“Dan orang terakhir yang menyentuh gelas saya malam itu adalah kamu, Selma.”
Ruangan konferensi itu seketika membeku.
Selma tidak langsung menjawab. Wajahnya masih tenang, tetapi jemarinya yang berada di atas meja perlahan mengepal.
Pria berusia enam puluhan di sebelah Raka, Surya Adinata, ayah Raka sekaligus komisaris utama perusahaan, berdiri dengan wajah merah.

“Raka, jaga ucapanmu.”
“Saya sedang menjaga perusahaan kita, Ayah.”
Raka mendorong laporan laboratorium ke tengah meja.
“Dokter menemukan zat sedatif dalam darah saya. Dosisnya cukup tinggi untuk menyebabkan disorientasi dan gangguan ingatan.”
Selma tertawa pendek.
“Dan karena aku memegang gelasmu, otomatis aku pelakunya?”
“Tidak.”
Raka menatapnya dingin.
“Itulah sebabnya saya belum memanggil polisi.”
Nadira berdiri beberapa langkah dari meja. Baru saat itu ia menyadari bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar untuk meminta keterangannya.
Raka sedang memasang perangkap.
Selma mengambil tasnya.
“Kalau kalian selesai mempermalukan saya, saya pulang.”
“Duduk.”
Suara Raka tidak keras.
Namun Selma berhenti.
Raka mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman suara.
Terdengar musik pesta, suara orang berbicara, lalu suara Selma.
“Minum saja. Setelah ini semuanya akan lebih mudah.”
Kemudian suara Raka.
“Aku tidak mau membahas merger malam ini.”
Nadira melihat wajah Selma memucat.
Rekaman berhenti.
“Ponsel saya merekam otomatis karena saya sedang menggunakan aplikasi pencatat rapat,” kata Raka. “Sayangnya hanya audionya yang tersimpan.”
Selma menatapnya.
“Kamu merekamku?”
“Saya merekam semua percakapan bisnis penting.”
Surya menghantam meja.
“Cukup! Pernikahan kalian tinggal dua bulan lagi. Jangan menghancurkan kerja sama dua keluarga hanya karena satu malam yang tidak jelas.”
Nadira akhirnya memahami persoalan sebenarnya.
Pernikahan Raka dan Selma bukan sekadar hubungan dua orang.
Adinata Infrastruktur sedang membutuhkan pendanaan besar. Keluarga Hartanto menguasai jaringan rumah sakit dan perusahaan investasi yang akan menyuntikkan modal ke proyek jalan tol milik Adinata.
Jika pertunangan itu batal, transaksi bernilai triliunan rupiah bisa ikut runtuh.
Selma tersenyum lagi.
“Lihat? Bahkan ayahmu tahu siapa yang kamu butuhkan.”
Kemudian matanya beralih kepada Nadira.
“Bukan dia.”
Raka mengikuti pandangannya.
“Apa hubungannya Nadira?”
“Perempuan itu sumber skandalmu.”
“Perempuan itu menyelamatkan saya.”
Kalimat itu membuat Nadira sendiri terkejut.
Raka menatapnya.
“Saya memang tidak mengingat wajah Anda. Tapi saya mengingat suara Anda sepanjang malam di rumah sakit.”
Nadira tidak tahu harus menjawab apa.
Raka melanjutkan.
“Setiap kali saya hampir kehilangan kesadaran, saya mendengar seseorang menyuruh saya tetap membuka mata. Saya pikir itu mimpi.”
Nadira teringat saat ambulans datang. Ia memang sempat ikut sampai lobi sebelum Selma melarangnya naik.
“Saya hanya melakukan pekerjaan saya.”
“Tidak,” kata Raka. “Pekerjaan Anda adalah menekan tombol lift. Mengikat direktur perusahaan dengan sabuk jelas tidak termasuk deskripsi pekerjaan.”
Untuk pertama kalinya, Nadira melihat sudut bibirnya terangkat.
Hampir seperti senyum.
Pertemuan berakhir tanpa keputusan. Namun sore itu, pihak hotel mengaktifkan kembali Nadira.
Selma tidak pernah meminta maaf.
Tiga hari kemudian, justru Raka yang menunggunya di sebuah kafe dekat hotel.
Nadira duduk dengan curiga.
“Kalau Bapak mau mengucapkan terima kasih, sudah cukup.”
“Saya membutuhkan bantuan.”
“Tidak.”
“Saya belum menjelaskan.”
“Saya belajar dari lift. Kalau orang kaya bilang membutuhkan bantuan, biasanya masalahnya mahal.”
Raka hampir tersenyum.
Ia meletakkan sebuah map.
Di dalamnya terdapat angka yang membuat Nadira menahan napas.
Jumlah itu lebih besar daripada sisa cicilan rumah ibunya.
“Apa ini?”
“Kontrak tiga bulan.”
“Untuk apa?”
Raka menatapnya tanpa bercanda.
“Berpura-puralah menjadi perempuan yang sedang saya cintai.”
Nadira menutup map.
“Tidak.”
“Dengarkan dulu.”
“Tidak.”
“Saya akan membayar tiga kali lipat.”
“Pak Raka.”
“Lima kali.”
Nadira menatapnya tajam.
“Bapak pikir semua orang bisa dibeli?”
“Tidak. Kalau saya berpikir begitu, saya akan memilih orang lain.”
Jawaban itu membuat Nadira terdiam.
Raka menjelaskan bahwa setelah insiden lift, ia mulai mencurigai pertunangannya dengan Selma. Namun membatalkan pernikahan secara langsung akan membuat keluarga Hartanto mengetahui bahwa ia sedang menyelidiki mereka.
Ia membutuhkan alasan pribadi.
Alasan yang cukup memalukan sehingga semua orang percaya ia membatalkan pertunangan karena jatuh cinta kepada perempuan lain.
“Kenapa saya?”
“Karena Selma sudah membenci Anda.”
“Justru itu alasan saya menolak.”
“Dan karena Anda satu-satunya orang malam itu yang tidak mencoba mengambil keuntungan dari kondisi saya.”
Nadira menunduk.
Ia membutuhkan uang.
Ibunya hampir kehilangan rumah setelah usaha katering keluarga bangkrut. Adiknya tinggal satu semester lagi menyelesaikan kuliah.
Tetapi menerima tawaran Raka berarti memasuki dunia yang sejak awal sudah mengancamnya.
“Ada syarat,” katanya akhirnya.
“Sebutkan.”
“Tidak ada sentuhan tanpa izin. Tidak ada kebohongan kepada keluarga saya. Dan kalau situasinya membahayakan ibu atau adik saya, kontrak selesai.”
Raka mengangguk.
“Saya setuju.”
Maka dimulailah kebohongan yang seharusnya berlangsung tiga bulan.
Foto pertama mereka muncul seminggu kemudian.
Raka sengaja makan malam bersama Nadira di restoran terbuka di Senopati.
Keesokan paginya, foto mereka memenuhi media sosial.
PEWARIS ADINATA TINGGALKAN TUNANGAN DEMI KARYAWATI HOTEL?
Hidup Nadira berubah dalam semalam.
Wartawan menunggu di depan rumah.
Tetangga berbisik.
Akun anonim menyebutnya perebut lelaki kaya.
Namun sesuatu yang lebih berbahaya juga mulai terjadi.
Rem motor Nadira dipotong.
Seseorang mengirim foto ibunya sedang berbelanja.
Lalu adiknya menerima pesan anonim.
Suruh kakakmu menjauh dari keluarga Adinata.
Raka langsung menyewa pengamanan.
“Ini bukan lagi pura-pura,” kata Nadira dengan marah saat menemui Raka di apartemennya.
“Saya tahu.”
“Siapa yang melakukan ini?”
“Saya sedang mencari tahu.”
“Selma?”
Raka terdiam.
“Itu yang terlalu mudah untuk dipercaya.”
Malam itu Raka menunjukkan sesuatu yang belum pernah ia ceritakan.
Selama enam bulan terakhir, sejumlah proyek Adinata Infrastruktur mengalami pembengkakan biaya. Dana ratusan miliar rupiah mengalir ke perusahaan-perusahaan pemasok fiktif.
Semua transaksi memiliki persetujuan digital Raka.
Masalahnya, beberapa persetujuan dibuat saat Raka berada di luar negeri.
“Seseorang sedang membangun bukti bahwa saya menggelapkan uang perusahaan,” katanya.
“Dan Selma?”
“Perusahaan investasi keluarganya menawarkan penyelamatan jika saya menyerahkan sebagian kendali perusahaan setelah menikah.”
Nadira merasakan tengkuknya dingin.
“Jadi malam di hotel itu…”
“Mungkin seseorang ingin membuat saya menandatangani sesuatu saat kesadaran saya terganggu.”
Tiba-tiba Nadira teringat sesuatu.
“Perempuan itu membawa map.”
Raka menoleh cepat.
“Siapa?”
“Selma. Saat dia berlari menuju lift malam itu, tangan kirinya memegang map hitam.”
Raka berdiri.
“Itu tidak pernah disebut dalam laporan hotel.”
“Karena saya baru mengingatnya.”
Mereka kembali ke Hotel Arunika malam itu juga.
Pak Dimas membantu memeriksa rekaman CCTV koridor yang tidak ikut terhapus.
Dalam rekaman terlihat Selma keluar dari ballroom membawa map hitam.
Namun tiga menit sebelum Raka masuk lift, Selma menyerahkan map itu kepada seseorang.
Nadira mendekat ke layar.
Jantungnya seperti berhenti.
Pria tersebut adalah Surya Adinata.
Ayah Raka sendiri.
Raka tidak mengatakan apa pun selama hampir satu menit.
Kemudian ia meminta salinan rekaman.
Dua hari kemudian, rapat direksi Adinata Infrastruktur digelar.
Surya datang seperti biasa.
Selma dan ayahnya juga hadir karena penandatanganan investasi dijadwalkan pagi itu.
Namun ketika dokumen diletakkan di meja, Raka tidak mengambil pena.
Ia menyalakan layar besar.
Rekaman Hotel Arunika diputar.
Wajah Surya berubah.
“Apa maksudmu?”
“Saya ingin tahu apa isi map yang Selma berikan kepada Ayah.”
Surya berdiri.
“Jangan membuat drama.”
“Duduk, Ayah.”
Kemudian pintu ruang rapat terbuka.
Dua penyidik kepolisian masuk bersama auditor independen perusahaan.
Raka meletakkan laporan transaksi di meja.
Perusahaan-perusahaan pemasok fiktif ternyata terhubung dengan satu perusahaan investasi yang dikendalikan melalui beberapa nominee.
Pemilik manfaat akhirnya adalah Surya Adinata.
Selma bukan dalang utamanya.
Ia hanya bagian dari kesepakatan.
Surya telah mengalihkan dana perusahaan selama bertahun-tahun untuk menutup kerugian investasi pribadinya. Ketika Raka mulai menemukan kejanggalan, ia merancang skenario agar putranya terlihat tidak stabil dan terlibat penggelapan.
Pernikahan dengan Selma akan memberikan akses kepada keluarga Hartanto untuk mengambil alih perusahaan setelah Raka disingkirkan.
Selma menatap Surya dengan marah.
“Anda bilang tidak akan ada yang terluka.”
Surya tertawa pahit.
“Kalian semua menikmati keuntungan selama ini.”
Raka berdiri kaku.
“Jadi malam itu Ayah tahu saya diberi obat?”
Surya tidak menjawab.
Itulah jawaban yang paling menyakitkan.
Raka mendekatinya.
“Saya anak Ayah.”
Surya menatap putranya tanpa penyesalan.
“Dan perusahaan itu dibangun sebelum kamu lahir.”
Raka mengangguk perlahan.
“Sekarang saya mengerti.”
Polisi membawa Surya keluar.
Selma akhirnya mengakui bahwa ia mencampurkan zat ke minuman Raka atas permintaan Surya. Ia mengira dosisnya hanya akan membuat Raka lebih mudah dibujuk menandatangani dokumen pengalihan kewenangan.
Pertunangan mereka berakhir hari itu.
Beberapa minggu kemudian, kasus tersebut menjadi skandal bisnis terbesar tahun itu.
Nama Nadira akhirnya dibersihkan.
Hotel meminta maaf secara terbuka dan menawarkan kenaikan jabatan.
Tiga bulan berlalu.
Kontrak Nadira dan Raka berakhir tepat pukul sembilan pagi pada hari Senin.
Mereka bertemu di kafe yang sama tempat semuanya dimulai.
Raka menyerahkan pembayaran terakhir.
“Jadi selesai.”
“Ya.”
Nadira memasukkan amplop ke tas.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berdiri.
Raka mengaduk kopinya lama.
“Ada sesuatu yang belum saya katakan.”
Nadira menunggu.
“Saya sudah mengingat malam di lift.”
“Kapan?”
“Dua minggu lalu.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Karena ada satu bagian yang membuat saya takut.”
Nadira mengerutkan kening.
Raka menatapnya.
“Saya ingat wajah Anda sekarang. Saya ingat sabuk itu. Saya ingat Anda memaksa saya minum.”
Nadira tertawa kecil.
“Bagian mana yang menakutkan?”
Raka terdiam.
“Saya juga ingat saat saya hampir pingsan.”
Senyum Nadira perlahan hilang.
“Anda memegang wajah saya dan berkata bahwa saya harus bertahan sampai pintu terbuka.”
Raka menarik napas.
“Saya bertahan bukan karena tahu siapa Anda. Saya bahkan tidak bisa melihat wajah Anda dengan jelas.”
Ia mendorong kontrak ke tengah meja.
Kemudian merobeknya menjadi dua.
“Saya bertahan karena suara Anda membuat saya percaya bahwa ketika pintu itu terbuka, masih ada seseorang di luar sana yang tidak menginginkan apa pun dari saya.”
Nadira menatap potongan kertas tersebut.
“Pak Raka…”
“Kontraknya sudah selesai.”
“Lalu?”
“Jadi kali ini saya tidak membayar Anda.”
Raka berdiri, tetapi sebelum pergi ia meletakkan sabuk kulit lama di meja.
Sabuk yang digunakan Nadira untuk mengikat tangannya malam itu.
“Saya hanya ingin bertanya.”
Nadira menahan senyum.
“Apa?”
“Maukah Anda makan malam dengan saya?”
“Untuk kepentingan perusahaan?”
“Tidak.”
“Untuk media?”
“Tidak.”
“Untuk membuat mantan tunangan Anda marah?”
Raka menggeleng.
“Untuk saya.”
Nadira memandang pria yang dahulu ditemukannya gemetar di lantai lift.
Selama tiga bulan, ia mengira dirinya sedang menyelamatkan Raka dari keluarga yang ingin menghancurkannya.
Baru saat itu Nadira menyadari bahwa Raka juga telah mengubah hidupnya.
Bukan dengan uang.
Bukan dengan nama Adinata.
Melainkan dengan membuatnya memahami bahwa keberanian yang terlihat kecil pada satu malam dapat mengubah nasib banyak orang.
Nadira mengambil sabuk itu.
“Baik.”
Raka tersenyum.
“Tapi ada satu syarat.”
“Apa lagi?”
“Kalau Bapak mulai melepas pakaian di lift…”
Raka menutup wajahnya.
Nadira akhirnya tertawa.
“…kali ini saya pakai dua sabuk.”
Untuk pertama kalinya sejak malam yang hampir menghancurkan hidup mereka, Raka tertawa tanpa ketakutan.
Dan beberapa meter dari tempat mereka duduk, pintu lift hotel terbuka perlahan.
Kali ini tidak ada yang perlu melarikan diri.
Tidak ada yang perlu diikat.
Dan tidak ada lagi kebohongan yang harus mereka pertahankan.
