DI ULANG TAHUNKU YANG KE-18, AKU BARU TAHU AKU TERTUKAR SAAT LAHIR; DUA KELUARGA BEREBUT MEMELUK PUTRI YANG BARU MEREKA TEMUKAN, 36 KADO MENUMPUK DI MEJA, SEMENTARA KETIKA AKU BERTANYA AKAN PULANG KE RUMAH SIAPA, TAK SEORANG PUN BERANI MENJAWAB

Nadira

Tak seorang pun bergerak.

Resepsionis hotel berdiri dengan senyum yang mulai kaku. Di belakangku, koper-koper kami berjajar rapi, seolah keenam orang yang datang pagi itu benar-benar sebuah keluarga utuh.

Padahal di atas meja hanya ada lima nama.

Papa Bima berdeham.

“Nanti Papa tambah satu kamar.”

Aku menatapnya.

“Bukan soal kamar.”

“Nadira, jangan mulai lagi,” katanya pelan, tetapi cukup tajam untuk membuat Alya menunduk.

Aku mengambil kembali lembar reservasi itu.

“Aku tidak mulai apa-apa. Aku cuma datang ke acara keluarga yang dari awal tidak memasukkan aku.”

Mama Maya memijat pelipis.

“Kami sudah bilang ini salah hitung.”

“Lima tiket. Lima sarapan. Lima kursi restoran. Lima nama di hotel. Salah hitungnya konsisten sekali.”

Bu Ratna tampak ingin bicara, lalu urung.

Pak Fajar akhirnya mendekati meja resepsionis.

“Tolong tambahkan satu kamar.”

Resepsionis memeriksa layar.

“Mohon maaf, Pak. Tipe kamar yang sama sudah penuh. Kami hanya punya satu kamar deluxe tersisa di gedung sebelah.”

Semua orang menoleh kepadaku.

Entah kenapa, tatapan mereka terasa seperti aku yang baru saja menciptakan masalah.

Alya tiba-tiba berkata, “Aku bisa sekamar sama Kak Nadira.”

Mama Maya langsung menyela.

“Kamu jangan pindah-pindah kamar. Kamu masih perlu istirahat.”

Bu Ratna mengangguk.

“Betul. Alya semalam juga susah tidur.”

Aku hampir tertawa.

Bahkan ketika Alya mencoba memberiku tempat, dua ibu itu buru-buru memastikan dia tidak perlu mengorbankan kenyamanannya.

“Aku ambil kamar gedung sebelah,” kataku.

Papa Bima mengeluarkan kartu kredit.

“Papa bayar.”

“Tidak perlu.”

“Nadira.”

“Aku bisa bayar sendiri.”

Aku memang bisa.

Sejak kelas sebelas, aku mengajar matematika daring tiga malam seminggu. Tidak banyak, tetapi cukup untuk punya tabungan sendiri.

Aku menyerahkan kartu debit kepada resepsionis.

Papa Bima menatapku seolah aku baru saja mempermalukannya.

Sore harinya, mereka pergi ke taman wisata.

Lima tiket akses cepat yang sudah dibeli tidak bisa ditambah karena kuota penuh.

Papa Bima berkata aku bisa membeli tiket reguler dan menyusul.

Aku tidak ikut.

Aku duduk di balkon hotel sambil mengisi formulir administrasi kampus.

Sekitar pukul tiga, foto-foto mulai masuk ke grup.

Alya diapit dua ibu.

Alya memegang es krim.

Alya naik wahana bersama dua ayah.

Foto keluarga berlima di depan gerbang.

Kali ini, beberapa menit setelah foto dikirim, Mama Maya menulis:

“Nadira, lain kali ikut ya supaya lengkap.”

Aku memandang kalimat itu lama.

Supaya lengkap.

Bukan karena mereka merindukanku.

Bukan karena mereka ingin aku berada di sana.

Hanya supaya jumlahnya genap.

Malamnya mereka pulang membawa banyak kantong belanja.

Alya mengetuk kamarku.

Di tangannya ada sebuah gantungan kunci berbentuk bunga edelweiss.

“Aku beliin ini buat Kakak.”

Aku menerimanya.

“Terima kasih.”

Dia berdiri canggung di ambang pintu.

“Boleh masuk?”

Aku menggeser tubuh.

Alya duduk di tepi ranjang.

Beberapa detik kami sama-sama diam.

Kemudian dia berkata, “Aku sebenarnya takut sama Kakak.”

Aku mengernyit.

“Kenapa?”

“Karena sejak kecil aku hidup sebagai Nadira Wiratama yang seharusnya.”

Kalimat itu membuat dadaku mengencang.

Alya meremas ujung bajunya.

“Aku punya kamar yang seharusnya mungkin jadi kamar Kakak. Aku sekolah pakai uang mereka. Aku dipeluk Mama Maya setiap kali sakit. Semua itu seharusnya…”

“Bukan.”

Dia menatapku.

“Jangan bicara begitu.”

“Tapi kalau rumah sakit tidak salah…”

“Alya.”

Aku memotongnya.

“Kamu tidak mencuri apa pun dariku.”

Matanya mulai basah.

“Lalu kenapa semua orang rasanya seperti sedang memilih aku?”

Aku tidak langsung menjawab.

Karena itu pertanyaan yang sama yang terus menghantam kepalaku sejak ulang tahun kami.

Akhirnya aku berkata, “Mungkin karena memilihmu lebih mudah.”

“Maksudnya?”

“Mereka sudah mengenalmu. Keluarga Pradipta membesarkanmu. Keluarga Wiratama melihat wajah mereka di wajahmu. Kamu adalah masa lalu yang familiar sekaligus penemuan baru.”

Aku menelan sesuatu yang terasa pahit.

“Sedangkan aku adalah bukti bahwa mereka gagal.”

Alya langsung menggeleng.

“Jangan bilang begitu.”

“Tapi itu kenyataannya.”

Bagiku, keluarga Wiratama melihat delapan belas tahun kasih sayang yang ternyata mereka berikan kepada anak orang lain.

Keluarga Pradipta melihat anak kandung yang asing.

Aku adalah seseorang yang seharusnya dekat, tetapi terasa jauh.

Jauh lebih mudah memeluk Alya daripada belajar mencintaiku dari awal.

Pintu kamar tiba-tiba diketuk.

Mama Maya muncul.

Begitu melihat Alya di kamarku, ia tersenyum.

“Nah, bagus. Kalian harus dekat.”

Kemudian ia menoleh kepada Alya.

“Ayo turun. Papa sudah pesan steak favoritmu.”

Aku berdiri.

“Reservasinya untuk berapa orang?”

Senyumnya menghilang.

“Sudah enam.”

Untuk pertama kalinya.

Aku turun bersama mereka.

Malam itu hampir terasa normal.

Kami makan bersama.

Pak Fajar bertanya tentang universitas yang menerimaku.

Bu Ratna bertanya aku suka makanan apa.

Papa Bima bahkan berkata akan membantuku mencari kos dekat kampus jika asrama penuh.

Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai hidangan penutup.

Alya menerima telepon.

Wajahnya pucat.

“Apa?”

Semua orang langsung diam.

Ia menutup telepon dan menatap kami.

“Rumah sakit menelepon. Katanya ada perkembangan soal investigasi kasus kita.”

Keesokan harinya kami membatalkan perjalanan dan kembali ke Bandung.

Di rumah sakit, seorang manajer hukum bernama Ibu Siska sudah menunggu bersama dua orang dari bagian administrasi.

Di atas meja ada sebuah map tua.

“Kami melakukan audit terhadap catatan persalinan delapan belas tahun lalu,” katanya.

Aku merasakan telapak tanganku dingin.

“Kesimpulan sementara kami, kejadian ini kemungkinan bukan sekadar kesalahan administratif.”

Mama Maya membeku.

“Apa maksudnya?”

Ibu Siska membuka map.

“Gelang identitas kedua bayi tercatat benar saat lahir.”

Ia memperlihatkan salinan dokumen.

Nama ibu.

Jam lahir.

Nomor bayi.

Semua berbeda.

“Pertukaran terjadi sekitar tiga jam setelah persalinan.”

Pak Fajar berdiri.

“Jadi ada yang sengaja menukar mereka?”

“Kami belum bisa memastikan motifnya.”

Kemudian Ibu Siska mengeluarkan satu lembar lain.

“Tetapi ada nama perawat yang bertugas di ruang bayi malam itu.”

Nama itu membuat Bu Ratna langsung menjatuhkan gelas.

Siti Marhamah.

Semua orang menoleh kepadanya.

Wajah Bu Ratna kehilangan warna.

Pak Fajar bertanya pelan, “Kamu kenal?”

Bu Ratna tidak menjawab.

“Ratna?”

“Aku…”

Tangannya gemetar.

“Aku pernah kenal dia.”

Ruangan berubah sunyi.

Bu Ratna menutup wajah.

“Dia sepupuku.”

Mama Maya berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Apa?”

Bu Ratna menangis.

“Sumpah, aku tidak tahu.”

Tetapi tak seorang pun langsung mempercayainya.

Termasuk aku.

Ibu Siska menjelaskan bahwa Siti sudah pensiun lebih dari sepuluh tahun lalu. Alamat terakhirnya berada di Garut.

Polisi sudah diberi tahu.

Hari itu juga, dua keluarga mulai saling menuduh.

Mama Maya menuduh keluarga Pradipta terlibat.

Pak Fajar membalas bahwa tidak ada alasan mereka menukar bayi.

Papa Bima berkata ia akan menggugat rumah sakit.

Bu Ratna hanya menangis.

Di tengah semua suara itu, Alya menarik tanganku keluar.

Kami duduk di lorong.

“Aku capek,” bisiknya.

Aku mengangguk.

“Aku juga.”

Ia menatapku.

“Kak, kalau nanti ternyata keluargaku memang terlibat…”

“Mereka juga keluargaku secara darah.”

Dia terdiam.

Kalimat itu membuat kami sama-sama sadar betapa absurd keadaan kami.

Dua hari berikutnya seperti badai.

Kemudian polisi menemukan Siti.

Perempuan itu tinggal sendirian di sebuah rumah kecil di pinggiran Garut.

Ia sakit ginjal dan sudah menjalani cuci darah bertahun-tahun.

Yang mengejutkan, begitu mendengar nama kami, ia tidak menyangkal.

Ia meminta bertemu dengan kedua keluarga.

Pertemuan berlangsung di kantor polisi.

Siti duduk di kursi roda.

Wajahnya kurus.

Matanya berpindah dari Alya kepadaku.

Kemudian ia menangis.

“Saya yang menukar gelang kalian.”

Bu Ratna tersedu.

“Kenapa?”

Siti menunduk.

“Karena uang.”

Papa Bima mengepalkan tangan.

“Siapa yang membayar?”

Siti menatap Mama Maya.

Semua orang ikut menoleh.

Mama Maya tampak ketakutan.

Kemudian Siti berkata,

“Ibu dari Pak Bima.”

Papa Bima membeku.

“Nenek?”

Aku pernah mengenal Nenek Laras.

Beliau meninggal ketika aku berusia tiga belas tahun.

Perempuan disiplin yang selalu berkata keluarga Wiratama harus dijaga dengan cara apa pun.

“Kenapa?” tanyaku.

Suara itu keluar lebih pelan dari yang kubayangkan.

Siti menatapku lama.

“Karena waktu lahir, dokter menemukan bercak kecil di bahu kamu.”

Aku spontan menyentuh bahu kiri.

Ada tanda lahir cokelat berbentuk tidak beraturan yang selalu kumiliki.

“Terus?”

“Nenekmu mengira itu penyakit kulit turunan.”

Papa Bima menutup mata.

Siti melanjutkan.

“Dia juga tahu bayi di sebelah kalian lahir sehat dan punya golongan darah yang cocok dengan keluarga Wiratama. Dia panik. Dia takut cucunya punya penyakit yang akan mempermalukan keluarga.”

Mama Maya mulai menangis.

“Bodoh sekali…”

“Saya diberi uang.”

“Dan kamu menukar bayi hanya karena itu?” Pak Fajar membentak.

Siti terisak.

“Saya punya anak yang perlu operasi jantung.”

Tak ada alasan yang bisa mengembalikan delapan belas tahun.

Tak ada motif yang cukup baik untuk membenarkan perbuatannya.

Namun bagian paling menyakitkan justru datang setelah itu.

Siti membuka tas kecil di pangkuannya.

“Saya menyimpan ini.”

Sebuah amplop tua.

Di dalamnya ada surat tulisan tangan Nenek Laras.

Papa Bima membacanya dengan tangan gemetar.

Semakin lama, wajahnya semakin pucat.

“Apa isinya?” tanya Mama Maya.

Ia tidak menjawab.

Aku merebut surat itu.

Di bagian akhir tertulis:

Jika bayi kandung Bima suatu hari ditemukan, pastikan anak itu tidak kembali ke keluarga Wiratama. Rahasia ini harus dibawa sampai mati.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Tiga kali.

Lalu tertawa kecil.

Jadi bahkan sebelum aku bisa berjalan, seseorang sudah memutuskan aku tidak layak pulang.

Papa Bima mencoba menyentuh bahuku.

Aku mundur.

“Nadira…”

“Aku mau pergi ke Yogyakarta besok.”

Mama Maya panik.

“Besok? Bukannya masih lima hari lagi?”

“Aku diterima program relawan.”

“Kita belum selesai membicarakan ini.”

“Justru aku sudah selesai.”

Bu Ratna berdiri.

“Kamu bisa tinggal bersama kami dulu.”

Aku menatapnya.

“Di kamar mana?”

Dia terdiam.

Ternyata rumah Pradipta juga hanya memiliki dua kamar anak.

Satu milik Alya.

Satu sudah diubah menjadi ruang kerja.

Aku tersenyum.

Bukan karena lucu.

Karena tiba-tiba semuanya menjadi sangat jelas.

Selama beberapa hari terakhir, empat orang dewasa terus mengatakan mereka mencintaiku.

Namun tak satu pun benar-benar membuat ruang untukku.

Bukan hanya ruang emosional.

Bahkan ruang yang memiliki pintu dan ranjang.

Malam sebelum keberangkatan, aku kembali ke rumah Wiratama untuk mengambil barang.

Kamarku masih seperti biasa.

Foto kelulusan.

Rak buku.

Piala olimpiade.

Boneka lama.

Aku memasukkan pakaian ke koper.

Mama Maya berdiri di pintu.

“Kalau kamu pergi sekarang, orang akan mengira kami mengusirmu.”

Aku berhenti melipat baju.

“Itu yang Mama takutkan?”

Ia terpukul.

“Bukan begitu.”

“Tapi kalimat pertama Mama tentang apa yang dipikirkan orang.”

Mama Maya menangis.

“Apa yang harus Mama lakukan supaya kamu percaya Mama sayang?”

Aku memandang perempuan yang membesarkanku selama delapan belas tahun.

“Aku tidak butuh tiga puluh enam hadiah.”

Ia menutup mulut.

“Aku cuma butuh malam itu Mama menjawab satu kalimat sederhana.”

Aku menatapnya.

“Pulanglah ke rumah.”

Tangisnya pecah.

“Kenapa Mama tidak bilang?”

Dia tidak punya jawaban.

Papa Bima muncul di belakangnya.

Wajahnya hancur.

“Karena kami bodoh.”

Aku mengangguk.

Setidaknya akhirnya ada satu jawaban yang jujur.

Keesokan pagi, keempat orang tua dan Alya datang mengantarku ke stasiun Bandung.

Tak ada pesta perpisahan.

Tak ada drama.

Hanya enam orang berdiri dengan canggung di dekat peron.

Bu Ratna memberiku sebuah kotak makan.

Pak Fajar menyelipkan uang yang langsung kukembalikan.

Papa Bima menyerahkan map dokumen.

Mama Maya memelukku lama.

Alya adalah orang terakhir.

Ia memberiku amplop.

“Buka di kereta.”

Ketika kereta mulai bergerak, aku membuka amplop itu.

Di dalamnya ada foto ulang tahun kami.

Bukan foto berlima di restoran.

Foto yang diambil entah oleh siapa ketika aku masih duduk di ujung meja.

Alya sedang membuka hadiah.

Semua orang melihatnya.

Sedangkan aku terlihat di latar belakang, memegang map universitas sendirian.

Di belakang foto, Alya menulis:

Kak, aku tidak bisa mengembalikan delapan belas tahun yang seharusnya menjadi milikmu.

Tapi mulai sekarang, kalau semua orang lupa melihat ke arahmu, aku akan melihat.

Aku menangis untuk pertama kalinya sejak malam ulang tahun.

Bukan karena sedih.

Karena akhirnya ada seseorang yang tidak mencoba memiliki dua keluarga sekaligus.

Dia hanya memilih menjadi saudaraku.

Tiga bulan kemudian, grup Keluarga Kita Ber-Enam berganti nama.

Bukan oleh Mama Maya.

Bukan oleh Papa Bima.

Alya yang menggantinya.

Namanya menjadi:

Belajar Jadi Keluarga.

Di dalam grup itu, Mama Maya mengirim foto sebuah kamar baru di rumah Wiratama.

Tidak ada dekorasi berlebihan.

Hanya ranjang, meja belajar, rak buku, dan tirai warna krem.

“Kalau kamu pulang, kamar ini tetap milikmu.”

Beberapa menit kemudian Bu Ratna mengirim foto dari rumah Pradipta.

Ruang kerjanya sudah dipindahkan.

Kamar kosong itu diberi meja kecil dan lemari.

“Di sini juga.”

Aku menatap dua foto itu lama.

Lalu mengetik:

Terima kasih.

Tapi liburan semester ini aku belum tahu akan tinggal di mana.

Papa Bima langsung menjawab:

Tidak apa-apa.

Pak Fajar menulis:

Pilih sendiri.

Mama Maya menambahkan:

Kamu tidak perlu memilih kami supaya kami memilih kamu.

Aku terdiam membaca kalimat itu.

Delapan belas tahun aku percaya rumah adalah tempat seseorang dibesarkan.

Kemudian dalam satu malam, aku percaya rumah adalah tempat seseorang berasal.

Ternyata keduanya salah.

Rumah bukan soal darah.

Bukan pula soal siapa yang lebih dulu memanggilmu anak.

Rumah adalah tempat keberadaanmu diperhitungkan sebelum kamu harus bertanya.

Tempat orang menyediakan kursi sebelum kamu datang.

Tempat namamu sudah tertulis di daftar.

Tempat ketika kamu bertanya, “Aku pulang ke mana?”

Seseorang tidak diam.

Mereka membuka pintu.

Dan berkata,

“Ke sini.”

Pada ulang tahunku yang kesembilan belas, aku pulang ke Bandung.

Di restoran yang berbeda, sebuah meja panjang sudah menunggu.

Ada enam kursi.

Enam piring.

Enam gelas.

Dan hanya enam hadiah.

Satu untuk masing-masing orang.

Alya menatap meja lalu berbisik,

“Kurang mewah dibanding tahun lalu.”

Aku tertawa.

“Jauh lebih mahal.”

“Apanya?”

Aku melihat empat orang tua yang sedang berdebat soal siapa yang harus memotong kue.

Lalu melihat kursi di sampingku yang sengaja disimpan Alya sejak satu jam sebelumnya.

“Tempatnya.”

Alya tersenyum.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak mengetahui aku tertukar saat lahir, aku tidak bertanya akan pulang ke rumah siapa.

Karena akhirnya aku mengerti sesuatu.

Aku tidak sedang menunggu dipilih oleh sebuah keluarga.

Mereka semua sedang belajar menjadi keluarga yang pantas kupilih.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang