SUAMIKU PURA-PURA KOMA SETELAH “KECELAKAAN”, BERHARAP AKU MENGHABISKAN UANG GANTI RUGI TANAH WARISAN IBU—NAMUN SAAT DOKTER HAMIL ITU MEMAKSAKU MEMINDAHKANNYA KE REHABILITASI MAHAL, AKU MENEMUKAN SATU DETAIL YANG MEMBUAT SELURUH KELUARGANYA MENDADAK PANIK

Bu Ratna belum pernah masuk ke ruangan itu. Tidak ada seorang pun dari pihak rumah sakit yang seharusnya memberi tahu bahwa aku sedang menolak pemindahan Ardi. Namun ia datang dengan napas memburu dan langsung menyebut uang warisanku.

Aku menutup pulpen perlahan.

“Dari mana Ibu tahu saya sedang membicarakan uang warisan?”

Bu Ratna yang tadi begitu garang mendadak terdiam.

“Apa?”

“Saya belum membicarakan uang itu dengan siapa pun di rumah sakit.”

Tatapannya bergerak cepat ke arah Siska.

Hanya sepersekian detik, tetapi cukup untuk menjawab banyak hal.

“Ardi anak saya!” bentaknya. “Tentu saya tahu apa yang dibutuhkan untuk menyelamatkannya.”

“Yang saya tanyakan bukan itu.”

Aku berdiri.

“Siapa yang memberi tahu Ibu bahwa saya menolak membayar rehabilitasi?”

Siska buru-buru menyela.

“Bu Naira, situasi seperti ini memang membuat keluarga emosional. Sebaiknya kita fokus pada pasien.”

Aku menatapnya.

“Setuju. Jadi saya akan fokus pada pasien, bukan pada rekening saya.”

Aku memasukkan formulir penolakan ke dalam tas dan keluar dari ruangan.

Bu Ratna mengejarku sampai lorong.

“Kamu mau membunuh suamimu?”

Aku berhenti.

Enam tahun aku selalu mengalah kepada perempuan itu. Ketika ia menyebutku mandul di depan keluarga besar, aku diam. Ketika ia menyuruh Ardi menikah lagi, aku pura-pura tidak mendengar. Ketika ia mengatakan rumah tangga tanpa anak tidak layak dipertahankan, aku pulang dan menangis sendirian.

Namun malam itu, rasa takutku berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.

Kecurigaan.

“Saya justru sedang memastikan anak Ibu benar-benar sakit.”

Wajah Bu Ratna berubah.

Aku meninggalkan rumah sakit dan menelepon satu orang yang kupercaya, dr. Bagas, teman SMA-ku yang kini menjadi dokter spesialis saraf di rumah sakit lain.

Aku mengirimkan foto dokumen pemeriksaan yang sempat kudapat.

Dua puluh menit kemudian, Bagas menelepon.

“Naira, aku harus hati-hati karena aku belum memeriksa pasien langsung. Tapi dari CT scan yang kamu kirim, aku tidak melihat cedera yang menjelaskan koma berat berkepanjangan.”

Aku berhenti berjalan.

“Jadi dia tidak koma?”

“Aku tidak bilang begitu. Ada banyak penyebab penurunan kesadaran. Obat, gangguan metabolik, kondisi neurologis tertentu. Aku harus memeriksanya.”

“Kalau pasien diberi obat penenang?”

“Bisa tampak tidak responsif.”

Aku teringat wajah Ardi di balik kaca.

Dan jari telunjuknya yang bergerak ketika aku menyebut motornya.

“Besok bisa datang?”

“Aku bisa datang sebagai dokter konsultan kalau rumah sakit mengizinkan.”

“Datanglah.”

Malam itu aku tidak pulang ke rumah kami.

Aku menginap di apartemen kecil milik mendiang ibuku yang belum sempat kujual.

Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku membuka laptop Ardi yang selama ini tersimpan di lemari. Aku tidak tahu kata sandinya, tetapi sebuah notifikasi email muncul di layar.

Pembayaran reservasi.

Sentul Neuro Recovery Residence.

Tanggalnya tiga minggu sebelum kecelakaan.

Tanganku membeku.

Aku memotret layar.

Jadi fasilitas rehabilitasi itu sudah dipesan sebelum Ardi mengalami kecelakaan.

Aku hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena terkadang kebohongan yang dirancang terlalu sempurna justru meninggalkan jejak paling bodoh.

Keesokan paginya aku kembali ke rumah sakit bersama Bagas.

Siska langsung menghadang kami.

“Dokter dari luar tidak boleh melakukan pemeriksaan tanpa prosedur.”

Bagas menunjukkan identitasnya.

“Silakan jalankan prosedurnya. Saya siap menunggu.”

“Ada pertimbangan klinis.”

“Apa pertimbangannya?”

Siska terdiam.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Kalau rumah sakit menolak second opinion, saya ingin penolakan itu tertulis.”

Setelah hampir satu jam berdebat dengan bagian administrasi, akhirnya Bagas diperbolehkan masuk bersama dokter jaga.

Aku menunggu di luar.

Bu Ratna datang bersama adik Ardi, Dimas.

Mereka tidak menyapaku.

Dua puluh menit kemudian Bagas keluar.

Wajahnya serius.

“Aku ingin pemeriksaan tambahan.”

“Kenapa?”

“Respons neurologisnya tidak konsisten.”

Jantungku berdegup.

“Maksudmu?”

“Seseorang dengan tingkat kesadaran seperti yang dicatat di rekam medis seharusnya menunjukkan pola respons tertentu. Ardi tidak.”

Siska muncul dari belakang.

“Dokter Bagas, jangan membuat kesimpulan sebelum pemeriksaan lengkap.”

Bagas menatapnya.

“Saya justru meminta pemeriksaan lengkap.”

Aku melihat rahang Siska mengeras.

Hari itu aku juga menghubungi pihak kepolisian untuk meminta laporan kecelakaan.

Jawabannya membuat semuanya semakin aneh.

Tidak ada laporan kecelakaan atas nama Ardi Pratama di lokasi yang disebutkan rumah sakit.

Aku kemudian meminta rekaman CCTV dari pengelola tol melalui bantuan polisi.

Mobil Ardi memang terlihat keluar dari jalur utama malam itu.

Namun tidak ada tabrakan besar.

Mobilnya berhenti di bahu jalan.

Tiga menit kemudian sebuah mobil lain datang.

Ardi keluar sendiri.

Berjalan.

Membuka pintu mobil kedua.

Lalu masuk.

Dua puluh menit setelah itu, ambulans swasta datang.

Aku menonton rekaman tersebut tiga kali.

Pada kali keempat, tanganku tidak lagi gemetar.

Aku hanya merasa kosong.

Enam tahun pernikahan.

Enam tahun aku memasak untuknya, menunggu ketika ia pulang terlambat, menemaninya ketika bisnisnya gagal, bahkan menjual perhiasanku untuk membantu membayar utangnya.

Dan laki-laki itu berjalan sehat menuju ambulans untuk berpura-pura koma demi menguras warisan ibuku.

Aku mengirim rekaman itu kepada pengacara.

Namun aku belum mendatangi Ardi.

Belum.

Karena masih ada satu pertanyaan.

Mengapa harus menggunakan skenario serumit ini?

Jawabannya muncul sore berikutnya.

Aku sedang menunggu di kantin rumah sakit ketika seorang perawat muda menghampiriku.

“Bu Naira?”

“Iya?”

Ia terlihat gugup.

“Saya mungkin akan mendapat masalah karena mengatakan ini.”

Aku mempersilahkannya duduk.

“Dokter Siska meminta perubahan jadwal obat Pak Ardi.”

“Obat apa?”

“Sedatif.”

Darahku terasa turun ke kaki.

“Bukankah pasien cedera kepala memang bisa diberi sedatif?”

“Bisa. Tapi…”

Ia menelan ludah.

“Dosisnya dinaikkan sebelum jadwal kunjungan keluarga.”

Aku menatapnya lama.

“Kenapa kamu memberi tahu saya?”

Perawat itu menarik napas.

“Karena tadi malam Pak Ardi bangun.”

Aku tidak bergerak.

“Bangun?”

“Dia membuka mata. Bicara.”

“Apa yang dia katakan?”

Perawat itu menunduk.

“Dia bertanya apakah Ibu sudah menandatangani pembayaran Sentul.”

Dunia di sekitarku seperti kehilangan suara.

Aku berterima kasih kepadanya dan meminta agar ia tidak melakukan apa pun yang membahayakan pekerjaannya.

Malam itu, aku membuat keputusan.

Aku akan memberi mereka apa yang mereka inginkan.

Setidaknya, membuat mereka percaya begitu.

Keesokan paginya aku menemui Bu Ratna dan Siska.

“Saya berubah pikiran.”

Mata Bu Ratna langsung berbinar.

“Akhirnya kamu sadar.”

“Saya akan membayar deposit rehabilitasi.”

Siska berusaha menyembunyikan kelegaannya.

“Keputusan yang tepat.”

“Tapi uang kompensasi belum masuk. Bank meminta dokumen tambahan. Mungkin dua hari.”

“Tidak masalah,” kata Siska.

Terlalu cepat.

Aku tersenyum.

“Kalau begitu kita tunggu.”

Dua hari kemudian, aku mengirim pesan kepada Bu Ratna bahwa uang Rp4,8 miliar sudah masuk.

Padahal uang itu belum pernah masuk ke rekening bersama.

Sejak awal aku sudah meminta pengacara memastikan seluruh kompensasi ditempatkan di rekening pribadiku yang tidak dapat diakses Ardi.

Malam itu terjadi sesuatu yang sudah kuduga.

Pukul sebelas lewat empat puluh, kamera kecil yang dipasang penyidik di koridor menangkap Siska masuk ke kamar Ardi.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Ardi duduk.

Bukan membuka mata.

Bukan menggerakkan jari.

Duduk.

Ia mencabut selang oksigen dari hidungnya.

Lalu tertawa.

Siska memeluknya.

“Akhirnya.”

“Apa dia sudah bayar?”

“Besok.”

Ardi mencium perut Siska.

“Setelah transfer pertama masuk, kita tahan dua atau tiga bulan. Bilang kondisiku belum stabil.”

“Kalau dia minta dokter lain lagi?”

“Tenang. Mama akan urus Naira.”

Aku menyaksikan semuanya dari ruangan keamanan bersama pengacara, perwakilan manajemen rumah sakit, dan dua penyidik.

Namun kalimat berikutnya justru membuatku merasa jauh lebih sakit daripada seluruh kebohongan sebelumnya.

Ardi berkata, “Kasihan juga sebenarnya. Enam tahun nikah sama aku, dia masih percaya dirinya yang mandul.”

Aku membeku.

Siska tertawa kecil.

“Padahal hasil tesmu yang bermasalah.”

Tanganku mencengkeram kursi.

“Aku sudah bilang jangan sampai Naira tahu.”

Siska mengusap perutnya.

“Sekarang sudah tidak penting. Yang penting anak ini ada.”

Ardi tersenyum.

“Untung pengobatan waktu di Singapura berhasil.”

Aku tidak menangis.

Aneh sekali.

Selama enam tahun, aku menangis setiap kali disebut mandul.

Ternyata seluruh rasa bersalah yang kupikul bukan milikku.

Pintu kamar Ardi dibuka beberapa menit kemudian.

Aku masuk paling depan.

Ardi masih duduk di ranjang.

Wajahnya seketika putih.

“Naira?”

Aku menatapnya.

“Wah. Mukjizat.”

Siska mundur.

Dua penyidik masuk setelahku.

Bu Ratna yang dipanggil ke rumah sakit datang beberapa menit kemudian dan langsung histeris ketika melihat anaknya duduk sehat.

“Ini salah paham!”

Aku menoleh kepadanya.

“Ibu juga tahu?”

“Aku cuma ingin menyelamatkan keluarga!”

“Keluarga siapa?”

Ia tidak mampu menjawab.

Polisi kemudian menemukan lebih banyak bukti.

Percakapan grup keluarga.

Rencana pembagian uang.

Dokumen rehabilitasi palsu.

Pembayaran kepada sopir ambulans.

Bahkan draft rencana pembelian rumah atas nama Bu Ratna setelah uang pertamaku berhasil mereka ambil.

Namun kejutan terbesar bukan itu.

Dalam pemeriksaan internal, rumah sakit menemukan bahwa Siska memang dokter, tetapi ia bukan dokter spesialis saraf dan tidak pernah ditunjuk secara resmi sebagai dokter utama Ardi.

Ia memanfaatkan aksesnya sebagai dokter umum kontrak untuk mengarahkan proses awal perawatan, sementara beberapa dokumen telah dimanipulasi menggunakan akun staf lain.

Siska diberhentikan sementara dan dilaporkan ke komite etik serta pihak berwenang.

Ardi diperiksa atas dugaan penipuan dan pemalsuan.

Bu Ratna dan Dimas ikut diperiksa karena percakapan mereka menunjukkan pengetahuan tentang rencana tersebut.

Aku mengajukan gugatan cerai.

Ardi mencoba menemuiku beberapa minggu kemudian.

Kami bertemu di kantor pengacaraku.

Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus.

“Naira, aku salah.”

Aku tidak menjawab.

“Aku panik. Aku punya utang. Siska hamil. Mama terus menekan. Aku…”

“Kamu berpura-pura koma.”

Ia menunduk.

“Aku tahu.”

“Kamu membiarkan keluargamu menyebutku mandul selama bertahun-tahun padahal kamu tahu hasil pemeriksaanmu.”

Matanya mulai merah.

“Aku malu.”

Aku tersenyum tipis.

“Jadi supaya kamu tidak malu, aku yang harus dipermalukan.”

“Naira…”

“Dan ketika ibuku meninggalkan sesuatu untuk menjamin masa depanku, kamu bahkan mencoba mengambil itu.”

Ardi menangis.

Dulu, mungkin aku akan luluh.

Namun sekarang aku hanya melihat seorang laki-laki yang selama bertahun-tahun membangun harga dirinya dari kehancuran perempuan yang mencintainya.

Sebelum pergi, ia mengatakan sesuatu.

“Siska kehilangan kandungannya.”

Langkahku berhenti.

Aku menoleh.

Ada bagian kecil dalam diriku yang merasa sedih. Bukan untuk Ardi. Bukan untuk Siska.

Untuk seorang anak yang tidak pernah memilih dilahirkan di tengah kebohongan orang dewasa.

“Aku turut berduka,” kataku.

Ardi menatapku seolah berharap kalimat itu membuka pintu untuk kembali.

Tidak.

Aku pergi.

Beberapa bulan kemudian, uang kompensasi tanah akhirnya benar-benar cair.

Aku tidak membeli mobil mewah.

Tidak membeli apartemen mahal.

Aku menggunakan sebagian untuk membangun rumah kontrakan kecil di tanah lain milik ibuku dan menyimpan sebagian besar sebagai investasi.

Namun ada satu hal yang paling ingin kulakukan.

Aku pergi ke makam Ibu.

Aku duduk di samping nisannya sambil membawa bunga melati kesukaannya.

“Bu,” bisikku, “ternyata hadiah terakhir Ibu bukan uang itu.”

Angin sore bergerak pelan melewati pepohonan.

“Hadiah terakhir Ibu adalah kesempatan untuk melihat siapa yang mencintaiku dan siapa yang hanya menunggu sesuatu dariku.”

Aku tersenyum sambil mengusap air mata.

Sebelum pulang, ponselku berbunyi.

Sebuah notifikasi dari forum anonim yang pernah kulaporkan.

Akun milik Ardi telah diblokir, tetapi seseorang baru saja membalas salah satu unggahan lamanya.

Aku membukanya.

Komentarnya hanya satu kalimat.

“Kalau ingin menipu seseorang, jangan pernah menganggap orang yang mencintaimu pasti bodoh.”

Aku menatap layar cukup lama.

Lalu untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tertawa.

Aku tidak tahu siapa yang menulisnya.

Dan aku tidak perlu tahu.

Aku mematikan ponsel, berdiri, lalu berjalan meninggalkan makam Ibu.

Selama bertahun-tahun aku mengira kegagalanku menjadi seorang istri adalah karena aku tidak bisa memberikan Ardi seorang anak.

Ternyata aku salah.

Pernikahan kami tidak hancur karena tidak memiliki anak.

Pernikahan kami hancur karena hanya satu orang di dalamnya yang benar-benar memiliki keluarga, sementara yang lain hanya memiliki rencana.

Dan uang Rp4,8 miliar yang mereka kira akan menghancurkanku justru membeli sesuatu yang jauh lebih berharga daripada rumah, mobil, atau kehidupan baru.

Uang itu tidak pernah menyelamatkan Ardi.

Uang itu menyelamatkanku darinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang