IBU PACARKU MENGANGGAP AKU TIDAK BERPENDIDIKAN HANYA KARENA AKU MEMECAHKAN SEBUAH GELAS.

Namaku Nadira.

Malam itu seharusnya menjadi malam ketika aku akhirnya benar-benar diterima oleh keluarga Arman.

Setidaknya, itulah yang kuharapkan.

Arman mengajakku datang ke rumah orang tuanya untuk menghadiri pesta ulang tahun ibunya. Kami sudah hampir dua tahun berpacaran, tetapi selama itu aku hanya beberapa kali bertemu dengan ibunya.

Namanya Ratih.

Dia adalah tipe perempuan yang selalu tampil sempurna dengan pakaian mahal, berbicara dengan suara tenang, tetapi entah bagaimana mampu membuat seluruh ruangan langsung diam. Tatapannya juga memiliki cara tersendiri untuk membuat orang merasa tidak nyaman, seolah-olah dia sedang menilai seseorang dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu menentukan berapa harga orang itu di matanya.

Sejak awal aku tahu Ratih tidak menyukaiku.

Dia menganggap keluargaku terlalu sederhana. Menurutnya, aku bukan perempuan yang pantas mendampingi putranya.

Meski begitu, malam itu aku tetap datang sambil membawa sebuah kue yang kubuat sendiri.

Aku hanya ingin mencoba sekali lagi.

Mungkin jika aku menunjukkan niat baik, Ratih akan sedikit melunak.

Begitu memasuki rumah mereka, aku langsung melihat puluhan tamu memenuhi ruang makan yang luas. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya terang dari langit-langit. Sebuah meja makan panjang tertata sangat rapi dengan piring porselen putih, peralatan makan berwarna perak, serta deretan gelas kristal yang berkilauan di bawah cahaya.

Ratih berdiri di ujung ruangan.

Begitu melihatku, tatapannya langsung turun ke sepatu yang kukenakan.

Lalu dia memanggil putranya.

“Arman.”

“Iya, Bu?”

Ratih masih menatapku.

“Kamu mengajaknya datang dengan penampilan seperti itu?”

Arman menoleh kepadaku.

Malam itu aku mengenakan gaun sederhana berwarna biru tua. Memang bukan gaun bermerek atau sesuatu yang mahal, tetapi aku sudah berusaha memilih pakaian terbaik yang kumiliki agar terlihat pantas menghadiri acara keluarganya.

Arman justru tersenyum.

“Menurutku dia cantik.”

Ratih sama sekali tidak ikut tersenyum.

“Cantik saja tidak cukup.”

Aku mendengar kalimat itu dengan jelas, tetapi memilih berpura-pura tidak mendengarnya.

Aku melangkah mendekat dan menyerahkan kotak kue yang kubawa.

“Selamat ulang tahun, Bu. Semoga Ibu selalu sehat.”

Ratih menerima kotak itu tanpa sedikit pun berniat membukanya.

“Kamu membuat ini sendiri?”

“Iya, Bu.”

Dia mengangguk singkat sambil memandangi kotak tersebut.

“Semoga saja bisa dimakan.”

Dadaku terasa sesak mendengarnya, tetapi aku tetap memaksakan senyum.

“Semoga Ibu menyukainya.”

Arman meraih tanganku pelan.

“Jangan dipikirkan,” bisiknya.

Aku mengangguk.

Beberapa menit kemudian, seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan yang mengenakan seragam rumah tangga menghampiri Ratih sambil membawa nampan berisi minuman.

Ratih langsung menatap tajam kepadanya.

“Yuni, saya sudah bilang gelas untuk tamu utama jangan dicampur dengan gelas biasa.”

“Maaf, Bu.”

Perempuan bernama Yuni itu segera menunduk.

Aku memperhatikan tangannya yang sedikit gemetar.

Ratih kemudian mengambil satu gelas dari nampan dan meletakkannya tepat di depanku.

“Silakan diminum, Nadira. Anggap saja ini sambutan dari keluarga kami.”

Kalimatnya terdengar ramah.

Namun entah mengapa, untuk pertama kalinya malam itu aku melihat Yuni mengangkat wajahnya dan menatapku.

Tatapannya aneh.

Bukan marah.

Bukan juga takut.

Seperti seseorang yang ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak berani membuka mulut.

Aku hampir bertanya, tetapi Arman sudah ditarik oleh pamannya ke sisi lain ruangan.

Aku akhirnya duduk sendirian di meja makan.

Di depanku ada gelas kristal berisi minuman berwarna merah muda dengan aroma buah yang cukup kuat.

Saat hendak mengambilnya, seseorang menyenggol kursiku dari belakang.

Tanganku refleks bergerak.

Gelas itu terjatuh.

Suara pecahannya menggema cukup keras.

Seluruh ruangan mendadak diam.

Cairan merah muda mengalir di lantai marmer, bercampur serpihan kaca.

Aku langsung berdiri.

“Maaf. Saya benar-benar tidak sengaja.”

Ratih menatap lantai.

Kemudian menatapku.

Wajahnya berubah.

“Itu gelas kristal Bohemia.”

Aku terdiam.

“Saya akan menggantinya, Bu.”

“Mengganti?”

Suaranya mulai meninggi.

Beberapa tamu langsung menoleh.

“Kamu tahu berapa harganya?”

Aku menggeleng.

Ratih tertawa kecil tanpa rasa humor.

“Tentu saja kamu tidak tahu.”

“Bu,” Arman berjalan cepat menghampiri kami.

Namun Ratih mengangkat tangan.

“Jangan membelanya.”

Dia kembali menatapku.

“Orang yang berpendidikan tahu bagaimana bersikap di rumah orang lain.”

Wajahku terasa panas.

“Bu, saya sudah meminta maaf.”

“Meminta maaf tidak membuat barang itu kembali utuh.”

Semakin banyak orang mulai memperhatikan.

Ada yang berbisik.

Ada yang pura-pura sibuk melihat makanan.

Aku merasa seperti sedang berdiri di tengah panggung.

Ratih mengambil kotak kue yang tadi kuberikan, lalu menyerahkannya kembali kepadaku.

“Sebaiknya kamu pulang saja.”

Arman langsung terkejut.

“Bu, cukup.”

“Tidak.”

Tatapan Ratih begitu dingin.

“Saya tidak mau pesta saya rusak karena seseorang yang tidak tahu sopan santun.”

Kalimat berikutnya yang keluar dari mulutnya membuat seluruh tubuhku membeku.

“Pendidikan itu bukan soal ijazah. Kelihatan dari cara seseorang memegang gelas.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, perkataan Ratih atau fakta bahwa Arman tidak langsung menarikku pergi dari sana.

Dia hanya berdiri di antara kami.

“Bu, Nadira tidak sengaja.”

Ratih menoleh kepadanya.

“Kamu mau mempermalukan ibu di depan semua orang demi dia?”

Arman terdiam.

Hanya dua detik.

Tetapi dua detik itu cukup bagiku.

Aku mengambil tas.

“Tidak apa-apa, Man.”

“Nadira…”

“Aku pulang.”

Aku berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi.

Namun saat melewati koridor menuju ruang depan, aku mendengar suara langkah cepat di belakangku.

Yuni.

Perempuan itu memanggilku pelan.

“Mbak Nadira.”

Aku berhenti.

Dia tampak sangat gelisah.

“Jangan pulang lewat pintu depan.”

Aku mengernyit.

“Kenapa?”

Dia melihat ke arah ruang makan.

“Lewat dapur saja.”

“Bu Yuni, ada apa?”

Dia membuka mulut, tetapi sebelum sempat menjawab, terdengar suara Ratih memanggil dari kejauhan.

“Yuni!”

Tubuhnya langsung menegang.

Dia hanya sempat berbisik satu kalimat.

“Jangan pernah minum apa pun kalau Ibu Ratih yang memilihkan gelasnya.”

Lalu dia pergi.

Aku berdiri terpaku.

Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat.

Aku seharusnya langsung pulang.

Tetapi rasa penasaran membuatku melakukan hal yang mungkin menjadi keputusan paling penting dalam hidupku.

Aku menuju dapur.

Di sana ada pintu kecil menuju halaman belakang.

Saat hendak keluar, aku melihat tong sampah besar di dekat wastafel.

Di atasnya terdapat beberapa botol obat.

Salah satunya kosong.

Aku tidak terlalu memikirkannya sampai membaca nama yang tercetak pada labelnya.

Clonazepam.

Aku pernah mendengar nama obat itu karena ayahku dulu mendapatkannya dalam dosis rendah ketika mengalami gangguan tidur setelah operasi.

Aku tidak tahu mengapa sebuah botol kosong berada di dapur saat pesta sedang berlangsung.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki.

Aku bersembunyi di balik pintu gudang kecil.

Dua orang masuk.

Ratih dan seorang pria yang kukenal sebagai Om Bastian, adik kandung almarhum suaminya.

“Apa kamu yakin dia tidak minum?” tanya pria itu.

Ratih terdengar kesal.

“Gelasnya pecah.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Jadi?”

“Tidak jadi.”

“Ratih, jangan ceroboh. Kita tidak punya banyak waktu.”

“Aku tahu.”

“Akhir bulan Arman akan menandatangani dokumen pemindahan saham. Kalau perempuan itu terus memengaruhinya, semuanya bisa berubah.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Mereka sedang membicarakanku.

Ratih menghela napas panjang.

“Makanya saya mau membuatnya terlihat tidak stabil. Satu malam saja. Sedikit obat, biarkan dia kehilangan kontrol di depan Arman, lalu kita bilang dia mabuk atau punya masalah.”

Kakiku hampir kehilangan tenaga.

Bastian tertawa pelan.

“Seperti yang kamu lakukan pada Maya?”

Ratih langsung diam.

Nama itu asing bagiku.

“Maya terlalu banyak tahu.”

“Dan sekarang?”

“Dia sudah tidak bisa bicara.”

Aku menahan napas.

Setelah beberapa saat, mereka keluar.

Aku tetap berada di tempatku sampai suara langkah mereka benar-benar menghilang.

Tanganku gemetar ketika mengambil ponsel.

Aku merekam bagian akhir percakapan mereka.

Tidak semuanya.

Tetapi cukup untuk membuatku takut.

Aku keluar melalui pintu belakang dan berjalan cepat menuju jalan raya.

Belum sampai seratus meter, seseorang menarik lenganku.

Aku hampir berteriak.

Ternyata Arman.

“Nadira!”

Aku langsung melepaskan tangannya.

“Jangan sentuh aku.”

“Apa?”

“Berapa banyak yang kamu tahu?”

Wajahnya berubah.

“Tahu tentang apa?”

“Obat di dapur. Gelas tadi. Dokumen saham. Maya.”

Begitu mendengar nama terakhir, wajah Arman kehilangan seluruh warnanya.

“Kamu dengar dari siapa?”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu tahu Maya.”

Arman menunduk.

Saat itu, untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa takut kepadanya.

“Maya kakakku,” katanya akhirnya.

Aku tercengang.

“Kamu tidak pernah bilang punya kakak.”

“Karena keluarga kami selalu bilang dia meninggal tujuh tahun lalu.”

“Selalu bilang?”

Arman menatap rumah besar di belakang kami.

“Karena aku sendiri tidak pernah melihat jenazahnya.”

Aku merasa tengkukku dingin.

Arman kemudian menceritakan sesuatu yang selama dua tahun tak pernah sedikit pun dia singgung.

Maya adalah anak pertama keluarga mereka. Dia cerdas, keras kepala, dan pernah membantu ayah mereka mengurus perusahaan.

Beberapa bulan sebelum ayah mereka meninggal karena serangan jantung, Maya mulai menuduh Ratih dan Bastian memanipulasi laporan keuangan perusahaan.

Tidak lama kemudian Maya mengalami kecelakaan mobil.

Keluarga mengatakan dia meninggal.

Tetapi proses pemakamannya dilakukan tertutup.

Arman yang saat itu kuliah di luar negeri hanya menerima kabar melalui telepon.

“Aku pernah curiga,” katanya. “Tapi Ibu selalu marah setiap kali aku bertanya.”

“Kenapa kamu tidak mencari tahu?”

“Aku mencari.”

Air mukanya dipenuhi rasa bersalah.

“Tapi setiap orang yang bekerja pada Ayah dulu sudah pergi.”

Aku menunjukkan rekaman di ponselku.

Setelah mendengarnya, tangan Arman gemetar.

“Kita harus ke polisi.”

Aku mengangguk.

Namun sebelum kami sempat pergi, ponselnya berdering.

Ratih.

Arman tidak mengangkatnya.

Lalu pesan masuk.

Arman membaca layar.

Wajahnya langsung berubah.

“Apa?”

Dia menyerahkan ponselnya kepadaku.

Pesannya hanya berisi satu kalimat.

Kalau Nadira ingin tahu tentang Maya, datanglah ke paviliun belakang.

Aku langsung menggeleng.

“Jangan.”

Namun Arman sudah menatap rumah itu.

“Aku harus tahu.”

“Man, itu bisa jadi jebakan.”

“Aku sudah hidup tujuh tahun dengan pertanyaan yang sama.”

Kami akhirnya sepakat tidak masuk sendirian.

Sambil berjalan kembali, aku menghubungi polisi dan mengirim lokasi kepada sahabatku.

Ketika kami sampai di paviliun kecil di belakang rumah utama, pintunya terbuka.

Ratih berdiri di sana.

Anehnya, dia tidak terlihat panik.

“Hanya kalian berdua?”

Arman langsung bertanya.

“Maya di mana?”

Ratih menatap putranya lama.

Kemudian dia berkata sesuatu yang tidak pernah kami duga.

“Masih hidup.”

Arman membeku.

Ratih membawa kami masuk.

Di ujung lorong terdapat sebuah kamar yang pintunya terkunci dari luar.

Dia membukanya.

Di dalam ruangan itu terdapat seorang perempuan kurus berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang duduk di kursi roda.

Rambutnya pendek.

Wajahnya pucat.

Namun ketika melihat Arman, matanya langsung dipenuhi air mata.

“Man…”

Suara itu sangat lemah.

Arman seperti kehilangan kemampuan bernapas.

“Kak Maya?”

Perempuan itu menangis.

Arman berlari memeluknya.

Aku berdiri di ambang pintu sambil merasakan seluruh tubuhku gemetar.

Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa detik.

Ratih menutup pintu di belakang kami.

Klik.

Aku menoleh.

Ratih memegang kunci.

“Kalian tidak seharusnya mencari tahu.”

Arman berdiri.

“Ibu gila?”

Ratih justru terlihat tenang.

“Maya sakit setelah kecelakaan. Saya merawatnya.”

“Dengan mengurungnya?”

“Dia membahayakan keluarga.”

Maya mulai menangis.

“Dia yang membuat mobilku kecelakaan.”

Ratih menatapnya dingin.

“Diam.”

Saat itulah suara sirene terdengar dari kejauhan.

Untuk pertama kalinya wajah Ratih berubah.

Aku mengangkat ponsel.

“Saya sudah menghubungi polisi sebelum masuk.”

Ratih langsung mencoba merampasnya.

Arman menghalangi.

Beberapa menit kemudian polisi tiba bersama petugas keamanan komplek.

Malam pesta ulang tahun Ratih berakhir dengan puluhan tamu berdiri di halaman rumah ketika polisi membawa Ratih dan Bastian pergi untuk diperiksa.

Penyelidikan yang dilakukan setelah itu membuka sesuatu yang jauh lebih besar dari dugaan kami.

Maya memang mengalami kecelakaan tujuh tahun sebelumnya, tetapi selamat dengan cedera saraf yang membuat mobilitasnya terbatas untuk waktu lama.

Ratih dan Bastian kemudian menyembunyikan keberadaannya karena Maya memiliki bukti bahwa keduanya melakukan penggelapan dana perusahaan.

Lebih mengejutkan lagi, ayah Arman ternyata telah mewariskan sebagian besar saham perusahaan kepada kedua anaknya.

Maya dan Arman.

Selama Maya dianggap meninggal, Ratih bertindak sebagai pengelola sementara bagian saham tersebut.

Itulah alasan Maya tidak pernah boleh kembali ke dunia luar.

Yuni akhirnya bersaksi.

Dialah yang selama bertahun-tahun diam-diam merawat Maya.

Dia juga mengakui bahwa malam pesta itu Ratih menyuruhnya mencampurkan obat penenang ke dalam satu gelas khusus untukku.

Yuni mengaku takut menolak.

Namun ketika gelas itu pecah, dia menganggapnya sebagai kesempatan untuk memperingatkanku.

Beberapa bulan kemudian, kasus Ratih dan Bastian masuk pengadilan.

Arman beberapa kali mencoba menemuiku.

Namun hubungan kami tidak pernah benar-benar kembali seperti semula.

Bukan karena aku menyalahkannya atas perbuatan ibunya.

Aku hanya tidak bisa melupakan dua detik ketika ibunya mempermalukanku dan dia memilih diam.

Kadang-kadang, karakter seseorang tidak terlihat saat semuanya berjalan baik.

Karakter terlihat dalam dua detik ketika seseorang harus memilih antara kenyamanan dan keberanian.

Aku akhirnya memutuskan pergi.

Setahun setelah kejadian itu, aku menerima sebuah paket.

Pengirimnya Maya.

Di dalamnya terdapat sebuah kotak kecil.

Saat kubuka, aku melihat sebuah gelas kristal.

Bentuknya hampir sama dengan gelas yang kupecahkan malam itu.

Di bawahnya terdapat secarik kartu.

Aku membacanya sambil tersenyum.

Nadira, keluarga kami pernah membuatmu merasa bahwa harga sebuah gelas lebih tinggi daripada harga dirimu.

Padahal gelas yang pecah itulah yang menyelamatkanmu dan membebaskanku.

Terima kasih karena malam itu tanganmu tidak cukup hati-hati.

Aku tertawa kecil sambil menangis.

Gelas itu sampai sekarang masih kusimpan.

Bukan karena harganya.

Bukan karena mereknya.

Tetapi karena setiap kali melihatnya, aku selalu teringat satu hal.

Kadang-kadang sesuatu yang pecah dalam hidup kita bukanlah sebuah musibah.

Kadang-kadang, justru dari suara pecah itulah sebuah kebenaran akhirnya terdengar.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang