ADIK IPARKU MEMINTA TAS HERMÈS, MOBIL MEWAH, DAN “HADIAH NIKAH” RP8,8 MILIAR; SUAMIKU BILANG ITU CUMA SEBAGIAN KECIL DARI HARTAKU—MALAM ITU AKU PULANG KE RUMAH ORANG TUAKU, DAN PAGINYA MEREKA DATANG MENAGIH SESUATU YANG TAK PERNAH MENJADI MILIK MEREKA

Map tebal yang dibawa Ayah jatuh ke atas meja dengan bunyi pelan, tetapi entah mengapa suara itu membuat ruang tamu mendadak terasa seperti ruang sidang.

Dimas tidak bergerak.

Bu Ratna yang sejak tadi berdiri dengan dagu terangkat perlahan kehilangan senyumnya.

Hanya Naya yang masih terlihat tidak mengerti.

Ia bahkan masih berdiri di dekat jendela, sesekali melirik sedan hitam milik Ayah yang lima menit sebelumnya sudah ia klaim sebagai mobil pengantinnya.

“Utang apa?” tanyanya.

Ayah menarik sebuah kursi.

“Duduk.”

“Aku tidak punya utang sama Om.”

Ayah menatapnya tenang.

“Benar. Bukan kepada saya pribadi. Kepada perusahaan.”

Wajah Naya berubah sedikit.

Aku duduk di sebelah Ibu tanpa mengatakan apa-apa.

Ayah membuka map tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

“Dua tahun lalu, Laras meminta perusahaan membantu modal butikmu. Nilainya satu miliar enam ratus juta rupiah.”

Naya langsung menyela.

“Itu hadiah.”

“Bukan.”

Ayah menggeser sebuah dokumen ke arahnya.

“Ini perjanjian pinjamannya.”

Naya menatap kertas itu.

Ada tanda tangannya sendiri di bagian bawah.

Wajahnya mulai pucat.

Ayah mengeluarkan dokumen berikutnya.

“Renovasi rumah Ibu Ratna. Satu miliar seratus lima puluh juta.”

Bu Ratna berdiri.

“Laras bilang dia yang akan mengurus!”

“Benar,” jawabku.

Aku akhirnya bicara.

“Aku mengurus pinjamannya. Bukan mengubahnya menjadi hadiah.”

“Jangan memutarbalikkan keadaan!”

Bu Ratna menunjukku.

“Kamu tidak pernah menagih!”

Aku menatapnya.

“Karena saat itu aku menganggap Ibu keluarga.”

Kalimat itu membuatnya diam.

Ayah melanjutkan.

“Dan ini yang paling menarik.”

Ia mengeluarkan satu berkas lain.

“Dimas Pradana. Dua miliar empat ratus juta rupiah. Proposal investasi restoran.”

Aku menoleh kepada Dimas.

Untuk pertama kalinya sejak mereka datang, aku benar-benar terkejut.

Aku memang sudah membaca angka itu dari laporan Pak Adrian tadi malam, tetapi belum mengetahui detailnya.

“Restoran apa?” tanyaku.

Dimas tidak menjawab.

Ayah tersenyum tipis.

“Itulah masalahnya. Restorannya tidak pernah ada.”

Aku merasa dada seperti dipukul.

“Dimas?”

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan sekarang.”

Bu Ratna segera menyela.

“Tidak usah membahas masalah lama. Kita datang untuk membicarakan pernikahan Naya.”

Aku hampir tidak percaya.

“Masalah lama?”

Aku berdiri.

“Suamiku mengambil Rp2,4 miliar dari perusahaan keluargaku untuk bisnis fiktif, dan menurut Ibu itu masalah lama?”

“Jangan pakai kata mengambil!”

Dimas akhirnya bersuara.

“Aku pinjam.”

“Untuk apa?”

Dia terdiam.

Ayah mendorong dokumen itu ke arahku.

“Dana tersebut ditransfer ke rekening pribadi Dimas. Tiga hari kemudian, sebagian dipindahkan ke rekening lain.”

“Rekening siapa?”

Ayah menatap Bu Ratna.

Ruangan mendadak sunyi.

Aku sudah mendapatkan jawabannya bahkan sebelum Ayah berbicara.

“Rekening Ibu Ratna.”

Aku menatap ibu mertuaku.

“Ibu?”

Bu Ratna tampak gugup.

“Itu uang keluarga.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena akhirnya semuanya terasa begitu terang.

Tidak ada salah paham.

Tidak ada perbedaan cara pandang.

Mereka memang benar-benar menganggap hartaku sebagai milik mereka.

Ayah mengeluarkan kalkulator.

“Total kewajiban yang tercatat, belum termasuk bunga dan beberapa pengeluaran lain, lebih dari lima miliar rupiah.”

Naya langsung berdiri.

“Ini jebakan!”

“Jebakan bagaimana?” tanyaku.

“Kakak sengaja menunggu aku mau menikah baru menagih semuanya!”

Aku menatapnya lama.

“Naya, semalam kamu meminta Rp8,8 miliar dariku.”

“Itu hadiah pernikahan!”

“Hadiah diminta?”

“Di keluarga kita biasa!”

Aku menggeleng.

“Bukan keluarga kita. Keluargamu.”

Wajah Naya memerah.

Ia menunjuk ke luar.

“Terus mobil itu bagaimana?”

Aku benar-benar kehilangan kata-kata.

Bahkan setelah mengetahui utangnya, pikirannya masih tertuju pada mobil.

“Mobil itu milik Ayah.”

“Tapi Kakak kan anaknya. Nanti juga jadi punya Kakak.”

Ayah tertawa pelan.

Naya terlihat tersinggung.

“Kenapa Om tertawa?”

“Karena saya baru pertama kali bertemu seseorang yang menghitung warisan orang lain sebelum pemiliknya meninggal.”

Naya membuang muka.

Dimas kemudian menarik lenganku.

“Laras, kita bicara berdua.”

Aku melepaskan tangannya.

“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan berdua.”

“Ini masalah rumah tangga.”

“Semalam kamu menyuruhku pergi.”

“Aku sedang emosi.”

“Kamu juga mengancam cerai.”

“Aku tidak serius.”

“Tapi aku serius.”

Wajahnya berubah.

Aku mengambil sebuah amplop dari meja kecil di sebelahku.

Pak Adrian mengirimkannya pagi-pagi melalui stafnya.

Aku meletakkannya di depan Dimas.

“Apa ini?”

“Surat dari pengacaraku.”

Tangannya membeku.

Bu Ratna segera merebut amplop itu.

Setelah membaca beberapa baris pertama, wajahnya langsung pucat.

“Perceraian?”

Naya menatap kakaknya.

“Kak Dimas?”

Dimas meremas kertas itu.

“Kamu benar-benar mau menghancurkan pernikahan kita cuma karena uang?”

Aku memandangnya.

Kalimat itu terasa ironis.

“Justru kalian yang menghancurkannya karena uang.”

“Aku suamimu!”

“Dan selama dua tahun aku memperlakukanmu sebagai pasangan.”

Aku menunjuk dokumen di meja.

“Tapi diam-diam kamu meminjam miliaran dari perusahaan keluargaku, mengirim uang kepada ibumu, lalu ketika adikmu meminta Rp8,8 miliar, kamu bilang itu hanya sebagian kecil dari hartaku.”

Dimas terdiam.

Aku melanjutkan.

“Masalahnya bukan Rp8,8 miliar.”

Suaraku mulai bergetar, tetapi aku tidak ingin menangis.

“Kalau orang yang kucintai membutuhkan seluruh hartaku untuk menyelamatkan hidupnya, mungkin akan kuberikan tanpa berpikir dua kali.”

Aku menatap mereka satu per satu.

“Tapi kalian tidak membutuhkan pertolongan. Kalian hanya merasa berhak.”

Bu Ratna tiba-tiba menangis.

“Laras, Mama minta maaf.”

Untuk pertama kalinya ia memanggil namaku tanpa nada menuntut.

Ia mendekat dan mencoba memegang tanganku.

Aku mundur.

“Kalau Mama pernah salah bicara, maafkan Mama. Soal ATM itu cuma bercanda.”

“Lucu sekali.”

“Jangan hancurkan keluarga karena candaan.”

Aku menatapnya.

“Kalau saya tetap membayar pernikahan Naya, apakah keluarga ini akan tetap utuh?”

Bu Ratna diam.

Aku sudah tahu jawabannya.

Naya tiba-tiba menangis.

“Tapi vendor sudah dibayar DP!”

Aku menoleh.

“Pakai uang siapa?”

Ia terdiam.

“Naya.”

“Pakai kartu kredit.”

“Berapa?”

“Hampir tujuh ratus juta.”

Bu Ratna memejamkan mata.

Aku menghela napas.

“Batalkan.”

“Tidak bisa!”

“Kalau begitu bayar sendiri.”

“Tapi Arga sudah mengundang keluarga besar!”

“Lalu?”

“Kalau pernikahanku tidak jadi semewah rencana, aku akan malu!”

Aku memandang perempuan yang selama dua tahun kupanggil adik.

“Naya, rasa malu karena pesta sederhana tidak akan membunuhmu.”

Aku berhenti sejenak.

“Tapi kebiasaan hidup dengan uang orang lain bisa menghancurkan hidupmu.”

Ia menangis semakin keras.

Dimas memukul meja.

“Cukup!”

Semua orang menoleh.

“Aku akan bayar semuanya!”

Aku menatapnya.

“Dengan apa?”

“Aku bisa kerja.”

Ayah mengangguk.

“Bagus. Mulailah dari utang Rp2,4 miliar.”

Dimas terdiam lagi.

Beberapa detik kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman.

Seorang pria turun.

Aku mengenalnya dari beberapa foto Naya.

Arga.

Calon suaminya.

Naya langsung berlari keluar.

“Sayang!”

Namun Arga tidak memeluknya.

Wajahnya terlihat tegang.

Ia masuk ke ruang tamu bersama seorang pria paruh baya yang ternyata ayahnya.

“Maaf kami datang tanpa memberi kabar,” kata ayah Arga.

Naya tampak bingung.

“Om, kenapa?”

Arga menatapnya.

“Naya, semalam kamu bilang keluarga Kak Laras sudah setuju membayar semuanya.”

Naya tidak menjawab.

Arga melanjutkan.

“Kamu juga bilang mobil pengantin sudah disiapkan.”

Naya melirik sedan di luar.

“Memang sudah.”

“Itu mobil saya,” kata Ayah.

Arga memejamkan mata.

Ayah Arga menarik napas panjang.

“Bu Ratna, sejak awal kami sudah bilang tidak perlu pesta sebesar itu. Kami mampu mengadakan pernikahan yang layak, tetapi bukan puluhan miliar.”

Bu Ratna segera berkata, “Ini hanya salah paham.”

“Bukan.”

Arga mengeluarkan ponselnya.

“Naya mengirim pesan kepada ibuku tadi malam.”

Ia menunjukkan layar.

Aku tidak bisa melihat semuanya, tetapi satu kalimat terlihat jelas.

Setelah menikah nanti, Arga tidak perlu terlalu memikirkan uang. Kak Laras punya aset banyak.

Aku menatap Naya.

Bahkan Bu Ratna terlihat terkejut.

“Naya…”

“Aku cuma bercanda!”

Arga tertawa pahit.

“Semua selalu bercanda kalau ketahuan.”

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

Kemudian Arga mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku.

Kotak cincin.

Wajah Naya langsung berubah.

“Arga, jangan.”

Arga meletakkannya di meja.

“Aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang sudah menghitung kekayaan kakak iparnya sebagai sumber biaya hidup kami.”

Naya mulai panik.

“Sayang, dengarkan aku.”

“Aku sudah terlalu banyak mendengar.”

“Pernikahan kita tinggal sebulan!”

“Lebih baik batal sebulan sebelum menikah daripada menyesal tiga puluh tahun setelahnya.”

Tangis Naya pecah.

Ia memeluk lengan Arga, tetapi pria itu melepaskannya perlahan.

Kemudian Arga dan ayahnya pergi.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Naya tidak memikirkan tas, mobil, atau pesta.

Ia hanya berdiri di sana sambil menangis.

Bu Ratna menatapku dengan marah.

“Puas kamu?”

Aku tercengang.

“Ibu masih menyalahkan saya?”

“Kalau kamu tidak membuat semua keributan ini, Arga tidak akan tahu!”

Ayah berdiri.

“Cukup.”

Suaranya tidak keras, tetapi seluruh ruangan langsung diam.

“Keluar dari rumah saya.”

Bu Ratna masih ingin berbicara.

Ayah menunjuk pintu.

“Semua kewajiban keuangan akan diurus secara resmi melalui pengacara. Mulai hari ini, jangan datang untuk meminta apa pun kepada anak saya.”

Dimas menatapku.

“Laras.”

Aku tidak menjawab.

“Aku masih mencintaimu.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Dulu, kalimat itu mungkin bisa membuatku bertahan.

Sekarang tidak.

“Aku juga pernah sangat mencintaimu.”

“Pernah?”

Aku mengangguk.

“Tapi cinta yang terus dipakai sebagai kartu debit akhirnya akan habis juga.”

Dimas menunduk.

Mereka bertiga akhirnya pergi.

Beberapa bulan kemudian, perceraian kami selesai.

Prosesnya tidak mudah.

Dimas sempat mencoba meminta bagian dari beberapa aset, tetapi hampir seluruh kekayaanku berasal dari kepemilikan keluarga dan aset yang sudah kumiliki sebelum menikah. Dokumen perusahaan juga terlalu jelas untuk diabaikan.

Butik Naya akhirnya tutup.

Bukan karena aku menyitanya, melainkan karena ternyata bisnis itu sudah berbulan-bulan merugi dan selama ini bertahan dari suntikan dana yang tidak pernah kuketahui.

Rumah Bu Ratna tidak diambil.

Ayah memilih membuat skema pembayaran utang yang masuk akal.

“Aku tidak ingin membalas mereka,” katanya kepadaku. “Aku hanya ingin mereka belajar bahwa uang orang lain tetap uang orang lain.”

Dimas menjual mobil yang dulu kubelikan untuknya dan mulai mencicil utang.

Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Sampai hampir setahun kemudian.

Suatu sore aku sedang berada di sebuah kedai kopi di Jakarta ketika seseorang memanggil namaku.

“Laras.”

Aku menoleh.

Dimas berdiri beberapa meter dariku.

Ia terlihat berbeda.

Lebih kurus.

Lebih sederhana.

Tidak ada jam mahal di pergelangan tangannya.

Tidak ada pakaian bermerek.

“Boleh duduk sebentar?”

Aku mengangguk.

Ia duduk di hadapanku.

“Aku dengar kamu sekarang mengurus yayasan perusahaan.”

“Ya.”

“Bagus.”

Kami terdiam.

Kemudian ia berkata, “Aku cuma mau minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Bukan supaya kamu kembali.”

Ia tersenyum pahit.

“Aku tahu itu tidak mungkin.”

Untuk pertama kalinya, aku merasa ia benar-benar berbicara tanpa menginginkan sesuatu.

“Aku baru sadar,” katanya, “waktu kamu selalu memberikan semuanya dengan mudah, aku mulai mengira itu memang hakku.”

Aku tidak menjawab.

“Setelah kamu pergi, Mama marah berbulan-bulan. Naya menyalahkan semua orang. Aku juga menyalahkanmu.”

“Lalu?”

“Lalu tagihan datang.”

Aku hampir tersenyum.

Dimas tertawa kecil.

“Tagihan ternyata guru yang sangat efektif.”

Sebelum pergi, ia mengatakan satu hal yang tidak pernah kulupakan.

“Dulu aku pikir aku beruntung menikahi perempuan kaya.”

Ia berdiri.

“Sekarang aku sadar keberuntunganku sebenarnya karena pernah dicintai perempuan yang tulus. Dan aku menyia-nyiakannya.”

Ia pergi tanpa meminta nomor teleponku.

Tanpa meminta kesempatan kedua.

Tanpa meminta uang.

Aku memandang punggungnya sampai menghilang di balik pintu.

Aneh sekali.

Untuk pertama kalinya, aku tidak membencinya.

Aku juga tidak mencintainya.

Yang tersisa hanya sebuah pelajaran.

Malam itu, ketika pulang, Ayah sedang duduk di teras rumah.

Sedan hitam yang dulu hendak diminta Naya masih terparkir di garasi.

Ayah melihatku lalu tersenyum.

“Dimas?”

Aku terkejut.

“Ayah tahu?”

“Wajahmu selalu berbeda kalau habis bertemu masa lalu.”

Aku duduk di sebelahnya.

“Ayah, waktu itu kenapa Ayah tidak langsung menagih mereka sejak awal?”

Ayah diam beberapa saat.

Kemudian ia berkata sesuatu yang membuatku tertegun.

“Karena semua dokumen pinjaman itu sebenarnya sudah bisa kutagih sejak setahun sebelum kalian bercerai.”

Aku menoleh cepat.

“Apa?”

“Ayah tahu Dimas memindahkan uang kepada ibunya?”

“Tahu.”

“Kenapa Ayah tidak bilang?”

Ayah memandang halaman.

“Karena kalau Ayah yang memberitahumu, kamu akan menganggap Ayah tidak menyukai suamimu. Kamu mungkin akan membelanya.”

Aku tidak bisa menyangkalnya.

Memang itulah yang mungkin kulakukan.

“Ayah menunggu sampai aku melihat sendiri?”

Ia mengangguk.

“Orang yang sedang jatuh cinta sering tidak percaya ketika diberi tahu bahwa rumahnya terbakar.”

Ayah menatapku.

“Kadang dia harus mencium asapnya sendiri.”

Mataku terasa panas.

“Jadi Ayah sengaja membiarkan mereka?”

“Tidak.”

Ia tersenyum.

“Ayah hanya memastikan setiap rupiah yang keluar memiliki dokumen.”

Aku tertawa di sela air mata.

Ternyata selama dua tahun aku mengira Ayah terlalu diam.

Padahal diam-diam ia sedang memasang pagar di sekelilingku, menunggu sampai aku sendiri cukup berani untuk berjalan keluar.

Aku menyandarkan kepala di bahunya.

Dulu aku mengira kehilangan pernikahan berarti gagal membangun keluarga.

Sekarang aku mengerti sesuatu.

Keluarga bukan orang yang merasa berhak mengambil karena kita memiliki lebih banyak.

Bukan orang yang mengukur kasih sayang dari harga tas, mobil, pesta, atau angka di rekening.

Keluarga adalah orang yang tetap membuka pintu ketika kita pulang dengan koper dan hati yang hancur.

Orang yang tidak berkata, “Sudah kubilang.”

Orang yang hanya menyediakan kamar lama, segelas air, dan tempat untuk menangis.

Aku pernah kehilangan miliaran rupiah karena terlalu mudah percaya.

Tetapi uang itu masih bisa dicari kembali.

Yang jauh lebih mahal adalah dua tahun yang kuhabiskan untuk meyakinkan diriku bahwa dimanfaatkan adalah bagian dari mencintai.

Untungnya, aku berhenti sebelum membayar harga yang lebih besar.

Karena pada akhirnya, kekayaan terbesar yang kumiliki bukan perusahaan, rumah, mobil, atau saldo rekening.

Melainkan keberanian untuk mengatakan tidak kepada orang-orang yang menganggap kebaikanku sebagai kewajiban.

Dan keberanian untuk pulang ketika sebuah tempat yang kusebut rumah ternyata tidak pernah benar-benar menganggapku keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang