KAKEK TUA INI MENGHABISKAN 20 TAHUN MENANAM RIBUAN POHON DI BUKIT GUNDUL SAMBIL DIANGGAP GILA.

Bayu berdiri terpaku di tengah jalan setapak, sementara suara mesin buldozer dari kaki bukit semakin keras.

Di layar tabletnya, wajah Nenek Utami terbentang begitu jelas di antara ribuan tajuk pohon. Mahoni membentuk garis wajah, pinus menciptakan bayangan rambut, sedangkan flamboyan yang sedang berbunga menyusun nama UTAMI seperti sapuan cat merah di atas kanvas hijau.

Air mata Bayu belum sempat mengering ketika suara teriakan terdengar dari belakang.

“Mas Bayu! Mereka mulai naik!”

Bayu menoleh.

Pak Wiryo, salah seorang petani desa, berlari terengah-engah menuju arahnya. Di belakang lelaki itu, beberapa warga mulai berkumpul. Wajah mereka tegang melihat tiga buldozer bergerak perlahan menaiki jalur tanah.

Juragan Tito berdiri di dekat kendaraan paling depan.

“Kosongkan jalan!” teriaknya. “Kami punya izin kerja!”

Bayu menatap tablet sekali lagi.

Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di kepalanya.

Ia merekam seluruh tampilan dari udara, mengambil beberapa foto beresolusi tinggi, lalu mengirimkannya kepada Raka, teman kuliahnya di Solo yang bekerja sebagai videografer lepas.

Pesannya hanya satu kalimat.

“Sebarkan sekarang. Jangan tunggu aku.”

Bayu kemudian berjalan menuju buldozer.

Tito langsung tersenyum mengejek ketika melihatnya.

“Sudah selesai berduka?”

Bayu berhenti beberapa meter di depannya.

“Pak Tito, beri saya waktu satu hari.”

“Satu hari untuk apa?”

“Untuk menunjukkan apa yang sebenarnya akan Anda hancurkan.”

Tito tertawa.

“Aku tidak peduli.”

Ia memberi isyarat kepada operator.

Mesin buldozer kembali meraung.

Namun Bayu tidak bergeser.

“Kalau Bapak tetap maju, silakan tabrak saya lebih dulu.”

Beberapa warga tersentak.

“Bayu!” teriak Pak Wiryo.

Tito menatap pemuda itu dengan wajah berubah kaku.

“Kamu pikir aku takut?”

“Entahlah.”

Bayu mengangkat ponselnya.

“Tapi sekarang ada lebih dari seratus orang yang merekam.”

Tito menoleh.

Benar saja.

Warga desa mulai berdatangan. Sebagian mengangkat ponsel. Anak-anak muda yang mendengar kabar melalui grup WhatsApp desa ikut berlari menuju bukit.

Tito mengumpat pelan.

Ia akhirnya memerintahkan operator mematikan mesin.

“Beri dia waktu sampai besok pagi,” katanya kepada mandor. “Setelah itu, ratakan semuanya.”

Tito berbalik dan pergi.

Bayu tahu ia hanya memiliki waktu beberapa jam.

Namun sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan mulai terjadi.

Video drone yang dikirimkan Raka menyebar sangat cepat.

Awalnya hanya diunggah ke media sosial dengan keterangan sederhana tentang seorang petani tua di Karanganyar yang menanam ribuan pohon selama dua puluh tahun untuk membentuk wajah mendiang istrinya.

Dalam dua jam, video itu ditonton puluhan ribu kali.

Menjelang sore, jumlahnya menembus ratusan ribu.

Komentar berdatangan dari berbagai kota.

Ada yang mengagumi kesetiaan Kakek Sastro.

Ada yang mempertanyakan rencana pertambangan.

Ada pula mahasiswa lingkungan, fotografer, komunitas pecinta alam, hingga jurnalis yang mulai mencari lokasi bukit tersebut.

Namun perhatian Bayu tertuju pada satu pesan yang masuk ke ponselnya.

Pesan itu dikirim seorang perempuan bernama Dr. Ratih Prameswari, dosen kehutanan dari Yogyakarta.

“Saya melihat video Anda. Jangan biarkan satu pohon pun ditebang. Saya sedang menuju Karanganyar.”

Ratih tiba malam itu bersama dua rekannya.

Mereka tidak datang untuk melihat mahakarya Kakek Sastro saja.

Mereka membawa peta hidrologi, data citra satelit, dan perangkat pengukur sederhana.

Setelah hampir tiga jam memeriksa beberapa titik, Ratih menemui Bayu di rumah Kakek Sastro.

Wajahnya serius.

“Kakekmu melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang terlihat dari drone.”

Bayu mengerutkan kening.

“Maksud Ibu?”

Ratih membuka laptop.

Ia menunjukkan citra bukit dari dua puluh tahun lalu dan membandingkannya dengan kondisi sekarang.

“Dulu kawasan ini kehilangan hampir seluruh tutupan vegetasinya. Tanahnya tererosi dan kemampuan menyimpan air sangat rendah.”

Ratih menunjuk beberapa garis biru.

“Setelah pohon-pohon ini tumbuh, daerah resapan terbentuk kembali. Mata air di sisi selatan muncul lagi. Debit air tanah di sekitar desa juga membaik.”

Bayu terdiam.

Ia teringat ucapan para petani bahwa sumur mereka tidak lagi cepat kering.

“Kalau hutan ini ditambang?”

Ratih menarik napas.

“Risikonya bukan hanya kehilangan pohon. Lereng bagian timur cukup curam. Jika lapisan batu dan akar yang menahan tanah rusak, beberapa permukiman di bawahnya bisa menghadapi longsor saat hujan ekstrem.”

Dada Bayu terasa sesak.

Kakeknya ternyata bukan hanya meninggalkan sebuah potret cinta.

Ia telah membangun benteng hidup bagi desa.

Pagi berikutnya, Juragan Tito kembali.

Namun kali ini, ia tidak menemukan bukit yang sepi.

Ratusan warga telah berdiri di sepanjang jalan.

Beberapa wartawan berada di sana.

Mahasiswa membawa poster.

Komunitas lingkungan memasang spanduk.

Bahkan beberapa petugas dari pemerintah daerah datang setelah video Kakek Sastro menjadi pembicaraan luas.

Tito turun dari mobil dengan wajah merah.

“Apa-apaan ini?”

Bayu maju.

“Kami meminta pekerjaan dihentikan sampai status izin dan dampak lingkungannya diperiksa ulang.”

Tito mengeluarkan map.

“Aku punya dokumen!”

“Kalau semuanya sah, Bapak tidak perlu takut diperiksa.”

Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.

Tito menatap Bayu tajam.

Kemudian ia tersenyum tipis.

“Kamu terlalu muda untuk memahami bagaimana dunia bekerja.”

Ia mendekat dan berbisik.

“Pohon tidak punya sertifikat, Bayu. Pohon tidak punya uang. Dan orang mati tidak bisa mempertahankan tanah.”

Bayu menahan amarah.

Namun sebelum ia menjawab, sebuah suara tua terdengar dari kerumunan.

“Tanah itu punya sertifikat.”

Semua orang menoleh.

Pak Wiryo berjalan maju sambil membawa kotak kayu kecil.

Bayu mengenalinya.

Kotak itu biasa disimpan Kakek Sastro di lemari kamar, tetapi selama ini tidak pernah dibuka.

“Ini ditemukan tadi malam di bawah tumpukan pakaian almarhum,” kata Pak Wiryo.

Bayu membuka kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat dokumen lama, beberapa foto, sebuah buku catatan, dan sertifikat tanah.

Tangannya langsung gemetar.

Nama yang tertulis sebagai pemegang hak bukan perusahaan Tito.

Bukan pula Kakek Sastro.

Melainkan Utami Sastrodiharjo.

Neneknya.

Bayu menatap Pak Wiryo kebingungan.

“Kenapa atas nama Nenek?”

Pak Wiryo menunduk.

“Dulu tanah bukit ini warisan keluarga Nenek Utami. Kakekmu sengaja tidak pernah menjualnya.”

Tito merebut pandangan ke dokumen tersebut.

“Dokumen tua begitu bisa saja sudah tidak berlaku!”

Salah seorang petugas pemerintah maju.

“Itu yang akan kami verifikasi.”

Wajah Tito berubah.

Petugas itu melanjutkan.

“Dan sampai pemeriksaan selesai, seluruh kegiatan alat berat dihentikan.”

Sorak warga langsung pecah.

Namun persoalan ternyata belum selesai.

Dalam pemeriksaan beberapa hari berikutnya, ditemukan kejanggalan pada dokumen penguasaan lahan milik perusahaan Tito.

Nomor bidang tidak sesuai.

Beberapa tanda tangan berasal dari orang yang bahkan telah meninggal sebelum dokumen dibuat.

Lebih buruk lagi, kajian lingkungan yang digunakan untuk mendukung rencana pertambangan ternyata mencantumkan bukit tersebut sebagai lahan semak tidak produktif.

Padahal citra satelit jelas menunjukkan kawasan itu telah menjadi hutan lebat selama bertahun-tahun.

Kasus tersebut kemudian ditangani pihak berwenang.

Izin pertambangan dibekukan selama penyelidikan.

Juragan Tito yang sebelumnya begitu percaya diri mulai jarang terlihat di desa.

Sementara itu, mahakarya Kakek Sastro semakin terkenal.

Orang-orang datang dari berbagai daerah untuk melihatnya.

Namun Bayu menolak menjadikan bukit itu tempat wisata massal.

Ia takut terlalu banyak pengunjung justru merusak ekosistem yang dibangun kakeknya.

Sebagai gantinya, ia bekerja sama dengan warga dan akademisi untuk mengembangkan kawasan konservasi berbasis desa.

Hanya sejumlah kecil pengunjung diperbolehkan masuk setiap hari.

Tidak ada kendaraan bermotor menuju bagian atas.

Tidak ada bangunan beton.

Tidak ada pohon yang boleh ditebang.

Pendapatan dari kunjungan digunakan untuk menjaga hutan dan membantu kebutuhan air serta pendidikan warga.

Beberapa bulan kemudian, pada awal musim hujan, Bayu kembali menerbangkan drone.

Ia ingin mengambil gambar terbaru untuk dokumentasi.

Namun ketika drone mencapai ketinggian sekitar lima ratus meter, ia melihat sesuatu yang membuatnya terdiam.

Wajah Nenek Utami terlihat berbeda.

Bukan rusak.

Justru lebih sempurna.

Flamboyan yang sebelumnya belum berbunga kini menyala merah di bagian tertentu. Pohon-pohon muda di sisi timur telah tumbuh cukup tinggi sehingga membentuk garis baru.

Bayu memperbesar gambar.

Di bawah nama UTAMI, muncul pola yang sebelumnya tidak terlihat jelas.

Huruf-huruf itu perlahan terbaca.

TERIMA KASIH SUDAH MENEMANIKU PULANG.

Bayu menutup mulutnya.

Air matanya jatuh.

Jadi Kakek Sastro telah memperhitungkan waktu berbunga.

Ia bahkan memperhitungkan pertumbuhan pohon setelah dirinya meninggal.

Bayu segera mengambil buku catatan yang ditemukan dalam kotak kayu.

Selama ini ia mengira buku itu hanya berisi angka jarak tanam.

Namun di halaman terakhir terdapat tulisan tangan Kakek Sastro.

Tulisan itu goyah, mungkin ditulis ketika tangannya sudah sering gemetar.

“Untuk Bayu, kalau kamu akhirnya melihat semuanya dari langit, berarti Kakek sudah tidak ada.”

Bayu membaca perlahan.

“Kakek tidak pernah menanam hutan ini supaya dikenang sebagai orang hebat. Kakek hanya takut suatu hari manusia lupa bahwa sesuatu yang paling berharga sering kali tidak bisa dihitung dengan uang.”

Napas Bayu tercekat.

“Awalnya Kakek memang hanya ingin membuat wajah nenekmu. Tapi setelah beberapa tahun, burung kembali. Mata air kembali. Tanah yang mati mulai hidup. Saat itulah Kakek sadar, cinta yang benar tidak seharusnya hanya menjadi kenangan. Cinta harus membuat sesuatu tetap hidup setelah kita pergi.”

Bayu tidak mampu melanjutkan selama beberapa saat.

Di halaman berikutnya terdapat satu kalimat terakhir.

“Kalau suatu hari ada orang yang ingin menghancurkan bukit ini demi uang, jangan pertahankan wajah Nenek Utami. Pertahankan air, tanah, burung, pohon, dan kehidupan orang-orang di bawahnya. Karena itulah mahakarya yang sebenarnya.”

Bayu menangis.

Selama ini semua orang mengira wajah Nenek Utami adalah mahakarya Kakek Sastro.

Ternyata mereka salah.

Potret raksasa itu hanyalah pintu masuk.

Mahakarya sesungguhnya adalah kehidupan yang kembali tumbuh di bukit yang dahulu mati.

Setahun kemudian, sebuah plakat kayu sederhana dipasang di jalan masuk kawasan konservasi.

Tidak ada patung Kakek Sastro.

Tidak ada monumen mewah.

Bayu sengaja mempertahankan kesederhanaan yang disukai kakeknya.

Di plakat itu hanya tertulis sebuah kalimat.

“Di bukit ini, seorang lelaki menanam cintanya. Lalu cinta itu tumbuh menjadi hutan.”

Suatu sore, Bayu duduk di bawah pohon mahoni sambil memandang anak-anak desa bermain di dekat mata air.

Seorang anak kecil mendekatinya.

“Mas Bayu, benar Kakek Sastro menanam semua pohon ini sendirian?”

Bayu tersenyum.

“Hampir semuanya.”

“Kenapa dia mau capek-capek selama dua puluh tahun?”

Bayu menatap ke arah puncak.

Angin sore menggoyangkan ribuan daun hingga terdengar seperti bisikan panjang dari seluruh bukit.

“Dulu orang-orang juga menanyakan hal yang sama.”

“Lalu jawabannya apa?”

Bayu tersenyum kecil.

“Karena Kakek tahu sesuatu yang baru kami pahami setelah dia pergi.”

“Apa?”

Bayu menunjuk pepohonan di hadapan mereka.

“Bahwa manusia tidak harus hidup selamanya untuk meninggalkan sesuatu yang hidup selamanya.”

Anak itu mengangguk meski mungkin belum benar-benar memahami.

Kemudian ia berlari kembali menuju teman-temannya.

Bayu tetap duduk sendirian.

Dari kejauhan, flamboyan merah bermekaran di antara hijau mahoni dan pinus.

Jika dilihat dari tanah, semuanya hanya tampak seperti hutan biasa.

Tidak seorang pun bisa melihat wajah Nenek Utami.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada gambar.

Hanya pohon, tanah, burung, dan suara air.

Bayu akhirnya memahami mengapa sebelum meninggal Kakek Sastro berkata bahwa ia harus melihat semuanya dari tempat yang tepat.

Kadang-kadang, untuk memahami alasan seseorang melakukan sesuatu selama bertahun-tahun, manusia memang harus mengubah sudut pandangnya.

Dan dua puluh tahun setelah seorang lelaki tua pertama kali menancapkan cangkulnya ke tanah tandus sambil dianggap gila oleh tetangganya, seluruh desa akhirnya melihat apa yang sejak awal telah dilihat Kakek Sastro.

Ia tidak sedang menanam pohon.

Ia sedang menanam masa depan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang