“Karena lantainya masih basah,” jawabku. “Kalau Bapak terpeleset, saya yang nanti disalahkan.”
Beberapa detik Surya hanya menatapku.
Lalu, untuk pertama kalinya, aku melihat pria yang konon membuat para direktur gemetar hanya dengan satu tatapan itu tersenyum kecil.
“Baik,” katanya. “Saya lewat belakang.”
Sejak hari itu, entah kenapa Surya mulai sering mengajakku bicara.
Awalnya hanya hal-hal sederhana.
Tentang kopi yang terlalu pahit.
Tentang tanaman melati di halaman belakang yang hampir mati.
Tentang mengapa aku selalu pulang tepat pukul lima sore meskipun pekerjaan belum benar-benar selesai.
“Saya punya anak-anak yang menunggu,” jawabku suatu hari.
“Berapa?”
“Tiga.”
Surya terdiam sebentar.
“Suamimu?”
“Tidak ada.”
Aku tidak menjelaskan lebih jauh.
Dia juga tidak bertanya.
Dan mungkin itulah alasan pertama aku mulai menghormatinya.
Surya berbeda dari kebanyakan orang.
Dia tidak memandang diamku sebagai undangan untuk menghakimi.
Beberapa bulan kemudian, dia bertemu anak-anakku secara tidak sengaja.
Hari itu hujan turun sangat deras.
Jalan menuju rumah kontrakan kami banjir dan angkot berhenti beroperasi. Aku masih berada di rumah keluarga Mahendra ketika Rafi menelepon.
“Ma, Damar demam.”
Aku langsung panik.
Surya yang kebetulan sedang turun dari lantai dua mendengar percakapanku.
“Ambil tasmu,” katanya.
Aku menatapnya bingung.
“Saya antar.”
“Tidak perlu, Pak.”
“Marlina.”
Nada suaranya tenang, tetapi tegas.
“Anakmu sakit. Jangan buang waktu untuk sungkan.”
Malam itulah Surya pertama kali masuk ke rumah kontrakanku yang kecil.
Damar menggigil di kasur tipis.
Nisa menempelkan handuk basah ke dahinya.
Rafi berdiri di dekat pintu dengan wajah cemas.
Surya tidak berkata apa-apa.
Dia langsung membawa Damar ke rumah sakit.
Yang membuatku terkejut, setelah dokter mengatakan Damar hanya mengalami infeksi ringan, Surya tidak langsung pulang.
Dia duduk bersama kami sampai hampir tengah malam.
Damar yang sudah merasa lebih baik tiba-tiba bertanya polos,
“Om Surya kaya, ya?”
Aku hampir tersedak.
“Damar!”
Surya malah tertawa.
“Sedikit.”
“Kalau kaya, kenapa Om nggak punya anak?”
Ruangan mendadak sunyi.
Wajah Surya berubah.
Ada sesuatu di matanya yang saat itu tidak kumengerti.
“Damar, jangan tanya sembarangan,” tegurku.
Namun Surya hanya mengusap kepala anakku.
“Karena kadang hidup tidak memberikan semua yang kita inginkan.”
Sejak malam itu, hubungannya dengan anak-anakku semakin dekat.
Dia membantu Rafi memperbaiki sepeda.
Dia membelikan Nisa buku setelah mengetahui gadis kecil itu suka membaca.
Dan setiap kali Damar melihat mobil Surya berhenti di depan rumah, anak itu akan berlari keluar sambil berteriak,
“Om Surya!”
Aku mulai takut.
Bukan karena Surya memperlakukan kami dengan buruk.
Justru karena dia terlalu baik.
Aku tahu batas antara kami.
Dia seorang pengusaha besar.
Aku pembantu rumah tangga.
Dunia kami berbeda.
Namun rupanya Surya tidak melihatnya seperti itu.
Setahun setelah aku bekerja di rumahnya, dia datang ke rumah kontrakanku seorang diri.
Tidak membawa sopir.
Tidak memakai jas mahal.

Dia duduk di kursi plastik di ruang tamu, tepat di depan ketiga anakku.
Kemudian berkata,
“Marlina, menikahlah denganku.”
Aku benar-benar mengira dia bercanda.
“Pak?”
“Saya serius.”
“Bapak tahu saya siapa?”
“Tahu.”
“Saya pembantu.”
“Pekerjaan bukan identitas.”
“Saya punya tiga anak.”
“Saya juga tahu.”
“Orang-orang bahkan tidak tahu siapa ayah mereka.”
Surya menatapku lama.
“Saya tidak menikahi gosip mereka.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
Namun aku tetap menolak.
Dua kali.
Baru pada lamaran ketiga, ketika Surya berkata bahwa dia tidak hanya ingin hidup bersamaku tetapi juga ingin menjadi seseorang yang bisa diandalkan oleh anak-anakku, pertahananku mulai runtuh.
Akhirnya aku menerima.
Dan sejak itulah neraka kecil dimulai.
Keluarga Mahendra menentang habis-habisan.
Kakak perempuan Surya, Ratih, bahkan datang langsung menemuiku.
Dia meletakkan sebuah amplop tebal di atas meja.
“Ambil ini.”
“Apa?”
“Uang. Pergi dari hidup adik saya.”
Aku mendorong amplop itu kembali.
“Saya tidak membutuhkan uang Ibu.”
Ratih tertawa sinis.
“Jangan berpura-pura punya harga diri. Semua orang tahu perempuan seperti kamu mengejar apa.”
Aku menahan tatapannya.
“Kalau saya mengejar uang, saya pasti sudah mengambil amplop itu.”
Wajahnya langsung berubah.
Sejak saat itu, Ratih membenciku.
Hari pernikahan kami pun tidak lebih mudah.
Pesta diselenggarakan sederhana di sebuah hotel milik Surya.
Namun hampir seluruh keluarga besarnya hadir dengan wajah seolah sedang menghadiri pemakaman.
Aku mendengar bisikan mereka.
“Janda tiga anak.”
“Bekas pembantu.”
“Surya pasti kena guna-guna.”
“Entah anak-anak itu bapaknya siapa.”
Aku tersenyum.
Bukan karena tidak sakit.
Aku hanya sudah terlalu terbiasa.
Malamnya, setelah semua tamu pulang, aku masuk ke kamar pengantin.
Surya sudah berada di dekat jendela.
“Aku minta maaf,” katanya.
“Untuk apa?”
“Keluargaku.”
Aku tersenyum lelah.
“Aku pernah dihina lebih buruk hanya karena membeli cabai di pasar.”
Dia tertawa kecil.
Aku berdiri di depan cermin, lalu mulai melepaskan gaun pengantin.
Saat itulah rantai tipis yang selama ini selalu kusembunyikan di balik pakaian terlepas keluar.
Sebuah liontin tua menggantung di dadaku.
Bentuknya aneh.
Seperti matahari yang terbelah menjadi dua.
Aku hendak memasukkannya kembali ketika terdengar suara Surya.
“Jangan.”
Aku menoleh.
Wajahnya pucat.
Matanya terpaku pada liontin itu.
“Marlina…”
Dia berjalan mendekat perlahan.
“Dari mana kamu mendapatkan itu?”
Tanganku refleks menggenggam liontin tersebut.
“Ini milikku.”
“Sejak kapan?”
“Sudah lama.”
“Berapa lama?”
Aku mulai tidak nyaman.
“Kenapa?”
Surya tiba-tiba membuka laci meja di samping tempat tidur.
Tangannya gemetar ketika mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.
Dari dalamnya, dia mengambil sesuatu.
Separuh liontin.
Aku membeku.
Bentuknya persis sama.
Surya mendekatkan benda itu ke liontin di tanganku.
Klik.
Keduanya menyatu sempurna.
Membentuk matahari utuh.
Kakiku mendadak lemas.
“Tidak mungkin…”
Surya menatapku dengan mata merah.
“Aku mencarimu selama lima belas tahun.”
Aku mundur satu langkah.
“Apa maksudmu?”
Dia menelan ludah.
“Lima belas tahun lalu, terjadi kecelakaan bus di jalur pegunungan menuju Bandung. Mobilku berada beberapa ratus meter di belakang bus itu.”
Aku menahan napas.
Aku mengenal kecelakaan itu.
Terlalu mengenalnya.
“Aku ikut menolong korban,” lanjut Surya. “Ada seorang perempuan muda terjebak di dalam bus. Kamu.”
Potongan ingatan yang selama ini terkubur tiba-tiba muncul.
Asap.
Bau bensin.
Teriakan.
Darah di tanganku.
Dan seorang pria yang menghancurkan kaca dengan batu.
Surya.
“Waktu itu…” suaraku bergetar.
“Kamu menyelamatkanku.”
“Bukan hanya aku. Banyak orang membantu.”
Surya menggeleng.
“Sebelum ambulans membawamu pergi, kamu memberikan ini kepadaku.”
Dia menunjukkan separuh liontin miliknya.
“Kamu bilang kalau suatu hari kita bertemu lagi, aku harus mengembalikannya.”
Air mataku jatuh.
Aku memang pernah memiliki liontin utuh.
Pemberian ibuku.
Saat kecelakaan itu, liontin tersebut patah.
Dalam keadaan setengah sadar, aku memberikan salah satu bagiannya kepada pria yang menyelamatkanku.
Aku tidak pernah mengetahui namanya.
Setelah dirawat beberapa hari, aku pergi dari rumah sakit karena hidupku saat itu sedang kacau.
Aku tidak pernah kembali.
“Aku mencari namamu di daftar korban,” kata Surya. “Alamat yang tercatat sudah kosong. Tidak ada yang tahu kamu pindah ke mana.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Lima belas tahun?”
“Lima belas tahun.”
“Tapi kenapa?”
Surya terdiam.
Kemudian berkata pelan,
“Karena hari itu kamu menyelamatkan hidupku juga.”
Aku mengernyit.
Surya kemudian menceritakan sesuatu yang tidak pernah kuketahui.
Beberapa menit setelah dia mengeluarkanku dari bus, sebuah truk kehilangan kendali di tikungan.
Aku yang setengah sadar melihat kendaraan itu lebih dulu dan berteriak agar Surya menyingkir.
Dia melompat tepat sebelum truk menghantam bagian belakang mobilnya.
“Kalau kamu tidak berteriak, aku mungkin sudah mati.”
Kami berdiri saling menatap.
Dua orang yang selama bertahun-tahun membawa separuh benda yang sama tanpa tahu bahwa hidup telah mempertemukan kami kembali.
Namun ternyata rahasia malam itu belum selesai.
Surya menatapku serius.
“Marlina, ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Tiga anakmu.”
Tubuhku menegang.
“Aku tidak pernah bertanya karena aku menunggu kamu siap. Tapi sekarang aku harus tahu. Siapa ayah mereka?”
Aku memejamkan mata.
Inilah rahasia yang kusimpan selama sebelas tahun.
“Rafi bukan anak kandungku.”
Surya terdiam.
“Nisa juga bukan.”
Wajahnya berubah.
“Damar?”
Aku menggeleng.
“Bukan.”
Aku duduk di tepi ranjang.
“Sebelas tahun lalu aku bekerja di sebuah rumah singgah perempuan. Ada kebakaran besar. Tiga ibu meninggal dalam rentang beberapa bulan setelah kejadian itu. Mereka meninggalkan anak-anak yang tidak punya keluarga yang bersedia merawat.”
Aku mulai menangis.
“Rafi berumur tiga tahun. Nisa masih bayi. Damar bahkan belum lahir waktu itu. Ibunya meninggal beberapa jam setelah melahirkan karena komplikasi.”
Surya tidak berkata apa-apa.
“Mereka akan dipisahkan ke tempat yang berbeda. Aku tidak sanggup melihatnya.”
“Jadi kamu mengambil mereka?”
“Aku mengurus semuanya secara legal. Tapi orang-orang tidak peduli dengan penjelasan. Mereka hanya melihat perempuan tanpa suami membawa tiga anak.”
“Kenapa kamu tidak pernah membela dirimu?”
Aku tersenyum getir.
“Karena aku tidak mau anak-anakku tumbuh dengan mendengar bahwa mereka anak buangan yang diselamatkan karena ibu kandung mereka meninggal.”
Surya menutup wajahnya beberapa detik.
Ketika dia menatapku lagi, air matanya sudah jatuh.
Lalu dia berlutut di depanku.
“Selama ini orang-orang menghinamu karena mereka mengira kamu perempuan yang tidak bermoral.”
Aku tersenyum kecil.
“Biarkan saja.”
“Dan kamu memilih diam demi melindungi anak-anak itu?”
“Mereka anakku. Itu saja yang penting.”
Keesokan paginya, kami seharusnya menghadiri sarapan keluarga.
Ratih sudah menunggu bersama beberapa kerabat.
Begitu aku datang, dia langsung menyindir,
“Bagaimana malam pertama dengan perempuan misterius kita?”
Surya berhenti.
Aku menyentuh lengannya, bermaksud mencegahnya.
Namun kali ini dia tidak diam.
“Cukup.”
Semua orang menoleh.
Surya berdiri di tengah ruangan.
“Perempuan yang kalian hina karena membesarkan tiga anak tanpa suami ternyata membesarkan tiga anak yatim yang tidak memiliki siapa-siapa.”
Ruangan langsung sunyi.
Ratih pucat.
Surya melanjutkan,
“Dan lima belas tahun lalu, perempuan yang sama menyelamatkan hidup saya.”
Dia mengeluarkan liontin matahari yang sudah menyatu.
“Aku mencarinya selama lima belas tahun tanpa pernah tahu namanya. Dan ketika akhirnya aku menemukannya, dia sedang mengepel lantai rumahku.”
Tidak ada yang mampu berkata-kata.
Ratih menatapku.
Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak penuh penghinaan.
Melainkan malu.
Namun kejutan terbesar justru datang dari Rafi.
Beberapa hari kemudian, dia menghampiriku sambil membawa sebuah map tua.
“Aku sudah tahu, Ma.”
Jantungku serasa berhenti.
“Tahu apa?”
“Kalau Mama bukan ibu kandungku.”
Aku langsung menangis.
“Sejak kapan?”
“Dua tahun lalu. Aku menemukan dokumen adopsi.”
Aku menggenggam tangannya.
“Kenapa kamu tidak bertanya?”
Rafi tersenyum.
“Karena aku takut Mama mengira aku akan berubah.”
Aku memeluknya erat.
Anak laki-lakiku berbisik di bahuku,
“Aku nggak peduli siapa yang melahirkan aku. Orang yang datang waktu aku sakit, kerja sampai tangannya pecah-pecah, dan tetap pulang bawa gorengan walau capek… itu ibu aku.”
Aku tidak mampu menjawab.
Surya yang berdiri di ambang pintu pun diam-diam mengusap matanya.
Beberapa bulan kemudian, kami pindah.
Bukan ke rumah mewah keluarga Mahendra.
Aku menolak.
Kami memilih rumah yang lebih sederhana, dengan halaman cukup luas agar Damar bisa bermain dan Nisa bisa menanam bunga.
Rafi mendapatkan kamar sendiri untuk pertama kalinya.
Surya juga melakukan sesuatu yang tidak pernah kuminta.
Dia mendirikan yayasan untuk membantu ibu tunggal, anak yatim, dan perempuan pekerja rumah tangga mendapatkan bantuan hukum serta pendidikan.
Ketika dia hendak menggunakan namaku untuk yayasan itu, aku menolak.
“Kenapa?” tanyanya.
“Karena bukan aku yang perlu dikenang.”
“Lalu siapa?”
Aku mengambil liontin matahari dari leherku.
“Orang-orang yang tetap memilih berbuat baik meskipun tidak ada yang tahu kisah mereka.”
Surya tersenyum.
Akhirnya yayasan itu diberi nama Matahari Utuh.
Liontin kami dipajang di ruang utama.
Bukan sebagai simbol kisah cinta.
Melainkan sebagai pengingat.
Bahwa manusia sering kali hanya melihat separuh kehidupan seseorang lalu merasa sudah mengetahui seluruh ceritanya.
Mereka melihat pekerjaannya.
Statusnya.
Pakainya.
Anak-anak yang dibawanya.
Rumah tempat tinggalnya.
Lalu dengan potongan-potongan kecil itu, mereka menjatuhkan hukuman.
Padahal setiap manusia membawa separuh kisah yang tidak terlihat.
Dan kadang-kadang, ketika separuh yang hilang akhirnya ditemukan, orang yang selama ini dianggap paling rendah justru ternyata memiliki hati yang jauh lebih kaya daripada semua orang yang pernah merendahkannya.
Suatu malam, aku duduk di teras bersama Surya.
Damar tertidur di pangkuannya.
Nisa membaca buku di ruang tengah.
Rafi sibuk mengerjakan tugas sekolah.
Surya menggenggam tanganku.
“Lima belas tahun aku mencarimu,” katanya.
Aku tersenyum.
“Padahal akhirnya ketemu waktu aku lagi ngepel.”
Dia tertawa.
“Sepertinya memang begitu cara hidup bekerja.”
“Bagaimana?”
“Kadang kita mencari sesuatu terlalu jauh, padahal yang kita tunggu sedang berdiri beberapa meter dari kita sambil menyuruh kita jangan menginjak lantai basah.”
Aku ikut tertawa.
Lalu menatap rumah kecil kami.
Dulu aku mengira menjadi rumah bagi ketiga anakku sudah lebih dari cukup.
Ternyata aku salah.
Karena setelah bertahun-tahun menjadi rumah bagi orang lain, akhirnya aku juga menemukan seseorang yang membuatku merasa punya tempat untuk pulang.
Dan ternyata orang itu adalah pria yang selama lima belas tahun membawa separuh matahari milikku.
Sama seperti aku yang tanpa sadar membawa separuh miliknya.
