Senyum Maya yang sedingin es itu membuat tawa Carla terhenti di tenggorokan. Rosa dan Tomas saling berpandangan, merasa tidak nyaman dengan perubahan suasana yang tiba-tiba.
“Kenapa kau diam saja?” gertak Tomas, meski suaranya sedikit goyah. “Harusnya kau berterima kasih karena kami menunjukkan padamu bagaimana rasanya hidup mewah, bukan malah menatap kami seperti itu!”
Maya melangkah perlahan ke tengah ruangan, melewati tumpukan kotak belanjaan yang berserakan. Ia berhenti tepat di depan Carla yang masih memegang iPhone-nya. Maya meraih pergelangan tangan adiknya dengan genggaman yang sangat kuat hingga Carla memekik kesakitan.

“Kau tahu, Carla?” suara Maya rendah, tenang, namun memiliki nada yang membuat bulu kuduk berdiri. “Aku menabung uang itu bukan untuk membeli rumah, bukan untuk liburan, dan tentu bukan untuk kesenangan. Uang itu adalah harga nyawa kalian.”
“Apa maksudmu, Kak?” tanya Carla dengan suara bergetar.
Maya melepaskan tangan Carla dan menoleh ke arah jendela yang tertutup tirai. “Tiga tahun lalu, Ayah meminjam uang dari kelompok ‘The Obsidian’. Kalian pikir dia berbisnis? Tidak. Dia berjudi di kasino bawah tanah dan kalah besar. Aku sudah melunasi bunganya selama tiga tahun dengan keringat darahku agar mereka tidak menyentuh rumah ini. Tapi dua minggu lalu, bunga pinjaman itu melonjak drastis.”
“Kalian mencuri 15 juta Peso itu,” lanjut Maya sambil menatap tajam ke mata orang tuanya yang kini memucat pasi. “Uang itu seharusnya kuserahkan kepada mereka malam ini sebagai pembayaran terakhir agar mereka tidak datang menjemput kalian. Itu adalah uang perlindungan.”
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah pintu depan. Bukan ketukan, melainkan hantaman benda tumpul. Pintu kayu jati rumah itu retak.
BRAKK!
Lampu ruang tamu berkedip dan padam. Suasana menjadi gelap gulita, hanya disinari cahaya dari layar ponsel Carla yang masih merekam. Di luar, suara mesin mobil hitam yang berhenti menderu kasar, diikuti oleh derap langkah sepatu bot yang berat.
“Mereka sudah di sini,” bisik Maya. “Mereka tidak menerima alasan, dan mereka tidak mengenal kata belas kasihan. Mereka datang untuk mengambil apa yang tidak bisa kalian bayar.”
Rosa menjatuhkan gelas sampanye yang dipegangnya hingga pecah berkeping-keping. Tomas berusaha berdiri, tapi kakinya gemetar hebat hingga ia jatuh terduduk kembali. Porsche yang mereka banggakan di luar sana tiba-tiba kaca depannya hancur berkeping-keping akibat hantaman martil.
“Maya… tolong kami…” isak Rosa, suaranya kini penuh ketakutan yang luar biasa. “Lakukan sesuatu! Kau punya koneksi, kan? Beritahu mereka kita bisa mengembalikan barang-barang ini!”
Maya menatap mereka, lalu melangkah menuju pintu belakang. “Barang-barang itu sudah tidak berharga bagi mereka. Mereka tidak menginginkan perhiasan Gucci atau Porsche itu. Mereka menginginkan konsekuensi.”
“Maya! Jangan tinggalkan kami!” teriak Carla sambil berlari mengejar kakaknya, namun pintu belakang sudah terkunci rapat dari luar.
Maya berdiri di teras belakang, menatap langit malam yang mendung. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah tiket pesawat satu arah dan paspor yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Ia tidak pernah bermaksud membiarkan uang itu dicuri, ia hanya membiarkan keluarganya menunjukkan sifat asli mereka untuk terakhir kalinya agar ia tidak merasa bersalah.
Tepat saat suara dobrakan pintu depan berhasil menjebol rumah tersebut, Maya menyalakan rokok terakhirnya, membuang pemantau GPS yang selama ini ia pasang di tas Carla ke selokan, dan melangkah pergi ke dalam kegelapan malam.
Di dalam rumah, teriakan penyesalan dan ketakutan bergema, namun bagi Maya, suara itu terdengar seperti simfoni kebebasannya yang pertama kali ia dengar setelah delapan tahun terpenjara. Ia tidak menoleh ke belakang lagi. Malam itu, Maya resmi mati bagi keluarganya, dan bagi sindikat itu, hutang tersebut telah dianggap “lunas” dengan cara yang sangat kejam.
