LIMA HARI SETELAH OPERASI CAESAR, SUAMIKU MENGHABISKAN CUTI AYAH UNTUK MENGAJAK ORANG TUANYA BERLAYAR; SAAT MENEMUKAN PERINGATAN KESELAMATAN KAPAL YANG MEREKA ABAIKAN, AKU MALAH TERSENYUM, MENGIRIM UANG BELANJA, LALU DIAM-DIAM MENYIAPKAN SATU BERKAS YANG AKAN MENGUBAH HIDUP PUTRIKU

Aku tidak pernah menandatangani dokumen apa pun.

Kalimat Maya membuat darahku seperti berhenti mengalir.

Aku menatap Kirana yang tertidur di lenganku. Napasnya kecil dan teratur, sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya baru saja membuka sebuah pintu yang mungkin tidak akan pernah bisa ditutup lagi.

“Maya, kamu yakin itu tanda tanganku?”

“Secara nama, iya. Secara bentuk, aku belum bisa memastikan. Tapi dokumennya menyatakan kamu memberi persetujuan karena kondisi kesehatanmu membuat Dimas harus menjadi pendamping utama selama masa pemulihan.”

Aku menelan ludah.

“Padahal dia besok pergi naik kapal pesiar.”

“Makanya jangan lakukan apa pun malam ini,” kata Maya. “Jangan konfrontasi dia. Simpan semua bukti yang kamu punya.”

Setelah telepon ditutup, aku membuka laptop.

Tanganku gemetar ketika mencari email kantor Dimas yang pernah diteruskan kepadaku. Dari sana aku menemukan nama perusahaan, nomor pegawai, sampai salinan surat persetujuan cuti yang pernah tanpa sengaja tersimpan di folder unduhan komputer rumah.

Di bagian bawah dokumen itu ada namaku.

Rani Prameswari.

Dan tanda tangan yang dibuat menyerupai tanda tanganku.

Aku mengenal bentuk itu.

Dimas pernah melihatku menandatangani puluhan dokumen ketika kami mengurus KPR rumah dua tahun lalu.

Malam itu aku tidak menangis.

Aneh sekali.

Setelah berbulan-bulan menangisi hal-hal kecil dalam pernikahanku, justru ketika menemukan pengkhianatan sebesar ini, mataku terasa kering.

Mungkin ada titik ketika hati tidak lagi pecah.

Ia hanya selesai.

Pukul enam pagi berikutnya, rumah sudah ramai.

Bu Ratna mengenakan kacamata hitam besar meski matahari bahkan belum benar-benar terbit. Pak Hendra sibuk memastikan paspor dan dompetnya masuk tas pinggang. Dimas mondar-mandir sambil mengecek koper.

Sebelum berangkat, ia masuk ke kamar.

“Kamu yakin tidak apa-apa?”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Bukan karena pertanyaannya lucu.

Karena ia baru menanyakannya setelah koper berada di depan pintu.

“Ada Mbak Sari.”

Dimas mengangguk lega.

“Nanti aku video call.”

Ia mencium kening Kirana.

Hanya dua detik.

Kemudian berdiri.

Aku memandangnya.

“Mas.”

“Ya?”

“Hati-hati.”

Untuk sesaat wajahnya melunak.

“Kamu juga.”

Aku mengangguk.

Itulah percakapan terakhir kami sebagai suami istri yang masih tinggal dalam satu rumah.

Begitu mobil mereka meninggalkan halaman, aku menelepon Maya.

Dua jam kemudian ia datang bersama asistennya.

Aku menunjukkan dokumen cuti, email agen perjalanan, bukti transfer Rp35 juta kepada Bu Ratna, catatan medis setelah operasi, dan percakapan WhatsApp Dimas yang menunjukkan bahwa perjalanan itu telah direncanakan sejak aku masih dirawat di rumah sakit.

Maya membaca semuanya tanpa banyak bicara.

Kemudian ia meletakkan dokumen terakhir.

“Rani, kamu mau bercerai karena dia pergi liburan?”

“Bukan.”

Aku menatap Kirana.

“Aku mau bercerai karena baru sekarang aku sadar selama ini aku membesarkan seorang laki-laki dewasa sambil berharap suatu hari dia akan menjadi suami.”

Maya terdiam.

Aku melanjutkan.

“Aku tidak mau Kirana tumbuh dan mengira perempuan harus terus menerima penghinaan supaya sebuah keluarga terlihat utuh.”

Hari itu kami mulai menyiapkan berkas.

Namun Maya menemukan sesuatu yang membuat persoalannya lebih besar.

Selama dua tahun terakhir, beberapa cicilan kartu kredit atas nama Dimas dibayar menggunakan rekening bersama kami. Jumlahnya hampir seratus delapan puluh juta rupiah.

Aku tidak pernah tahu kartu itu ada.

Transaksinya terdiri dari hotel, restoran mahal, barang elektronik, dan beberapa pembayaran kepada agen perjalanan.

Termasuk kapal pesiar yang sedang ia naiki.

“Dia bilang tiketnya dibeli dari bonus kantor,” kataku.

Maya menatapku.

“Tidak.”

Ia menunjuk layar.

“Uang muka perjalanan dibayar dari rekening bersama tiga minggu sebelum kamu melahirkan.”

Aku memejamkan mata.

Ternyata Rp35 juta yang kuberikan kepada Bu Ratna bahkan bukan uang pertama yang keluar dari keluarga kecil kami untuk liburan mereka.

Sore itu aku mengambil keputusan kedua.

Aku memindahkan uang pribadiku ke rekening yang hanya bisa kuakses sendiri, menyisakan bagian yang memang secara hukum harus tetap tercatat sebagai dana bersama.

Apartemen di Depok masih atas namaku dan dibeli tiga tahun sebelum pernikahan.

Maya memastikan seluruh dokumennya aman.

“Ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan,” katanya.

“Apa?”

“Jangan menghalangi komunikasi Dimas dengan Kirana. Kita tidak sedang mencoba memisahkan ayah dari anak. Kita sedang memastikan kamu dan anakmu terlindungi.”

Aku mengangguk.

Malam itu Dimas menelepon lewat video.

Di belakangnya terlihat kabin kapal.

“Lihat!”

Ia mengarahkan kamera ke jendela.

“Bagus banget, kan?”

Bu Ratna tiba-tiba muncul.

“Rani, tas yang Mama mau ternyata ada! Tapi sedikit lebih mahal.”

“Berapa?”

“Empat puluh dua juta.”

Aku hampir tersenyum.

“Uang yang kemarin cukup?”

Wajahnya sedikit berubah.

“Kurang sedikit.”

Sebelum aku menjawab, terdengar pengumuman dari pengeras suara kapal.

Suara dalam bahasa Inggris diikuti bahasa Indonesia meminta penumpang tetap memperhatikan informasi cuaca karena kondisi laut diperkirakan memburuk.

Dimas buru-buru mengecilkan volume.

“Biasa.”

Aku tidak bertanya.

“Selamat bersenang-senang.”

Hari kedua perjalanan, laut mulai buruk.

Dimas mengirim pesan bahwa kapal mengalami keterlambatan.

Hari ketiga, rute menuju Phuket dibatalkan.

Hari keempat, berita tentang Samudra Mahkota mulai muncul di media.

Kapal itu tidak tenggelam.

Tidak terjadi tragedi seperti film.

Namun kerusakan pada sistem pendingin mesin muncul kembali ketika kapal berada di tengah cuaca buruk. Kapal harus mengurangi kecepatan dan akhirnya diarahkan menuju pelabuhan terdekat untuk pemeriksaan.

Ratusan penumpang marah.

Bu Ratna meneleponku sambil menangis.

“Rani, Mama takut.”

Aku duduk di apartemen Depok sambil menyusui Kirana.

Tiga hari sebelumnya, dengan bantuan kakakku dan Mbak Sari, aku sudah pindah dari rumah Dimas.

“Mama ikuti instruksi kru.”

“Dimas bilang kapal ini aman!”

“Kalau petugas meminta memakai pelampung, pakai. Jangan panik.”

“Doakan Mama.”

“Tentu.”

Aku benar-benar mendoakan mereka.

Aku tidak pernah berharap kapal itu celaka.

Aku tidak ingin siapa pun mati.

Aku hanya tidak lagi merasa bertanggung jawab atas keputusan orang dewasa yang sudah diberi peringatan dan memilih mengabaikannya.

Kapal akhirnya berlabuh dengan selamat sehari kemudian.

Tidak ada korban.

Sebagian perjalanan dibatalkan dan perusahaan menawarkan kompensasi.

Dimas meneleponku segera setelah mendapat sinyal.

“Gila. Liburan paling kacau seumur hidup.”

Aku hanya menjawab, “Syukurlah kalian selamat.”

“Kirana mana?”

Aku mengarahkan kamera kepada putri kami.

Dimas tersenyum.

Kemudian matanya menyipit.

“Ini bukan kamar kita.”

Aku diam.

“Rani?”

“Benar.”

“Kamu di mana?”

“Depok.”

“Ngapain di Depok?”

“Di rumahku.”

Wajahnya membeku.

“Rumahmu?”

“Apartemenku.”

“Apartemen apa?”

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Dimas kehilangan kata-kata.

Aku tidak menjelaskan.

“Pulanglah dulu.”

Dua hari kemudian, ia kembali ke Jakarta.

Aku tahu karena teleponku dipenuhi panggilan.

Dua puluh tiga panggilan dalam satu jam.

Lalu pesan.

RANI, BARANGMU KE MANA?

KAMU BAWA KIRANA?

INI APA?

Pesan terakhir disertai foto amplop cokelat yang Maya tinggalkan melalui prosedur resmi.

Di dalamnya terdapat pemberitahuan bahwa proses hukum terkait perceraian sedang dipersiapkan serta permintaan agar komunikasi mengenai aset dan pengasuhan dilakukan secara tertib.

Teleponku kembali berdering.

Kali ini kuangkat.

“Apa-apaan ini?” teriak Dimas.

“Kamu sudah baca.”

“Kamu mau cerai cuma karena aku pergi tujuh hari?”

“Bukan.”

“Terus karena apa?”

Aku terdiam sebentar.

“Karena tanda tanganku.”

Di ujung sana sunyi.

Aku tahu tepat saat itu wajahnya berubah.

“Tanda tangan apa?”

“Jangan.”

Suaraku sangat tenang.

“Jangan buat aku mendengarkan kebohongan lain.”

Dimas tidak menjawab.

“Aku sudah melihat formulir cutimu.”

“Rani, dengar dulu.”

“Kamu menulis aku mengalami komplikasi serius.”

“Itu cuma supaya HR menyetujui cuti lebih panjang.”

“Lalu kamu memalsukan tanda tanganku.”

“Bukan memalsukan. Aku cuma meniru karena kamu sedang sakit.”

Aku tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya setelah melahirkan, aku benar-benar tertawa.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena kamu baru saja mengaku.”

Dimas langsung diam.

Panggilan itu sedang direkam sesuai arahan Maya untuk dokumentasi komunikasi yang relevan.

Tiga hari berikutnya berubah menjadi kekacauan.

Bu Ratna datang ke apartemenku.

Entah bagaimana ia mengetahui alamatnya dari Dimas.

Ia mengetuk pintu hampir dua puluh menit.

Aku membukanya hanya setelah satpam berdiri di dekat lorong.

“Kamu mau menghancurkan keluarga?” katanya.

Aku menggendong Kirana.

“Tidak, Ma.”

“Dimas sampai dipanggil HR!”

Ternyata masalah cutinya terbongkar setelah salah satu rekan kerja melihat unggahan media sosial Bu Ratna.

Bu Ratna mengunggah hampir setiap bagian perjalanan mereka.

Foto Dimas memegang minuman di dek kapal bahkan diberi tulisan, “Terima kasih anak Mama sudah mengambil cuti panjang demi membahagiakan orang tua.”

Unggahan itu sampai kepada kantor Dimas.

Ironisnya, aku tidak pernah melaporkannya.

Mereka sendiri yang menyediakan bukti.

“Karier anak Mama bisa hancur!”

Aku menatapnya.

“Kenapa itu menjadi tanggung jawab saya?”

“Karena kamu istrinya!”

“Waktu saya baru dibedah dan tidak bisa berdiri sendiri, Mama bilang anak perempuan saya cuma bikin biaya.”

Bu Ratna terdiam.

“Saya ingat, Ma.”

Wajahnya memucat.

“Saya dengar semuanya.”

“Itu Mama cuma keceplosan.”

“Kalimat yang keluar tanpa sengaja biasanya justru yang paling jujur.”

Ia mulai menangis.

Namun untuk pertama kalinya, tangisannya tidak membuatku merasa harus memperbaiki sesuatu.

Aku menutup pintu.

Proses berikutnya tidak selesai dalam semalam.

Perceraian tidak pernah sesederhana adegan dramatis ketika seseorang menyerahkan surat lalu semuanya berakhir.

Ada mediasi.

Ada dokumen.

Ada pembicaraan mengenai pengasuhan.

Ada malam-malam ketika aku bertanya apakah aku sudah mengambil keputusan benar.

Dimas bahkan datang sekali tanpa orang tuanya.

Ia terlihat jauh lebih kurus.

“Aku salah,” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

Matanya langsung menyala.

“Tapi kamu harus berubah untuk dirimu sendiri, bukan supaya aku kembali.”

Wajahnya runtuh.

“Aku tetap ayah Kirana.”

“Tidak ada yang menyangkal itu.”

Aku meletakkan secangkir air di depannya.

“Kalau kamu ingin menjadi ayahnya, jadilah ayah. Hadir. Belajar mengganti popok. Tahu jadwal imunisasinya. Tahu obatnya kalau demam. Jangan cuma datang membawa mainan lalu merasa tugasmu selesai.”

Dimas menunduk.

Beberapa bulan kemudian, perceraian kami resmi.

Dimas tidak kehilangan pekerjaannya, tetapi mendapat sanksi berat dan kehilangan kesempatan promosi tahun itu.

Hubungannya dengan orang tuanya juga berubah.

Entah untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu, atau hanya karena konsekuensi akhirnya benar-benar menyentuh hidupnya.

Aku tidak tahu.

Dan aku berhenti mencoba mencari tahu.

Apartemen kecil di Depok menjadi rumah pertama Kirana.

Tidak mewah.

Hanya dua kamar, balkon sempit, dan dapur yang bahkan tidak cukup untuk dua orang berdiri berdampingan.

Namun di sanalah Kirana belajar tengkurap.

Di sanalah ia tertawa pertama kali.

Dan di sanalah aku akhirnya membuka berkas yang sebenarnya sudah kusiapkan sejak hari keberangkatan kapal itu.

Bukan berkas perceraian.

Berkas itu sudah selesai.

Ini berkas lain.

Sebuah dokumen pembentukan rekening pendidikan dan pengalihan apartemen melalui perencanaan waris untuk kepentingan Kirana di masa depan.

Aku memasukkan sebagian besar tabungan pribadiku ke instrumen yang disiapkan khusus untuk pendidikan dan masa depannya.

Di halaman terakhir ada sebuah surat yang kutulis sendiri.

Untuk Kirana.

Suatu hari nanti, kalau kamu sudah cukup besar untuk membaca ini, mungkin kamu akan bertanya kenapa rumah pertamamu begitu kecil.

Jawabannya sederhana.

Karena Mama memilih rumah kecil yang aman daripada rumah besar tempat kita harus memohon untuk dihargai.

Kamu lahir sebagai perempuan di tengah orang-orang yang pernah mengatakan bahwa anak perempuan hanya akan menghabiskan biaya.

Jadi Mama ingin memastikan satu hal.

Kamu tidak akan tumbuh sebagai beban siapa pun.

Bukan karena kamu harus membuktikan bahwa kamu berharga.

Tetapi karena sejak napas pertamamu, kamu memang sudah berharga.

Aku berhenti menulis ketika Kirana mulai menangis dari kamar.

Aku segera menghampirinya.

Di luar jendela, hujan turun deras di atas Depok.

Aku mengangkat tubuh kecilnya dan mendekapnya di dada.

Bekas operasi di perutku masih terasa ketika cuaca dingin.

Mungkin akan selalu begitu.

Ada luka yang memang tidak benar-benar hilang.

Kita hanya berhenti membiarkannya menentukan arah hidup kita.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Dimas.

Besok jadwal imunisasi Kirana, kan? Aku sudah izin kantor. Jam berapa aku harus datang?

Aku menatap pesan itu cukup lama.

Kemudian menjawab.

Jam sembilan. Jangan terlambat.

Aku meletakkan ponsel dan menatap putriku.

Aneh.

Semua bermula dari sebuah perjalanan yang sangat ingin dilakukan Dimas.

Ia berpikir tujuh hari di laut akan memberinya kebebasan dari tanggung jawab.

Namun justru selama tujuh hari itulah aku menemukan kebebasanku sendiri.

Bukan kebebasan untuk membalas dendam.

Bukan kebebasan untuk menghancurkan seseorang.

Melainkan kebebasan untuk berhenti meminta izin agar diperlakukan dengan layak.

Aku mencium dahi Kirana.

Lalu untuk pertama kalinya sejak ia lahir, aku tidak takut memikirkan masa depan.

Karena akhirnya aku mengerti sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.

Keluarga bukan tempat kita dipaksa bertahan dengan alasan cinta.

Keluarga seharusnya menjadi tempat seseorang tidak perlu kehilangan dirinya sendiri hanya untuk tetap diterima.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang