Pukul empat lewat empat puluh lima menit pagi, aku sudah berdiri di ballroom hotel tempat adikku akan menikah.
Tidak ada gaun bridesmaid di tubuhku.
Aku mengenakan blus krem sederhana, celana panjang hitam, dan sepatu datar yang nyaman untuk berjalan ke sana kemari.
Wajahku juga tidak kututupi dengan riasan tebal.
Bercak putih yang membentang dari pipi kiri hingga dekat pelipisku terlihat jelas di bawah cahaya lampu ballroom.
Aneh.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa ingin menyembunyikannya.
“Alya, bunga meja nomor tujuh salah warna.”
Suara ibu terdengar dari belakang.
Aku menoleh.
Beliau bahkan tidak mengatakan selamat pagi.
“Sudah aku hubungi vendornya. Lima belas menit lagi diganti.”
“Perhiasan tea ceremony?”
“Sudah di ruang pengantin.”
“Susunan meja keluarga Wijaya?”
“Sudah diperiksa dua kali.”
Ibu mengangguk puas.
“Nah, begini. Mama memang paling bisa mengandalkan kamu.”
Dulu kalimat itu membuatku bahagia.
Pagi itu aku hanya tersenyum.
“Ya, Ma.”
Aku kemudian berjalan menuju area panggung.
Di sana berdiri layar LED raksasa dengan tulisan nama Keisha dan Rendra.
Di bawahnya terdapat logo Pradana Atelier dan Wijaya Luxury.
Namun yang membuat langkahku berhenti adalah sebuah kalimat kecil.
Introducing 108 Collection by Keisha Pradana.
Aku menatapnya cukup lama.
Dua tahun pekerjaanku.
Ratusan sketsa.
Puluhan malam tanpa tidur.
Perjalanan ke Lombok, Surabaya, Yogyakarta, dan beberapa kota kecil untuk menemui pengrajin.
Semua diringkas menjadi satu baris.
By Keisha Pradana.
“Alya?”
Aku menoleh.
Ayah berdiri beberapa meter dariku.
“Kamu sudah lihat?”
“Sudah.”
Ayah tersenyum bangga.
“Bagus, kan? Ini akan menjadi langkah besar untuk Keisha.”
Aku memandangnya.
“Papa benar-benar yakin koleksi itu milik Keisha?”
Senyumnya sedikit menghilang.
“Apa maksudmu?”
“Tidak apa-apa.”
Aku berjalan pergi sebelum ia sempat bertanya lagi.
Pukul sembilan, prosesi pernikahan dimulai.
Ballroom dipenuhi hampir enam ratus tamu.
Para direktur, pemilik perusahaan, pejabat, influencer, dan keluarga besar Wijaya duduk di kursi terbaik.
Aku berada di barisan belakang.
Ketika Keisha berjalan menuju Rendra, semua orang berdiri.
Ia tampak sempurna.
Gaun putihnya berkilau.
Rambutnya tertata indah.
Dan di pergelangan tangannya ada gelang 108 mutiara yang tadi malam kulepas.
Entah kapan ia mengambilnya kembali.
Aku melihat gelang itu dan tersenyum kecil.
Mungkin memang seharusnya begitu.
Biarkan ia memakainya.
Karena sebentar lagi semua orang akan tahu siapa yang membuatnya.
Setelah prosesi selesai, resepsi dilanjutkan dengan makan siang dan presentasi bisnis.
Aku hampir meninggalkan ballroom ketika seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun menghampiriku.
“Mbak Alya?”
Aku mengenalnya.
Namanya Ratih Mahendra, direktur pengembangan Wijaya Luxury.
Kami pernah bertemu beberapa kali.
Namun keluarga Wijaya mengenalku sebagai staf desain Pradana Atelier.
“Bu Ratih.”
Ia memandangku sejenak.
“Kamu tidak jadi bridesmaid?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Aku tersenyum.
“Perubahan konsep.”
Ratih tampaknya memahami bahwa aku tidak ingin menjelaskan.
Ia kemudian berkata pelan, “Presentasi sebentar lagi dimulai.”
“Aku tahu.”
“Kamu sudah melihat materinya?”
“Belum.”
Ratih menatapku dengan ekspresi aneh.
“Alya, ada sesuatu yang menurutku harus kamu lihat.”
Ia menunjukkan tabletnya.
Slide pertama muncul.
Koleksi Seratus Delapan.
Creative Director: Keisha Pradana.
Di bawahnya terdapat beberapa desain.
Semuanya milikku.
Bahkan sketsa tangan yang kubuat di sebuah kafe dua tahun lalu ikut dimasukkan.
Namun ada satu hal yang membuatku tertawa kecil.
Mereka lupa menghapus kode SR108 pada sudut beberapa gambar.
SR.
Svara Rupa.
Ratih memperhatikan ekspresiku.
“Kamu tidak terkejut?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Aku memasukkan tangan ke dalam saku celana.
“Karena saya tahu siapa pemilik desain-desain itu.”
Beberapa menit kemudian lampu ballroom diredupkan.
Keisha naik ke panggung.
Rendra berdiri di sampingnya.
Ayah dan ibu duduk di meja utama bersama keluarga Wijaya.
Aku tetap berada di belakang.
Keisha mengambil mikrofon.
“Hari ini bukan hanya hari pernikahan saya.”
Ia tersenyum.
“Ini juga awal perjalanan baru bagi Pradana Atelier dan Wijaya Luxury.”
Tepuk tangan memenuhi ballroom.
Layar menampilkan foto gelang 108 mutiara.
Keisha mulai menceritakan filosofi koleksi itu.
Tentang kesabaran.
Tentang perempuan.
Tentang ketidaksempurnaan yang justru menciptakan keindahan.
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Perempuan yang semalam mengeluarkanku dari pernikahannya karena kulitku tidak sempurna kini berbicara tentang keindahan dalam ketidaksempurnaan.
“Setiap mutiara berbeda,” kata Keisha.
“Dan perbedaan itulah yang membuatnya berharga.”
Tepuk tangan kembali terdengar.
Kemudian salah seorang komisaris Wijaya Group berdiri.
“Luar biasa, Keisha. Berapa lama kamu mengembangkan konsep ini?”
Keisha menjawab tanpa ragu.
“Hampir dua tahun.”
Ayah tersenyum bangga.
Aku menundukkan kepala.
Cukup.
Tiba-tiba layar LED berkedip.
Slide Keisha menghilang.
Kemudian muncul halaman putih.
Di tengah layar terdapat sebuah logo.
Svara Rupa Indonesia.
Suasana ballroom langsung berubah.
Keisha menoleh ke operator.
“Apa ini?”
Layar berikutnya muncul.
Sertifikat pencatatan desain.
Tanggal pendaftaran.
Nama pencipta.
Alya Pradana.
Kemudian muncul foto-foto proses pengerjaan.
Aku bersama para pengrajin.
Aku memilih mutiara.
Aku menggambar sketsa.
Aku memeriksa prototipe.
Setiap foto memiliki tanggal hampir dua tahun sebelum hari pernikahan.
Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh ballroom.
Keisha memucat.
“Matikan!”
Namun layar tidak mati.
Ratih berdiri di dekat meja kontrol.
Ia tidak menyentuh apa pun.
Slide berikutnya muncul.
Daftar kolaborasi internasional Svara Rupa.
Singapura.
Tokyo.
Seoul.
Melbourne.
Amsterdam.
Kemudian angka penjualan tahun terakhir.
Ballroom mendadak sunyi.
Svara Rupa bukan perusahaan kecil.
Dalam tiga tahun terakhir, perusahaan yang kubangun diam-diam telah berkembang menjadi jaringan desain yang bekerja dengan puluhan pengrajin dan beberapa merek internasional.
Pradana Atelier selama ini bahkan pernah menjadi pemasok produksi untuk salah satu proyek kami tanpa mengetahui siapa pemilik akhirnya.
Keisha menatap ke arah belakang ballroom.
Matanya menemukan aku.
“Kak Alya.”
Semua kepala berbalik.
Aku berjalan menuju panggung.
Untuk pertama kalinya, aku tidak menundukkan wajah ketika ratusan orang menatap bercak putih di kulitku.
Aku menaiki tangga.
Keisha langsung mendekat.
“Kak, ini apa?”
“Presentasi.”
“Kenapa presentasimu ada di sini?”
Aku menatap Rendra.
“Karena Wijaya Luxury mengundang Svara Rupa enam bulan lalu untuk membicarakan kerja sama.”
Rendra membeku.
Ratih naik ke panggung.
“Benar.”
Ayah berdiri.
“Tunggu.”
Ia menatapku tidak percaya.
“Svara Rupa itu perusahaanmu?”
Aku mengangguk.
Ibu menutup mulutnya.
Keisha mulai panik.
“Tapi Koleksi Seratus Delapan milik Pradana Atelier.”
“Tidak.”
Aku mengeluarkan kotak beludru dari tas.
“Koleksi ini belum pernah kualihkan kepada Pradana Atelier.”
Aku membuka kotaknya.
Kosong.
Gelangnya berada di tangan Keisha.
“Aku membuat gelang pertama untukmu sebagai hadiah pernikahan.”
Aku menatapnya.
“Bukan sebagai izin untuk mengambil seluruh koleksiku.”
Keisha mulai menangis.
“Kak, aku tidak tahu Papa memasukkan semuanya.”
Ayah langsung menatapnya.
“Keisha!”
Aku tersenyum.
“Menarik.”
Aku mengambil tablet Ratih.
“Karena metadata presentasi menunjukkan file ini terakhir diedit dari laptopmu tadi malam.”
Wajah Keisha kehilangan warna.
Tidak ada lagi yang berbicara.
Rendra perlahan melepaskan tangannya dari tangan Keisha.
Persis seperti Keisha melepaskan tangannya dariku semalam.
“Apa lagi yang bukan milikmu?” tanyanya.
Keisha menatapnya.
“Mas, dengarkan aku.”
“Kampanye yang selama ini kamu bilang kamu buat?”
Keisha diam.
“Konsep ekspansi Pradana?”
Diam.
Rendra menoleh kepadaku.
“Kamu yang membuatnya?”
Aku tidak menjawab.
Tidak perlu.
Keheningan Keisha sudah memberikan jawabannya.
Ayah kemudian menghampiriku.
“Alya, kita bisa bicarakan ini di rumah.”
Aku memandangnya.
“Kenapa harus di rumah?”
“Ini masalah keluarga.”
Aku menggeleng.
“Ketika karya saya digunakan untuk mendapatkan kontrak bisnis, ini bukan lagi masalah keluarga.”
Wajah ayah menegang.
“Kamu mau mempermalukan adikmu di hari pernikahannya?”
Aku hampir tertawa.
“Papa masih mengira aku yang mempermalukannya?”
Ibu berdiri.
“Alya, cukup.”
Aku menatap ibu.
Untuk pertama kalinya, kata itu tidak memiliki kekuatan apa pun atas diriku.
“Belum, Ma.”
Aku memandang semua orang.
“Dua puluh tahun lalu Mama memilih pengobatan Keisha karena aku kakak dan harus mengerti.”
Wajah ibu berubah.
“Ketika aku berhenti kursus, aku harus mengerti.”
“Ketika ideku dipakai tanpa namaku, aku harus mengerti.”
“Ketika laki-laki yang pernah memintaku menunggunya memilih Keisha, aku juga harus mengerti.”
Rendra menundukkan kepala.
“Dan semalam, ketika Keisha mengatakan wajahku membuat keluarganya malu, Mama sekali lagi memintaku mengerti.”
Aku berhenti sebentar.
“Tapi ada satu hal yang baru kupahami.”
Aku menatap bercak putih di tanganku.
“Menjadi keluarga tidak berarti seseorang berhak menghapusmu agar dirinya terlihat lebih sempurna.”
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada musik.
Hanya keheningan.
Namun justru dalam keheningan itu, aku merasa lebih ringan daripada sebelumnya.
Aku menyerahkan mikrofon kepada Ratih.
Kemudian berbalik.
Rendra memanggilku.
“Alya.”
Aku berhenti.
Ia turun dari panggung.
“Aku minta maaf.”
Aku menatapnya.
Dulu aku membayangkan kalimat itu ribuan kali.
Kupikir jika suatu hari Rendra mengatakannya, mungkin hatiku akan sembuh.
Ternyata tidak.
Karena aku sudah tidak membutuhkan permintaan maafnya.
“Aku dulu pengecut,” katanya.
“Aku memilih sesuatu yang lebih mudah.”
Aku mengangguk.
“Aku tahu.”
“Apa masih ada kesempatan untuk kita bicara?”
Aku tersenyum.
“Tidak semua yang hilang harus ditemukan kembali, Ren.”
Aku berjalan meninggalkannya.
Namun sebelum keluar ballroom, seseorang memanggilku.
“Kak Alya!”
Keisha berlari.
Riasannya mulai rusak karena air mata.
Ia berhenti di depanku.
Kemudian perlahan membuka gelang 108 mutiara dari tangannya.
“Aku tidak pantas memakai ini.”
Ia menyerahkan gelang tersebut.
Aku melihatnya cukup lama.
Kemudian menutup kembali tangannya.
“Simpan.”
Keisha terkejut.
“Kenapa?”
“Karena gelang itu memang kubuat untukmu.”
Air matanya kembali jatuh.
“Aku sudah mengambil begitu banyak dari Kakak.”
Aku mengangguk.
“Benar.”
“Aku jahat.”
“Kadang-kadang.”
Keisha tertawa kecil di antara tangisnya.
“Kenapa Kakak masih memberikannya?”
Aku menyentuh gelang itu.
“Seratus delapan mutiara ini tidak ada yang benar-benar identik.”
Aku memandangnya.
“Aku memilihnya justru karena perbedaannya.”
Keisha menunduk.
Aku melanjutkan.
“Kamu tidak harus menjadi sempurna untuk dicintai, Kei.”
“Dan kamu juga tidak perlu membuat orang lain terlihat lebih kecil supaya kamu terlihat lebih besar.”
Keisha menangis tanpa suara.
Aku tidak memeluknya.
Belum.
Ada luka yang tidak selesai hanya dengan satu permintaan maaf.
Aku meninggalkan ballroom.
Tiga bulan kemudian, Pradana Atelier mengumumkan restrukturisasi besar.
Keisha mengundurkan diri sebagai kepala pemasaran dan memulai kembali dari posisi konsultan junior di perusahaan lain.
Ayah marah kepadaku selama hampir dua bulan.
Sampai suatu sore ia datang sendiri ke kantor Svara Rupa.
Ia berdiri lama di depan dinding yang dipenuhi foto para pengrajin.
“Ayah tidak tahu kamu membangun semua ini.”
Aku menjawab sederhana.
“Papa tidak pernah bertanya.”
Ia tidak mampu menjawab.
Kerja sama dengan Wijaya Luxury tetap berjalan.
Namun bukan melalui Keisha.
Kontrak ditandatangani langsung antara Wijaya Luxury dan Svara Rupa Indonesia.
Aku menolak menggunakan wajah model untuk kampanye pertamanya.
Sebagai gantinya, kami memotret tangan, wajah, dan kisah nyata para pengrajin yang membuat setiap perhiasan.
Perempuan dengan keriput.
Perempuan dengan bekas luka.
Perempuan dengan tubuh yang tidak sesuai standar iklan.
Dan aku.
Ketika tim kreatif bertanya apakah aku yakin ingin muncul tanpa menutupi vitiligoku, aku hanya mengatakan satu kata.
“Yakin.”
Foto kampanye itu akhirnya dipasang pada billboard besar di pusat Jakarta.
Wajahku memenuhi hampir seluruh papan.
Bercak putih di pipiku terlihat jelas.
Di bawahnya hanya ada satu kalimat.
Yang berbeda tidak perlu disembunyikan untuk menjadi berharga.
Beberapa minggu setelah billboard itu dipasang, ibu mengirimkan sebuah foto.
Dalam foto tersebut, beliau berdiri di bawah billboard bersama Keisha.
Tidak ada penjelasan panjang.
Hanya satu pesan.
Mama seharusnya mengatakan ini sejak kamu berusia tiga belas tahun.
Kamu tidak pernah menjadi anak yang harus mengalah hanya karena kamu kakak.
Maaf karena Mama terlambat menyadarinya.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Kemudian kusimpan ponselku.
Aku belum siap mengatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja.
Karena memang belum.
Memaafkan tidak selalu berarti melupakan.
Dan berdamai tidak berarti kembali menjadi orang yang sama.
Aku berdiri di depan jendela kantor Svara Rupa.
Di meja kerjaku terdapat sebuah kotak kecil yang baru dikirim Keisha.
Di dalamnya ada satu mutiara.
Bukan gelang.
Bukan perhiasan mahal.
Hanya sebuah mutiara yang bentuknya sedikit tidak sempurna.
Di bawahnya ada secarik kertas.
Aku hampir membuang mutiara ini karena bentuknya tidak sempurna.
Lalu aku teringat Kakak.
Untuk pertama kalinya, aku mengerti kenapa Kakak memilih 108 mutiara yang berbeda.
Aku tersenyum.
Kemudian menaruh mutiara itu di samping foto masa kecil kami.
Selama bertahun-tahun, keluargaku mengira bercak putih di wajahku adalah sesuatu yang harus disembunyikan.
Mereka tidak pernah menyadari bahwa noda sebenarnya bukan berada di kulitku.
Noda itu adalah cara kami memandang manusia.
Dan pada akhirnya, bukan kulitku yang perlu disembuhkan.
Melainkan keluarga kami yang harus belajar melihat kembali.
