MALU PUNYA IBU PETANI, PRIA INI MENGAKU YATIM PIATU DEMI MENIKAHI ANAK ORANG KAYA! SAAT TANAH IBUNYA TERJUAL 18 MILIAR RUPIAH, IA BERLUTUT MEMOHON AMPUN!

Ibu Ratna menatap pria itu lama sekali.

Delapan belas miliar rupiah.

Angka itu terdengar seperti sesuatu yang tidak mungkin berhubungan dengan hidupnya.

Selama puluhan tahun, perempuan itu terbiasa menghitung uang dalam ribuan. Harga satu ikat cabai. Harga telur ayam. Upah menjahit seragam. Ongkos bus ke pasar.

Bahkan ketika Rian membutuhkan biaya kuliah puluhan juta rupiah, ia harus menjual sapi, meminjam sana-sini, lalu bekerja hampir tanpa tidur.

Sekarang, seorang pria asing berdiri di halaman rumahnya dan menyebut angka delapan belas miliar seolah sedang membicarakan harga biasa.

“Bapak jangan bercanda sama orang tua,” ucap Ibu Ratna pelan.

Pria itu tersenyum sopan.

“Nama saya Arief Santoso, Bu. Saya kepala tim pembebasan lahan PT Nusantara Trans Infrastruktur.”

Ia mengeluarkan kartu identitas perusahaan dan menyerahkannya kepada Ibu Ratna.

“Kami tidak datang untuk bercanda. Jalur proyek kawasan industri baru akan membutuhkan akses utama menuju jalan provinsi. Berdasarkan pemetaan, lahan Ibu berada tepat di koridor yang paling strategis.”

Seorang staf perempuan membuka laptop di atas kap mobil.

Di layar terlihat peta satelit Desa Sukamaju.

Garis biru tebal melintasi ladang jagung Ibu Ratna, kemudian memotong bukit berbatu yang selama ini dianggap tidak berguna.

“Nilai delapan belas miliar itu penawaran awal berdasarkan luas dan posisi lahan,” lanjut Arief. “Belum termasuk kemungkinan kompensasi bangunan dan tanaman produktif setelah appraisal resmi.”

Ibu Ratna memegang kusen pintu.

Kakinya terasa lemas.

“Kalau tanah itu sedang ada tunggakan, bagaimana?”

“Selama sertifikat sah dan belum berpindah tangan, masih bisa diselesaikan. Justru sebaiknya tunggakan dibereskan dulu agar proses administrasinya bersih.”

Ibu Ratna menunduk.

Tiga puluh hari sebelumnya terasa seperti hukuman mati.

Kini tiga puluh hari itu justru menjadi batas waktu untuk menyelamatkan sesuatu yang ternyata bernilai jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.

Namun Ibu Ratna tidak langsung menerima penawaran tersebut.

Ia meminta waktu.

Dua hari kemudian, ditemani kepala desa dan seorang notaris dari Solo, Ibu Ratna memeriksa seluruh dokumen.

Ternyata benar.

Proyek itu nyata.

Harga tanah di kawasan tersebut melonjak setelah pemerintah daerah menyetujui pembangunan akses industri dan pusat logistik.

Bukit yang selama puluhan tahun hanya ditumbuhi semak justru merupakan bagian paling penting karena berada di titik pertemuan dua jalur proyek.

Setelah proses appraisal, angka terakhir bahkan sedikit lebih tinggi.

Namun Ibu Ratna hanya mengangguk ketika mendengarnya.

Tidak ada teriakan bahagia.

Tidak ada perayaan.

Hal pertama yang dilakukannya adalah melunasi Rp96.000.000 yang hampir membuat tanah itu dilelang.

Hal kedua adalah pergi ke makam suaminya.

Ia duduk di samping nisan sederhana sambil membawa bunga melati.

“Pak,” bisiknya, “tanah yang dulu Bapak bilang jangan pernah dijual sembarangan ternyata benar-benar menjaga kita sampai hari ini.”

Air matanya jatuh.

“Tapi Rian sudah berubah.”

Angin sore menyapu dedaunan.

Ibu Ratna mengusap nisan suaminya.

“Aku tidak marah dia tidak kasih uang. Aku juga tidak marah dia hidup mewah. Yang membuatku sakit, dia malu pernah lahir dari rumah kita.”

Sementara itu, di Surabaya, Rian sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

Ia justru semakin sibuk menyiapkan pernikahannya dengan Nadia.

Pesta direncanakan berlangsung di sebuah hotel bintang lima dengan lebih dari tujuh ratus tamu.

Pak Surya bersedia menanggung sebagian besar biaya, tetapi dengan satu syarat.

Rian harus mampu menunjukkan bahwa dirinya memiliki latar belakang keluarga yang jelas dan aset yang cukup untuk menjadi bagian dari keluarga mereka.

Selama ini Rian selalu berkata bahwa ayah dan ibunya telah meninggal ketika ia masih sekolah.

Ia mengaku dibesarkan pamannya di Solo sebelum merantau ke Surabaya.

Kebohongan itu awalnya kecil.

Ia mengucapkannya saat pertama kali berkenalan dengan Nadia karena takut perempuan itu meremehkannya.

Namun satu kebohongan membutuhkan kebohongan lain.

Ketika Nadia bertanya tentang foto keluarga, Rian berkata semua album lama hilang karena banjir.

Saat Pak Surya bertanya tentang rumah peninggalan orang tua, Rian berkata sudah dijual untuk biaya pendidikan.

Lama-kelamaan, Rian sendiri seolah percaya bahwa masa lalunya memang seharusnya dikubur.

Tiga minggu menjelang pernikahan, sebuah masalah muncul.

Perusahaan tempat Rian bekerja mengalami restrukturisasi.

Jabatannya sebagai manajer senior terancam.

Lebih buruk lagi, sedan putih yang selama ini ia gunakan ternyata masih kredit.

Apartemen mewah tempat ia tinggal juga hanya sewaan.

Saat Pak Surya mulai meminta bukti kepemilikan aset untuk pembicaraan perjanjian pranikah, Rian panik.

Dalam keadaan itulah ia tiba-tiba mengingat tanah dua belas hektare milik ibunya.

Tanah yang beberapa minggu lalu hampir dilelang.

Rian mengambil ponsel.

Untuk pertama kalinya sejak mengusir ibunya dari depan apartemen, ia menelepon.

Tidak diangkat.

Ia mencoba lagi malam hari.

Tetap tidak diangkat.

Esok paginya, sebuah pesan masuk dari nomor ibunya.

Ibu sedang sibuk. Ada apa?

Rian menatap layar beberapa saat.

Ia ingin langsung bertanya tentang tanah.

Namun ia tahu itu akan terdengar buruk.

Bagaimana keadaan Ibu? Ladangnya bagaimana?

Balasan datang hampir satu jam kemudian.

Baik.

Hanya satu kata.

Rian merasa tidak nyaman.

Dulu ibunya selalu membalas pesan panjang. Menanyakan apakah ia sudah makan, apakah pekerjaannya melelahkan, kapan pulang.

Sekarang hanya satu kata.

Rian akhirnya menelepon lagi.

Kali ini Ibu Ratna mengangkat.

“Bu, soal tanah kemarin bagaimana?”

“Sudah selesai.”

Rian langsung lega.

“Syukurlah. Berarti tunggakannya sudah dibayar?”

“Sudah.”

Rian terdiam.

“Dari mana Ibu dapat uang?”

“Ada rezeki.”

Jawaban itu membuatnya penasaran.

“Tanahnya masih ada?”

Beberapa detik tidak terdengar suara.

Kemudian Ibu Ratna menjawab tenang.

“Kenapa kamu bertanya?”

Rian cepat-cepat mencari alasan.

“Ya cuma khawatir. Itu kan tanah keluarga.”

Tanah keluarga.

Dua kata itu membuat Ibu Ratna hampir tertawa.

Ketika tanah itu terancam hilang, Rian hanya memberikan dua ratus ribu rupiah.

Sekarang ia menyebutnya tanah keluarga.

“Sebagian sudah Ibu jual,” kata Ibu Ratna.

Jantung Rian berdegup lebih cepat.

“Dijual? Kepada siapa?”

“Perusahaan.”

“Berapa?”

Ibu Ratna diam sejenak.

“Delapan belas miliar.”

Rian berdiri begitu cepat sampai kursi kerjanya terjatuh.

“Apa?”

Beberapa rekan kerja menoleh.

Rian berlari keluar ruang kantor.

“Bu, delapan belas miliar?”

“Iya.”

“Delapan belas miliar rupiah?”

“Iya.”

Wajah Rian pucat.

Pikirannya langsung dipenuhi angka.

Delapan belas miliar dapat membeli rumah di kawasan elite.

Dapat melunasi mobil.

Dapat menjadi modal bisnis.

Lebih penting lagi, angka sebesar itu akan membuat Pak Surya tidak pernah lagi mempertanyakan kedudukannya.

“Bu, jangan lakukan apa-apa dulu dengan uang itu.”

Ibu Ratna terdiam.

“Apa maksudmu?”

“Uangnya harus kita atur baik-baik. Ibu nggak mengerti investasi. Kalau disimpan di bank saja bisa tergerus inflasi.”

Nada bicara Rian berubah total.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia terdengar seperti anak yang sangat peduli.

“Akhir pekan ini aku pulang.”

Ibu Ratna melihat ladang kosong dari jendela rumah.

“Kamu tidak perlu pulang.”

“Aku harus pulang, Bu. Kita keluarga.”

Ibu Ratna memejamkan mata.

Keluarga.

Kata itu terdengar jauh lebih mahal daripada delapan belas miliar.

Sabtu pagi, sedan putih Rian memasuki Desa Sukamaju.

Ia membawa buah impor, susu mahal, vitamin, dan tas tangan baru untuk ibunya.

Begitu melihat Ibu Ratna sedang menyapu halaman, Rian langsung turun dan tersenyum lebar.

“Bu.”

Ia mencoba memeluk.

Ibu Ratna tidak menghindar, tetapi tubuhnya kaku.

Rian menyerahkan berbagai hadiah.

“Ibu harus mulai jaga kesehatan. Sekarang nggak boleh terlalu capek.”

Ibu Ratna melihat semua barang itu.

“Dulu waktu Ibu datang ke Surabaya, kamu bilang makanan dari desa tidak biasa dimakan di apartemenmu.”

Wajah Rian berubah.

“Bu, soal itu aku minta maaf. Waktu itu aku sedang stres.”

“Stres membuatmu bilang ibumu sudah meninggal?”

Rian tidak mampu menjawab.

Ia menunduk.

Beberapa detik kemudian ia berlutut di depan ibunya.

“Maafkan aku.”

Tangannya menggenggam lutut Ibu Ratna.

“Aku salah. Aku malu karena terlalu ingin diterima keluarga Nadia. Aku takut mereka menganggap aku tidak pantas.”

Ibu Ratna menatap anak yang dulu setiap pagi ia antar sekolah dengan sepeda tua.

“Apa kamu pulang karena benar-benar menyesal atau karena sekarang tahu tanah Ibu laku delapan belas miliar?”

Pertanyaan itu membuat wajah Rian membeku.

“Ibu kok berpikir begitu?”

Ibu Ratna masuk rumah dan kembali membawa sebuah map.

“Kalau begitu, Ibu akan datang ke pernikahanmu.”

Rian langsung berdiri.

“Apa?”

“Ibu ingin bertemu Nadia dan keluarganya.”

Keringat dingin muncul di dahi Rian.

“Bu, situasinya rumit.”

“Kenapa rumit? Bukankah kamu baru bilang kita keluarga?”

Rian kehilangan kata-kata.

Akhirnya ia mengaku bahwa keluarga Nadia masih percaya kedua orang tuanya telah meninggal.

Ia meminta waktu untuk menjelaskan setelah pernikahan.

Ibu Ratna hanya mengangguk.

“Baik. Ibu paham.”

Rian mengembuskan napas lega.

Ia mengira masalah selesai.

Ternyata tidak.

Seminggu kemudian, tepat pada malam acara pertemuan keluarga besar sebelum pernikahan, Pak Surya mengundang sejumlah rekan bisnis ke rumahnya di kawasan Citraland.

Rian berdiri di samping Nadia dengan setelan jas terbaiknya.

Ia sedang menjelaskan rencana investasi setelah menikah ketika seorang petugas keamanan masuk.

“Pak, ada tamu bernama Ibu Ratna.”

Wajah Rian langsung kehilangan warna.

Nadia menoleh.

“Ratna siapa?”

Belum sempat Rian menjawab, Ibu Ratna muncul di pintu.

Ia tidak memakai daster.

Ia mengenakan kebaya modern sederhana berwarna krem yang dijahit khusus oleh tetangganya. Rambutnya disanggul rapi.

Namun wajah itu tidak mungkin disalahartikan.

Rian bergegas menghampiri.

“Bu, kenapa datang?”

Ruangan mendadak sunyi.

Pak Surya mendekat.

“Maaf, Ibu siapa?”

Ibu Ratna memandang Rian.

Ia memberi anaknya kesempatan terakhir.

Rian membuka mulut.

Tidak ada suara keluar.

Akhirnya Ibu Ratna tersenyum.

“Saya Ratna.”

Ia menarik napas.

“Saya ibunya Rian.”

Nadia menjatuhkan gelas dari tangannya.

Pak Surya menatap Rian tajam.

“Ibumu?”

Rian pucat.

“Om, saya bisa jelaskan.”

“Kamu bilang orang tuamu meninggal.”

Rian tidak mampu mengangkat kepala.

Nadia mendekati Ibu Ratna.

“Bu, apakah benar Rian bilang Ibu sudah meninggal?”

Ibu Ratna tidak menjawab langsung.

Ia hanya berkata, “Saya datang bukan untuk menghancurkan pernikahan kalian. Saya datang karena saya tidak ingin anak saya membangun keluarga dari kebohongan.”

Rian tiba-tiba berlutut.

Kali ini bukan di halaman desa.

Ia berlutut di hadapan ibunya di depan Nadia, Pak Surya, dan puluhan tamu.

“Bu, maafkan aku.”

Air matanya mengalir.

“Aku malu pada sesuatu yang seharusnya paling aku banggakan.”

Namun Pak Surya belum selesai.

Ia mengambil sebuah dokumen dari meja.

“Dan sepertinya ada satu hal lagi yang perlu kamu jelaskan.”

Dokumen itu adalah proposal investasi yang diberikan Rian beberapa hari sebelumnya.

Di dalamnya, Rian mencantumkan tanah keluarga senilai delapan belas miliar sebagai bagian dari aset yang akan menjadi modal usaha setelah menikah.

Padahal tanah itu bukan miliknya.

Nama yang tercantum di sertifikat hanya Ratna Wulandari.

“Kamu bahkan sudah memakai aset ibumu untuk meyakinkan saya,” kata Pak Surya dingin.

Rian benar-benar terdiam.

Nadia melepaskan cincin pertunangannya.

Semua orang menahan napas.

Namun Ibu Ratna justru memegang tangan Nadia.

“Jangan putuskan hidupmu karena marah malam ini. Tapi jangan juga menikah dengan seseorang hanya karena berharap dia berubah setelah menikah.”

Nadia menatap Rian dengan mata basah.

“Aku tidak peduli ibumu petani, Rian. Kalau sejak awal kamu bilang kamu anak petani, aku tetap akan mencintaimu.”

Suaranya bergetar.

“Yang membuatku tidak mengenalmu lagi adalah kenyataan bahwa kamu sanggup menghapus perempuan yang membesarkanmu hanya untuk terlihat kaya.”

Pernikahan itu akhirnya ditunda.

Bukan dibatalkan.

Pak Surya memberikan satu syarat.

Rian harus berhenti menggunakan kekayaan, pekerjaan, dan nama orang lain untuk menentukan harga dirinya.

Dan untuk pertama kalinya, Rian tidak membantah.

Beberapa bulan kemudian, ia keluar dari apartemen mewahnya.

Sedan putihnya dijual untuk melunasi sisa kredit.

Ia kembali bekerja seperti biasa dan mulai mengunjungi Wonogiri dua kali setiap bulan.

Pada awalnya Ibu Ratna tidak mudah mempercayainya.

Ia tahu penyesalan bisa lahir karena kehilangan uang, kehilangan status, atau takut ditinggalkan pasangan.

Karena itu ia membiarkan waktu yang membuktikan.

Satu tahun kemudian, Rian dan Nadia akhirnya menikah.

Pestanya jauh lebih sederhana dari rencana awal.

Dan ketika pembawa acara meminta orang tua mempelai maju ke depan, Rian sendiri berjalan menuju meja Ibu Ratna.

Di hadapan ratusan tamu, ia menggenggam tangan perempuan itu.

“Ini ibu saya,” katanya.

Suaranya bergetar.

“Ibu saya petani dari Wonogiri. Ayah saya meninggal ketika saya masih kecil. Ibu inilah yang menjual sapi supaya saya sekolah. Ibu ini yang menjahit sampai tengah malam supaya saya bisa kuliah. Dan saya pernah menjadi manusia paling bodoh karena mengira saya harus menyembunyikannya untuk terlihat berhasil.”

Ibu Ratna menangis.

Rian mencium tangannya.

Tidak jauh dari sana, Pak Surya tersenyum.

Namun kejutan terbesar baru diketahui Rian setelah pernikahan selesai.

Dari delapan belas miliar rupiah hasil penjualan tanah, Ibu Ratna tidak pernah berniat memberikan semuanya kepada Rian.

Sebagian ia gunakan membeli lahan pertanian baru.

Sebagian ditempatkan dalam deposito untuk hari tuanya.

Sebagian lagi digunakan membangun pusat pelatihan pertanian kecil bagi para janda dan keluarga miskin di desanya.

Di depan bangunan itu terpasang sebuah papan sederhana.

Rumah Tani Budi Wibowo.

Nama almarhum suaminya.

Rian membaca papan tersebut dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu tidak sisakan warisan buat aku?”

Ibu Ratna tersenyum.

“Ada.”

“Apa?”

Perempuan itu menunjuk dadanya.

“Ibu mengembalikan sesuatu yang dulu hampir kamu buang.”

Rian menatapnya bingung.

“Harga dirimu.”

Ibu Ratna kemudian berjalan menuju ladang.

Rian mengikuti di belakangnya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak peduli jika sepatu mahalnya terkena lumpur.

Karena akhirnya ia mengerti.

Kemiskinan tidak pernah membuat seseorang hina.

Pekerjaan sederhana tidak pernah membuat sebuah keluarga memalukan.

Yang benar-benar memiskinkan manusia adalah ketika ia memiliki begitu banyak hal untuk dibanggakan, tetapi justru malu mengakui orang yang berkorban agar ia bisa memiliki semuanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang