Aku tidak membuka pintu ruangan itu.
Aku juga tidak menangis.
Entah dari mana aku mendapatkan kekuatan untuk tetap berdiri setelah mendengar calon menantuku membicarakan hidupku seolah aku hanya sebuah aset yang perlu dipindahkan dari satu kolom ke kolom lain.
Aku mundur perlahan, lalu berjalan menuju toilet khusus keluarga di ujung koridor.

Begitu pintunya terkunci, barulah kedua tanganku gemetar.
Aku membuka kembali foto dokumen di ponsel.
Nama Arga tertulis jelas sebagai pemohon.
Anak yang kubesarkan sendirian sejak ayahnya meninggal.
Anak yang dulu menungguku pulang rapat sampai tertidur di sofa.
Anak yang pernah berkata, ketika berusia tujuh belas tahun, bahwa dia tidak menginginkan perusahaan kami.
“Aku cuma mau Ibu sehat dan punya waktu buat diri sendiri.”
Aku hampir tertawa mengingat kalimat itu.
Manusia memang bisa berubah.
Atau mungkin aku yang terlalu lama menolak melihat perubahan tersebut.
Nomor tak dikenal itu mengirim pesan lagi.
“Kalau Ibu ingin tahu siapa orang dalamnya, datang ke ruang rapat kecil lantai dua. Sendiri.”
Aku menatap jam.
Akad akan dimulai kurang dari satu jam lagi.
Aku pergi.
Di dalam ruang rapat sudah ada seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Aku mengenalnya sebagai Maya, staf senior bagian legal Pradana Group.
Wajahnya pucat.
Begitu melihatku, dia berdiri.
“Maaf, Bu.”
“Kamu yang mengirim pesan?”
Maya mengangguk.
“Kenapa?”
Dia meletakkan sebuah map di meja.
“Karena saya sudah terlambat menghentikan banyak hal.”
Di dalamnya terdapat salinan surat kuasa, rancangan perubahan kepemilikan saham, laporan kesehatan, bahkan dokumen penjualan rumahku di Menteng yang belum pernah kusetujui.
Aku membaca semuanya tanpa berkata-kata.
“Siapa yang menyiapkan ini?”
Maya menelan ludah.
“Pak Reza.”
Aku mengangkat kepala.
Reza Santoso adalah direktur keuangan Pradana Group.
Dia bekerja denganku selama dua belas tahun.
Aku bahkan membiayai operasi jantung ayahnya beberapa tahun lalu.
“Dan Arga?”
Maya tidak langsung menjawab.
“Itu yang rumit, Bu.”
“Jawab.”
“Pak Arga memang menandatangani permohonan pemeriksaan kapasitas. Tapi menurut saya dia tidak tahu rencana sebenarnya.”
Aku menatapnya tajam.
Maya menjelaskan bahwa selama hampir enam bulan, Reza dan Nadine perlahan meyakinkan Arga bahwa aku mulai kehilangan kemampuan mengambil keputusan.
Mereka menggunakan beberapa kesalahanku sebagai bukti.
Jadwal rapat yang pernah tertukar.
Nama seorang klien yang sempat kulupakan.
Keputusan investasi yang kubatalkan mendadak.
Hal-hal kecil yang sebenarnya normal bagi perempuan berusia enam puluh dua tahun yang bekerja hampir setiap hari.
Namun ketika dikumpulkan dan diceritakan berulang kali, semuanya bisa terlihat seperti pola.
“Pak Arga pikir pemeriksaan itu hanya untuk memastikan kondisi Ibu,” kata Maya. “Dia tidak tahu setelah itu mereka berencana menggunakan hasilnya untuk mengendalikan hak suara Ibu.”
“Kenapa Reza melakukan ini?”
Maya mengeluarkan dokumen terakhir.
Aku langsung memahami jawabannya.
Reza memiliki utang lebih dari seratus miliar rupiah akibat investasi ilegal yang gagal.
Dia membutuhkan akses terhadap dana keluarga.
Nadine adalah jalannya.
“Tapi bagaimana Nadine tahu soal Rp1,9 triliun?”
Maya menunduk.
“Pak Reza.”
Aku menutup map.
Untuk pertama kalinya pagi itu, semuanya menjadi jelas.
Nadine mungkin kejam.
Namun Reza adalah otaknya.
Dan Arga adalah pintu yang mereka perlukan.
Aku memandang Maya.
“Kenapa kamu membantu mereka?”
Air matanya mulai jatuh.
“Karena Pak Reza mengancam saya. Adik saya bekerja di salah satu anak perusahaan. Dia bilang kami berdua akan kehilangan pekerjaan. Saya punya ibu yang sedang menjalani pengobatan.”
Aku tidak langsung memaafkannya.
Tapi aku mengerti rasa takut.
“Ada satu hal lagi,” katanya.
“Apa?”
“Dana itu belum berpindah, kan?”
“Belum.”
Maya mengembuskan napas lega.
“Kalau begitu mereka belum menang.”
Aku berdiri.
“Tidak. Mereka bahkan belum mulai.”
Ketika aku memasuki ballroom, hampir semua tamu sudah duduk.
Beberapa orang menatap selendang yang menutupi kepalaku. Sebagian mungkin bertanya-tanya mengapa ibu pengantin pria tampil begitu sederhana.
Aku tidak peduli.
Arga berdiri di dekat pelaminan dengan jas krem.
Saat melihatku, wajahnya berubah.
“Ibu?”
Aku mendekatinya.
Dia memandang selendangku.
“Apa yang terjadi?”
“Setelah akad, kita bicara.”
“Ibu baik-baik saja?”
Aku menatap matanya.
Aku ingin menemukan kebohongan.
Namun yang kulihat justru kebingungan.
“Menurutmu Ibu tidak baik-baik saja?”
Arga terdiam.
Pertanyaan sederhana itu rupanya cukup membuatnya gelisah.
Nadine muncul beberapa detik kemudian.
Gaun putihnya sempurna. Riasannya sempurna. Senyumnya pun sempurna.
Hanya matanya yang berubah ketika melihatku.
“Ibu datang juga.”
“Kenapa? Kamu pikir aku akan tinggal di rumah?”
Wajahnya menegang.
Arga menatap kami bergantian.
“Ada apa sebenarnya?”
Aku tersenyum tipis.
“Menikahlah dulu.”
Akad berlangsung.
Aku duduk di barisan depan dan menyaksikan putraku mengucapkan ijab kabul.
Suara Arga bergetar sedikit.
Ketika para tamu mengucapkan syukur, aku ikut tersenyum.
Bagaimanapun juga, dia tetap anakku.
Tetapi menjadi ibu bukan berarti menutup mata ketika anak sendiri melakukan kesalahan.
Setelah akad selesai, Nadine mulai terlihat jauh lebih santai.
Dia mengira bagian tersulit sudah selesai.
Dia salah.
Sebelum resepsi dimulai, keluarga inti berkumpul di sebuah lounge pribadi.
Arga, Nadine, orang tua Nadine, Reza, aku, serta beberapa kerabat terdekat berada di sana.
Aku sengaja meminta Maya menunggu di luar.
“Aku ingin mengatakan sesuatu,” kataku.
Nadine tersenyum.
“Kalau soal sambutan, nanti saja di ballroom, Bu.”
“Bukan sambutan.”
Aku membuka selendang dari kepalaku.
Ruangan mendadak sunyi.
Arga memucat.
“Ibu… rambut Ibu?”
Aku menatap Nadine.
“Tanyakan kepada istrimu.”
Semua mata beralih kepadanya.
Nadine tertawa gugup.
“Maksud Ibu apa?”
Aku mengeluarkan ponsel dan memutar rekaman CCTV.
Tidak ada yang berbicara.
Terlihat jelas Nadine memasuki kamarku pukul dua dini hari membawa tas hitam.
Kemudian aku memperlihatkan foto kebayaku yang dirusak dan surat yang ditinggalkannya.
Arga menatap istrinya seperti sedang melihat orang asing.
“Nadine?”
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa?”
“Aku cuma… aku kesal karena ibumu selalu mengatur semuanya.”
“Jadi kamu mencukur rambutnya saat dia tidur?”
“Aku tidak bermaksud menyakitinya!”
Aku akhirnya bicara.
“Kamu memberiku sesuatu dalam teh.”
Wajah Nadine kehilangan warna.
“Itu cuma obat tidur ringan.”
Ruangan langsung gaduh.
Ayah Nadine berdiri.
“Kamu gila?”
Namun aku belum selesai.
“Sekarang mari kita bicara tentang Rp1,9 triliun.”
Reza langsung menatapku.
Gerakan kecil itu cukup.
Aku melihat ketakutan di wajahnya.
Nadine mencoba bangkit, tetapi Arga menahannya.
“Duduk.”
Aku meletakkan salinan permohonan pemeriksaan kapasitas di meja.
“Ini tanda tanganmu, Arga?”
Arga memandang dokumen itu.
Lama.
Lalu mengangguk.
Dadaku tetap terasa sakit meskipun aku sudah menduga jawabannya.
“Kenapa?”
Arga mengusap wajah.
“Nadine dan Pak Reza bilang Ibu mulai sering lupa. Mereka bilang kalau terjadi sesuatu, perusahaan bisa kacau. Aku cuma ingin Ibu diperiksa.”
“Kamu pernah bertanya kepadaku?”
Dia diam.
“Pernah bicara dengan dokterku?”
Diam lagi.
“Pernah duduk bersamaku dan bertanya apakah aku sedang kelelahan?”
Matanya mulai merah.
“Tidak.”
Aku mengangguk.
“Itulah kesalahanmu.”
Reza tiba-tiba berdiri.
“Bu Ratna, menurut saya ini sudah terlalu emosional. Kita bisa membicarakannya secara profesional.”
Aku menatapnya.
“Bagus. Mari bicara profesional.”
Pintu terbuka.
Maya masuk bersama dua orang dari tim audit internal dan pengacaraku.
Wajah Reza berubah total.
Aku meletakkan dokumen utangnya di atas meja.
“Seratus dua puluh tujuh miliar rupiah. Itu angka terakhir, bukan?”
Reza tidak menjawab.
“Sebagian uang perusahaan dialihkan melalui vendor fiktif selama dua tahun. Kamu butuh dana keluarga untuk menutup lubangnya.”
“Ini fitnah.”
“Bukti transfernya sudah ada.”
Dia mencoba berjalan ke pintu.
Dua petugas keamanan menahannya.
Nadine tiba-tiba berteriak.
“Aku tidak tahu soal penggelapan itu!”
Reza berbalik.
“Jangan pura-pura bodoh! Kamu yang bilang setelah menikah kamu bisa mengendalikan Arga!”
Arga berdiri begitu cepat sampai kursinya jatuh.
“Apa?”
Nadine mulai menangis.
“Arga, dengarkan aku.”
“Jadi semua ini memang soal uang?”
“Aku mencintaimu.”
“Jawab!”
Nadine menutup wajahnya.
Tidak ada jawaban yang diperlukan lagi.
Namun kejutan terbesar belum datang.
Aku mengambil satu map terakhir dari tas.
“Dana Rp1,9 triliun itu memang ada.”
Semua orang diam.
“Tapi tidak pernah dirancang untuk langsung menjadi milik Arga.”
Arga menatapku.
“Apa maksud Ibu?”
“Dana itu adalah trust keluarga dengan beberapa syarat. Salah satunya, penerima tidak boleh sedang berada di bawah pengaruh pihak yang terbukti berusaha mengambil alih aset keluarga secara tidak sah.”
Aku menatap Nadine.
“Dengan kejadian pagi ini, pencairannya otomatis dibekukan.”
Nadine berdiri.
“Tidak bisa begitu!”
Aku hampir tersenyum.
“Menarik. Kamu lebih marah karena uangnya dibekukan daripada karena pernikahanmu baru saja hancur.”
Wajahnya membeku.
Arga melepaskan cincin dari jarinya.
“Aku tidak bisa melanjutkan ini.”
Nadine menatapnya tidak percaya.
“Kita sudah sah.”
“Aku tahu. Dan itu kesalahan terbesar yang pernah kubuat.”
Aku tidak ikut campur.
Masalah pernikahan mereka harus diselesaikan oleh mereka sendiri.
Polisi datang tidak lama kemudian setelah pengacaraku menyerahkan bukti mengenai dugaan pemberian obat tanpa persetujuan, penganiayaan, akses ilegal ke rumah, serta dugaan penggelapan perusahaan.
Reza dibawa untuk diperiksa.
Nadine juga dimintai keterangan.
Resepsi dibatalkan.
Ratusan tamu pulang membawa pertanyaan.
Aku pulang membawa kepala tanpa rambut dan hati yang jauh lebih berat.
Malam itu Arga datang ke rumah.
Dia berdiri di depan ruang kerjaku hampir sepuluh menit sebelum berani masuk.
“Ibu.”
Aku tidak menjawab.
Dia duduk di depanku.
“Aku minta maaf.”
Aku menutup buku yang sedang kubaca.
“Karena tertipu atau karena tidak mempercayaiku?”
Arga menunduk.
“Keduanya.”
Air matanya jatuh.
“Aku pikir aku sedang melindungi Ibu.”
“Orang yang ingin melindungi seseorang akan bicara kepadanya, Arga. Bukan membicarakannya di belakang.”
Dia menangis seperti anak kecil.
Aku ingin memeluknya.
Tapi aku tidak melakukannya.
Tidak semua rasa sakit harus segera disembuhkan dengan pelukan.
Kadang seseorang harus duduk bersama konsekuensi dari pilihannya.
“Apa Ibu masih menganggapku anak?”
Pertanyaan itu akhirnya menghancurkan pertahananku.
“Kamu bisa kehilangan kepercayaanku. Kamu bisa kehilangan jabatanmu. Kamu bahkan bisa kehilangan hak atas sebagian harta keluarga.”
Aku menatapnya.
“Tapi kamu tidak bisa berhenti menjadi anakku.”
Beberapa bulan kemudian, penyelidikan internal menemukan bahwa kerugian akibat skema Reza jauh lebih besar daripada dugaan awal. Dia dan beberapa pihak lain akhirnya diproses secara hukum.
Pernikahan Arga dan Nadine berakhir melalui proses perceraian.
Aku tidak pernah menanyakan apakah Arga masih mencintainya.
Beberapa luka tidak perlu dibuka hanya untuk memastikan masih terasa sakit.
Aku juga tidak memberikan jabatan Arga kembali.
Sebaliknya, aku memintanya bekerja dari posisi manajerial paling bawah di salah satu unit logistik kami di Surabaya.
“Kalau kamu ingin memimpin perusahaan ini suatu hari nanti,” kataku, “belajarlah dulu bagaimana rasanya menjadi orang yang keputusan hidupnya dipengaruhi oleh seseorang di atas.”
Dia menerimanya.
Setahun kemudian, rambutku mulai tumbuh kembali.
Pendek, putih, dan sedikit bergelombang.
Pada suatu pagi, aku berdiri di depan cermin ketika sebuah paket datang dari Surabaya.
Isinya sebuah bingkai foto lama.
Foto aku, suamiku, dan Arga kecil berdiri di depan dua truk pertama Pradana Group.
Di belakang foto ada tulisan tangan Arga.
“Ibu pernah membangun semuanya dari dua truk. Aku baru sadar warisan terbesar yang Ayah dan Ibu tinggalkan bukan Rp1,9 triliun. Warisan itu adalah kesempatan untuk menjadi manusia yang pantas dipercaya.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Kemudian aku membuka dokumen trust keluarga yang selama setahun kusimpan di brankas.
Aku tidak mencairkannya.
Aku hanya mengubah satu bagian.
Dana tersebut kelak tidak akan diberikan berdasarkan usia, pernikahan, atau hubungan darah.
Dana itu akan diberikan ketika penerimanya mampu membuktikan bahwa dia dapat menjaga sesuatu yang jauh lebih sulit daripada kekayaan.
Kepercayaan.
Aku menandatangani perubahan itu, lalu memandang bayanganku di cermin.
Rambutku memang belum kembali seperti dulu.
Keluargaku juga tidak.
Namun pagi itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Orang bisa merebut rumah, saham, perusahaan, bahkan mencoba mengambil hak seseorang untuk menentukan hidupnya sendiri.
Tetapi selama kita masih memiliki keberanian untuk melihat kebenaran dan bertindak sebelum terlambat, ada satu hal yang tidak bisa mereka rampas.
Hak untuk memilih siapa yang layak kita percaya.
