SELAMA 6 TAHUN AKU DITIPU FOTO PALSU PERNIKAHAN MEWAH ADIKKU DI AUSTRALIA, TAPI TERNYATA MANTAN ISTRIKU HIDUP MENDERITA DI DESA KECIL!

“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Reyhan.”

Suara Citra akhirnya pecah di tengah keheningan. Pelan, serak, tetapi cukup untuk membuat dadaku seperti dihantam sesuatu.

Enam tahun.

Enam tahun aku tidak pernah mendengar suara itu memanggil namaku.

Bukan Dokter.

Bukan Pak.

Reyhan.

Radit menatap kami bergantian dengan wajah bingung.

“Ibu kenal Om Dokter?”

Citra buru-buru mengusap air matanya. “Radit, masuk dulu, Nak. Ganti baju. Nanti Ibu menyusul.”

“Tapi Om Dokter…”

“Masuk dulu.”

Nada suaranya lembut, tetapi tegas.

Radit akhirnya menurut. Bocah itu melangkah masuk sambil beberapa kali menoleh ke arah kami.

Begitu pintu tertutup, aku maju satu langkah.

“Jadi benar kamu Citra.”

Citra menunduk.

“Kenapa?”

Dia tidak menjawab.

“Enam tahun, Citra. Selama enam tahun aku diberi tahu kamu tinggal di Australia bersama Dimas. Aku menerima foto-foto kalian. Foto pernikahan. Foto rumah. Foto anak kalian. Setiap bulan aku mengirim uang karena Dimas bilang kalian membutuhkannya.”

Kepala Citra mendadak terangkat.

“Apa?”

Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang tidak mungkin dibuat-buat.

“Kamu mengirim uang kepada Dimas?”

“Jangan bilang kamu tidak tahu.”

“Demi Allah, aku tidak tahu.”

Aku membeku.

Citra menatapku dengan napas memburu.

“Aku bahkan tidak tahu di mana Dimas sekarang.”

Kalimat itu membuat tengkukku dingin.

“Apa maksudmu?”

Citra menggigit bibir, seolah berusaha menahan sesuatu yang sudah terlalu lama disimpan.

“Dimas meninggalkanku enam tahun lalu.”

Aku tidak bisa langsung memahami perkataannya.

“Tidak mungkin.”

“Dia meninggalkanku ketika aku sedang hamil.”

Aku menatap pintu rumah.

Lalu kembali menatap Citra.

“Radit?”

Air mata akhirnya jatuh dari mata Citra.

“Iya.”

Aku merasa tanah di bawah kakiku seolah bergeser.

“Dimas bilang Radit anaknya.”

Citra tertawa kecil, pahit.

“Dia bahkan tidak pernah melihat Radit lahir.”

Aku kehilangan kata-kata.

Citra duduk perlahan di kursi bambu karena tubuhnya tampak mulai lemas. Aku ingin mendekat, tetapi dia mengangkat tangan.

“Jangan.”

Aku berhenti.

“Aku akan menjelaskan semuanya. Setelah itu, tolong pergi dan jangan kembali lagi.”

Aku diam.

Citra menatap halaman rumah yang mulai gelap.

“Enam tahun lalu, malam setelah kamu memergoki aku bersama Dimas, aku memang bersalah.”

Suaranya gemetar.

“Aku tidak akan mencari alasan. Aku mengkhianatimu. Aku menghancurkan kepercayaanmu. Saat itu aku bodoh. Dimas membuatku merasa diperhatikan ketika hubungan kita sedang buruk. Tapi itu tetap bukan pembenaran.”

Aku mengepalkan tangan.

Luka lama itu kembali terasa hidup.

“Aku pergi bersamanya karena aku pikir itulah konsekuensi dari pilihanku. Beberapa minggu kemudian aku tahu aku hamil.”

“Dan kalian menikah.”

Citra menggeleng.

“Tidak pernah.”

Aku menatapnya tajam.

“Foto pernikahan kalian?”

“Aku tidak tahu foto apa yang kamu maksud.”

“Dimas mengirimkannya kepadaku.”

Citra memejamkan mata.

“Berarti dia sudah merencanakan semuanya.”

“Merencanakan apa?”

“Menipumu.”

Aku tidak menyela lagi.

Citra kemudian menceritakan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.

Setelah meninggalkanku, dia tinggal bersama Dimas di Jakarta selama beberapa bulan. Ketika kehamilannya memasuki bulan kelima, Dimas mulai berubah. Dia sering pulang larut malam, meminta uang, bahkan beberapa kali mengambil perhiasan Citra tanpa izin.

Sampai suatu pagi, Dimas menghilang.

Dia membawa tabungan Citra, beberapa dokumen, ponsel lama, bahkan akses ke akun media sosialnya.

Di meja hanya tertinggal secarik kertas.

Jangan cari aku.

“Aku mencoba menghubunginya berbulan-bulan,” kata Citra. “Nomornya mati. Semua akun milikku sudah diganti kata sandinya. Aku malu pulang kepada orang tuaku. Aku juga terlalu malu menemuimu.”

“Kenapa tidak melapor?”

“Aku melapor soal dokumen dan uang yang hilang. Tapi Dimas sudah menghilang. Setelah Radit lahir, aku berhenti mencarinya.”

Dia terbatuk keras.

Aku refleks maju.

Citra mencoba menahan tubuhnya, tetapi batuknya semakin parah. Dia menutup mulut dengan saputangan.

Ketika tangannya diturunkan, aku melihat noda merah kecil.

Darah.

Naluri dokterku langsung mengambil alih.

“Kamu harus diperiksa.”

“Aku baik-baik saja.”

“Kamu batuk darah dan bilang baik-baik saja?”

“Aku sudah pernah ke puskesmas.”

“Lalu?”

Citra diam.

“Citra.”

“Aku tidak punya cukup uang untuk pemeriksaan lanjutan.”

Aku menahan emosi.

“Besok ikut aku ke rumah sakit.”

“Tidak.”

“Ini bukan soal masa lalu kita.”

“Aku bilang tidak.”

“Kalau bukan demi dirimu, lakukan demi Radit.”

Citra terdiam.

Saat itulah pintu terbuka.

Radit berdiri di sana dengan wajah cemas.

“Ibu batuk darah lagi?”

Wajah Citra berubah.

“Tidak, Nak.”

Radit mendekat dan memeluk ibunya.

“Jangan bohong. Kemarin juga ada darah.”

Aku menelan ludah.

Bocah itu menatapku.

“Om Dokter, Ibu bisa sembuh, kan?”

Aku berjongkok di hadapannya.

“Om akan berusaha supaya Ibu sembuh.”

Citra hendak membantah, tetapi aku menatapnya.

Kali ini dia tidak mengatakan apa-apa.

Keesokan paginya, aku membawa Citra ke Rumah Sakit Medika Utama.

Aku mengatur pemeriksaan lengkap. Foto toraks, pemeriksaan darah, CT scan, dan beberapa tes tambahan.

Sepanjang pemeriksaan, Citra hampir tidak berbicara.

Radit duduk di ruang tunggu sambil menggambar menggunakan pensil yang diberikan seorang perawat.

Beberapa jam kemudian, hasil awal keluar.

Aku membacanya berulang kali.

Ada infeksi paru yang cukup berat dan sudah berlangsung lama, tetapi belum terlambat untuk ditangani.

Aku mengembuskan napas lega.

Bukan sesuatu yang tidak bisa dilawan.

Saat aku keluar dari ruang dokter, kulihat seorang pria berdiri di ujung lorong.

Doni.

Dia berjalan cepat menghampiriku sambil membawa tablet.

“Dok, saya menemukan sesuatu.”

“Apa?”

“Setelah Dokter meminta transfer dihentikan, saya memeriksa seluruh transaksi enam tahun terakhir.”

Aku langsung tegang.

“Totalnya?”

“Hampir sembilan ratus juta rupiah.”

Aku terdiam.

“Tapi ada yang lebih aneh. Rekening Dimas sudah beberapa kali memindahkan dana dalam jumlah besar ke rekening lain.”

“Punya siapa?”

Doni menunjukkan layar.

Nama pemilik rekening itu membuat darahku seolah berhenti mengalir.

Nayla Prameswari.

“Nayla?”

Doni mengangguk.

“Dalam tiga tahun terakhir ada puluhan transaksi.”

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Nayla.

Wanita yang dikenalkan Ibu kepadaku.

Wanita yang selama sebulan terakhir perlahan masuk ke hidupku.

“Cari semua informasi tentang rekening itu secara legal. Jangan hubungi siapa pun dulu.”

“Baik, Dok.”

Malamnya, aku menelepon Nayla.

“Ada waktu bertemu?”

Suaranya terdengar ceria.

“Tentu. Besok?”

“Sekarang.”

Dia terdiam sesaat.

Kami bertemu di kafe yang sama.

Kali ini aku tidak memesan apa pun.

Nayla datang sekitar dua puluh menit kemudian.

“Ada apa, Mas Dokter?”

Aku meletakkan hasil cetak transaksi di atas meja.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

“Kenal Dimas?”

Tangannya membeku.

“Nayla.”

Dia menelan ludah.

“Kenal?”

Akhirnya dia mengangguk.

“Dia kakakku.”

Aku seperti baru saja mendengar ledakan.

“Apa?”

“Dimas kakak kandungku.”

Aku berdiri.

“Jadi selama ini keluargamu tahu?”

“Tidak semuanya.”

“Lalu kamu?”

Nayla mulai menangis.

“Aku baru tahu beberapa bulan lalu.”

“Jangan bohong.”

“Aku tidak bohong!”

Beberapa pengunjung menoleh. Nayla menurunkan suaranya.

“Dimas menggunakan rekeningku. Dulu dia bilang untuk bisnis. Aku tidak pernah memeriksa detailnya. Tiga bulan lalu aku menemukan transfer rutin atas namamu. Aku curiga dan mendesaknya menjelaskan.”

“Lalu?”

“Dia mengaku.”

Dadaku panas.

“Dia mengaku menipuku selama enam tahun?”

Nayla mengangguk.

“Foto-foto itu?”

“Palsu. Sebagian foto teman-temannya di Melbourne. Wajahnya diedit. Wanita dalam foto pernikahan itu bukan Citra.”

Aku duduk kembali.

Semuanya terasa begitu absurd.

“Kenapa kamu mendekatiku?”

Nayla menangis semakin keras.

“Awalnya aku memang tidak tahu siapa kamu. Ibu kita berteman dan memperkenalkan kita. Setelah tahu, aku ingin menjauh. Tapi Dimas melarang.”

“Kenapa?”

“Karena dia takut kamu berhenti mengirim uang.”

Aku menatapnya dengan jijik.

“Jadi dia menyuruhmu memastikan aku tetap percaya?”

Nayla menunduk.

“Dia bilang kalau aku bisa menikah denganmu, semuanya akan aman.”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Karena aku tidak percaya kebusukan manusia bisa direncanakan sedemikian jauh.

“Di mana Dimas?”

Nayla mengusap air matanya.

“Jakarta.”

Ternyata selama bertahun-tahun Dimas tidak pernah tinggal di Australia.

Dia hidup di sebuah apartemen mewah di Jakarta menggunakan uang yang kukirim setiap bulan.

Dua hari kemudian, bersama bukti transfer dan data yang telah dikumpulkan, aku menemui Dimas.

Ketika pintu apartemennya terbuka, wajahnya langsung pucat.

“Reyhan?”

Aku menatap pria yang selama enam tahun memainkan hidupku.

“Kaget melihat orang bodoh yang selama ini membiayai hidupmu?”

Dimas mencoba menutup pintu, tetapi aku menahannya.

“Aku sudah tahu semuanya.”

Wajahnya berubah.

“Citra juga sudah kutemukan.”

Kalimat itu membuatnya benar-benar kehilangan ketenangan.

“Dia bilang apa?”

“Cukup untuk membuatmu berurusan dengan polisi.”

“Reyhan, dengar dulu.”

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin mendengar alasan siapa pun.

Kasus itu kemudian berjalan melalui jalur hukum. Bukti transaksi, pemalsuan identitas, manipulasi foto, serta penggunaan dokumen milik Citra perlahan membuka seluruh kebohongan Dimas.

Namun ada satu hal yang jauh lebih menggangguku.

Radit.

Suatu sore, setelah kondisi Citra membaik dan diperbolehkan pulang, aku melihat Radit tertidur di kursi rumah sakit.

Di tangannya ada gambar tiga orang.

Seorang wanita.

Seorang anak kecil.

Dan seorang pria tinggi mengenakan jas putih.

Di atas pria itu tertulis dengan huruf yang belum rapi.

Om Dokter.

Aku tersenyum kecil.

Namun ketika hendak meletakkan gambar itu, mataku tertuju pada tanggal lahir Radit yang tertulis di gelang pasien pendamping.

Aku menghitung dalam kepala.

Sekali.

Dua kali.

Lalu tubuhku mendadak kaku.

Tanggal itu tidak cocok dengan cerita yang selama ini kupercaya.

Aku menemui Citra.

“Citra.”

Dia menatapku.

“Radit lahir cukup bulan?”

Wajahnya berubah.

Pertanyaan sederhana itu membuat seluruh tubuhnya menegang.

“Kenapa kamu bertanya?”

“Jawab.”

Dia tidak menjawab.

Aku menghitung kembali waktu perceraian kami.

Jika Radit lahir cukup bulan…

Citra sudah hamil sebelum malam pengkhianatan itu terjadi.

Dadaku berdebar semakin keras.

“Radit anak siapa?”

Air mata Citra langsung jatuh.

“Jangan, Reyhan.”

“Anak siapa?”

Dia menutup wajahnya.

Enam tahun kemarahan, penyesalan, dan kebingungan seolah berkumpul menjadi satu di dadaku.

“Aku berhak tahu.”

Citra menangis lama sebelum akhirnya berkata,

“Radit anakmu.”

Dunia seperti berhenti.

Aku bahkan tidak bisa bernapas.

“Apa?”

“Dia anakmu, Reyhan.”

Aku mundur satu langkah.

“Kenapa kamu menyembunyikannya?”

“Karena aku malu!”

Suara Citra pecah.

“Aku baru tahu hamil beberapa hari setelah pergi dengan Dimas. Saat dokter memberi tahu usia kandunganku, aku langsung tahu Radit anakmu.”

“Kenapa tidak kembali?”

“Dengan wajah apa aku harus kembali?”

Citra menangis tersedu.

“Aku sudah mengkhianatimu. Aku menghancurkan rumah tangga kita. Aku takut kamu mengira aku menggunakan anak itu supaya kamu menerimaku lagi.”

“Jadi kamu memilih membuatku tidak tahu aku punya anak?”

“Aku salah.”

Aku tidak mampu menjawab.

Di balik kaca pintu, Radit berdiri.

Entah sejak kapan dia ada di sana.

Matanya menatap kami dengan kebingungan.

“Om Dokter…”

Aku menoleh.

Radit berjalan perlahan mendekat.

“Ibu kenapa menangis?”

Aku berjongkok.

Untuk pertama kalinya aku benar-benar memperhatikan wajahnya.

Alisnya.

Bentuk dagunya.

Lesung kecil di pipi kirinya.

Sesuatu yang selama ini mungkin terlalu takut kulihat.

Radit menatapku.

“Om Dokter jangan marah sama Ibu.”

Dadaku runtuh.

Aku menariknya ke dalam pelukan.

Tubuh kecil itu terasa hangat.

Enam tahun.

Aku kehilangan enam tahun pertama hidup anakku karena sebuah pengkhianatan, rasa malu, kebohongan, dan keputusan-keputusan buruk orang dewasa.

Radit awalnya diam.

Lalu kedua tangannya perlahan memeluk leherku.

“Om kenapa nangis?”

Aku tertawa di sela air mata.

“Karena Om baru menemukan sesuatu yang sangat berharga.”

Beberapa minggu kemudian, tes DNA menghapus keraguan terakhir.

99,99 persen.

Radit adalah putraku.

Aku tidak langsung meminta Citra kembali menjadi istriku.

Luka tidak sembuh hanya karena kebenaran terungkap.

Kesalahan Citra tetaplah kesalahan.

Kemarahan dan kecewaku juga tidak menghilang dalam semalam.

Namun kami sepakat pada satu hal.

Radit tidak boleh menjadi korban dari masa lalu kami.

Aku mulai datang setiap akhir pekan.

Mengantarnya mengaji.

Membelikannya buku.

Mendengar cerita sekolahnya.

Menemaninya belajar naik sepeda.

Sementara Citra menjalani pengobatan sampai kondisinya perlahan pulih.

Suatu sore, hampir enam bulan setelah pertemuan kami di Desa Karangwangi, aku duduk di teras rumah yang kini sudah diperbaiki.

Radit berlari di halaman sambil menerbangkan layang-layang.

Citra duduk di sampingku.

“Reyhan.”

“Hm?”

“Terima kasih karena tidak mengambil Radit dariku.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak datang untuk mengambil siapa pun.”

Dia tersenyum tipis.

“Aku datang karena terlalu banyak waktu yang sudah hilang.”

Citra menunduk.

“Kalau bisa mengulang semuanya, aku akan memilih berbeda.”

Aku memandang Radit yang tertawa ketika layang-layangnya naik tinggi.

“Kita tidak bisa mengulang enam tahun itu.”

Citra mengangguk.

“Tapi kita masih bisa menentukan tahun-tahun setelahnya.”

Dia menatapku.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kembali, tatapannya tidak dipenuhi rasa takut.

Aku tidak tahu apakah suatu hari kami akan kembali menjadi pasangan.

Aku juga tidak ingin memaksakan jawaban.

Yang kutahu, selama enam tahun aku percaya bahwa uang yang kukirim setiap bulan adalah bentuk tanggung jawab terakhir terhadap masa lalu.

Ternyata aku salah.

Tanggung jawab terbesarku bukanlah uang itu.

Melainkan seorang bocah kecil yang selama bertahun-tahun menunggu ayah yang katanya sudah tinggal di surga.

Tiba-tiba Radit berlari menghampiri kami.

“Ayah!”

Aku membeku.

Itu pertama kalinya dia memanggilku begitu.

Radit sendiri tampak malu setelah mengucapkannya.

“Boleh, kan?”

Mataku langsung panas.

Aku berdiri, mengangkat tubuhnya, lalu memeluknya erat.

“Boleh.”

“Beneran?”

“Iya.”

“Selamanya?”

Aku menatap Citra.

Dia menangis sambil tersenyum.

Aku kemudian mencium kepala putraku.

“Selamanya.”

Enam tahun lalu, aku kehilangan seorang istri karena pengkhianatan.

Enam tahun kemudian, aku datang ke sebuah desa kecil karena ingin membongkar kebohongan tentang uang.

Tetapi di tempat itulah aku justru menemukan sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli dengan seluruh uang yang telah hilang.

Aku menemukan anakku.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku memahami bahwa kebenaran memang bisa datang terlambat.

Ia bisa menyakitkan, menghancurkan keyakinan, bahkan memaksa kita membuka luka yang sudah lama dikubur.

Namun terkadang, di balik kebenaran yang paling pahit, Tuhan menyimpan jalan pulang yang selama ini tidak pernah kita tahu masih ada.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang