Malam Tahun Baru Aku Disuruh Mencari Kayu Sendirian, Tapi Pria Asing yang Kutemukan di Gunung Membuat Keluargaku Berebut Mengaku Sebagai Penyelamatnya

“Kalau kalian yang menyelamatkan saya, kenapa satu-satunya nama yang saya ingat sebelum pingsan justru nama anak ini?”

Suara Adrian terdengar tenang, tetapi cukup untuk membuat seluruh kamar mendadak sunyi.

Ayah berdiri di samping tempat tidur dengan wajah menegang. Ibu yang tadi sibuk merapikan obat menghentikan tangannya. Bahkan Nenek yang biasanya selalu punya jawaban kini hanya menatapku tajam.

Aku berdiri di dekat pintu dengan pakaian masih lembap dan telapak tangan perih karena luka.

Adrian menatapku.

“Dan kenapa aku ingat dia meminta sesuatu yang jauh lebih besar daripada sebuah gelang?”

Dadaku terasa sesak.

Ayah segera tertawa kecil.

“Mungkin Bapak sedang mengigau. Alya memang suka bicara macam-macam.”

“Aku tidak mengigau.”

Nada Adrian berubah.

Dia menunjuk keranjang rotan di punggungku.

“Saya ingat keranjang itu. Saya ingat tali yang diikatkan ke tubuh saya. Saya juga ingat seseorang menggali lumpur dengan tangan kosong.”

Wajah Ayah semakin pucat.

Nisa yang masih mengenakan gelang Adrian mundur satu langkah.

Aku menelan ludah.

“Alya,” Adrian memanggil lembut. “Ceritakan apa yang terjadi.”

Aku menoleh kepada Ayah.

Tatapannya memperingatkanku.

Namun entah mengapa, kali ini aku tidak ingin diam.

“Aku menemukan Om di lereng.”

Ibu langsung menyela.

“Alya, jangan berbohong.”

“Aku tidak bohong.”

Itu mungkin pertama kalinya dalam hidupku aku berani menatap Ibu ketika membantahnya.

“Aku sedang mencari kayu karena Ayah bilang aku tidak boleh pulang kalau keranjangku kosong. Lalu aku dengar Om minta tolong. Kakinya terjepit.”

Adrian memejamkan mata sesaat, seolah semuanya mulai kembali.

“Kamu yang melepaskan kaki saya?”

Aku mengangguk.

“Terus?”

“Aku menarik Om pakai keranjang.”

“Tapi jaraknya dari lereng sampai rumah hampir dua kilometer,” kata Adrian.

Aku tidak menjawab.

Dia memandang bahuku yang memerah karena gesekan tali.

Raut wajahnya berubah.

“Ya Tuhan.”

Ayah buru-buru berkata, “Pak Adrian, anak-anak suka melebih-lebihkan cerita. Kami yang sebenarnya menolong setelah dia sampai di dekat rumah.”

Adrian menoleh perlahan.

“Kalau begitu kenapa tadi Anda bilang Anda menemukan saya?”

Ayah terdiam.

Tidak ada yang bisa menjawab.

Pada saat itulah suara klakson terdengar dari halaman.

Beberapa menit kemudian, dua mobil hitam berhenti di depan rumah. Tiga pria berpakaian rapi turun bersama seorang perempuan paruh baya yang tampak panik.

Begitu masuk kamar, perempuan itu langsung memeluk Adrian.

“Mas Adrian!”

“Aku baik-baik saja, Bu Ratih.”

Perempuan bernama Ratih itu ternyata asisten pribadi Adrian.

Aku baru tahu malam itu bahwa Adrian bukan orang biasa.

Dia adalah pemilik sebuah perusahaan konstruksi dan perkebunan yang kantornya berada di Jakarta. Perusahaannya sedang mengembangkan proyek wisata alam di kabupaten kami, sehingga Adrian datang untuk memeriksa lokasi sebelum Tahun Baru.

Mobilnya mengalami kecelakaan kecil karena jalan licin. Saat mencari sinyal, dia terpeleset ke lereng.

Ratih berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada keluargaku.

Anehnya, Ayah segera berubah.

Wajahnya yang tadi tegang kembali ramah.

“Tidak perlu berterima kasih, Bu. Kami cuma melakukan kewajiban sesama manusia.”

Ibu mengangguk cepat.

“Betul. Bahkan kami sampai membatalkan acara Tahun Baru demi merawat Pak Adrian.”

Aku menatap meja makan di ruang sebelah yang penuh makanan.

Mereka bahkan belum membatalkan apa pun.

Nenek ikut mendekat.

“Yang penting Bapak selamat.”

Nisa tersenyum paling manis.

“Aku juga yang menemani Om waktu sadar.”

Adrian tidak mengatakan apa-apa.

Matanya hanya berpindah dari satu orang ke orang lain.

Kemudian berhenti padaku.

“Alya, kamu sudah makan?”

Pertanyaan sederhana itu membuat tenggorokanku tercekat.

Aku menggeleng.

Ibu langsung berkata, “Dia memang susah makan.”

Aku menatap Ibu tidak percaya.

Adrian rupanya melihat ekspresiku.

Dia lalu bertanya, “Tadi bubur yang kamu bawa untuk saya itu jatah siapa?”

Aku diam.

“Alya?”

“Nisa.”

Ruangan kembali hening.

Adrian tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan dalam senyum itu.

“Menarik.”

Ratih tampaknya mulai memahami situasi.

Dia menyuruh salah satu staf membeli makanan hangat dari warung yang masih buka.

Tidak lama kemudian, aku duduk di meja makan sambil memegang sepiring nasi goreng.

Untuk pertama kalinya malam itu, seseorang memastikan aku makan dulu.

Adrian dibawa ke rumah sakit sekitar pukul sebelas malam.

Sebelum pergi, dia memanggilku.

“Alya.”

Aku mendekat.

Dia berbisik, “Pertanyaanmu tadi belum saya jawab.”

Aku menegang.

Aku berharap dia melupakannya.

Namun Adrian masih ingat.

“Kenapa kamu meminta saya menjadi ayahmu?”

Aku menatap lantai.

“Tidak apa-apa. Aku cuma bercanda.”

“Kamu tidak terdengar seperti sedang bercanda.”

Aku menggigit bibir.

Dari luar kamar, suara Nisa tertawa bersama sepupuku.

Kemudian aku menjawab pelan.

“Karena kupikir kalau Om bisa berjanji memberikan apa saja, mungkin aku boleh meminta keluarga yang mau memilihku.”

Adrian terdiam lama.

Aku tidak tahu mengapa matanya tiba-tiba terlihat merah.

“Ayah dan ibumu tidak memilihmu?”

Aku mengangkat bahu.

“Mereka punya Nisa.”

Jawabanku sederhana.

Namun mungkin justru karena itulah Adrian tidak bertanya lebih jauh.

Dia hanya mengusap kepalaku.

“Tidurlah malam ini. Jangan pergi mencari kayu lagi.”

Aku mengangguk.

Aku pikir semuanya akan berakhir di sana.

Ternyata aku salah.

Pagi berikutnya, sekitar pukul sembilan, dua mobil kembali berhenti di halaman.

Ayah langsung bergegas keluar dengan kemeja terbaiknya.

Adrian datang dengan tongkat penyangga, ditemani Ratih dan seorang pria berkacamata yang membawa tas dokumen.

Ibu segera mengeluarkan kue.

Nenek menyuruhku menyapu lantai sebelum tamu masuk.

Namun Adrian berkata, “Tidak perlu. Saya datang untuk bicara tentang Alya.”

Sapu di tanganku berhenti.

Ayah tersenyum canggung.

“Tentang Alya?”

Adrian duduk di ruang tamu.

“Saya ingin tahu kenapa anak tiga belas tahun disuruh pergi sendirian ke kebun pada malam hujan.”

Ayah menatap Ibu.

“Itu cuma hukuman kecil.”

“Hukuman kecil?”

Adrian mengangkat alis.

“Anak Anda bisa jatuh ke jurang. Bisa tersesat. Bisa mengalami hal yang jauh lebih buruk.”

Ayah mulai tersinggung.

“Pak Adrian, urusan mendidik anak adalah urusan keluarga kami.”

“Saya setuju.”

Adrian menatapnya.

“Tapi menelantarkan anak bukan cara mendidik.”

Udara terasa menegang.

Ibu kemudian berkata, “Alya memang anak yang sulit. Sejak kecil dia keras kepala.”

Aku mengepalkan tangan.

Lalu Adrian bertanya sesuatu yang tidak pernah kuduga.

“Sejak kecil?”

Ibu mendadak diam.

Adrian mengeluarkan sebuah benda dari saku jaketnya.

Sebuah foto lama.

Foto seorang perempuan muda sedang menggendong bayi.

Wajah perempuan itu hampir tidak kukenal.

Tetapi bayi itu memakai selimut dengan pola bunga kecil yang sangat familiar.

Aku pernah melihat selimut tersebut tersimpan di lemari Nenek.

“Siapa perempuan ini?” tanya Adrian.

Nenek langsung pucat.

Aku menatapnya.

“Nenek?”

Tangan Nenek gemetar.

Adrian menjelaskan bahwa setelah dibawa ke rumah sakit malam sebelumnya, dia berbicara cukup lama dengan Ratih. Nama desa kami mengingatkannya pada seseorang dari masa lalu.

Tiga belas tahun lalu, adik perempuan Adrian bernama Laras pernah tinggal di daerah ini.

Laras jatuh cinta kepada seorang pemuda lokal.

Hubungan mereka ditentang keluarga besar Adrian karena Laras masih kuliah. Suatu malam, Laras menghilang.

Beberapa bulan kemudian, Adrian mendapat kabar bahwa adiknya meninggal akibat komplikasi setelah melahirkan.

Bayi Laras tidak pernah ditemukan.

Menurut keluarga pemuda itu, bayi tersebut telah dibawa kerabat jauh.

Adrian menghabiskan bertahun-tahun mencarinya tanpa hasil.

“Apa hubungannya dengan kami?” Ayah bertanya dengan suara bergetar.

Adrian menatap Nenek.

“Karena pria yang bersama Laras bernama Arman.”

Arman adalah nama Ayah.

Aku merasa seluruh ruangan berputar.

Ayah berdiri.

“Itu masa lalu.”

Aku tidak bisa bernapas.

Adrian melanjutkan.

“Laras melahirkan seorang anak perempuan.”

Matanya menatapku.

“Dan dari tanggal lahir yang saya dapatkan semalam, usianya seharusnya tiga belas tahun.”

Ibu tiba-tiba menangis.

Bukan tangisan sedih.

Tangisan orang yang ketahuan menyimpan sesuatu terlalu lama.

Aku berdiri terpaku.

“Ayah?”

Dia tidak menatapku.

“Nisa anak siapa?”

Pertanyaanku membuat Ibu terisak lebih keras.

Nenek akhirnya bicara.

“Alya, duduk dulu.”

“Aku tidak mau duduk.”

Untuk pertama kali dalam hidupku, aku berteriak kepada mereka.

“Aku anak siapa?”

Ayah mengepalkan tangannya.

“Kamu tetap anak Ayah.”

“Itu bukan jawaban.”

Aku menatap Ibu.

“Bu?”

Perempuan yang kupanggil Ibu sepanjang hidupku menutup wajah.

Akhirnya Nenek menjelaskan.

Ayah memang pernah menjalin hubungan dengan Laras ketika masih muda.

Ketika Laras hamil, mereka bertengkar. Ayah takut menikah karena keluarga Laras jauh lebih kaya dan mengancam akan membawanya ke Jakarta.

Laras melahirkan di sebuah klinik kecil.

Beberapa jam setelah melahirkan, kondisinya memburuk.

Dia meninggal sebelum keluarganya tiba.

Ayah membawa bayi itu pulang.

Bayi itu adalah aku.

Dua tahun kemudian, Ayah menikah dengan Ibu.

Setahun setelahnya, Nisa lahir.

Sejak saat itulah semuanya berubah.

Aku tiba-tiba memahami semua hal yang selama ini terasa aneh.

Mengapa tidak ada foto Ibu mengandungku.

Mengapa ulang tahunku hampir tidak pernah dirayakan.

Mengapa Nenek selalu berkata aku membawa “darah orang lain”.

Dan mengapa Ibu bisa memeluk Nisa dengan cara yang tidak pernah dilakukannya kepadaku.

Aku berlari keluar.

Aku tidak peduli siapa yang memanggil.

Aku terus berlari sampai tiba di kebun bambu.

Di tempat yang sama seperti malam sebelumnya.

Aku duduk di bawah pohon dan menangis.

Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah tertatih.

Adrian datang menggunakan tongkat.

Dia tidak langsung berbicara.

Dia hanya duduk beberapa meter dariku.

“Aku tidak punya ibu,” kataku akhirnya.

Adrian menggeleng.

“Kamu punya.”

“Dia sudah meninggal.”

“Benar.”

Matanya berkaca-kaca.

“Tapi dia sangat menginginkanmu.”

Adrian menunjukkan beberapa surat lama di ponselnya.

Surat yang pernah Laras kirim sebelum melahirkan.

Dalam salah satunya, Laras menulis bahwa jika bayinya perempuan, dia ingin memberi nama Alyana.

Ayah kemudian menyingkatnya menjadi Alya.

Aku menangis semakin keras.

“Kenapa Om tidak menemukan aku?”

“Karena kami mencari ke tempat yang salah.”

Adrian menunduk.

“Dan karena orang-orang yang tahu memilih diam.”

Aku menatap rumah dari kejauhan.

“Om mau membawaku pergi?”

“Saya tidak bisa membawa anak tanpa proses hukum.”

Jawabannya membuatku kecewa sekaligus lega.

“Tapi saya bisa memastikan kamu aman.”

Hari-hari berikutnya mengubah hidup kami.

Adrian meminta tes DNA.

Hasilnya membuktikan bahwa Laras memang ibuku.

Dia juga melaporkan situasi pengasuhanku kepada pihak berwenang setelah mengetahui beberapa bentuk perlakuan yang kualami selama bertahun-tahun.

Ayah marah besar.

Namun yang paling aneh justru sikap keluargaku setelah mengetahui siapa Adrian sebenarnya.

Nenek yang sebelumnya selalu menyuruhku mengerjakan pekerjaan rumah tiba-tiba memanggilku “cucu kesayangan”.

Ibu membuat makanan favoritku.

Ayah bahkan membelikan tas sekolah baru.

Semuanya terasa menjijikkan.

Beberapa hari kemudian, aku mendengar mereka bertengkar di dapur.

“Kalau Alya tinggal dengan Adrian, kita kehilangan semuanya,” kata Ibu.

“Dia keluarga Pratama,” sahut Ayah. “Kalau kita baik-baik sekarang, mungkin mereka akan membantu kita.”

Nenek berkata, “Yang penting jangan biarkan anak itu membenci kita.”

Aku berdiri di balik pintu dan akhirnya memahami sesuatu.

Mereka bukan takut kehilangan aku.

Mereka takut kehilangan apa yang mungkin kudapatkan.

Sidang penetapan perwalian berlangsung beberapa bulan kemudian.

Ayah sempat menolak.

Namun setelah pemeriksaan dan kesaksian warga mengenai perlakuan keluargaku, keputusan akhirnya memberikan perwalian sementara kepadaku kepada Adrian.

Ketika keluar dari ruang sidang, Ayah mendekat.

“Alya.”

Aku berhenti.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua.

“Ayah memang salah. Tapi Ayah tetap membesarkanmu.”

Aku menatap pria yang pernah menyuruhku mencari kayu di tengah hujan.

“Ayah memberiku rumah.”

Dia mengangguk cepat.

“Tapi rumah bukan selalu berarti keluarga.”

Wajahnya berubah.

Aku melanjutkan.

“Kalau malam itu aku pulang tanpa membawa Om Adrian, Ayah bahkan tidak mau membukakan pintu.”

Dia tidak bisa menjawab.

Aku pergi.

Setahun kemudian, aku kembali ke desa untuk menemui Nisa.

Hubungan kami tidak pernah sempurna, tetapi aku akhirnya sadar bahwa dia juga seorang anak yang dibentuk oleh cara orang dewasa memperlakukannya.

Nisa mengembalikan gelang kulit Adrian.

“Aku tidak pantas punya ini.”

Aku menerimanya lalu tersenyum.

“Ini bukan salahmu.”

Ketika pulang, aku menyerahkan gelang itu kepada Adrian.

Namun dia malah memasangkannya di pergelangan tanganku.

“Dulu saya memberi gelang ini kepada orang yang salah.”

Aku tertawa kecil.

“Tidak apa-apa.”

Adrian menggeleng.

“Saya dulu bilang akan membalas kebaikanmu dengan apa saja.”

Aku mengingat malam dingin itu.

“Terus?”

“Ada satu permintaan yang belum saya jawab.”

Aku terdiam.

Adrian menatapku sambil tersenyum.

“Waktu itu kamu bertanya apakah saya mau jadi ayahmu.”

Air mataku langsung jatuh.

Dia menggeleng pelan.

“Saya tidak bisa menggantikan ayahmu. Dan saya juga bukan ayahmu.”

Aku menunduk.

Kemudian dia melanjutkan.

“Tapi kalau kamu bersedia, saya ingin menjadi paman yang tidak pernah meninggalkanmu.”

Aku tertawa di tengah tangis.

“Boleh.”

Adrian memelukku.

Pada malam Tahun Baru berikutnya, kami menyalakan perapian kecil di halaman rumahnya.

Tidak ada yang menyuruhku mencari kayu sendirian.

Tidak ada pintu yang mengancam akan tertutup.

Ketika jam menunjukkan pukul dua belas, Adrian menatap langit dan berkata bahwa Laras pasti akan bahagia melihatku.

Aku tidak tahu apakah itu benar.

Namun malam itu aku akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih penting.

Keluarga bukan orang yang paling cepat mengaku telah menyelamatkan kita ketika semua orang sedang melihat.

Keluarga adalah orang yang tetap memilih kita ketika tidak ada hadiah, tidak ada warisan, dan tidak ada siapa pun yang bertepuk tangan.

Dan terkadang, orang yang kita temukan dalam keadaan terluka justru menjadi orang yang menolong kita keluar dari tempat paling gelap dalam hidup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang