“Tujuh tahun, Aris…”
Jawaban Elena terdengar lirih, tetapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Aris menegang.
Suasana lobi mendadak terasa sunyi. Derasnya hujan di balik dinding kaca seperti menjauh dari pendengarannya. Aris hanya melihat anak laki-laki yang menggigil dalam pelukan Elena.
“Kapan dia lahir?” tanyanya.
Elena memalingkan wajah.
“Jangan, Aris.”
“Kapan?”
Nada suaranya meninggi hingga beberapa karyawan saling berpandangan.
Anak kecil itu terbangun dan mengerang pelan.
“Ibu… dingin…”
Wajah Elena langsung berubah panik.
“Iya, Sayang. Sebentar lagi kita pulang.”
Ia hendak berjalan, tetapi Aris menahan langkahnya.
“Dia anak saya?”
Elena terdiam.
Pertanyaan itu membuat semua orang di lobi membeku.
“Elena, jawab saya.”
Air mata Elena jatuh semakin deras.
Sebelum ia sempat menjawab, tubuh anak itu tiba-tiba kejang kecil. Kepalanya terkulai di bahu Elena.
“Raka!”
Elena menjerit.
Aris refleks menangkap tubuh anak itu sebelum terjatuh.
“Raka! Bangun, Nak!”
Elena mengguncang bahunya dengan panik.
Aris menyentuh dahi anak tersebut dan langsung terkejut. Panasnya sangat tinggi.
“Siapkan mobil!” bentaknya kepada sopir.
“Aris, aku bisa membawanya sendiri.”
“Dengan apa?”
Elena terdiam.
Aris menatap pakaian Elena yang basah, tas lusuh di tangannya, lalu sepatu Raka yang sudah hampir robek.
“Dia butuh rumah sakit sekarang.”
Tanpa menunggu persetujuan, Aris mengangkat Raka dan berlari menuju mobil.
Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan.
Dokter segera membawa Raka ke ruang pemeriksaan. Elena berdiri di lorong dengan wajah pucat, sementara Aris mondar-mandir beberapa meter darinya.
Setelah hampir satu jam, dokter keluar.
“Demamnya cukup tinggi akibat infeksi saluran pernapasan dan kondisi tubuhnya sangat lemah. Anak ini juga mengalami kekurangan nutrisi.”
Elena menutup mulut, menahan tangis.
“Tapi bisa sembuh, Dok?” tanya Aris cepat.
“Bisa. Namun sebaiknya dirawat beberapa hari.”
“Lakukan apa pun yang diperlukan.”
Elena menoleh.
“Aku tidak punya uang untuk rumah sakit ini.”
Aris menatapnya tajam.
“Saya tidak sedang bertanya siapa yang akan membayar.”
Setelah dokter pergi, kesunyian kembali menyelimuti mereka.
Elena duduk di kursi lorong.
Aris berdiri di hadapannya.
“Sekarang jawab pertanyaan saya.”
Elena mengusap air matanya.
“Bukan sekarang.”
“Delapan tahun saya hidup dengan kebohonganmu.”
Elena mengangkat wajah.
“Kebohongan apa?”
“Kamu meninggalkan saya demi pria kaya. Itu yang kamu tulis.”
Wajah Elena berubah.
“Aku tidak pernah menulis surat itu.”
Aris terdiam.
“Apa?”
“Aku tidak pernah menulis surat apa pun.”
Untuk pertama kalinya, kemarahan di wajah Aris berubah menjadi kebingungan.
“Saya menemukan surat itu di apartemenmu.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu siapa yang menulisnya?”
Elena menatapnya lama.
“Ibumu.”
Aris seperti kehilangan kemampuan berbicara.
“Mama?”
Elena mengangguk pelan.
Delapan tahun lalu, ketika Aris masih berjuang membangun karier, ibunya, Ratna Wijaya, tidak pernah menyukai Elena. Keluarga Wijaya memang belum sekaya sekarang, tetapi mereka berasal dari keluarga terpandang. Sementara Elena adalah anak penjual makanan dari Bogor yang bekerja sebagai kasir minimarket.
“Aku hamil saat itu,” lanjut Elena.
Aris membeku.
“Aku ingin memberitahumu. Tapi sebelum sempat, ibumu datang menemuiku.”
Elena menarik napas gemetar.
“Dia tahu lebih dulu karena aku pernah menitipkan hasil pemeriksaan di tasmu. Dia mengambilnya.”
Aris merasakan darahnya mendidih.
“Apa yang dia lakukan?”
“Dia mengatakan kalau aku benar-benar mencintaimu, aku harus pergi.”
Elena tersenyum pahit.
“Katanya kamu baru mendapat kesempatan kerja besar di Surabaya. Kalau keluargamu tahu aku hamil, kamu akan dipaksa menikah denganku dan seluruh masa depanmu akan hancur.”
“Itu alasanmu meninggalkan saya?”
“Bukan hanya itu.”
Elena menunduk.

“Ibumu menunjukkan dokumen utang ayahku.”
Aris terdiam.
“Ayahku saat itu punya utang hampir tiga ratus juta karena usaha kateringnya bangkrut. Rumah kami akan disita. Ibumu menawarkan melunasi semuanya kalau aku pergi dan tidak pernah menghubungimu lagi.”
Aris mengepalkan tangan.
“Kamu menerima uang itu?”
Elena mengangguk.
Aris tertawa getir.
“Jadi pada akhirnya memang soal uang.”
Elena menatapnya dengan mata merah.
“Kalau hanya aku yang akan kehilangan rumah, aku tidak akan menerimanya. Tapi ayahku sakit stroke, ibuku tidak bekerja, dan aku sedang mengandung anakmu.”
Suaranya pecah.
“Aku takut, Aris.”
Aris tidak menjawab.
“Ibumu juga bilang kamu sudah tahu aku hamil dan kamu tidak menginginkan anak itu.”
“Itu bohong!”
“Aku baru dua puluh empat tahun! Aku sendirian, hamil, dan seluruh keluargaku hampir kehilangan tempat tinggal. Aku mempercayainya.”
Elena menangis.
“Aku pergi ke Bogor. Setelah itu, nomor teleponmu tidak bisa kuhubungi. Aku mengirim beberapa email, tetapi tidak pernah dibalas.”
“Saya tidak pernah menerima email darimu.”
“Aku tahu sekarang.”
Aris menatap kosong ke lantai.
Potongan-potongan masa lalu mulai menyatu menjadi gambaran yang mengerikan.
Beberapa hari setelah Elena pergi, ibunya memang mengganti nomor telepon Aris dengan alasan nomor lamanya sering diteror penagih utang perusahaan tempatnya bekerja. Ibunya pula yang membawa surat perpisahan Elena ke apartemennya.
Selama delapan tahun, Aris membenci wanita yang mungkin tidak pernah mengkhianatinya.
“Raka…” suara Aris melemah. “Dia anak saya?”
Elena memejamkan mata.
“Ya.”
Satu kata itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Aris.
Ia terduduk.
Semua kemarahan yang selama ini menjadi bahan bakar hidupnya mendadak terasa tidak berarti.
“Saya punya anak selama tujuh tahun…”
Elena menangis tanpa suara.
“Dan saya tidak tahu.”
“Aku pernah mencoba mencarimu tiga tahun lalu,” katanya. “Tapi waktu itu perusahaanmu sudah besar. Aku datang ke kantor lama, tetapi tidak bisa bertemu denganmu.”
“Kenapa tidak mencoba lagi?”
“Aku melihat berita tentangmu. Tentang perusahaanmu, keluargamu, kehidupanmu.”
Elena mengusap wajah.
“Aku pikir mungkin memang lebih baik Raka tidak masuk ke dunia keluarga Wijaya.”
Aris berdiri.
“Lalu bagaimana kamu bisa sampai seperti ini?”
Elena terdiam cukup lama.
“Ayah meninggal dua tahun lalu. Setelah itu ibu sakit. Aku menjual rumah untuk biaya pengobatan. Enam bulan lalu tempatku bekerja tutup.”
Ia tersenyum tipis.
“Tabunganku habis. Kontrakan sudah menunggak dua bulan.”
Aris merasakan dadanya seperti dihantam sesuatu.
Wanita yang pernah berbagi sebungkus nasi dengannya ketika ia tidak punya uang kini sampai harus memohon pekerjaan di tengah hujan demi memberi makan anak mereka.
Aris masuk ke kamar Raka.
Anak itu sedang tertidur dengan infus terpasang di tangan kecilnya.
Perlahan Aris duduk di samping tempat tidur.
Ia memperhatikan wajah Raka.
Sekarang ia melihatnya dengan jelas.
Ada dirinya di sana.
Aris mengulurkan tangan, tetapi berhenti beberapa sentimeter dari kepala anak itu.
Ia takut menyentuhnya.
Takut anak itu terbangun dan bertanya siapa dirinya.
“Ayah.”
Aris tersentak.
Raka membuka mata sedikit.
“Apa?”
Anak itu menatapnya lemah.
“Ibu pernah punya foto Om.”
Aris menahan napas.
“Dia bilang itu foto ayahku.”
Air mata yang tidak pernah keluar selama bertahun-tahun akhirnya jatuh dari mata Aris.
“Kamu tahu tentang saya?”
Raka mengangguk kecil.
“Ibu bilang Ayah orang baik. Cuma… belum tahu jalan pulang.”
Aris menutup wajahnya.
Kalimat sederhana itu menghancurkan pertahanan terakhirnya.
Elena ternyata tidak pernah mengajarkan Raka membencinya.
Bahkan setelah semua penderitaan yang dialaminya.
Keesokan paginya, Aris mendatangi rumah ibunya.
Ratna sedang sarapan ketika Aris meletakkan surat lama itu di atas meja.
“Ini tulisan Mama?”
Wajah Ratna seketika berubah.
“Aris…”
“Jawab.”
Ratna menunduk.
“Ya.”
Aris tertawa pendek, tetapi matanya merah.
“Delapan tahun.”
“Dengarkan Mama dulu.”
“Delapan tahun Mama membuat saya membenci ibu dari anak saya.”
Ratna terkejut.
“Anak?”
“Namanya Raka.”
Wajah Ratna memucat.
Ratna ternyata tidak pernah tahu Elena mempertahankan kehamilannya. Ia mengira Elena akan menggugurkannya setelah menerima uang.
“Apa Mama tahu apa yang paling lucu?” kata Aris. “Saya bekerja seperti orang gila karena ingin membuktikan Elena salah meninggalkan saya karena miskin.”
Ia menatap ibunya.
“Ternyata orang yang membuat saya menjadi seperti ini justru Mama.”
Ratna menangis.
“Mama hanya ingin melindungi masa depanmu.”
“Tidak. Mama ingin mengendalikan masa depan saya.”
Aris meninggalkan rumah tanpa menoleh lagi.
Namun ketika kembali ke rumah sakit, masalah lain menunggunya.
Elena dan Raka sudah tidak ada.
Di atas meja hanya terdapat secarik kertas.
Terima kasih sudah menolong Raka. Aku tidak ingin kehadiran kami menghancurkan keluargamu lagi. Tolong jangan mencari kami.
Aris langsung berlari keluar.
Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Elena pergi tanpa sempat ia hentikan.
Tetapi kali ini Aris tidak akan membiarkannya menghilang.
Ia meminta staf rumah sakit memeriksa kamera keamanan. Elena terlihat naik taksi menuju terminal Kampung Rambutan.
Aris menyusul.
Hujan kembali turun ketika ia tiba.
Di antara ratusan orang, ia melihat Elena menggandeng Raka menuju sebuah bus antarkota.
“Elena!”
Elena berhenti.
Aris berlari menghampiri mereka.
“Apa lagi, Aris?”
“Kamu mau pergi ke mana?”
“Bogor. Aku masih punya saudara di sana.”
Aris menatap Raka, lalu Elena.
“Jangan pergi.”
Elena tersenyum sedih.
“Aku tidak meminta kamu bertanggung jawab.”
“Tapi saya ingin bertanggung jawab.”
“Karena kasihan?”
“Bukan.”
Aris mendekat.
“Karena selama delapan tahun saya hidup untuk membalas dendam kepada seseorang yang ternyata tidak pernah mengkhianati saya.”
Suaranya bergetar.
“Dan selama tujuh tahun, anak saya tumbuh tanpa saya.”
Elena menunduk.
“Saya tidak meminta kamu kembali menjadi pasangan saya,” lanjut Aris. “Saya bahkan tidak tahu apakah saya masih pantas mendapatkan kesempatan itu.”
Ia berjongkok di depan Raka.
“Tapi izinkan saya belajar menjadi ayahnya.”
Raka menatap ibunya.
Elena menangis.
Aris lalu berdiri dan mengeluarkan sebuah kartu identitas karyawan dari sakunya.
“Apa ini?” tanya Elena.
“Kemarin kamu datang untuk mencari pekerjaan.”
Elena menatap kartu tersebut.
Tertulis nama lengkapnya.
Elena Pratama.
Namun jabatan yang tertera bukan petugas kebersihan.
Staf administrasi Yayasan Wijaya Peduli.
Elena mengernyit.
“Saya tidak butuh belas kasihan.”
“Ini bukan belas kasihan.”
Aris tersenyum tipis.
“Saya meminta HRD memeriksa riwayat kerjamu. Kamu punya pengalaman administrasi enam tahun. Yayasan kami memang sedang membutuhkan staf.”
Elena menatapnya tidak percaya.
“Kamu akan menerima gaji seperti karyawan lain. Kalau kinerjamu buruk, kamu juga bisa dipecat seperti karyawan lain.”
Untuk pertama kalinya, Elena tertawa kecil di tengah air matanya.
“Masih galak seperti dulu.”
“Lebih parah sekarang.”
Beberapa bulan kemudian, hasil tes DNA resmi memastikan apa yang sebenarnya sudah diketahui hati Aris.
Raka adalah putranya.
Aris tidak langsung membawa Elena ke rumah mewah atau memaksanya hidup bersamanya. Ia menyewakan sebuah apartemen sederhana dekat sekolah Raka, tetapi Elena bersikeras membayar sebagian sewanya setelah menerima gaji.
Hubungan mereka tumbuh kembali perlahan.
Bukan sebagai miliarder dan wanita miskin.
Bukan pula sebagai dua orang yang terjebak masa lalu.
Melainkan sebagai dua manusia yang belajar memperbaiki delapan tahun kehidupan yang dicuri oleh kebohongan.
Setahun kemudian, pada suatu sore, Aris menjemput Raka dari sekolah.
Raka berlari keluar sambil membawa sebuah gambar.
Di kertas itu terdapat tiga orang bergandengan tangan di bawah sebuah payung besar.
“Ayah, lihat!”
Aris tersenyum.
“Ini siapa?”
“Raka, Ibu, sama Ayah.”
“Kenapa hujan?”
Raka menjawab polos.
“Karena kata Ibu, kalau malam itu tidak hujan, mungkin Ayah tidak pernah menemukan kami.”
Aris terdiam.
Di belakang Raka, Elena berdiri sambil tersenyum.
Aris memandang wanita itu lama.
Dulu ia menganggap malam hujan tersebut sebagai kebetulan paling menyakitkan dalam hidupnya.
Kini ia mengerti sesuatu.
Kadang-kadang hidup menghancurkan rencana manusia bukan untuk menghukumnya, tetapi untuk membawanya kembali ke jalan yang seharusnya tidak pernah ia tinggalkan.
Aris menggenggam tangan Raka.
Kemudian, perlahan, ia mengulurkan tangan satunya kepada Elena.
Elena menatap tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya.
Mereka berjalan bertiga menuju mobil.
Namun sebelum masuk, Elena berhenti.
“Aris.”
“Ya?”
“Ada satu hal yang belum pernah aku katakan.”
“Apa?”
Elena menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Malam ketika aku datang ke kantormu, sebenarnya aku sudah dua hari mencari pekerjaan di gedung-gedung sekitar sana. Aku hampir menyerah. Kantormu adalah tempat terakhir yang kucoba.”
Aris tersenyum.
“Berarti saya beruntung belum pulang.”
Elena menggeleng.
“Bukan itu.”
Ia memandang Raka.
“Sebelum masuk ke halaman kantormu, Raka melihat foto wajahmu di papan reklame perusahaan.”
Aris terdiam.
“Dia mengenalimu dari foto lama yang kusimpan.”
Elena menarik napas.
“Raka yang memaksaku masuk ke sana.”
Aris menatap putranya.
Raka tersenyum malu.
“Aku bilang ke Ibu, mungkin Ayah memang belum tahu jalan pulang.”
Anak itu menggenggam tangan Aris semakin erat.
“Jadi Raka yang cari jalan buat Ayah.”
Aris tidak mampu menjawab.
Ia memeluk putranya erat, lalu menarik Elena ke dalam pelukan yang sama.
Di atas mereka, langit Jakarta kembali menurunkan gerimis.
Delapan tahun sebelumnya, sebuah kebohongan telah memisahkan dua orang yang saling mencintai.
Namun pada akhirnya, seorang anak kecil yang tumbuh tanpa kebencian menjadi jalan yang mempertemukan mereka kembali.
Dan malam ketika Elena datang memohon pekerjaan ternyata bukanlah hari ketika seorang miliarder menyelamatkan wanita miskin dan anaknya.
Justru Elena dan Raka-lah yang menyelamatkan Aris dari kehidupan mewah yang selama bertahun-tahun terasa kosong.
Untuk pertama kalinya, Aris Wijaya akhirnya benar-benar pulang.
