MISTERI ANGKOT KOSONG PUKUL 18.00! SOPIR TUA INI SELALU BERHENTI DI HALTE SEPI, TERNYATA ALASANNYA MEMBUAT PENGUSAHA KAYA INI MENANGIS HISTERIS!

Hardianto menatap langsung ke mata Pak Suratman.

“Saya ada di tempat ini.”

Kalimat itu membuat udara di dalam angkot terasa mendadak lebih dingin.

Pak Suratman tidak bergerak. Tangannya yang semula terletak di atas setir perlahan mengepal. Beberapa penumpang saling berpandangan, tetapi tak seorang pun berani bersuara.

Hujan masih menghantam atap angkot dengan keras.

“Apa maksud Bapak?” tanya Pak Suratman akhirnya.

Hardianto menunduk. Dadanya naik turun cepat. Selama dua belas tahun, ia mengira dirinya sudah berhasil mengubur malam itu bersama kesuksesan, uang, dan kehidupan barunya.

Ternyata tidak.

“Saya melihat kecelakaan itu.”

Pak Suratman menatapnya tajam.

“Bapak saksi?”

Hardianto menggeleng perlahan.

Gerakan kecil itu membuat wajah Pak Suratman berubah.

“Kalau bukan saksi, lalu apa?”

Hardianto membuka mulut, tetapi suaranya seperti tertahan di tenggorokan.

“Mobil yang menabrak Bu Retno malam itu adalah mobil saya.”

Keheningan seketika memenuhi angkot.

Seorang perempuan di bangku belakang menutup mulut karena terkejut.

Pak Suratman tidak berkedip.

Beberapa detik ia hanya memandang Hardianto seolah belum memahami kalimat yang baru saja didengarnya.

“Apa?”

“Saya yang mengemudikannya.”

Pak Suratman langsung meraih kerah kemeja Hardianto.

Tubuh pengusaha itu terdorong ke belakang.

“Bapak bilang apa?”

“Pak, tenang dulu!” seru seorang penumpang.

Namun Pak Suratman seperti tidak mendengar.

Dua belas tahun kesedihan yang selama ini ia simpan berubah menjadi amarah dalam sekejap.

“Jadi Bapak yang membunuh istri saya?”

Hardianto tidak melawan.

“Kalau Bapak mau memukul saya, pukul saja.”

“Kenapa baru sekarang?”

Air mata Hardianto kembali mengalir.

“Karena saya pengecut.”

Pak Suratman mengangkat tangannya.

Hardianto memejamkan mata, menunggu pukulan.

Namun tangan itu berhenti di udara.

Pak Suratman gemetar hebat.

Akhirnya ia melepaskan kerah Hardianto dan kembali duduk. Napasnya berat. Matanya menatap kosong ke arah halte.

“Ceritakan semuanya.”

Hardianto mengusap wajahnya.

Dua belas tahun lalu, hidupnya sangat berbeda.

Saat itu ia belum menjadi pengusaha besar. Ia baru berusia tiga puluhan dan sedang berusaha menyelamatkan perusahaan kecil milik ayahnya dari kebangkrutan.

Malam kecelakaan itu, ia baru saja menerima kabar bahwa seorang investor bersedia memberikan modal, tetapi dengan syarat Hardianto harus membawa sejumlah dokumen sebelum pukul delapan malam.

Ia mengemudi sendiri menerobos hujan.

“Saya terlalu cepat,” katanya. “Saya tahu jalan licin, tapi saya tetap memacu mobil.”

Ketika sampai di tikungan dekat halte, sebuah sepeda motor tiba-tiba keluar dari gang.

Hardianto membanting setir.

Mobilnya kehilangan kendali.

Ia masih mengingat suara benturan itu.

Suara yang menghantuinya selama bertahun-tahun.

Ketika keluar dari mobil, ia melihat seorang perempuan tergeletak di tepi jalan.

Perempuan itu mengenakan seragam perawat.

Retno.

“Saya mendekatinya. Dia masih sadar.”

Pak Suratman langsung menoleh.

“Apa?”

“Bu Retno belum meninggal saat itu.”

Wajah Pak Suratman semakin pucat.

Hardianto menangis.

“Saya mengangkatnya ke mobil. Saya berniat membawanya ke rumah sakit.”

“Lalu?”

Hardianto menundukkan kepala dalam-dalam.

“Telepon saya berbunyi.”

Investor yang menunggunya menelepon. Jika ia tidak tiba dalam waktu dua puluh menit, kesepakatan dibatalkan.

Hardianto panik.

Di satu sisi ada perempuan terluka di mobilnya.

Di sisi lain ada perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut dan puluhan karyawan yang terancam kehilangan pekerjaan.

“Saya membuat keputusan paling keji dalam hidup saya.”

Pak Suratman menatapnya tanpa berkedip.

“Saya menelepon ambulans. Setelah memastikan ada orang lain yang datang membantu, saya pergi.”

“Kamu meninggalkan istri saya?”

Suara Pak Suratman berubah.

Tidak lagi terdengar marah.

Justru lebih menyakitkan karena begitu pelan.

“Saya pikir ambulans akan segera datang.”

“Bapak pikir?”

Hardianto menutup wajahnya.

“Hujan membuat ambulans terlambat. Saya baru tahu keesokan harinya bahwa Bu Retno meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.”

Pak Suratman memalingkan wajah.

Air matanya jatuh.

Selama dua belas tahun, ia selalu menyalahkan dirinya sendiri.

Ia menganggap Retno meninggal karena ia terlambat menjemput.

Sekarang, untuk pertama kalinya, ia mengetahui bahwa ada seseorang yang sebenarnya berada di samping istrinya pada saat-saat terakhir.

“Apakah dia mengatakan sesuatu?”

Pertanyaan itu membuat Hardianto membeku.

Pak Suratman menatapnya.

“Ketika istri saya masih sadar, apakah dia mengatakan sesuatu?”

Hardianto merogoh tas kerjanya.

Tangannya masih gemetar ketika mengeluarkan sebuah dompet kulit tua.

Dari bagian terdalam dompet itu, ia mengambil sebuah benda kecil yang dibungkus plastik bening.

Sebuah gantungan kunci berbentuk angkot berwarna hijau.

Pak Suratman langsung mengenalinya.

Wajahnya runtuh.

“Itu…”

“Bu Retno menggenggam ini.”

Pak Suratman mengambil gantungan kunci tersebut dengan tangan gemetar.

Ia yang membelinya di pasar malam bertahun-tahun lalu.

Hadiah murah untuk Retno.

Saat itu Retno tertawa dan berkata bahwa gantungan kunci itu jelek, tetapi sejak hari itu benda tersebut selalu tergantung di tasnya.

“Kenapa ada pada Bapak?”

“Dia memberikannya kepada saya.”

Pak Suratman menatap Hardianto.

Hardianto menarik napas panjang.

“Ketika saya mengangkatnya ke mobil, dia bertanya jam berapa.”

Suara Hardianto mulai pecah.

“Saya bilang hampir pukul tujuh.”

Retno tersenyum.

Bahkan dalam keadaan kesakitan, perempuan itu tidak marah kepada orang yang menabraknya.

Ia hanya terus melihat ke arah jalan.

Lalu ia berkata dengan suara lemah bahwa suaminya pasti sedang mencarinya.

Hardianto bertanya siapa nama suaminya.

“Dia bilang, Suratman. Sopir angkot.”

Pak Suratman menutup mulutnya.

Hardianto melanjutkan.

“Sebelum saya pergi, dia memegang tangan saya.”

Retno kemudian melepaskan gantungan kunci itu dan memberikannya kepada Hardianto.

“Dia berkata, kalau saya bertemu suaminya, tolong berikan ini.”

Pak Suratman menangis tanpa suara.

“Tapi saya tidak pernah mencari Bapak.”

Hardianto menunduk.

“Itulah dosa terbesar saya.”

Ia takut.

Jika mengaku, ia mungkin dipenjara. Perusahaan keluarganya bisa hancur. Masa depannya akan berakhir.

Maka Hardianto memilih diam.

Bisnisnya kemudian berkembang.

Perusahaannya semakin besar.

Rumahnya semakin mewah.

Mobilnya semakin mahal.

Tetapi setiap kali hujan turun pada malam hari, ia terbangun dengan suara benturan yang sama di kepalanya.

Ia bahkan tidak pernah lagi mengemudikan mobil ketika hujan deras.

“Selama dua belas tahun saya membawa benda itu,” katanya. “Saya selalu bilang pada diri sendiri bahwa suatu hari saya akan mencari Bapak.”

Hardianto tertawa pahit.

“Tapi semakin kaya saya, semakin takut saya kehilangan semuanya.”

Pak Suratman menggenggam gantungan kunci tersebut erat-erat.

“Jadi selama dua belas tahun saya menunggu istri saya di sini, sementara Bapak membawa pesan terakhirnya?”

Hardianto tidak mampu menjawab.

Pak Suratman membuka pintu angkot.

“Turun.”

Hardianto menatapnya.

“Pak…”

“Turun!”

Hardianto turun ke tengah hujan.

Pak Suratman ikut turun.

Para penumpang mengamati dari balik jendela.

Di bawah pohon beringin, Pak Suratman berjalan menuju bangku semen tua.

Ia duduk.

Hardianto berdiri beberapa meter darinya, basah kuyup.

Beberapa saat kemudian Pak Suratman berkata, “Apa pesan terakhir Retno?”

Hardianto mendekat.

“Dia bilang, jangan biarkan suami saya menyalahkan dirinya sendiri.”

Pak Suratman membeku.

“Dia bilang apa?”

“Bu Retno berkata Bapak pasti akan merasa bersalah karena terlambat.”

Hardianto terisak.

“Dia bilang, bilang kepada Mas Man bahwa aku tahu dia pasti datang. Dia selalu datang.”

Pak Suratman menundukkan kepala.

Tangisnya pecah.

Selama dua belas tahun, setiap pukul enam sore ia berhenti di halte itu untuk meminta maaf kepada seorang perempuan yang tidak pernah menyalahkannya.

Selama dua belas tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa ia telah mengingkari janji.

Padahal Retno meninggal dengan keyakinan bahwa suaminya akan datang.

Hardianto berlutut di depan Pak Suratman.

“Saya akan menyerahkan diri.”

Pak Suratman mengangkat wajah.

“Saya sudah punya pengacara. Saya akan menceritakan semuanya kepada polisi. Saya tidak peduli apa akibatnya.”

“Kenapa sekarang?”

“Karena hari ini saya akhirnya mengerti.”

Hardianto menatap angkot tua itu.

“Tadi mobil saya mogok beberapa kilometer dari sini. Sopir saya mencoba memanggil bantuan, tapi entah kenapa saya merasa harus turun dan mencari kendaraan sendiri.”

Ia tertawa getir.

“Dari puluhan angkot di Bandung, saya naik angkot Bapak.”

Pak Suratman terdiam.

“Barangkali selama ini bukan Bapak yang menunggu Bu Retno di halte ini.”

Hardianto menatapnya dengan mata merah.

“Barangkali saya yang sedang dibawa kembali ke sini untuk menyelesaikan sesuatu yang saya tinggalkan dua belas tahun lalu.”

Beberapa minggu kemudian, Hardianto benar-benar datang ke kantor polisi.

Kasus lama itu dibuka kembali.

Penyelidikan menemukan bahwa kecelakaan tersebut memang terjadi karena mobil Hardianto kehilangan kendali. Namun catatan lama juga membuktikan bahwa ia sempat menelepon layanan darurat dan beberapa warga telah datang sebelum ia meninggalkan lokasi.

Proses hukum berjalan panjang.

Hardianto tidak mencoba menggunakan kekayaannya untuk melarikan diri.

Ia menerima seluruh konsekuensinya.

Tetapi sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi setelah itu.

Hardianto menjual salah satu rumah mewahnya.

Uang hasil penjualan digunakan untuk membangun klinik darurat dan pusat pertolongan pertama tidak jauh dari lokasi kecelakaan.

Klinik itu diberi nama Klinik Retno Lestari.

Pak Suratman awalnya menolak keras ketika mendengarnya.

“Saya tidak mau nama istri saya dipakai untuk membersihkan dosa Bapak.”

Hardianto mengangguk.

“Saya mengerti.”

Ia lalu menyerahkan seluruh pengelolaan klinik kepada sebuah yayasan independen dan tidak mencantumkan namanya sebagai penyumbang.

“Saya tidak membutuhkan orang tahu saya membangunnya.”

Hardianto menatap Pak Suratman.

“Saya hanya ingin kalau suatu hari ada orang mengalami kecelakaan di jalan ini, dia tidak perlu menunggu pertolongan selama Retno menunggu.”

Pak Suratman tidak menjawab.

Namun sejak hari itu, kemarahannya perlahan berubah.

Bukan menjadi lupa.

Bukan pula menjadi pembenaran.

Ia hanya mulai memahami bahwa memaafkan tidak selalu berarti menghapus kesalahan seseorang.

Terkadang memaafkan berarti berhenti membiarkan kesalahan itu menghancurkan sisa hidup kita.

Setahun berlalu.

Suatu sore, tepat pukul 17.58, angkot Pak Suratman kembali mendekati halte tua.

Beberapa penumpang yang sudah sering naik bersamanya tahu apa yang akan terjadi.

Namun kali ini sesuatu berbeda.

Pak Suratman tidak menyalakan lampu sein.

Angkot terus melaju.

Seorang penumpang langganan yang duduk di depan terkejut.

“Pak, tidak berhenti?”

Pak Suratman tersenyum.

Di dekat dasbor tergantung sebuah gantungan kunci kecil berbentuk angkot hijau.

“Tidak lagi.”

“Kenapa?”

Pak Suratman melihat halte itu melalui kaca spion.

Bangku semen tempat Retno dahulu menunggu terlihat semakin jauh.

Untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun, tidak ada rasa bersalah yang menusuk dadanya.

Yang tersisa hanyalah rindu.

“Karena saya baru sadar,” katanya pelan, “selama ini istri saya tidak pernah meminta saya menunggunya.”

Angkot terus bergerak.

Namun sekitar seratus meter kemudian, Pak Suratman mendadak menginjak rem.

Seorang perempuan muda berseragam perawat berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan.

Ia naik dan duduk di bangku depan.

“Maaf, Pak,” katanya sambil tersenyum. “Bisa lewat Klinik Retno Lestari?”

Pak Suratman terdiam sesaat.

“Bisa.”

Perempuan itu memperhatikan gantungan kunci di dasbor.

“Lucu sekali gantungan kuncinya.”

Pak Suratman tersenyum.

“Pemberian istri saya.”

“Beliau pasti suka angkot.”

Pak Suratman terkekeh kecil.

“Tidak. Dia sebenarnya bilang gantungan itu jelek.”

Perempuan muda itu ikut tertawa.

Untuk beberapa detik, Pak Suratman merasa seolah mendengar tawa yang sangat dikenalnya.

Ia menatap langit Bandung yang mulai berubah jingga.

Jam di dasbor menunjukkan pukul 18.05.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, lima menit itu tidak dihabiskannya dengan menatap bangku kosong.

Ia menghabiskannya dengan membawa seseorang pulang.

Dan saat itulah Pak Suratman akhirnya memahami arti janji yang sesungguhnya.

Janji kepada orang yang telah pergi tidak selalu harus ditepati dengan berdiri di tempat yang sama selamanya.

Kadang-kadang, cara terbaik menepati sebuah janji adalah berani melanjutkan perjalanan.

Pak Suratman menggenggam setir dan tersenyum.

Di kaca spion, halte tua itu menghilang perlahan di antara lampu-lampu Kota Bandung.

Kali ini ia tidak menoleh lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang