. Perusahaan itu mulai berkembang. Aku cuma butuh waktu.”

“Kalau untuk kita, kenapa saya dan Rizky tinggal di Bantar Gebang?”

Handoko tidak menjawab.

“Kalau untuk kita, kenapa kamu bertunangan dengan perempuan lain?”

Diam.

“Kalau untuk kita, kenapa kepada Clarissa kamu bilang saya sudah meninggal?”

Handoko membuka mulut tetapi tidak ada suara keluar.

Nadia akhirnya mengerti.

Ia selama ini menunggu penjelasan yang sebenarnya tidak pernah ada.

Bukan keadaan sulit.

Bukan tekanan ekonomi.

Bukan kesalahpahaman.

Handoko melakukan semua itu karena ia bisa.

Karena selama bertahun-tahun Nadia selalu percaya.

Karena ia mengira perempuan yang sakit setelah melahirkan, berhenti kuliah, tidak punya penghasilan, dan jauh dari keluarga akan terlalu lemah untuk melawan.

Handoko mendekat.

“Nad, pikirkan Rizky. Dia butuh ayah.”

Nadia menatap anak mereka.

Rizky sedang memegang mobil-mobilan rusaknya.

Kemudian Nadia melihat jam tangan emas di tangan Handoko.

Harganya mungkin cukup untuk membeli ratusan mainan seperti itu.

“Selama dua tahun dia juga butuh ayah,” jawab Nadia. “Tapi kamu memilih menjadi orang asing.”

Handoko menunduk.

Petugas meminta Handoko ikut memberikan keterangan.

Bu Ratna menangis dan mencoba memohon kepada Opa Suryo.

Namun lelaki tua itu tidak bergeming.

Clarissa berdiri jauh dari mereka.

Ketika Handoko dibawa menuju mobil, ia kembali memanggil Nadia.

“Nad.”

Nadia menoleh.

“Aku masih suamimu.”

Nadia menatapnya beberapa detik.

“Tidak lama lagi.”

Enam bulan berikutnya menjadi masa paling berat sekaligus paling menentukan dalam hidup Nadia.

Pemeriksaan menemukan bahwa Handoko bukan hanya menyalahgunakan dana yang diberikan untuk Nadia.

Ia juga memalsukan sejumlah dokumen, mengambil pinjaman menggunakan data aset perwalian, dan mengalihkan sebagian uang perusahaan ke beberapa rekening keluarga.

Bu Ratna ikut diperiksa karena menerima aliran dana dalam jumlah besar.

Perusahaan Handoko akhirnya jatuh.

Mercedes dijual.

Jam tangan emas disita sebagai bagian dari penyelesaian utang.

Pesta pertunangan yang seharusnya berlangsung malam itu tidak pernah terjadi.

Clarissa memutus seluruh hubungannya dengan Handoko pada hari yang sama.

Namun Nadia tidak langsung pindah ke rumah Pondok Indah.

Selama beberapa minggu ia justru tetap tinggal di kontrakannya.

Opa Suryo tidak memahami alasannya.

Sampai suatu sore Nadia berkata, “Saya ingin masuk ke rumah itu ketika saya sudah tidak merasa rumah itu adalah hadiah yang membuat saya berutang kepada siapa pun.”

Opa Suryo terdiam.

Lalu tersenyum.

“Kamu mirip ibumu.”

Nadia akhirnya kembali kuliah.

Ia menyelesaikan semester yang dulu terpaksa ditinggalkannya.

Rumah Pondok Indah kemudian direnovasi.

Bukan menjadi tempat tinggal mewah seperti sebelumnya.

Nadia mengubah bagian depan rumah menjadi sebuah pusat bantuan hukum kecil bagi perempuan yang mengalami manipulasi ekonomi dalam rumah tangga.

Ketika Opa Suryo pertama kali melihat papan nama di depan rumah, matanya berkaca-kaca.

“Kamu yakin mau melakukan ini?”

Nadia mengangguk.

“Saya pernah punya rumah dua puluh delapan miliar tetapi tidak tahu bahwa rumah itu ada. Banyak perempuan lain bahkan tidak tahu uang mereka diambil, nama mereka dipakai untuk utang, atau hak mereka sudah dirampas.”

Rizky yang kini berusia lima tahun berlari keluar membawa mobil-mobilan baru.

Namun di tangannya yang lain, ia masih menggenggam mobil plastik lama yang kehilangan satu roda.

Nadia pernah menawarkan untuk membuangnya.

Rizky menolak.

“Itu mobil waktu kita tinggal di rumah lama.”

Nadia tidak pernah memaksanya lagi.

Setahun setelah hari ketika pesta Handoko berantakan, Nadia menerima sebuah amplop dari lembaga pemasyarakatan.

Handoko menulis surat panjang.

Ia meminta maaf.

Mengatakan dirinya menyesal.

Mengaku baru menyadari arti keluarga setelah kehilangan semuanya.

Di bagian terakhir, Handoko menulis satu kalimat.

Jika waktu bisa diputar kembali, aku akan memilih kalian.

Nadia membaca kalimat itu lama.

Kemudian ia melipat surat tersebut dan memasukkannya kembali ke amplop.

Ia tidak membalas.

Malam itu, Nadia duduk di teras rumah bersama Opa Suryo.

Rizky tertidur di pangkuannya.

“Opa,” katanya pelan.

“Ya?”

“Dulu saya pikir hari ketika saya melihat Handoko bersama Clarissa adalah hari terburuk dalam hidup saya.”

“Sekarang?”

Nadia melihat lampu-lampu kota di kejauhan.

“Sekarang saya pikir itu hari ketika saya akhirnya terbangun.”

Opa Suryo tersenyum.

Nadia menunduk dan mencium kepala Rizky.

Rumah senilai Rp28 miliar itu akhirnya memang kembali kepadanya.

Namun Nadia tahu, hal paling berharga yang ia dapatkan bukan rumah, uang, atau warisan.

Melainkan keberanian untuk percaya kepada dirinya sendiri lagi.

Dan pada akhirnya, itulah satu-satunya hal yang gagal dicuri Handoko darinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang