Aku Menelepon Suamiku 27 Kali dari ICU Saat Ibunya Sekarat—Panggilan Terakhir Dijawab Seorang Perempuan dari Bali, lalu Ibu Mertuaku Menyerahkan Kunci Brankas dan Membisikkan Pesan yang Membuat Seluruh Hidup Suamiku Runtuh dalam Tiga Hari

“Karena kalau kamu sudah melihat isi brankas itu,” kata Arga lirih, “kamu baru saja menghancurkan hidup kita berdua.”

Aku menatap laki-laki yang sudah menjadi suamiku selama dua puluh tahun itu.

Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat Arga sebagai lelaki yang kucintai, melainkan sebagai orang asing yang selama bertahun-tahun tidur di sampingku sambil menyimpan kehidupan lain.

“Bukan aku yang menghancurkan hidup kita,” kataku. “Kamu sendiri yang melakukannya.”

Arga melangkah maju.

“Kasih kuncinya.”

Aku mundur dan menggenggam kunci perak itu erat-erat.

“Jangan mendekat.”

“Maya, kamu tidak mengerti apa yang sedang kamu pegang.”

“Aku mengerti cukup banyak. Ibumu tahu kamu berselingkuh. Dia juga tahu kamu memindahkan uang perusahaan.”

Wajah Arga kehilangan warna.

Matanya bergerak cepat ke arah brankas.

“Kamu sudah baca semuanya?”

Aku tidak menjawab.

Kesunyian justru membuatnya semakin panik.

Arga tiba-tiba menerjang ke arahku.

Aku mundur dan menghantam sisi meja. Sebelum dia sempat meraih tanganku, suara seorang laki-laki terdengar dari pintu.

“Pak Arga.”

Kami menoleh bersamaan.

Pak Damar, satpam rumah itu, berdiri bersama seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang kukenal sebagai Bima Santoso, pengacara keluarga Wibisono.

Arga berhenti.

“Ngapain Anda di sini?”

Pak Bima tidak menjawab pertanyaannya. Dia justru menatapku.

“Bu Maya, apakah Ibu Ratih memberikan kunci itu langsung kepada Anda?”

“Iya.”

“Dan beliau sudah meninggal?”

Aku mengangguk.

Pak Bima mengembuskan napas panjang.

“Kalau begitu, instruksi beliau berlaku mulai malam ini.”

Arga mendekatinya.

“Instruksi apa?”

Pak Bima mengeluarkan amplop tersegel dari tas kerjanya.

“Ibu Ratih memberikan surat kuasa khusus kepada kantor kami tiga bulan lalu. Begitu beliau meninggal dan kunci brankas berpindah kepada Bu Maya, saya wajib memastikan seluruh dokumen di dalamnya diamankan.”

Arga tertawa pendek.

“Ini perusahaan keluarga saya.”

“Benar,” jawab Pak Bima. “Tapi kepemilikan perusahaan tidak ditentukan oleh siapa anak kandung pendirinya.”

Arga terdiam.

Aku kembali membuka brankas.

Tiga map itu diletakkan di meja.

Map pertama berisi akta pengalihan saham yang telah disahkan notaris enam bulan sebelumnya.

Ratih memiliki lima puluh satu persen saham Wibisono Group setelah Hendra meninggal. Seluruh saham itu telah dialihkan kepadaku melalui skema hibah bersyarat yang efektif setelah kematian Ratih.

Aku bahkan tidak tahu transaksi itu pernah terjadi.

“Kenapa Ibu memberikan saham itu ke Maya?” bentak Arga.

Pak Bima memandangnya datar.

“Karena beliau tidak percaya kepada Anda.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.

Arga membuka map kedua.

Aku melihat tangannya mulai gemetar.

Di dalamnya terdapat laporan audit internal.

Transfer ke perusahaan cangkang.

Invoice proyek fiktif.

Pembayaran konsultan yang tidak pernah ada.

Selama empat tahun, hampir delapan puluh tujuh miliar rupiah telah mengalir keluar dari beberapa anak perusahaan.

Nama yang memberikan persetujuan digital pada sebagian besar transaksi itu adalah Arga Wibisono.

Namun ada sesuatu yang lebih buruk.

Beberapa dokumen menggunakan tanda tanganku.

Palsu.

Aku menatap Arga.

“Kamu memalsukan tanda tanganku?”

“Itu cuma administrasi.”

“Delapan puluh tujuh miliar kamu sebut administrasi?”

“Aku bisa menjelaskan.”

“Jelaskan.”

Arga membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Pak Bima kemudian mengambil map ketiga.

Isinya foto, salinan percakapan, reservasi hotel, dan bukti pembayaran.

Nama Celine muncul berulang kali.

Bali.

Singapura.

Bangkok.

Bukan hubungan beberapa bulan.

Mereka sudah bersama hampir empat tahun.

Aku merasa dadaku seperti ditusuk, tetapi anehnya tidak ada air mata.

Mungkin karena pengkhianatan yang terlalu besar tidak selalu membuat seseorang menangis.

Kadang ia justru membuat semuanya menjadi sangat jelas.

Arga menatapku.

“Maya, dengarkan aku. Celine tidak berarti apa-apa.”

Aku tertawa pelan.

“Empat tahun tidak berarti apa-apa?”

“Aku khilaf.”

“Khilaf itu satu malam, Arga. Empat tahun itu jadwal.”

Pak Bima menunduk, seolah memberiku ruang untuk menghadapi suamiku.

Aku mengambil flash drive dari brankas.

“Apa ini?”

Arga langsung berubah.

“Jangan buka.”

Reaksinya membuatku tahu benda kecil itulah yang paling dia takutkan.

Aku memasukkannya ke laptop tua di meja Hendra.

Ada puluhan folder.

Laporan bank.

Rekaman rapat.

Percakapan.

Kemudian sebuah file video.

Tanggalnya dua bulan lalu.

Ratih muncul di layar.

Dia duduk di kursi roda di ruang yang sama.

Wajahnya kurus, tetapi tatapannya tajam.

“Maya, kalau kamu menonton ini, berarti aku sudah tidak ada.”

Aku menutup mulut.

Suara Ratih memenuhi ruangan.

“Aku minta maaf karena tidak memberitahumu lebih cepat. Aku berharap Arga berubah. Ternyata aku melakukan kesalahan yang sama seperti banyak ibu. Aku terus memaafkan anakku sampai dia menganggap tidak ada akibat dari perbuatannya.”

Arga menatap layar tanpa berkedip.

Ratih melanjutkan.

“Empat tahun lalu aku menemukan transaksi mencurigakan. Aku menyewa auditor secara diam-diam. Dari sanalah aku mengetahui Arga menggunakan beberapa perusahaan untuk mengambil uang Wibisono Group.”

Kemudian Ratih mengatakan sesuatu yang membuat Arga menjatuhkan dirinya ke kursi.

“Sebagian uang itu dipakai untuk membeli Vila Samudra di Uluwatu atas nama Celine Pradipta.”

Aku teringat suara ombak dari telepon.

Denting gelas.

Tawa perempuan itu.

Ratih bahkan mengetahui tempat mereka bersembunyi.

“Aku sengaja tidak menghentikan Arga saat itu,” lanjut Ratih. “Aku ingin bukti lengkap. Dan aku ingin tahu apakah dia masih memiliki hati ketika ibunya sedang sekarat.”

Arga berbisik, “Ibu…”

Tatapannya kosong.

Ratih ternyata telah mengetahui kondisinya memburuk.

Perjalanan bisnis palsu Arga ke Surabaya menjadi ujian terakhir.

Dan Arga gagal.

Video berakhir dengan Ratih menatap kamera cukup lama.

“Maya, jangan pertahankan sesuatu hanya karena kamu sudah menghabiskan dua puluh tahun untuk membangunnya. Dua puluh tahun yang hilang tidak boleh menjadi alasan untuk membuang dua puluh tahun berikutnya.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena Arga.

Karena perempuan yang bahkan pada hari-hari terakhir hidupnya masih memikirkan masa depanku.

Arga berdiri.

“Kita bisa selesaikan ini sebagai keluarga.”

Aku menatapnya.

“Keluarga yang mana? Aku atau perempuan di Bali?”

“Maya.”

“Pulanglah.”

“Ini rumah keluargaku.”

Pak Bima menyela.

“Secara hukum, rumah ini juga masuk dalam aset yang dikendalikan trust keluarga. Pak Arga tidak mempunyai hak tinggal permanen di sini.”

Arga menatapnya tidak percaya.

“Kalian semua sudah merencanakan ini?”

“Bukan kami,” jawabku. “Ibumu.”

Malam itu aku meninggalkan rumah bersama Pak Bima dan membawa salinan seluruh dokumen.

Keesokan paginya, rapat darurat komisaris Wibisono Group digelar.

Aku datang mengenakan pakaian hitam yang sama dengan yang kupakai setelah pemakaman Ratih.

Arga sudah berada di ruang rapat.

Celine juga ada di sana.

Untuk pertama kalinya aku melihat perempuan yang menjawab panggilan ke-27 itu secara langsung.

Cantik.

Muda.

Percaya diri.

Sampai aku masuk.

Wajahnya berubah.

Arga berdiri.

“Maya, jangan lakukan ini.”

Aku duduk di kursi yang selama bertahun-tahun ditempati Ratih.

Pak Bima menyerahkan dokumen kepada komisaris.

Pengalihan saham diumumkan.

Lalu hasil audit.

Arga diberhentikan sementara dari seluruh jabatan eksekutif sambil menunggu penyelidikan.

Celine mencoba keluar.

Aku menghentikannya.

“Bu Celine.”

Dia menoleh.

“Ada satu hal yang harus Anda ketahui.”

Aku meletakkan salinan sertifikat vila di meja.

“Vila tempat Anda menertawakan saya ternyata dibeli menggunakan dana perusahaan.”

Wajah Celine memucat.

Arga langsung berkata, “Jangan libatkan dia.”

Aku menatapnya.

“Sekarang kamu ingin melindunginya?”

Celine justru menatap Arga.

“Kamu bilang vila itu milikmu.”

Arga terdiam.

“Kamu bilang perusahaan sudah diwariskan ke kamu.”

“Celine, nanti aku jelaskan.”

Perempuan itu tertawa getir.

Untuk pertama kalinya kesombongannya hilang.

“Jadi semua yang kamu bilang bohong?”

Arga meraih lengannya, tetapi Celine menepis.

“Aku meninggalkan pekerjaanku karena kamu bilang setelah ibumu meninggal kamu akan mengambil alih perusahaan.”

Ruangan mendadak sunyi.

Arga menutup mata.

Celine baru sadar dia telah mengucapkan kalimat yang salah di depan belasan saksi.

Pak Bima langsung mencatatnya.

Pada hari kedua, rekening tertentu milik Arga dibekukan berdasarkan proses hukum yang diajukan perusahaan.

Vila di Bali masuk daftar aset yang dipersoalkan.

Beberapa vendor fiktif mulai diperiksa.

Celine menghilang dari apartemen yang selama ini dibayarkan Arga.

Pada hari ketiga, Arga datang ke rumah kami.

Bukan dengan mobil mewah yang biasa dikendarainya.

Dia datang menggunakan taksi.

Aku sedang memasukkan pakaian Ratih ke dalam kotak untuk disumbangkan ketika dia berdiri di pintu.

Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua.

“Maya.”

Aku tidak berhenti bekerja.

“Aku kehilangan semuanya.”

Aku melipat cardigan kesayangan Ratih.

“Kamu kehilangan jabatan. Belum semuanya.”

“Celine pergi.”

Aku menatapnya.

“Jadi sekarang kamu datang karena dia pergi?”

Arga menggeleng.

“Aku datang karena baru sadar.”

“Terlambat.”

Dia berlutut.

Laki-laki yang selama dua puluh tahun hampir tidak pernah meminta maaf kini berlutut di lantai.

“Aku akan berubah.”

Aku memandangnya lama.

Dulu, mungkin aku akan memeluknya.

Mungkin aku akan berpikir dua puluh tahun pernikahan terlalu berharga untuk dibuang.

Tapi suara Ratih masih terngiang di kepalaku.

Dua puluh tahun yang hilang tidak boleh menjadi alasan untuk membuang dua puluh tahun berikutnya.

Aku mengambil sebuah amplop dari meja.

Arga melihatnya.

“Apa itu?”

“Gugatan cerai.”

Wajahnya runtuh.

“Maya…”

“Aku sudah menghabiskan dua puluh tahun menjadi istrimu. Tiga tahun terakhir aku juga menjadi anak bagi ibumu ketika kamu terlalu sibuk menjadi anak bagi dirimu sendiri.”

Aku meletakkan amplop itu di depannya.

“Aku tidak mengambil perusahaanmu, Arga. Ibumu tidak mengambil hidupmu. Celine juga tidak menghancurkannya.”

Aku menatap tepat ke matanya.

“Kamu hanya sedang menerima tagihan dari semua keputusan yang selama ini kamu kira tidak akan pernah jatuh tempo.”

Arga pergi tanpa berkata apa-apa.

Beberapa minggu kemudian, ketika membersihkan barang terakhir milik Ratih, aku menemukan sebuah amplop kecil terselip di antara halaman Al-Qurannya.

Namaku tertulis di sana.

Di dalamnya hanya ada selembar kertas.

Tulisan Ratih terlihat goyah.

Nak Maya,

Kalau suatu hari kamu merasa bersalah karena menerima apa yang kutinggalkan, ingat satu hal.

Saham itu bukan hadiah karena kamu menjadi istri Arga.

Aku memberikannya karena selama bertahun-tahun aku melihat siapa yang datang ketika aku sakit, siapa yang duduk di sampingku ketika aku takut, dan siapa yang tetap memanggilku Ibu bahkan ketika anak kandungku sendiri terlalu sibuk untuk pulang.

Keluarga bukan selalu orang yang mewarisi darah kita.

Kadang keluarga adalah orang yang memilih tetap tinggal ketika tidak ada keuntungan apa pun untuk tinggal.

Aku menangis lama setelah membaca kalimat itu.

Enam bulan kemudian, namaku tercatat sebagai Ketua Dewan Komisaris Wibisono Group.

Aku tidak mengganti nama perusahaan.

Aku juga tidak menjual rumah Ratih.

Di ruang kerja lama Hendra, brankas kecil itu masih berada di balik lemari buku.

Namun kunci peraknya tidak lagi kusimpan di leher.

Kunci itu kubingkai bersama foto Ratih.

Di bawahnya kutulis satu kalimat.

Dua puluh tujuh panggilan tidak berhasil membawa seorang anak pulang kepada ibunya.

Tetapi panggilan terakhir membongkar kebohongan yang telah hidup selama bertahun-tahun.

Dan setiap kali melihatnya, aku teringat malam ketika kukira aku kehilangan seluruh keluargaku.

Padahal malam itu, seorang ibu yang sedang mengembuskan napas terakhir justru memberiku satu hal yang tidak pernah mampu diberikan putranya selama dua puluh tahun.

Keberanian untuk memilih diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang