Aku Baru Mengambil Dua Tas Lusuhku Tepat Setelah Menandatangani Perceraian, Tetapi Sebuah Kotak Tanpa Nama Datang Enam Bulan Kemudian

Kalimat pertama dalam surat itu membuat tanganku gemetar.

Kalau kamu sedang membaca surat ini, berarti aku sudah tidak punya cara lain untuk mengatakan kebenaran kepadamu.

Aku membaca kalimat itu berulang kali, berharap susunan hurufnya berubah jika kutatap cukup lama. Namun tidak ada yang berubah. Tulisan tangan Raka tetap sama, sedikit miring ke kanan, persis seperti tulisan pada kartu ulang tahun yang dulu selalu ia selipkan di bawah bantalku.

Aku duduk di lantai.

Album foto tua, flashdisk, dan surat itu tergeletak di meja rendah di hadapanku.

Aku melanjutkan membaca.

Livia, pertama-tama aku ingin meminta maaf. Bukan karena aku menceraikanmu. Maafku jauh lebih besar daripada itu. Aku meminta maaf karena membuatmu percaya bahwa aku berhenti mencintaimu.

Napas seolah tertahan di tenggorokanku.

Enam bulan lalu, di kantor pengacara, Raka bahkan tidak sanggup menatapku. Aku mengira itu karena ia sudah muak melihat wajahku.

Ternyata ada kemungkinan lain yang jauh lebih menakutkan.

Aku membalik halaman.

Aku tidak tahu kapan surat ini akan sampai kepadamu. Aku juga tidak tahu apakah saat itu aku masih bisa menjelaskan semuanya sendiri. Karena itu, dengarkan isi flashdisk tersebut sampai selesai. Jangan percaya siapa pun sebelum kamu melihatnya, termasuk keluargaku.

Aku langsung meraih flashdisk.

Laptopku berada di atas kasur. Tanganku sampai dua kali gagal memasukkan flashdisk ke port karena terlalu gemetar.

Hanya ada satu folder.

Namanya UNTUK LIVIA.

Di dalamnya terdapat tujuh video dan beberapa dokumen.

Aku membuka video pertama.

Layar menampilkan ruang kerja yang sangat kukenal. Ruang kerja ayah Raka di rumah keluarga mereka.

Tanggal rekaman menunjukkan delapan bulan lalu, ketika kandunganku memasuki bulan ketujuh.

Suara terdengar lebih dulu sebelum gambar menjadi jelas.

“Kamu harus memilih, Raka.”

Aku mengenali suara itu.

Ibu mertuaku.

Bu Ratih.

Kemudian Raka muncul di layar.

“Aku tidak akan meninggalkan Livia.”

“Kalau begitu kamu tahu akibatnya.”

“Apa yang sebenarnya Ibu inginkan?”

Bu Ratih berdiri dari sofa.

“Anak-anak itu tetap di keluarga kita.”

Tubuhku langsung kaku.

Anak-anak.

Maksudnya kedua bayiku.

Aku menaikkan volume.

“Livia ibu mereka,” kata Raka.

“Justru itu masalahnya.”

“Apa salah Livia?”

Bu Ratih tertawa pendek.

“Kamu masih belum mengerti? Perempuan itu tidak punya keluarga besar, tidak punya koneksi, tidak punya apa-apa. Kalau sesuatu terjadi pada perusahaan, siapa yang menjamin cucu-cucuku tetap aman?”

Raka memukul meja.

“Jangan bicara seolah-olah anakku adalah aset perusahaan.”

“Karena memang mereka pewarisnya.”

Video berhenti.

Aku menatap layar dengan mata panas.

Selama ini aku tahu keluarga Raka kaya. Ayahnya memiliki perusahaan distribusi alat kesehatan yang berkembang pesat di Jakarta dan Surabaya. Namun aku tidak pernah peduli pada kekayaan mereka.

Aku bahkan tetap bekerja sebagai penerjemah setelah menikah.

Aku membuka video kedua.

Kali ini Raka berada di dalam mobil.

Wajahnya terlihat sangat lelah.

“Liv,” katanya ke kamera, “kalau kamu melihat ini, mungkin kamu akan membenciku.”

Ia berhenti cukup lama.

“Ayah menemukan transaksi ilegal di perusahaan. Ada penggelapan dana dan pemalsuan laporan pajak. Orang yang melakukannya bukan pegawai luar. Ibu terlibat.”

Aku menutup mulut.

Raka melanjutkan.

“Aku mengumpulkan bukti untuk menyerahkannya kepada penyidik. Tapi Ibu mengetahuinya.”

Kemudian ia menunjukkan ponselnya ke kamera.

Ada foto diriku sedang keluar dari klinik kandungan.

Foto lain menunjukkan Nisa mengantarkanku pulang.

Foto berikutnya diambil dari kejauhan ketika aku berbelanja di minimarket.

Seseorang mengawasiku.

“Dia mengancam akan mencelakai kamu kalau aku menyerahkan bukti.”

Air mataku mulai jatuh.

“Tapi itu belum semuanya.”

Raka menundukkan kepala.

“Dia bilang setelah anak-anak lahir, dia akan membuatmu kehilangan hak asuh. Mereka sudah menyiapkan catatan medis palsu untuk membuatmu terlihat mengalami gangguan psikologis setelah melahirkan.”

Aku teringat hari-hari terakhir di rumah sakit.

Bu Ratih terus mengatakan aku terlalu emosional.

Ia memanggil dokter tanpa sepengetahuanku.

Bahkan pernah menyuruhku menelan obat yang katanya vitamin.

Saat itu aku menolak karena merasa mual.

Tiba-tiba semua potongan kejadian yang selama ini tampak tidak berkaitan mulai menyatu.

Aku membuka dokumen dalam folder.

Ada salinan percakapan.

Rekening bank.

Dokumen perusahaan.

Lalu sebuah laporan medis atas namaku.

Diagnosisnya membuat darahku seperti berhenti mengalir.

Gangguan psikotik pascapersalinan.

Padahal aku tidak pernah didiagnosis seperti itu.

Aku langsung menelepon Nisa.

Ia datang dua puluh menit kemudian.

Begitu membaca surat dan melihat rekaman, wajahnya pucat.

“Liv, kita harus ke polisi.”

“Tunggu.”

Aku membuka video berikutnya.

Video itu direkam tiga hari sebelum aku melahirkan.

Raka duduk bersama seorang laki-laki yang tidak kukenal.

“Pak Aditya,” kata Raka, “kalau sesuatu terjadi pada saya, pastikan dokumen ini sampai ke istri saya.”

Laki-laki itu mengangguk.

“Kapan?”

“Enam bulan setelah perceraian.”

“Kenapa harus menunggu selama itu?”

Raka menatap meja.

“Karena saat itu penyelidikan seharusnya sudah berjalan dan Livia tidak lagi tercatat sebagai bagian keluarga kami. Mereka tidak akan punya alasan untuk menyeretnya.”

Aku menoleh kepada Nisa.

“Dia merencanakan perceraian itu.”

Nisa tidak menjawab.

Aku kembali menatap layar.

Pak Aditya bertanya, “Lalu uang yang akan Anda transfer?”

“Itu uang pribadi saya. Bukan aset perusahaan.”

“Jumlahnya besar.”

“Kalau aku gagal, setidaknya dia punya cukup uang untuk pergi jauh.”

Aku menangis.

Jadi itu jawabannya.

Uang yang selama enam bulan tidak pernah kusentuh bukan uang penutup.

Itu perlindungan.

Raka sengaja membuatku membencinya agar aku pergi.

Aku membuka video terakhir.

Namun yang muncul bukan Raka.

Melainkan seorang perempuan muda berseragam perawat.

Aku mengenalinya.

Suster Maya.

Perawat yang merawatku setelah operasi caesar.

“Bu Livia,” katanya dengan suara bergetar, “saya minta maaf karena baru berani bicara sekarang.”

Aku langsung duduk lebih tegak.

“Pada malam setelah Ibu melahirkan, Bu Ratih meminta kami membatasi pertemuan Ibu dengan bayi. Dia mengatakan itu atas instruksi dokter. Tapi saya tahu dokter tidak pernah memberikan instruksi tersebut.”

Air mataku kembali mengalir.

“Saya melihat Bu Ratih memberikan amplop kepada salah satu staf administrasi. Besoknya, dokumen kepulangan bayi diubah.”

Nisa meremas tanganku.

Kemudian Suster Maya mengatakan sesuatu yang membuatku berdiri begitu cepat sampai kursi kecil di belakangku terjatuh.

“Dan ada satu hal lagi. Bayi perempuan Ibu tidak pernah pulang ke rumah keluarga Pak Raka.”

“Apa?”

Suaraku keluar tanpa sadar.

Video terus berjalan.

“Dalam dokumen rumah sakit tertulis kedua bayi dibawa keluarga ayahnya. Tapi saya melihat bayi perempuan dipindahkan menggunakan ambulans ke rumah sakit lain.”

Dunia di sekelilingku seakan menghilang.

Selama enam bulan aku percaya kedua anakku tinggal bersama Raka.

Ternyata tidak.

“Nisa.”

Suaraku hampir tidak terdengar.

“Di mana anak perempuanku?”

Kami langsung membawa seluruh bukti kepada polisi.

Penyelidikan bergerak cepat karena ternyata kasus perusahaan keluarga Raka memang sudah ditangani selama beberapa bulan.

Nama Bu Ratih masuk dalam daftar orang yang sedang diperiksa.

Namun berita terbesar justru datang keesokan paginya.

Raka menghilang.

Menurut penyidik, tiga bulan setelah perceraian kami, mobilnya ditemukan kosong di kawasan Puncak. Tidak ada jenazah. Tidak ada tanda kecelakaan.

Aku hampir tidak bisa berdiri ketika mendengarnya.

“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”

Penyidik menatapku dengan hati-hati.

“Secara hukum, Ibu sudah bukan istrinya.”

Kalimat itu menyakitkan lebih dari yang kubayangkan.

Dua hari kemudian, polisi memanggil Bu Ratih.

Aku melihatnya untuk pertama kali setelah enam bulan.

Ia masih terlihat anggun dengan blazer krem dan rambut tertata rapi.

Namun begitu melihatku, wajahnya berubah.

“Kamu seharusnya tidak kembali.”

Aku menatapnya.

“Di mana anak saya?”

“Anakmu aman.”

“Yang mana?”

Untuk pertama kalinya, ia terdiam.

Aku mendekat.

“Di mana anak perempuan saya?”

Bu Ratih tersenyum tipis.

“Kalau Raka tidak sok menjadi pahlawan, semua ini tidak akan terjadi.”

Aku ingin menerjangnya, tetapi Nisa menahan lenganku.

“Di mana dia?”

Bu Ratih tidak menjawab.

Polisi akhirnya menemukan jawabannya dari catatan transfer rumah sakit.

Bayi perempuanku dipindahkan ke sebuah rumah sakit swasta di Bandung karena mengalami kelainan jantung bawaan yang baru terdeteksi beberapa jam setelah kelahiran.

Raka mengetahui hal itu.

Ia merahasiakannya dariku.

Bukan karena ingin memisahkanku dari anakku.

Melainkan karena dokter mengatakan bayi kami membutuhkan operasi besar dan Bu Ratih menolak membiayainya.

Raka membayar seluruh biaya pengobatan secara diam-diam.

Ia bahkan menjual apartemen investasi miliknya.

Ketika aku tiba di rumah sakit Bandung, kakiku hampir kehilangan tenaga.

Seorang dokter membawaku ke ruang perawatan anak.

Di balik kaca, seorang bayi perempuan sedang tidur.

Enam bulan.

Enam bulan aku tidak pernah memeluknya.

Aku menempelkan tangan ke kaca.

“Itu anak saya?”

Dokter mengangguk.

“Namanya Alya.”

Aku menoleh.

“Siapa yang memberi nama?”

Dokter tersenyum kecil.

“Ayahnya.”

Aku menangis tanpa suara.

Beberapa menit kemudian aku diizinkan masuk.

Ketika tubuh kecil Alya diletakkan di lenganku, aku merasa ada bagian diriku yang selama ini mati akhirnya hidup kembali.

“Alya.”

Matanya terbuka perlahan.

Aku mencium keningnya berkali-kali.

“Maafkan Mama.”

Namun masih ada satu anak lagi.

Putraku.

Arga.

Polisi menemukannya di rumah Bu Ratih bersama pengasuh.

Aku mendapatkan hak untuk membawanya setelah dokumen medis palsu tentang kondisi kejiwaanku terbukti dibuat dengan sengaja.

Untuk pertama kalinya setelah enam bulan, kedua anakku berada di pelukanku.

Seharusnya saat itu semuanya terasa selesai.

Tapi tidak.

Raka masih hilang.

Tiga minggu kemudian, Bu Ratih ditetapkan sebagai tersangka atas pemalsuan dokumen, penggelapan dana, dan beberapa pelanggaran lain.

Ayah Raka memilih bekerja sama dengan penyidik.

Aku tidak pernah bertanya apakah Bu Ratih benar-benar berniat mencelakai kami.

Aku tidak ingin tahu lagi.

Yang kuinginkan hanya satu.

Menemukan Raka.

Hari berganti minggu.

Minggu menjadi bulan.

Tidak ada kabar.

Sampai suatu malam, ketika aku sedang menidurkan Arga dan Alya di apartemen yang kini terasa jauh lebih hidup, bel pintu berbunyi.

Aku membuka pintu.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya sebuah kotak kecil.

Jantungku langsung berdegup keras.

Aku membawanya masuk.

Di dalamnya terdapat gantungan kunci kayu berbentuk rumah.

Aku membeku.

Gantungan yang sama seperti milikku.

Namun yang ini milik Raka.

Di bawahnya ada secarik kertas.

Aku mengenali tulisan itu.

Besok, pukul empat sore. Tempat pertama kali kita bertemu.

Aku hampir tidak tidur malam itu.

Keesokan harinya Nisa bersikeras ikut, tetapi aku memintanya menunggu di mobil.

Aku memasuki sebuah kedai kopi kecil di kawasan Blok M.

Tempat itu sudah banyak berubah sejak tujuh tahun lalu.

Aku memilih meja di sudut.

Pukul empat lewat lima menit.

Tidak ada siapa-siapa.

Empat lewat sepuluh.

Tanganku mulai dingin.

Lalu pintu terbuka.

Seorang laki-laki masuk memakai kemeja sederhana dan topi hitam.

Tubuhku langsung mengenalinya bahkan sebelum pikiranku sempat memastikan.

Raka.

Aku berdiri.

Ia berhenti beberapa meter dariku.

Wajahnya lebih kurus. Ada bekas luka kecil di pelipisnya.

Tidak ada satu pun dari kami yang berbicara.

Aku berjalan mendekatinya.

Lalu menamparnya.

Suara tamparanku cukup keras hingga beberapa pengunjung menoleh.

Raka tidak bergerak.

Aku menamparnya sekali lagi.

“Kamu tahu apa yang kamu lakukan padaku?”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu tidak tahu.”

Air mataku jatuh.

“Kamu membuatku percaya aku kehilangan semuanya.”

“Aku minta maaf.”

“Kamu bahkan tidak memberiku pilihan.”

“Aku takut.”

Aku tertawa getir.

“Dan kamu pikir aku tidak takut?”

Raka akhirnya menangis.

Itu pertama kalinya aku melihatnya menangis sejak kami menikah.

“Aku tahu mereka mengawasimu. Aku pikir kalau kamu membenciku, kamu akan pergi dan tidak akan mencari tahu.”

“Lalu kenapa kamu menghilang?”

“Aku menjadi saksi utama. Penyidik memindahkanku sementara setelah ada ancaman. Aku tidak boleh menghubungi siapa pun yang bisa mengarah pada keberadaanku.”

Aku menatapnya lama.

“Kotak pertama?”

“Pak Aditya yang mengirimnya setelah mendapat kabar bahwa sebagian besar orang yang terlibat sudah diamankan.”

Aku mengusap air mata.

“Kenapa sekarang?”

Raka mengeluarkan sesuatu dari saku.

Bukan cincin.

Melainkan sebuah foto.

Arga dan Alya.

“Aku melihat mereka dari jauh ketika kalian keluar dari rumah sakit minggu lalu.”

Suaranya bergetar.

“Aku tidak berani mendekat.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak tahu apakah aku masih pantas menjadi bagian hidup kalian.”

Aku menatap laki-laki yang pernah menjadi suamiku.

Aku masih mencintainya.

Kesadaran itu menyakitkan.

Namun cinta ternyata tidak otomatis menghapus luka.

“Aku tidak bisa kembali menjadi istrimu seolah tidak pernah terjadi apa-apa.”

Raka mengangguk.

“Aku mengerti.”

“Aku juga belum bisa memaafkanmu.”

“Aku tahu.”

“Tapi Arga dan Alya berhak mengenal ayah mereka.”

Raka menutup wajahnya sesaat.

Ketika menurunkan tangan, matanya merah.

“Boleh aku bertemu mereka?”

Aku mengambil gantungan kayu miliknya lalu menyatukannya dengan gantungan milikku.

Dua rumah kecil itu ternyata memiliki potongan berbeda yang jika disatukan membentuk satu rumah utuh.

Aku baru menyadarinya setelah tujuh tahun.

“Kita mulai dari sana,” kataku.

Enam bulan kemudian, Raka tidak kembali tinggal bersamaku.

Ia menyewa apartemen dua lantai di bawah tempatku tinggal.

Kami menjalani konseling.

Ia datang setiap pagi untuk membantu menyiapkan Arga dan Alya. Kadang kami bertengkar. Kadang aku masih menangis ketika mengingat apa yang terjadi.

Namun kali ini tidak ada kebohongan.

Tidak ada pengorbanan diam-diam.

Tidak ada keputusan sepihak atas nama cinta.

Suatu malam, setelah anak-anak tidur, Raka berdiri di depan pintuku.

“Aku dulu berpikir melindungi seseorang berarti menanggung semuanya sendirian,” katanya.

Aku menatapnya.

“Sekarang?”

“Sekarang aku tahu kalau kita mencintai seseorang, kita harus memberi mereka hak untuk memilih apakah mereka mau berjuang bersama kita.”

Aku tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terasa seperti janji kosong.

Setahun setelah kotak tanpa nama itu datang, kami tidak menikah kembali.

Belum.

Aku tidak membutuhkan akhir seperti dongeng.

Aku hanya membutuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada itu.

Kejujuran.

Kepercayaan yang dibangun kembali sedikit demi sedikit.

Dan dua anak yang akhirnya bisa tidur dengan tenang karena ayah dan ibu mereka tidak lagi berperang melawan dunia sendirian.

Uang yang dulu Raka transfer akhirnya kugunakan.

Bukan untuk membeli rumah.

Sebagian kugunakan untuk biaya pemulihan Alya, dan sebagian lagi kami sisihkan untuk masa depan kedua anak kami.

Sedangkan dua gantungan kunci kayu itu sekarang tergantung berdampingan di pintu apartemenku.

Suatu sore Arga menunjuknya sambil bertanya, “Mama, kenapa rumahnya ada dua?”

Aku berjongkok dan memeluknya.

“Karena kadang sebuah rumah pernah pecah.”

“Terus?”

Aku memandang Raka yang sedang menggendong Alya di ujung lorong.

“Terus orang-orang di dalamnya belajar membangunnya lagi.”

Raka tersenyum.

Aku membalas senyumnya.

Dulu aku meninggalkan pernikahanku hanya dengan dua tas lusuh dan keyakinan bahwa hidupku sudah berakhir.

Ternyata enam bulan kemudian, sebuah kotak tanpa nama datang bukan untuk mengembalikan kehidupan lamaku.

Kotak itu datang untuk menunjukkan bahwa hidup lama itu memang harus berakhir.

Supaya kami bisa membangun sesuatu yang baru.

Bukan dari rahasia.

Bukan dari ketakutan.

Melainkan dari kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang