Arman tidak bergerak selama beberapa detik.
Pecahan gelas masih berserakan di lantai, tetapi seolah-olah ia tidak melihatnya. Tatapannya hanya tertuju pada Alya, pada anak perempuan berusia sepuluh tahun yang berdiri dengan bahu tegang di depan kami.
“Papa cuma menunggu punya anak laki-laki supaya enggak perlu aku lagi.”
Kalimat itu seperti menghantam sesuatu di dalam diri Arman.
Ia berlutut perlahan di depan Alya.
“Alya, lihat Papa.”
Alya menunduk.

“Lihat Papa, Nak.”
Akhirnya ia mengangkat wajah. Matanya sudah penuh air.
Arman menarik napas panjang, tetapi suaranya tetap bergetar.
“Papa punya Bima bukan untuk menggantikan kamu.”
Alya diam.
“Kamu anak pertama Papa. Dulu, waktu kamu lahir, Papa bahkan takut menggendongmu karena kamu kecil sekali. Papa sampai bangun tiap dua jam cuma buat memastikan kamu masih bernapas.”
Bibir Alya bergetar.
Arman melanjutkan, “Kalau Papa punya sepuluh anak lagi sekalipun, tempatmu enggak akan hilang.”
“Tapi Mama bilang…”
“Papa enggak tahu kenapa Mama bilang begitu.”
Suara Arman mulai pecah.
“Tapi dengar ini baik-baik. Kamu tidak numpang di rumah ini.”
Ia menunjuk lantai di bawah mereka.
“Ini rumah Papa.”
Lalu menunjukku.
“Ini rumah Tante Rani.”
Kemudian ia menoleh ke arah kamar Bima.
“Ini rumah Bima.”
Terakhir, tangannya menyentuh dada Alya dengan lembut.
“Dan ini juga rumahmu.”
Air mata yang sejak tadi ditahan Alya akhirnya jatuh.
Namun yang membuatku nyaris ikut menangis adalah pertanyaan berikutnya.
“Kalau aku tinggal lama… biaya sekolahku mahal enggak?”
Arman menutup mata sesaat.
“Siapa lagi yang bilang begitu?”
Alya tidak menjawab.
Kami tidak memaksanya.
Malam itu, setelah Alya tidur, aku dan Arman duduk di ruang makan sampai hampir pukul dua pagi.
Arman menelepon Maya berkali-kali.
Tidak diangkat.
Ia mengirim pesan.
Tidak dibalas.
Baru keesokan siangnya Maya menelepon dari bandara.
Nada suaranya terdengar santai.
“Kan cuma beberapa hari. Kenapa dibesar-besarkan?”
Arman sampai berdiri dari kursinya.
“Beberapa hari? Kamu meninggalkan anak umur sepuluh tahun di pinggir jalan!”
“Aku turunkan dekat rumahmu.”
“Dekat rumahku bukan berarti kamu boleh menyuruh dia jalan sendiri sambil bawa koper!”
Maya mendecakkan lidah.
“Aku buru-buru.”
Aku yang mendengar dari dapur langsung mengepalkan tangan.
Arman menahan emosinya.
“Kapan kamu pulang?”
“Belum tahu. Mungkin dua minggu.”
“Kalau begitu Alya tetap di sini.”
“Ya sudah.”
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Seolah-olah yang sedang dibicarakan bukan anaknya sendiri, melainkan sebuah tas yang dititipkan.
Maya bahkan sempat berkata, “Tolong jangan terlalu dimanja. Dia kalau dikasih hati suka lupa diri.”
Arman langsung memutus telepon.
Selama dua minggu berikutnya, kami mulai mengenal kebiasaan-kebiasaan kecil Alya yang sebelumnya tidak pernah kami ketahui.
Ia selalu bangun lebih pagi dari semua orang.
Ia merapikan tempat tidur tanpa satu kerutan pun.
Ia mencuci piringnya sendiri meskipun kami punya asisten rumah tangga yang datang tiga kali seminggu.
Kalau ada makanan tersisa di meja, Alya akan bertanya lebih dulu sebelum mengambilnya.
Kalau Bima mendapat mainan baru, ia tidak pernah menyentuh tanpa izin.
Dan setiap malam, koper birunya tetap berada di samping tempat tidur.
Tidak pernah dibongkar.
Aku pernah sengaja membeli beberapa gantungan baju warna putih dan meletakkannya di lemari.
“Biar bajumu enggak kusut.”
Alya hanya tersenyum.
Besok paginya, gantungan itu masih kosong.
Aku tidak memaksa.
Sampai suatu sore, hujan turun deras.
Bima dan Alya bermain monopoli di ruang keluarga.
Aku sedang memasak ketika tiba-tiba terdengar teriakan Bima.
“Kak Alya curang!”
“Aku enggak curang!”
“Curang!”
“Bima, kamu tadi sendiri yang salah hitung!”
Untuk pertama kalinya, aku mendengar Alya membela dirinya.
Bima mulai menangis.
Alya langsung pucat.
Ia berdiri begitu cepat sampai pion permainan jatuh.
“Aku enggak sengaja.”
Aku keluar dari dapur.
Bima masih menangis.
Alya sudah berjalan mundur.
“Aku ke kamar aja.”
“Tunggu.”
Tubuhnya langsung kaku.
Aku menatap Bima.
“Kenapa nangis?”
“Kak Alya enggak mau ulang hitungannya.”
“Memangnya siapa yang salah?”
Bima terdiam.
Aku mengenal anakku.
Kalau ia diam seperti itu, berarti jawabannya jelas.
“Bima.”
“Aku salah hitung sedikit.”
“Terus kenapa Kak Alya dibilang curang?”
Bima menunduk.
“Kesel.”
“Kalau begitu minta maaf.”
Bima mendekati Alya dengan wajah masam.
“Maaf, Kak.”
Alya menatapku.
Benar-benar menatapku.
Seolah ingin memastikan aku tidak akan berubah pikiran beberapa detik kemudian.
Malam itu, saat aku memeriksa kamarnya, aku melihat satu perubahan kecil.
Satu kaus putih miliknya sudah tergantung di lemari.
Hanya satu.
Aku tidak mengatakan apa pun.
Dua hari kemudian ada tiga.
Seminggu kemudian, setengah lemari terisi.
Koper biru itu akhirnya kosong.
Tetapi tetap berada di samping tempat tidur selama hampir tiga bulan.
Maya pulang dari Singapura setelah delapan belas hari.
Ia tidak langsung menjemput Alya.
Ia baru datang empat hari kemudian.
Itu pun tanpa masuk ke rumah.
Mobilnya berhenti di depan pagar.
Alya melihat dari jendela.
Wajahnya berubah.
Aku bertanya, “Mau pulang sama Mama?”
Dia tidak menjawab.
Arman berdiri di dekatnya.
“Alya boleh pilih.”
Maya membunyikan klakson.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Akhirnya ia turun dengan wajah kesal.
“Kalian sengaja bikin dia enggak mau pulang?”
Arman menjawab tenang, “Aku cuma tanya dia mau tinggal di mana.”
Maya tertawa pendek.
“Anak sepuluh tahun mau disuruh memilih?”
“Kamu juga yang menyuruh anak sepuluh tahun jalan sendiri ke rumah kami.”
Maya langsung diam.
Aku melihat Alya menggenggam ujung bajuku.
Sangat kuat.
Arman menunduk kepadanya.
“Kalau kamu mau ikut Mama, Papa antar sampai mobil.”
Alya menggeleng.
“Kalau kamu mau tinggal?”
Alya kembali menggeleng.
Arman bingung.
“Maksudnya?”
Alya mulai menangis.
“Aku takut kalau milih Papa, Mama marah.”
Maya langsung berkata, “Lihat? Dia sendiri enggak tahu.”
Aku hampir membalas, tetapi Arman mengangkat tangan.
Kemudian ia berkata kepada putrinya, “Kamu enggak harus memilih siapa yang kamu sayangi. Tapi kamu boleh memilih tempat yang membuat kamu merasa aman.”
Itulah hari Alya memutuskan tinggal bersama kami.
Bukan karena keputusan pengadilan.
Bukan karena perjanjian resmi.
Setidaknya belum.
Beberapa bulan kemudian, atas saran pengacara, Arman mengurus perubahan hak pengasuhan secara hukum.
Maya awalnya menolak.
Namun setelah diminta hadir dalam beberapa mediasi dan menyerahkan bukti pengeluaran serta pola pengasuhan, sikapnya berubah.
Ia setuju Alya tinggal bersama kami dengan syarat Arman tidak menuntut apa pun darinya.
Arman tidak meminta uang.
Ia hanya meminta satu hal.
“Kalau mau bertemu Alya, jangan datang hanya ketika kamu sedang bosan.”
Maya tidak menjawab.
Tahun-tahun berikutnya mengubah Alya perlahan-lahan.
Di usia sebelas tahun, ia berhenti bertanya apakah makanan di kulkas boleh diambil.
Di usia dua belas tahun, ia mulai menempel poster band kesukaannya di dinding kamar.
Di usia tiga belas tahun, ia pernah membanting pintu karena aku tidak mengizinkannya pergi ke konser tanpa orang dewasa.
Aneh, tapi malam itu aku justru tersenyum.
Karena akhirnya ia cukup merasa aman untuk marah.
Di usia empat belas tahun, ia mulai memanggilku “Bunda” tanpa direncanakan.
Saat itu kami sedang berada di toko buku.
Ia sedang melihat novel ketika berkata, “Bunda, yang ini bagus enggak?”
Kami berdua terdiam.
Wajah Alya langsung merah.
“Eh…”
Aku pura-pura tidak membuatnya canggung.
“Kalau kamu suka, ambil aja.”
Sejak hari itu, sebutan itu tidak pernah berubah.
Hubungan Alya dengan Maya tidak sepenuhnya terputus.
Sesekali Maya mengirim pesan.
Kadang mengucapkan selamat ulang tahun.
Kadang meminta foto.
Pernah juga mengajak Alya makan siang.
Tetapi janji-janji itu sering dibatalkan.
Kalau Hendra sedang sibuk, Maya mencari Alya.
Kalau keluarga barunya sedang punya acara, Alya seperti dilupakan.
Alya berhenti berharap.
Kami tidak pernah mengajarinya membenci ibunya.
Aku bahkan selalu mengatakan, “Bagaimanapun dia tetap Mama yang melahirkan kamu.”
Alya biasanya hanya mengangguk.
Ketika SMA, Alya tumbuh menjadi gadis yang sangat berbeda dari anak kecil yang datang membawa koper rusak.
Nilainya bagus.
Ia menyukai matematika dan desain.
Ia sering membantu Arman membuat rancangan sederhana untuk proyek interior.
Pada usia tujuh belas tahun, Alya diterima di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta untuk jurusan arsitektur dengan beasiswa prestasi sebagian.
Hari pengumuman itu, Arman sampai berteriak di ruang kerja.
“Alya masuk!”
Bima, yang sudah duduk di bangku SMP, berlari keluar sambil mengira rumah kebakaran.
Kami merayakannya dengan makan sederhana di rumah.
Alya bilang ia ingin menggunakan tabungannya untuk membantu biaya masuk.
Arman langsung menolak.
“Tabungan kamu buat kebutuhanmu.”
“Tapi Papa sudah banyak keluar uang.”
“Papa kerja memang buat keluarga.”
Alya menoleh kepadaku.
“Bunda…”
Aku mengangkat bahu.
“Kalau urusan begini, Bunda bela Papa.”
Ia akhirnya tertawa.
Beberapa minggu kemudian, sesuatu yang tidak kami duga terjadi.
Maya menghubungi Alya.
Bukan untuk memberi selamat.
Ia bertanya berapa biaya kuliah.
Alya menjawab jujur.
Maya kemudian berkata, “Kalau Papa kamu sekarang sukses, seharusnya bisa bayar semua.”
Alya tidak membalas.
Kami pikir selesai sampai di situ.
Ternyata tidak.
Suatu Minggu sore, bel rumah berbunyi.
Aku membuka pintu.
Maya berdiri di sana.
Tujuh tahun sejak hari ketika ia meninggalkan Alya dekat rumah kami.
Penampilannya masih rapi, tetapi wajahnya tampak lebih kurus.
Di tangannya ada sebuah map cokelat.
“Aku mau bicara sama Arman.”
Aku mempersilahkannya masuk.
Arman sedang membaca dokumen proyek.
Ketika melihat Maya, wajahnya langsung berubah.
“Ada apa?”
Maya duduk tanpa ditawari.
Ia meletakkan map cokelat di atas meja.
“Aku mau membicarakan pendidikan Alya.”
Aku sempat berpikir ia datang untuk membantu.
Ternyata kalimat berikutnya membuatku salah.
“Aku berhak menerima penggantian uang.”
Arman mengernyit.
“Uang apa?”
“Biaya Alya sejak kecil.”
Aku sampai mengira salah dengar.
Maya membuka map itu.
Di dalamnya ada lembaran-lembaran kertas.
Catatan sekolah dasar.
Biaya les.
Biaya dokter.
Bahkan beberapa struk lama.
“Aku membesarkan Alya hampir sepuluh tahun sebelum dia tinggal di sini. Sekarang kamu punya usaha besar, kamu harus ganti sebagian pengeluaranku.”
Arman menatapnya lama.
“Kamu serius?”
“Sangat.”
“Maya, selama Alya tinggal sama kamu, tiap bulan aku kirim uang.”
“Itu enggak cukup.”
“Aku bayar sekolahnya.”
“Bukan semuanya.”
“Aku bayar dokter kalau dia sakit.”
“Tapi dia tinggal sama aku. Aku yang repot.”
Nada suaranya semakin tinggi.
Aku melihat Arman mulai kehilangan kesabaran.
Namun sebelum ia bicara, terdengar langkah kaki dari tangga.
Alya berdiri di sana.
Entah sejak kapan.
Maya menoleh.
Wajahnya seketika berubah lembut.
“Alya.”
Alya turun perlahan.
Maya tersenyum.
“Mama sebenarnya datang karena memikirkan masa depan kamu.”
Alya tidak menjawab.
Maya melanjutkan, “Biaya kuliah kamu mahal. Mama cuma mau Papa kamu bertanggung jawab.”
Arman langsung berkata, “Aku bertanggung jawab.”
“Tapi jangan seolah-olah aku enggak pernah keluar uang untuk dia.”
Alya berdiri di tengah ruang tamu.
Tangannya mengepal.
Aku mengenal ekspresi itu.
Itu ekspresi yang sama seperti tujuh tahun lalu ketika ia takut meminta susu cokelat.
Hanya sekarang, ia bukan lagi anak kecil.
“Mama mau uang?”
Maya terdiam sebentar.
“Ini bukan soal uang. Ini soal keadilan.”
Alya mengangguk.
Kemudian ia berjalan ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa sesuatu.
Koper biru tua.
Koper yang sama.
Satu rodanya masih patah.
Kami menyimpannya di gudang selama bertahun-tahun.
Aku bahkan tidak tahu Alya masih mengingat tempatnya.
Ia meletakkan koper itu di depan Maya.
Krek.
Suara bagian bawahnya bergesekan dengan lantai.
Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.
Maya menatap koper itu.
Wajahnya pucat.
Alya membuka resleting.
Di dalamnya bukan pakaian.
Ada beberapa benda kecil.
Sepasang sepatu anak-anak.
Botol susu cokelat kosong yang entah bagaimana masih ia simpan.
Foto lama dirinya bersama Bima.
Dan sebuah amplop putih.
Alya mengambil amplop itu.
“Aku juga punya catatan, Ma.”
Maya menatapnya tanpa bicara.
“Waktu aku pertama tinggal di sini, aku menulis hal-hal yang harus kulakukan supaya enggak diusir.”
Ia membuka selembar kertas kecil.
Tulisan tangannya jelas tulisan anak-anak.
“Jangan ambil makanan banyak.”
“Jangan bikin Bima marah.”
“Jangan minta barang.”
“Jangan nangis.”
“Jangan bikin Papa dan Tante Rani menyesal menerima aku.”
Suara Alya mulai bergetar.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Arman menundukkan kepala.
Maya membeku.
Alya melipat kembali kertas itu.
“Kalau Mama mau menghitung biaya membesarkan aku, silakan.”
Maya membuka mulut.
Namun Alya belum selesai.
“Tapi aku juga mau menghitung.”
Ia menunjuk koper.
“Berapa harga tujuh tahun merasa aman?”
Maya tidak menjawab.
“Berapa harga bisa buka kulkas tanpa takut dimarahi?”
“Alya…”
“Berapa harga punya kamar yang aku tahu besok masih jadi kamarku?”
Air mata Maya mulai jatuh.
Namun Alya tetap berdiri tegak.
Kemudian ia mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh ruang tamu membeku.
“Kalau Mama benar-benar merasa membesarkanku adalah utang yang harus dibayar, kirim jumlahnya ke aku, karena aku tidak mau Bunda dan Papa membeli kembali anak yang sudah Mama lepaskan tujuh tahun lalu.”
Tidak ada seorang pun yang langsung bicara.
Maya memandang Alya seolah baru pertama kali melihat anaknya sebagai seseorang yang sudah dewasa.
Tangannya perlahan menarik map cokelat itu kembali.
“Alya… Mama waktu itu…”
“Waktu itu Mama pilih Om Hendra.”
“Alya, jangan begitu.”
“Aku enggak marah karena Mama pergi ke Singapura.”
Suara Alya justru semakin tenang.
“Aku marah karena sebelum pergi, Mama membuat aku percaya bahwa aku tidak layak dipilih siapa pun.”
Maya menangis.
Untuk pertama kalinya, aku tidak tahu apakah tangis itu lahir dari penyesalan atau karena akhirnya ia dipaksa melihat akibat dari pilihannya sendiri.
Ia berdiri.
Tidak ada tuntutan uang lagi.
Tidak ada perdebatan.
Sebelum pergi, Maya berhenti di depan pintu.
“Maaf.”
Alya tidak menjawab.
Maya lalu meninggalkan rumah.
Aku mengira semuanya selesai.
Namun malam itu, Alya mengetuk pintu kamar kami.
Ia membawa koper biru tadi.
“Papa.”
Arman menoleh.
“Kenapa?”
“Boleh buang koper ini?”
Arman terdiam.
Alya tersenyum tipis.
“Kayaknya aku enggak butuh lagi.”
Kami membawanya ke tempat sampah besar di depan kompleks.
Bima ikut turun.
Empat orang berdiri mengelilingi sebuah koper tua dengan roda patah seolah sedang mengikuti upacara kecil.
Alya sendiri yang memasukkannya.
Koper itu jatuh dengan suara keras.
Untuk beberapa saat, ia hanya memandanginya.
Lalu ia meraih tanganku dengan tangan kanan dan tangan Arman dengan tangan kiri.
“Ayo pulang.”
Bukan “ayo masuk.”
Bukan “ayo ke rumah.”
Ayo pulang.
Aku menatapnya dan baru menyadari bahwa tujuh tahun lalu, seorang anak datang ke rumah kami sambil menaruh sepatunya menghadap pintu karena selalu siap pergi.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia meninggalkan sesuatu di luar dan berjalan masuk tanpa menoleh ke belakang.
Karena akhirnya ia tahu, rumah bukan tempat yang menahan seseorang agar tidak pergi.
Rumah adalah tempat seseorang tidak perlu lagi bersiap untuk diusir.
