Aku Mengantar Istriku Pulang Setelah Masa Nifas Berakhir, Tetapi Tatapan Terakhir Ibu Mertuaku Membuat Dadaku Mendadak Sesak

Pintu kamar baru saja kubuka ketika suara benda pecah terdengar dari dalam.

Aku berlari masuk dan melihat mangkuk sup ayam yang masih mengepul sudah tergeletak di lantai. Kuah beningnya mengalir sampai ke kaki ranjang, membawa serpihan daun salam dan potongan jahe yang tadi pagi direbus Ibu selama berjam-jam.

Nabila duduk di tepi ranjang sambil memeluk bayi kami. Wajahnya pucat. Matanya membesar, tetapi bibirnya tertutup rapat.

Di depannya, Ibu berdiri dengan dada naik turun. Tangan kanannya masih terangkat.

“Masakan tiga jam kubuat, kamu malah menolaknya?” suara Ibu bergetar.

Nabila menelan ludah.

“Bu, saya bukan menolak. Bidan bilang saya jangan terlalu banyak makan berminyak dulu. Tadi malam dada saya juga sakit.”

“Itu cuma teori orang zaman sekarang. Dulu Ibu melahirkan Raka, tidak ada bidan datang tiap minggu, tidak ada internet, tidak ada macam-macam pantangan. Raka tetap sehat.”

Aku berdiri di ambang pintu, tidak tahu harus memandang siapa.

Namaku Raka. Aku bekerja sebagai supervisor penjualan di sebuah dealer kendaraan di Bandung. Nabila, istriku, adalah guru taman kanak-kanak yang lembut dan sabar. Kami menikah hampir tiga tahun sebelum akhirnya dikaruniai seorang putri yang kami beri nama Alya.

Bagi kami, Alya bukan sekadar anak.

Ia adalah jawaban dari doa panjang, dua kali keguguran, puluhan pemeriksaan, dan malam-malam ketika Nabila menangis diam-diam karena merasa tubuhnya telah mengecewakanku.

Aku selalu meyakinkannya bahwa aku tidak menikahinya hanya untuk memiliki anak.

Ironisnya, setelah anak itu benar-benar hadir, justru aku yang perlahan mengecewakannya.

Ayahku meninggal ketika aku masih SMA. Sejak saat itu, Ibu membesarkanku seorang diri. Ia berjualan nasi kuning pada pagi hari, lalu menerima jahitan sampai larut malam.

Aku tumbuh dengan melihat jari-jarinya penuh luka jarum, punggungnya sering sakit, dan rambutnya memutih lebih cepat dari perempuan seusianya.

Karena itu, aku hampir tidak pernah membantah Ibu.

Dalam pikiranku, membantah Ibu berarti melupakan seluruh pengorbanannya.

Ketika kandungan Nabila memasuki bulan ketujuh, Ibu menawarkan diri tinggal bersama kami.

“Biar nanti setelah Nabila melahirkan ada yang bantu,” katanya.

Aku langsung setuju.

Nabila sempat terdiam, tetapi kemudian tersenyum.

“Kalau Ibu mau, aku tidak keberatan.”

Aku mengira semuanya akan menjadi lebih mudah.

Aku salah.

Pada hari kesembilan setelah Alya lahir, pertengkaran soal sup itu terjadi.

Nabila menolak dengan halus, tetapi Ibu menganggapnya sebagai bentuk tidak hormat.

Lalu tangan Ibu mendarat di pipinya.

Suara tamparan itu membuat Alya langsung menangis.

Aku refleks memegang lengan Ibu.

“Bu, jangan begitu.”

Ibu menepis tanganku.

“Saya mendidik menantu saya. Jangan ikut campur.”

Aku memandang Nabila.

Pipinya memerah. Air matanya jatuh perlahan, tetapi ia tidak mengatakan apa pun.

Aku seharusnya berdiri di sampingnya.

Aku seharusnya berkata bahwa tidak seorang pun boleh menyentuh istriku seperti itu, bahkan ibuku sendiri.

Namun yang keluar dari mulutku justru kalimat paling pengecut yang pernah kuucapkan.

“Nabila, mengalah saja dulu. Ibu tidak bermaksud buruk.”

Nabila mengangkat wajah.

Tatapannya tidak marah.

Justru itu yang membuatku kelak sulit tidur setiap kali mengingatnya.

Ada sesuatu di dalam matanya yang padam.

Ia mengambil mangkuk sup lain, lalu meminumnya sedikit demi sedikit.

Ibu pergi dengan wajah puas.

Aku tetap berdiri tanpa meminta maaf.

Malam itu, Nabila demam. Dadanya membengkak dan terasa sangat nyeri. Ia meringis setiap kali Alya menyusu.

Aku mengajaknya ke klinik.

Ibu langsung berkata, “Perempuan habis melahirkan memang begitu. Jangan sedikit-sedikit ke dokter. Nanti tubuhnya malah manja.”

Dan lagi-lagi aku diam.

Keesokan harinya kondisi Nabila sedikit membaik, tetapi sejak saat itu ia berubah.

Tidak ada lagi cerita tentang murid-muridnya.

Tidak ada lagi candaan saat mengganti popok Alya.

Ia hanya menjalani hari seperti mesin.

Kalau Ibu menyuruh makan, ia makan.

Kalau Ibu menyuruh tidur, ia masuk kamar.

Kalau Ibu mengkritik cara menggendong Alya, ia menyerahkan bayi kami tanpa membantah.

Ibu justru terlihat puas.

“Nah, sekarang dia tahu bagaimana menghormati orang tua.”

Aku bahkan sempat mengangguk.

Aku benar-benar tidak paham bahwa yang sedang kulihat bukanlah kedamaian.

Itu adalah seseorang yang telah berhenti melawan karena merasa tidak ada yang akan membelanya.

Hari keempat puluh setelah melahirkan, ibu mertua datang.

Namanya Bu Ratih.

Ia membawa tas kecil, beberapa pakaian bayi, dan wajah yang berusaha terlihat tenang.

Begitu melihat Nabila, matanya langsung merah.

“Kamu sudah siap?” tanyanya.

Nabila mengangguk.

Aku baru sadar satu koper besar sudah berada di dekat pintu.

“Mau berapa hari di rumah Ibu?”

Nabila tersenyum tipis.

“Aku cuma ingin istirahat sebentar.”

Ibu dari ruang tamu berseru, “Jangan lama-lama. Anak kecil itu lebih baik dekat neneknya.”

Nabila tidak menjawab.

Sebelum masuk mobil, ia menoleh kepadaku.

“Aku cuma ingin bisa bernapas lagi.”

Aku tidak memahami maksudnya.

“Kalau sudah enakan, pulang ya.”

Itulah kalimat terakhir yang kuucapkan sebelum mobil mereka pergi.

Satu minggu berlalu.

Lalu satu bulan.

Kemudian tiga bulan.

Setiap kali aku menelepon, Nabila menjawab singkat.

“Aku masih ingin bersama Ibu dulu.”

Awalnya aku sabar.

Kemudian mulai kesal.

Suatu malam aku berkata kepada Ibu, “Kok lama sekali, ya?”

Ibu mendengus.

“Biarkan saja. Paling dia ingin kamu datang merayu. Jangan dibiasakan. Nanti sedikit-sedikit pulang ke rumah orang tuanya.”

Aku mengikuti saran itu.

Aku tidak datang.

Aku menunggu.

Sampai suatu siang, sebuah amplop cokelat tiba di dealer tempatku bekerja.

Aku membukanya sambil berdiri.

Tanganku langsung dingin.

Surat gugatan cerai.

Aku membaca nama kami berkali-kali seolah berharap huruf-huruf itu berubah.

Malamnya, aku datang ke rumah Bu Ratih tanpa memberi tahu siapa pun.

Bu Ratih membuka pintu.

Tatapannya berbeda.

Tidak ada keramahan seperti biasanya.

“Nabila ada?”

“Ada.”

“Saya mau bicara.”

Bu Ratih tidak langsung mempersilahkanku masuk.

“Raka, sebelum kamu bertemu Nabila, saya ingin bertanya satu hal.”

Aku menunggu.

“Kalau hari itu yang ditampar adalah ibumu, apa kamu juga akan bilang kepada ibumu supaya mengalah?”

Pertanyaan itu menghantam tepat di dadaku.

Aku tidak bisa menjawab.

Bu Ratih mengangguk pelan.

“Sudah saya duga.”

Nabila akhirnya keluar dari kamar.

Tubuhnya lebih kurus. Rambutnya dipotong sebahu. Wajahnya terlihat lebih segar daripada tiga bulan lalu, tetapi tatapannya tetap asing.

“Aku tidak mau cerai,” kataku.

Nabila duduk di sofa seberangku.

“Aku juga dulu tidak mau.”

“Kalau masalahnya Ibu, aku bisa bicara dengannya.”

Nabila tersenyum hambar.

“Bukan Ibumu masalah terbesarnya, Raka.”

Aku terdiam.

“Kamu.”

Satu kata itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada seluruh kalimat sebelumnya.

“Aku tidak pernah menyakitimu.”

Nabila menatapku lama.

“Benarkah?”

Ia mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah folder, lalu meletakkannya di meja.

Ada puluhan rekaman suara.

Aku menatapnya bingung.

“Apa ini?”

“Selama tinggal di rumah kita, Ibu sering masuk kamar saat kamu bekerja.”

Jantungku mulai berdebar.

Nabila memutar salah satu rekaman.

Suara Ibu terdengar jelas.

“Jangan terlalu manja sama Raka. Dia itu anak saya dulu sebelum jadi suamimu.”

Rekaman berikutnya.

“Kalau kamu tidak bisa mengurus anak, nanti Alya biar saya yang besarkan.”

Rekaman lain.

“Jangan sok pintar karena kamu guru. Perempuan tetap harus tahu tempatnya.”

Aku mematikan suara itu.

“Cukup.”

Nabila menatapku tanpa berkedip.

“Belum.”

Ia mengambil sebuah amplop putih.

Di dalamnya ada salinan rekam medis.

Hari kesepuluh setelah melahirkan, ternyata Bu Ratih diam-diam membawa Nabila ke klinik ketika aku bekerja.

Dokter mendiagnosis mastitis dan mengatakan keterlambatan penanganan bisa menyebabkan infeksi serius.

Aku membaca lembar itu dengan tangan gemetar.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Nabila tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia.

“Aku sudah bilang malam sebelumnya bahwa aku sakit. Kamu mendengar sendiri.”

Aku merasa tenggorokanku tercekat.

“Tapi…”

“Tapi Ibumu bilang aku tidak perlu ke klinik. Dan kamu memilih percaya kepadanya.”

Tidak ada yang bisa kubantah.

Aku menunduk.

“Aku bisa berubah.”

“Aku percaya.”

Aku mendongak penuh harap.

Namun Nabila melanjutkan.

“Tapi aku tidak bisa kembali menjadi perempuan yang dulu hanya karena kamu baru sadar sekarang.”

Aku memohon kesempatan kedua.

Aku bahkan mengatakan aku bersedia pindah rumah, membatasi kunjungan Ibu, mengikuti konseling, melakukan apa pun.

Nabila tetap tenang.

“Aku tidak membencimu, Raka.”

Kalimat itu justru membuat dadaku semakin sesak.

“Aku hanya sudah tidak merasa aman bersamamu.”

Sidang mediasi pertama tidak menghasilkan apa pun.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku melawan Ibu.

Aku menunjukkan surat gugatan itu.

“Ibu puas?”

Wajah Ibu berubah merah.

“Kenapa malah menyalahkan Ibu? Perempuan itu yang tidak tahu diri.”

“Jangan panggil dia seperti itu.”

Ibu menatapku seolah aku baru saja menjadi orang lain.

“Kamu membela dia?”

“Seharusnya sejak dulu.”

Ibu menangis.

Ia mengungkit bagaimana dirinya membesarkanku seorang diri, bagaimana ia tidak menikah lagi demi aku, bagaimana seluruh hidupnya diberikan kepadaku.

Biasanya semua itu cukup untuk membuatku diam.

Namun kali ini aku berkata sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani kuucapkan.

“Bu, pengorbanan Ibu membuat saya berutang kasih sayang. Bukan berarti Ibu boleh mengatur hidup saya dan menyakiti istri saya.”

Ibu membeku.

Hubungan kami menjadi dingin berbulan-bulan.

Tapi semuanya sudah terlambat.

Perceraianku dengan Nabila akhirnya resmi.

Hari putusan keluar, aku berdiri di lorong pengadilan dan melihat Nabila menggendong Alya.

Putriku sudah mulai tertawa dan memainkan ujung jilbab neneknya.

Aku mendekat.

“Boleh aku gendong?”

Nabila menyerahkan Alya kepadaku.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku memeluk putriku cukup lama.

Ia menyentuh daguku dengan tangan kecilnya.

Aku hampir menangis.

“Aku gagal mempertahankan keluarga kita,” kataku pelan.

Nabila menatap Alya.

“Kita gagal sebagai suami istri. Tapi jangan gagal sebagai orang tua.”

Kalimat itu menjadi satu-satunya hal yang bisa kupegang.

Aku mulai menemui Alya secara rutin.

Aku mengikuti konseling.

Aku belajar bahwa mencintai orang tua tidak berarti membiarkan mereka melewati batas.

Aku belajar bahwa diam ketika seseorang disakiti bukanlah sikap netral.

Diam sering kali berarti berdiri di pihak orang yang menyakiti.

Hampir setahun setelah perceraian, suatu sore aku datang menjemput Alya di rumah Bu Ratih.

Nabila belum pulang dari sekolah.

Bu Ratih duduk di teras sambil melipat pakaian bayi.

Kami tidak banyak bicara.

Saat aku hendak pulang, beliau memanggilku.

“Raka.”

Aku menoleh.

“Ada sesuatu yang dulu tidak pernah saya ceritakan.”

Aku kembali duduk.

Bu Ratih mengambil napas panjang.

“Hari kamu mengantar Nabila pulang setelah masa nifas, sebenarnya saya sudah tahu dia ingin berpisah.”

Aku terpaku.

“Dia sudah bilang?”

“Tiga hari sebelum saya menjemputnya, dia menelepon saya sambil menangis.”

Dadaku terasa berat.

“Lalu kenapa Ibu tidak bilang kepada saya?”

Bu Ratih menatapku lama.

“Karena saya masih berharap kamu akan menghentikan mobil hari itu.”

Aku mengerutkan kening.

“Maksud Ibu?”

“Saat saya membawa Nabila pergi, saya sengaja duduk di kursi belakang. Saya melihatmu dari kaca. Nabila terus menoleh sampai mobil melewati ujung jalan.”

Aku tidak bergerak.

“Dia berharap kamu mengejar. Bukan untuk memaksanya pulang. Dia cuma ingin mendengar kamu berkata bahwa kamu mengerti kenapa dia pergi.”

Suara Bu Ratih mulai bergetar.

“Tapi kamu tetap berdiri di depan rumah.”

Tiba-tiba aku teringat tatapan terakhir Bu Ratih dari dalam mobil hari itu.

Tatapan yang dulu kuanggap biasa.

Ternyata beliau sedang menunggu.

Menunggu apakah aku akan menjadi suami yang akhirnya berani memilih keselamatan istrinya.

Aku tidak melakukannya.

“Apa kalau saat itu saya mengejar, semuanya akan berbeda?”

Bu Ratih menggeleng pelan.

“Saya tidak tahu.”

Kemudian ia menatapku lurus.

“Tapi setidaknya Nabila tidak akan pergi dengan keyakinan bahwa tidak ada satu pun orang di rumah itu yang melihat rasa sakitnya.”

Aku pulang sore itu dengan Alya tertidur di kursi belakang.

Di lampu merah, aku memandang wajahnya melalui kaca spion.

Untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu yang seharusnya kupahami jauh lebih awal.

Menjadi anak yang berbakti dan menjadi suami yang bertanggung jawab bukanlah dua pilihan yang harus saling mengalahkan.

Aku kehilangan pernikahanku bukan karena terlalu mencintai ibuku.

Aku kehilangannya karena terlalu takut membuat batas.

Beberapa tahun kemudian, Nabila menikah lagi dengan seorang pria yang kukenal hanya sebagai Arman. Seorang duda tanpa anak yang bekerja sebagai arsitek.

Ketika Nabila memberitahuku, aku hanya berkata, “Semoga kamu bahagia.”

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar bersungguh-sungguh.

Aku sendiri belum menikah lagi.

Bukan karena masih menunggu Nabila.

Aku hanya ingin memastikan bahwa jika suatu hari aku mencintai seseorang lagi, aku tidak akan meminta perempuan itu mengalah demi menjaga kedamaian palsu.

Hubunganku dengan Ibu perlahan membaik.

Kami tidak pernah kembali seperti dulu.

Anehnya, justru itu yang membuat hubungan kami menjadi lebih sehat.

Sekarang Ibu mengetuk sebelum masuk ke rumahku.

Ia tidak lagi mengatur bagaimana Alya harus makan ketika cucunya menginap.

Sesekali ia bahkan mengakui kesalahannya.

Suatu malam, ketika Alya sudah berusia empat tahun, Ibu memandang foto lama keluarga kami.

Foto yang diambil beberapa hari setelah Alya lahir.

Nabila tersenyum lemah di sana.

Aku berdiri di sampingnya.

Ibu berada di belakang kami.

Tiga orang dewasa tersenyum ke arah kamera, padahal masing-masing sedang menyimpan sesuatu.

Ibu menyentuh foto itu perlahan.

“Kalau waktu bisa diulang, Ibu ingin meminta maaf kepadanya.”

Aku menatap foto yang sama.

“Saya juga.”

Namun waktu tidak pernah berbalik.

Ia hanya meninggalkan pelajaran kepada orang-orang yang cukup berani mengakui kesalahan.

Dan setiap kali aku mengingat hari ketika mengantar Nabila pulang setelah masa nifas, yang paling kuingat bukan koper, bukan mobil, bahkan bukan kalimat terakhir istriku.

Yang selalu kembali adalah tatapan Bu Ratih dari balik kaca.

Tatapan seorang ibu yang membawa pulang anak perempuannya dalam keadaan hancur, sambil memberiku satu kesempatan terakhir untuk menyadari apa yang sedang terjadi.

Kesempatan itu ada tepat di depan mataku.

Dan aku membiarkannya pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang