H-1 PERNIKAHAN, DIA MENEMUKAN AKTA NIKAH RAHASIA CALON SUAMINYA DENGAN SAHABAT SENDIRI.

Pintu lift menutup di depan wajah Rendy, tetapi ancamannya masih terngiang di kepala Maya sepanjang perjalanan turun ke lobi.

Kalau perusahaan keluargaku runtuh, semua orang akan menyalahkanmu.

Maya memejamkan mata. Selama enam tahun, Rendy selalu tahu cara membuatnya merasa bersalah. Saat Maya mempertanyakan kedekatannya dengan Siska, Maya disebut terlalu curiga. Saat ia keberatan keluarga Lujanto ikut campur dalam urusan fideikomis Ortega, ia dianggap tidak percaya pada calon keluarga sendiri.

Kini, bahkan setelah menikahi perempuan lain secara diam-diam, Rendy masih berhasil menempatkan Maya sebagai orang yang akan menghancurkan hidup empat ratus karyawan.

Begitu tiba di lantai dasar, Maya tidak menuju restoran tempat keluarganya berkumpul. Ia keluar melalui pintu samping hotel dan masuk ke mobil Lina yang sudah menunggunya.

Pengacara itu tidak bertanya apa pun ketika melihat wajah Maya.

Ia hanya membuka pintu belakang.

Maya masuk sambil memeluk map dokumen di dadanya.

“Aku tidak mau pulang ke Jakarta,” katanya pelan.

“Kita ke mana?”

“Tempat yang tidak diketahui keluarga Lujanto.”

Lina mengangguk dan meminta sopir membawa mereka ke vila kecil milik keluarga Ortega di Cisarua.

Malam semakin larut ketika Maya akhirnya duduk di ruang tamu vila yang gelap dan sepi. Gaun yang seharusnya dipakai untuk makan malam keluarga masih tergantung rapi di tubuhnya. Riasannya sudah luntur karena air mata.

Ponselnya terus bergetar.

Rendy.

Ibu Rendy.

Ayah Rendy.

Adik Rendy.

Bahkan beberapa kerabatnya sendiri mulai menghubungi.

Maya tidak menjawab satu pun.

Pukul 03.17 dini hari, sebuah pesan masuk dari nomor yang sama yang mengirim foto akta nikah.

Kali ini bukan foto.

Sebuah folder berisi puluhan dokumen.

Di bawahnya terdapat satu kalimat.

Kalau kamu masih ingin tahu untuk apa mereka sebenarnya membutuhkan tanda tanganmu, buka folder bernama Arunika.

Maya menatap Lina.

“Bisa kita periksa?”

Lina membuka laptop.

Folder pertama berisi rekening koran beberapa perusahaan. Folder kedua berisi surat elektronik internal. Folder ketiga memuat daftar transfer dengan nilai miliaran rupiah.

Lina membaca dalam diam selama hampir sepuluh menit.

Semakin lama, wajahnya semakin tegang.

“Maya.”

“Apa?”

“Jangan tanda tangani apa pun besok.”

“Aku memang tidak akan menandatanganinya.”

“Bukan cuma karena Rendy.”

Lina memutar layar laptop.

Ada sebuah perusahaan bernama PT Arunika Global Konsultama.

Maya tidak pernah mendengar nama itu.

Menurut dokumen pendiriannya, perusahaan tersebut dimiliki melalui beberapa lapisan perusahaan lain. Namun dalam percakapan internal yang bocor, nama Rendy, ayahnya, dan Siska muncul berkali-kali.

Rencana mereka sederhana.

Dana dari fideikomis Ortega akan masuk ke perusahaan utama Lujanto sebagai investasi penyelamatan.

Setelah dana cair, sebagian besar uang akan dipindahkan sebagai pembayaran jasa konsultasi, pembelian aset, dan pinjaman antarperusahaan.

Tujuan akhirnya adalah Arunika.

Sebuah perusahaan yang praktis tidak mempunyai operasi nyata.

Maya membaca satu pesan yang dikirim Rendy kepada ayahnya tiga bulan lalu.

Begitu dana Ortega masuk, pindahkan tahap pertama sebelum audit semester. Maya tidak akan memeriksa. Setelah menikah, jauh lebih mudah mengendalikan semuanya.

Tangannya mulai gemetar.

Namun dokumen berikutnya jauh lebih buruk.

Ada surat elektronik dari ayah Rendy.

Pastikan urusan Siska dibereskan sebelum pernikahan simbolis. Status hukum mereka dibutuhkan untuk pengalihan kepemilikan apabila ada pemeriksaan.

Maya menatap layar lama sekali.

“Jadi pernikahan mereka bukan karena mabuk.”

Lina menggeleng perlahan.

“Kelihatannya direncanakan.”

Ponsel Maya tiba-tiba berdering.

Nomor tidak dikenal.

Maya mengangkatnya.

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Kemudian terdengar seorang perempuan menangis.

“Maya.”

Maya langsung mengenali suara itu.

Siska.

Tubuhnya menegang.

“Kamu yang mengirim semuanya?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Siska terdiam.

“Karena aku pengecut.”

Maya tertawa kecil tanpa humor.

“Kamu menikahi calon suamiku lalu menyebut dirimu pengecut?”

“Aku tahu kamu membenciku.”

“Kamu bahkan tidak tahu seberapa besar.”

“Aku pantas mendapatkannya.”

Maya hampir memutus sambungan.

Namun Siska berkata cepat.

“Rendy tidak menikahiku karena cinta.”

Maya diam.

“Dia menikahiku karena namaku dipakai di Arunika.”

“Lalu kamu setuju?”

“Aku setuju karena aku juga terlibat.”

Jawaban itu membuat Maya tidak siap.

Siska tidak berusaha menjadikan dirinya korban.

Selama dua tahun terakhir, ia membantu Rendy mengurus perusahaan-perusahaan cangkang tersebut. Sebagai mantan staf keuangan grup Lujanto, ia mengetahui cara memindahkan dana tanpa terlihat mencurigakan dalam laporan sederhana.

Awalnya, kata Siska, ia percaya seluruh transaksi hanya digunakan untuk menyelamatkan perusahaan dari utang.

Kemudian ia menemukan sesuatu.

Krisis likuiditas Lujanto ternyata bukan sekadar akibat bisnis yang memburuk.

Sebagian besar masalah diciptakan sendiri.

Selama hampir empat tahun, keluarga Rendy memindahkan keuntungan ke perusahaan pribadi, membeli properti melalui pihak ketiga, lalu membebankan utang pada perusahaan utama.

Ratusan karyawan bekerja untuk perusahaan yang sengaja dikosongkan dari dalam.

Dan ketika lubangnya terlalu besar, mereka mencari uang Ortega untuk menutupinya.

“Kenapa menikah dengan Rendy?” tanya Maya.

“Karena kalau Arunika diperiksa dan asetnya dibekukan, sebagian kepemilikan bisa dipindahkan melalui struktur yang sudah mereka siapkan atas nama pasangan. Aku bodoh. Aku pikir setelah semuanya selesai, Rendy akan benar-benar memilihku.”

Maya memejamkan mata.

Akhirnya semuanya masuk akal.

Siska memang mencintai Rendy.

Dan Rendy menggunakan cinta dua perempuan sekaligus.

Satu perempuan untuk menyembunyikan uang.

Satu perempuan untuk mendapatkannya.

“Lalu kenapa mengkhianati mereka sekarang?”

Tangis Siska semakin jelas.

“Karena tadi malam aku mendengar ayah Rendy mengatakan sesuatu.”

“Apa?”

“Mereka akan menyalahkan semua transfer kepada aku kalau audit gagal.”

Maya terdiam.

Siska tertawa pahit.

“Baru tadi malam aku sadar. Dari awal, aku juga cuma alat.”

Pukul enam pagi, Maya membuat keputusan.

Ia tidak membatalkan pesta.

Setidaknya belum.

Ketika Lina mendengar rencananya, ia langsung menolak.

“Ini terlalu berisiko.”

“Kalau aku menghilang, keluarga Rendy akan mengatakan aku kabur karena emosi. Mereka akan menggunakan empat ratus karyawan untuk menyerangku.”

“Lalu kamu mau melakukan apa?”

Maya memandang undangan pernikahan digital di ponselnya.

“Aku akan datang.”

Pukul sembilan pagi, taman hotel sudah dipenuhi tamu.

Kabar hilangnya Maya semalam sengaja ditutup-tutupi oleh keluarga Lujanto. Mereka mengatakan calon pengantin perempuan sedang melakukan ritual keluarga pribadi sebelum acara.

Rendy berdiri di dekat altar dengan wajah pucat.

Ia sudah mengirim lebih dari seratus pesan kepada Maya.

Tidak satu pun dibalas.

Pukul sembilan lewat dua belas menit, musik mulai dimainkan.

Semua tamu berdiri.

Dan Maya muncul.

Ia mengenakan gaun pengantin putih yang telah dipilihnya berbulan-bulan lalu.

Wajah Rendy langsung berubah lega.

Ibunya bahkan terlihat hampir menangis bahagia.

Maya berjalan perlahan menuju altar.

Ketika tiba di depan Rendy, pria itu berbisik tanpa menggerakkan bibir.

“Aku tahu kamu akan berpikir jernih.”

Maya menatapnya.

“Benarkah?”

Rendy tersenyum tipis.

Prosesi baru akan dimulai ketika Maya mengambil mikrofon dari tangan pembawa acara.

Suasana langsung berubah.

“Maaf,” katanya kepada para tamu. “Sebelum acara dilanjutkan, ada sesuatu yang harus saya sampaikan.”

Rendy meraih lengannya.

“Maya, jangan.”

Maya menarik tangannya.

Layar LED besar di belakang panggung tiba-tiba menyala.

Foto Rendy dan Siska keluar dari Kantor Catatan Sipil muncul di hadapan dua ratus delapan puluh tamu.

Suara gaduh langsung memenuhi taman.

Ibu Rendy berdiri dari kursinya.

“Apa-apaan ini?”

Maya tidak memandangnya.

“Dua puluh tujuh hari lalu, pria yang berdiri di samping saya telah menikah secara resmi dengan perempuan lain.”

Rendy mengambil mikrofon kedua.

“Ini masalah pribadi dan sedang kami selesaikan. Maya sedang emosional.”

Maya tersenyum kecil.

“Betul. Saya emosional.”

Ia membuka map di tangannya.

“Tapi dokumen ini tidak.”

Layar berganti.

Transfer dana.

Struktur perusahaan.

Email internal.

Nama Arunika.

Wajah ayah Rendy langsung pucat.

“Matikan layar itu!” teriaknya.

Namun tidak ada kru yang bergerak.

Lina sudah mengambil alih seluruh materi presentasi sejak pagi.

Rendy mendekati Maya dengan wajah penuh kemarahan.

“Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan.”

“Justru sekarang aku tahu.”

“Kamu akan menghancurkan perusahaan!”

“Tidak.”

Maya menatap seluruh tamu.

“Saya tidak akan menghancurkan perusahaan Lujanto.”

Rendy membeku.

Maya mengambil satu dokumen lain.

Selama semalam Lina dan tim Ortega menemukan sebuah klausul dalam fideikomis yang hampir terlupakan.

Dana penyelamatan tidak harus diberikan kepada pemegang saham perusahaan.

Dengan persetujuan Maya, dana tersebut dapat dialihkan menjadi fasilitas restrukturisasi terbatas yang hanya digunakan untuk pembayaran gaji, kewajiban pemasok, dan operasional perusahaan selama proses audit independen.

Tidak satu rupiah pun boleh dipindahkan kepada pemegang saham lama.

Tidak satu rupiah pun boleh digunakan untuk perusahaan afiliasi.

Dan seluruh pengeluaran harus diawasi pihak independen.

Maya menatap Rendy.

“Empat ratus karyawan tidak perlu kehilangan pekerjaan.”

Untuk pertama kalinya, Rendy benar-benar terlihat takut.

“Tapi keluargamu tidak akan mendapatkan kendali atas uangnya.”

Ayah Rendy berdiri.

“Kamu tidak bisa melakukan itu!”

Maya mengangkat dokumen.

“Tanda tangan yang kalian tunggu ada di tangan saya.”

Ia kemudian menandatangani halaman terakhir.

Bukan perjanjian investasi yang disiapkan Rendy.

Melainkan mandat restrukturisasi dan audit independen.

Tamu-tamu terdiam.

Rendy menatap tanda tangan itu seolah baru menyaksikan vonis dijatuhkan.

Beberapa menit kemudian, beberapa orang berpakaian formal masuk ke area hotel bersama Lina.

Mereka bukan polisi yang datang melakukan penangkapan dramatis.

Mereka adalah auditor, penasihat hukum, serta perwakilan kreditur utama yang sejak subuh telah menerima salinan bukti.

Lina mendekati ayah Rendy.

“Mulai pagi ini, seluruh pencairan dana dan transaksi tertentu perusahaan akan melalui pemeriksaan sesuai perjanjian kredit yang berlaku. Bukti terkait dugaan transaksi fiktif juga telah kami serahkan kepada pihak berwenang untuk ditelaah.”

Ayah Rendy jatuh terduduk.

Sementara Rendy masih berdiri di depan Maya.

“Aku mencintaimu,” katanya tiba-tiba.

Maya menatapnya lama.

Kalimat itu seharusnya menjadi kalimat yang paling ingin ia dengar sepanjang enam tahun.

Kini terdengar kosong.

“Kalau aku tidak punya uang Ortega,” tanya Maya pelan, “apa kamu tetap akan menikah denganku?”

Rendy membuka mulut.

Tidak ada jawaban.

Maya mengangguk.

“Itu yang kupikirkan.”

Ia melepas cincin pertunangannya dan meletakkannya di atas meja kecil dekat altar.

Lalu ia berbalik meninggalkan tempat yang seharusnya menjadi lokasi pernikahannya.

Namun sebelum mencapai ujung lorong bunga, seseorang berdiri di sana.

Siska.

Ia datang tanpa gaun mewah.

Hanya kemeja putih, celana hitam, rambut diikat sederhana, dan wajah yang tampak tidak tidur semalaman.

Semua tamu menatapnya.

Rendy langsung berteriak.

“Kamu!”

Siska tidak memandang Rendy.

Ia berjalan mendekati Maya dan menyerahkan sebuah flashdisk.

“Ada satu file terakhir yang belum kukirim.”

Maya menerimanya.

“Apa isinya?”

Siska menarik napas panjang.

“Rekaman suara.”

“Rekaman apa?”

“Percakapan Rendy dan ayahnya enam bulan lalu.”

Maya membeku.

Siska menatapnya dengan mata merah.

“Mereka membicarakan pamanmu.”

Paman Maya, Daniel Ortega, adalah orang yang membentuk fideikomis keluarga sebelum meninggal akibat serangan jantung delapan bulan sebelumnya.

Menurut keluarga, kematiannya mendadak tetapi wajar.

Namun dalam rekaman itu, ayah Rendy terdengar panik karena Daniel mulai mencurigai struktur keuangan Lujanto.

Kemudian suara Rendy terdengar jelas.

Kalau Om Daniel masih hidup sampai audit selesai, dia pasti membatalkan semuanya.

Tidak ada pengakuan pembunuhan.

Tidak ada rencana kekerasan.

Tetapi ada satu kalimat lain yang membuat Maya menggigil.

Ayah Rendy berkata,

Untung dokter keluarga kita bersedia menunda memberikan hasil pemeriksaan jantungnya sampai setelah pertemuan.

Maya menatap Siska.

“Apa maksudnya?”

“Aku tidak tahu,” jawab Siska. “Tapi pamanmu sebenarnya sudah mendapat hasil pemeriksaan yang menyatakan kondisi jantungnya berbahaya. Informasi itu tidak pernah sampai kepadanya tepat waktu.”

Maya merasa lututnya lemas.

Mereka mungkin tidak membunuh Daniel.

Namun jika rekaman itu benar, seseorang sengaja menahan informasi medis penting demi memastikan Daniel tetap menghadiri rangkaian pertemuan bisnis yang melelahkan.

Lina segera mengambil flashdisk tersebut.

“Ini harus diperiksa secara forensik. Jangan simpulkan apa pun sebelum kita tahu rekamannya asli dan konteksnya lengkap.”

Maya mengangguk.

Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, ia merasa benar-benar takut.

Bukan karena kehilangan Rendy.

Melainkan karena menyadari seberapa jauh keluarganya mungkin telah dimanipulasi.

Enam bulan kemudian, pesta pernikahan yang gagal itu sudah menjadi masa lalu.

Audit menemukan puluhan transaksi bermasalah. Beberapa pengurus perusahaan dicopot. Proses hukum atas dugaan manipulasi keuangan berjalan panjang.

Pemeriksaan terhadap kematian Daniel tidak menemukan bukti bahwa siapa pun menyebabkan kematiannya secara langsung.

Namun penyelidikan disipliner terhadap dokter yang menahan informasi medis membuktikan bahwa hasil pemeriksaan memang terlambat disampaikan karena tekanan dari seseorang yang berhubungan dengan keluarga Lujanto.

Bagi Maya, kenyataan itu sudah cukup menyakitkan.

Siska memilih bekerja sama dalam penyelidikan dan menyerahkan seluruh akses ke perusahaan-perusahaan yang pernah ia kelola. Ia tidak keluar tanpa konsekuensi. Namanya ikut diperiksa, reputasinya hancur, dan ia harus mempertanggungjawabkan keputusan yang pernah dibuatnya.

Maya tidak pernah memaafkannya sepenuhnya.

Namun ia juga tidak membencinya lagi.

Mereka adalah dua perempuan yang pernah berdiri di sisi berbeda dari kebohongan lelaki yang sama.

Bedanya, pada akhirnya mereka memilih berhenti menjadi alat.

Perusahaan Lujanto tidak runtuh.

Di bawah restrukturisasi baru, bisnis utamanya perlahan pulih. Sebagian besar karyawan tetap bekerja.

Keluarga Rendy kehilangan kendali.

Dan Rendy kehilangan sesuatu yang selama ini ia kira akan selalu tersedia untuknya.

Kepercayaan.

Suatu sore, Maya kembali ke vila di Cisarua.

Ia berdiri di balkon sambil memandang pegunungan yang tertutup kabut.

Di tangannya terdapat surat terakhir peninggalan Daniel yang ditemukan Lina di brankas lama keluarga.

Surat itu ditulis beberapa minggu sebelum pamannya meninggal.

Isinya hanya beberapa paragraf.

Namun satu kalimat membuat Maya terdiam lama.

Jangan pernah tanda tangani sesuatu hanya karena kamu mencintai orang yang meminta tanda tanganmu. Cinta yang sehat tidak takut pada pertanyaan.

Maya melipat surat itu perlahan.

Enam tahun hidupnya memang berakhir dalam satu malam.

Pernikahannya gagal bahkan sebelum dimulai.

Pria yang ia cintai ternyata tidak pernah benar-benar melihat dirinya sebagai pasangan.

Tetapi untuk pertama kalinya, Maya tidak merasa kehilangan.

Karena kadang-kadang, hidup tidak menyelamatkan seseorang dengan memberikan apa yang ia inginkan.

Kadang-kadang hidup menyelamatkannya dengan membongkar kebohongan tepat satu hari sebelum ia terlambat untuk pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang