Foto itu hanya membutuhkan waktu tiga jam untuk menghancurkan nama baik yang kubangun selama sebelas tahun.
Pukul sembilan pagi, aku masih berada di kamar hotel dengan kaki digips ketika pesan pertama masuk dari seorang kolega.
Ratih, kamu sudah lihat grup dosen?
Lalu pesan kedua.

Bu Ratih, maaf bertanya. Foto yang beredar itu benar Ibu?
Kemudian ponselku bergetar tanpa henti.
Aku membuka grup fakultas.
Di sana ada foto yang tadi diperlihatkan Nayla.
Aku sedang dipapah seorang pria memasuki lobi hotel. Karena sudut pengambilannya, tangan pria itu tampak melingkari pinggangku. Wajahku terlihat tersenyum kepadanya.
Di bawahnya terdapat tulisan panjang.
Istri seorang dosen menuduh suaminya dekat dengan mahasiswi, padahal dirinya sendiri tertangkap masuk hotel bersama pria lain. Jangan menghancurkan masa depan mahasiswa hanya karena masalah rumah tangga.
Unggahan itu sudah menyebar ke akun anonim kampus.
Komentarnya ratusan.
Aku membaca beberapa sebelum akhirnya berhenti.
Pantas suaminya cari yang lain.
Dosen seperti ini masih pantas mengajar?
Kasihan mahasiswinya difitnah.
Ternyata yang selingkuh siapa.
Tanganku dingin.
Bukan karena komentar itu.
Melainkan karena hanya tiga orang yang tahu aku menginap di hotel tersebut.
Aku.
Pria dalam foto.
Dan petugas hotel.
Kecuali seseorang memang mengikutiku.
Ponselku berdering.
Arga.
Aku mengangkatnya.
“Kamu puas?” tanyaku.
Suara Arga terdengar berat.
“Ratih, pulang. Kita selesaikan ini.”
“Siapa yang menyebarkan foto?”
“Aku tidak tahu.”
“Tapi Nayla punya fotonya sebelum foto itu tersebar.”
Dia diam.
Hanya dua detik, tetapi cukup.
“Dia bilang mendapatkannya dari temannya.”
“Teman yang kebetulan memotret istriku saat aku meninggalkannya dengan kaki digips di tengah hujan?”
“Jangan putar balik masalah.”
Aku tertawa pendek.
“Justru untuk pertama kalinya aku melihat masalahnya dengan sangat jelas.”
“Foto itu nyata, Ratih.”
“Benar.”
“Jadi siapa laki-laki itu?”
Aku memandang jendela hotel.
“Kenapa? Sekarang kamu peduli?”
Arga meninggikan suara.
“Aku suamimu!”
“Suamiku meninggalkanku di trotoar supaya mahasiswinya mendapat tempat di mobil.”
Dia terdiam lagi.
“Aku akan datang ke kampus,” kataku.
“Jangan.”
Jawabannya terlalu cepat.
Saat itulah aku tahu ada sesuatu yang lebih besar daripada gosip.
Aku tetap datang.
Pria dalam foto itu bernama Dimas Prakoso.
Dia sepupuku.
Dimas kebetulan berada di Bandung untuk urusan pekerjaan. Ketika aku tiba di hotel dalam keadaan basah kuyup dan kesulitan berjalan, aku meneleponnya. Dia datang membawakan pakaian kering, lalu membantuku dari mobil menuju lobi.
Senyum dalam foto itu muncul karena Dimas berkata, “Kalau Tante tahu suamimu meninggalkanmu begini, besok dia datang bawa sapu lidi.”
Aku bahkan masih memiliki rekaman panggilan dan pesan kami.
Tetapi aku tidak langsung mengunggah bukti.
Karena seseorang yang cukup berani memelintir foto sederhana pasti memiliki alasan lebih besar.
Aku ingin tahu alasannya.
Begitu tiba di fakultas, suasananya berbeda.
Beberapa mahasiswa menatapku.
Ada yang berbisik.
Ada yang pura-pura sibuk.
Seorang mahasiswi bernama Siska menghampiriku.
“Bu Ratih.”
Wajahnya pucat.
“Saya boleh bicara?”
Kami masuk ke ruang kosong.
Siska menutup pintu.
“Bu, saya takut sebenarnya.”
“Takut apa?”
Dia menyerahkan ponselnya.
Di layar terdapat tangkapan percakapan grup mahasiswa.
Salah satu nomor milik Nayla.
Pesannya dikirim dua hari sebelum kecelakaanku.
Kalau Bu Ratih sampai tahu soal dana penelitian, Pak Arga bisa habis.
Aku membaca ulang.
“Dana penelitian apa?”
Siska menggigit bibir.
“Penelitian Pak Arga dan Nayla. Beberapa mahasiswa diminta mengumpulkan data, tapi nama kami tidak dicantumkan. Terus ada kuitansi yang jumlahnya aneh.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Kenapa kamu menunjukkan ini kepadaku?”
Siska menunduk.
“Karena minggu lalu Nayla bilang Ibu terlalu ikut campur urusan Pak Arga. Dia bilang kalau Ibu terus mencari tahu, dia akan memastikan orang kampus tidak percaya lagi pada Ibu.”
Semua potongan tiba-tiba tersusun.
Dua minggu sebelumnya aku memang menemukan transaksi mencurigakan saat membantu Arga mencetak laporan.
Dana penelitian sebesar Rp86 juta tercatat digunakan untuk pengumpulan data lapangan.
Padahal aku tahu Arga hampir tidak pernah keluar Bandung selama tiga bulan terakhir.
Aku sempat bertanya.
Dia marah dan mengatakan itu bukan urusanku.
Kupikir hanya masalah administrasi.
Ternyata bukan.
“Siska, kirim semua yang kamu punya ke email pribadiku.”
Dia ragu.
“Saya bisa kena masalah.”
“Aku tidak akan menggunakan namamu tanpa izin.”
Sebelum keluar, Siska berkata pelan, “Bu, ada satu lagi.”
“Apa?”
“Nayla sering bilang sebentar lagi dia tidak perlu memanggil Pak Arga dengan sebutan Pak lagi.”
Aku tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, rasa sakit karena perselingkuhan emosional terasa kecil dibanding apa yang mungkin sedang mereka sembunyikan.
Siang itu aku dipanggil dekan.
Arga sudah berada di sana.
Nayla juga.
Begitu melihatku, Nayla langsung menangis.
“Saya tidak pernah bermaksud menghancurkan rumah tangga siapa pun.”
Aku duduk tanpa menatapnya.
Dekan, Profesor Hendra, menghela napas.
“Bu Ratih, unggahan ini sudah menjadi masalah institusi.”
“Saya mengerti.”
Arga menyela.
“Pak, sebenarnya ini masalah pribadi. Ratih sedang emosional karena kami ada konflik rumah tangga.”
Aku menatapnya.
Delapan tahun menikah membuatku hafal ekspresi Arga.
Ketika berbohong, dia selalu menggosok ibu jari dengan telunjuk.
Sekarang dia melakukannya.
Nayla terisak.
“Saya cuma mahasiswa, Pak. Saya tidak tahu kenapa Bu Ratih membenci saya.”
Aku akhirnya menatapnya.
“Kamu benar-benar ingin membicarakan foto?”
Dia mengangguk.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Baik.”
Aku membuka percakapan dengan Dimas.
Pesan pukul 19.47.
Mas, bisa datang ke Hotel Arunika? Kakiku digips dan aku kehujanan.
Balasannya pukul 19.48.
Aku dekat situ. Sepuluh menit.
Lalu kutampilkan kartu keluarga lama yang mencantumkan nama ibu Dimas dan ibuku sebagai saudara kandung.
“Laki-laki dalam foto itu sepupu saya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Wajah Nayla kehilangan warna.
Arga berhenti menggosok jarinya.
Aku belum selesai.
“Sekarang pertanyaan saya, siapa yang memotret?”
Nayla membuka mulut.
Tidak ada suara.
“Dan kenapa foto itu sudah berada di ponselmu pagi tadi sebelum tersebar?”
Profesor Hendra menatap Nayla.
“Nayla?”
“Teman saya mengirim.”
“Siapa?”
Nayla mulai menangis lagi.
Kali ini tidak ada yang menenangkannya.
Arga tiba-tiba berdiri.
“Sudahlah. Kita jangan menginterogasi mahasiswa seperti kriminal.”
Aku menatapnya.
“Duduk, Arga.”
Dia membeku.
Mungkin karena selama delapan tahun aku hampir tidak pernah berbicara kepadanya dengan nada seperti itu.
Aku mengeluarkan satu lembar cetakan.
“Kalau kita sudah membicarakan integritas, saya ingin menanyakan ini.”
Aku meletakkan laporan dana penelitian di meja.
Arga pucat.
“Dari mana kamu dapat itu?”
“Komputer rumah kita.”
Profesor Hendra mengambil dokumen tersebut.
Aku menunjuk salah satu bagian.
“Biaya pengumpulan data Rp86 juta. Bisa dijelaskan kegiatan lapangannya dilakukan kapan?”
Arga langsung berkata, “Itu sedang direvisi.”
“Lalu kenapa ada tanda tangan mahasiswa yang mengaku menerima honor?”
Nayla menatap Arga.
Untuk pertama kalinya, mereka terlihat tidak kompak.
Profesor Hendra mengangkat kepala.
“Pak Arga?”
“Kesalahan administrasi.”
Aku mengeluarkan dokumen kedua.
“Kalau begitu mungkin ini juga kesalahan administrasi.”
Itu bukti transfer.
Sebagian dana masuk ke rekening Nayla.
Sebagian lagi menuju rekening bernama Rendra Putri.
Aku tidak tahu siapa Rendra sampai Siska mengirimkan foto kartu mahasiswa lama.
Rendra adalah kakak Nayla.
Bukan adik laki-laki yang katanya kosnya sedang direnovasi.
Laki-laki yang menginap di rumahku malam sebelumnya ternyata bukan adiknya.
Dia pengelola sebuah perusahaan jasa survei.
Perusahaan yang menerima pembayaran dari proyek penelitian Arga.
Profesor Hendra berdiri.
“Kita hentikan pertemuan ini. Saya akan panggil bagian audit internal.”
Nayla panik.
“Pak, saya bisa jelaskan.”
Arga menatapku dengan kemarahan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Kamu sengaja menghancurkan karierku.”
Kalimat itu hampir membuatku tertawa.
“Tidak, Arga.”
Aku berdiri dengan bantuan tongkat.
“Aku hanya berhenti menyelamatkanmu dari akibat pilihanmu sendiri.”
Investigasi berjalan jauh lebih cepat daripada yang kuduga.
Tiga hari kemudian, Arga dinonaktifkan sementara dari kegiatan akademik.
Nayla diperiksa terkait penggunaan dana dan manipulasi dokumen.
Namun kejutan terbesar datang dari Rendra.
Begitu tahu audit dimulai, dia menyerahkan semua percakapan dengan Arga.
Termasuk percakapan tentang aku.
Salah satunya membuat tanganku gemetar.
Nayla menulis:
Bu Ratih mulai curiga laporan anggaran.
Arga menjawab:
Biar aku urus. Yang penting dia jangan sampai bicara ke fakultas.
Lalu, setelah kecelakaanku:
Dia lagi lemah sekarang. Kita punya waktu.
Dan malam ketika aku ditinggalkan di pinggir jalan, Nayla mengirim:
Temanku lihat dia masuk hotel sama cowok. Aku sudah minta foto. Bisa dipakai kalau dia macam-macam.
Arga membalas:
Simpan dulu.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Simpan dulu.
Jadi Arga tahu.
Dia tahu foto itu.
Dia tahu foto tersebut akan digunakan untuk menghancurkan reputasiku.
Mungkin dia tidak menyebarkannya sendiri.
Tetapi dia membiarkannya.
Pada hari sidang etik, lorong fakultas dipenuhi mahasiswa.
Beberapa orang yang seminggu sebelumnya berbisik ketika melihatku kini menundukkan kepala.
Akun anonim yang pertama menyebarkan foto telah menghapus unggahan dan mengeluarkan permintaan maaf setelah Dimas membuat klarifikasi.
Namun aku tidak merasa menang.
Aku hanya lelah.
Arga menungguku di parkiran.
Wajahnya kusut.
“Ratih.”
Aku berhenti.
“Nayla memanfaatkan aku.”
Aku menatapnya lama.
“Aku tahu aku salah,” lanjutnya. “Tapi aku tidak pernah tidur dengannya.”
Aku hampir kasihan mendengar standar moral yang dipilihnya untuk membela diri.
“Kamu memberikan cincin pernikahan kita kepadanya.”
“Aku bodoh.”
“Kamu memberikan kode rumah kita.”
“Aku salah.”
“Kamu meninggalkan istrimu yang baru keluar rumah sakit di pinggir jalan.”
Matanya mulai merah.
“Aku bisa berubah.”
Aku menggeleng.
“Masalahnya bukan apakah kamu tidur dengannya atau tidak, Ga.”
“Lalu apa?”
“Kamu membuatku merasa harus bersaing untuk mendapatkan perhatian dari suamiku sendiri.”
Dia terdiam.
“Aku bisa memaafkan kebodohan,” lanjutku. “Aku mungkin bahkan bisa memaafkan ketertarikanmu pada perempuan lain. Tapi kamu melihat seseorang menyiapkan senjata untuk menghancurkan namaku, lalu kamu bilang, simpan dulu.”
Arga menunduk.
“Aku takut karierku hancur.”
“Dan untuk menyelamatkannya, kamu siap menghancurkan karierku.”
Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Dua bulan kemudian perceraian kami selesai.
Arga kehilangan posisi strukturalnya dan masih menjalani proses disipliner terkait dana penelitian. Nayla mendapat sanksi akademik setelah terbukti terlibat manipulasi dokumen, meski beberapa tuduhan terhadapnya tidak terbukti.
Aku kembali mengajar setelah kakiku pulih.
Pada kuliah pertamaku, ruangan penuh.
Aku sempat mengira mahasiswa datang karena rasa ingin tahu.
Sampai seorang mahasiswa di barisan depan mengangkat tangan.
“Bu, sebelum mulai, kami mau minta maaf.”
Aku terdiam.
“Karena banyak dari kami langsung percaya satu foto tanpa bertanya apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya.”
Ruangan hening.
Aku tersenyum kecil.
“Kalau kalian benar-benar merasa bersalah, jangan minta maaf kepada saya.”
Mereka terlihat bingung.
“Belajarlah dari kejadian itu. Foto menunjukkan satu detik. Manusia hidup bertahun-tahun. Jangan menilai seluruh hidup seseorang dari satu detik.”
Hari itu aku mengajar seperti biasa.
Tentang etika penelitian.
Tentang integritas.
Tentang bagaimana data bisa terlihat benar tetapi menghasilkan kesimpulan salah ketika konteksnya sengaja dihilangkan.
Tiga bulan kemudian, sebuah paket tiba di apartemen baruku.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat kotak kecil.
Cincin pernikahanku.
Aku terdiam.
Cincin itu seharusnya masih bersamaku.
Aku membuka laci meja.
Kotak perhiasanku ada di sana.
Kubuka.
Kosong.
Di bawah cincin dalam paket terdapat secarik kertas.
Aku tahu Ibu mengira sudah mengambil cincin yang asli hari itu.
Napas tertahan di tenggorokanku.
Ada satu kalimat lagi.
Yang Ibu rebut dari tangan saya hanyalah replika. Pak Arga memberikan cincin asli kepada saya tiga bulan sebelum kecelakaan Ibu.
Tidak ada tanda tangan.
Tidak diperlukan.
Aku tahu siapa pengirimnya.
Aku memegang cincin itu di bawah cahaya.
Di bagian dalam lingkarannya masih terdapat ukiran kecil yang kubuat delapan tahun lalu.
R dan A.
Selamanya pulang.
Aku tertawa pelan.
Aneh sekali.
Dulu aku mengira rumah adalah tempat aku harus mempertahankan seseorang agar tetap tinggal.
Sekarang aku mengerti sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Rumah bukan orang yang membuatmu berdiri di tengah hujan lalu bertanya kenapa kamu tidak cukup memahami orang lain.
Rumah adalah tempat di mana kamu tidak perlu kehilangan harga diri hanya untuk mendapatkan tempat duduk.
Aku membawa cincin itu ke toko perhiasan seminggu kemudian.
Bukan untuk menjualnya.
Aku meminta pengrajin melebur emasnya dan membuat sebuah liontin kecil.
Ukiran lama dihapus.
Sebagai gantinya, aku meminta satu kata.
Pulang.
Bukan karena aku masih menunggu Arga kembali.
Melainkan karena setelah delapan tahun tersesat dalam pernikahan yang membuatku terus mempertanyakan nilai diriku sendiri, akhirnya aku tahu ke mana aku harus pulang.
Kepada diriku sendiri.
