Hati Lani hancur berkeping-keping. Ia menatap Doña Carmen dengan amarah yang begitu besar hingga tangannya gemetar hebat. Namun, sang ibu mertua justru berdiri dengan angkuh, menyilangkan tangan di depan dada seolah baru saja melakukan perbuatan mulia.
“Jangan menangis, Leo! Sekarang kau terlihat seperti laki-laki sejati,” ujar Doña Carmen dingin, tanpa sedikit pun rasa sesal melihat cucunya yang trauma. “Lani, kau harus berterima kasih padaku. Aku telah menyelamatkannya dari penghinaan lebih lanjut di sekolah. Lihat? Sekarang dia tidak terlihat seperti perempuan lagi.”

Mark, yang baru saja tiba di rumah dengan napas terengah-engah setelah bergegas dari kantor, membeku di ambang pintu. Ia menatap Leo, lalu menatap ibunya dengan tatapan yang belum pernah dilihat Lani sebelumnya—tatapan dingin yang mematikan.
Mark melangkah mendekat, namun ia tidak berteriak. Ia justru mengambil tangan ibunya dengan kasar dan menariknya keluar dari ruang tamu, menjauh dari jangkauan Leo yang masih terisak.
“Ibu masuk ke dalam mobil sekarang,” bisik Mark dengan nada yang sangat rendah namun penuh penekanan.
“Apa? Mark, kau harusnya berterima kasih—”
“Masuk ke mobil!” bentak Mark, membuat seluruh rumah bergetar.
Hari Minggu berikutnya tiba. Suasana di rumah Doña Carmen sangat hening. Doña Carmen berpikir bahwa putranya sudah tenang dan ia bisa kembali bersikap seperti biasa. Ia bahkan sudah menyiapkan makan siang, yakin bahwa Mark akan datang meminta maaf karena telah membentaknya.
Saat pintu diketuk, Doña Carmen membukanya dengan senyum kemenangan. Namun, senyum itu lenyap seketika.
Di depan pintu berdiri Mark, didampingi oleh Lani yang memegang tangan Leo, dan seorang pria asing dengan koper besar—seorang penata rambut profesional yang cukup terkenal di kota itu.
“Apa maksud semua ini?” tanya Doña Carmen bingung.
Mark tidak menjawab. Ia justru memberikan instruksi kepada penata rambut tersebut. “Tolong, lakukan yang terbaik untuk ibu saya.”
“Untuk… untuk apa?” Doña Carmen mulai panik.
“Ibu selalu merasa bahwa rambut menentukan karakter seseorang, bukan?” tanya Mark dengan tatapan tajam. “Ibu bilang rambut Leo adalah aib. Sekarang, mari kita lihat bagaimana perasaan Ibu jika kita ‘memperbaiki’ Ibu.”
Ternyata, Mark telah membuat janji. Ia membawa penata rambut itu bukan untuk Leo, melainkan untuk Doña Carmen. Dengan bantuan penata rambut tersebut dan didukung oleh Mark yang memegang kendali penuh, mereka mencukur habis rambut Doña Carmen hingga benar-benar botak plontos—seperti gaya yang ia paksa pada Leo.
Doña Carmen menjerit histeris, mencoba melawan, namun Mark menahannya dengan kursi. “Jangan bergerak, Ma. Ini hanya rambut, bukan? Seperti yang Ibu katakan, ‘ini hanya rambut’. Jadi, tidak perlu menangis.”
Ketika proses itu selesai, Mark memberikan cermin besar ke wajah ibunya yang kini botak, dengan kulit kepala yang tampak tidak rata akibat cukuran yang cepat dan kasar.
“Sekarang,” kata Mark dengan suara dingin, “dengarkan aku baik-baik. Leo adalah anakku. Rambutnya, tubuhnya, dan perasaannya adalah tanggung jawabku dan Lani. Jika Ibu berani menyentuhnya lagi, atau mencoba memaksakan kehendak kuno Ibu padanya, jangan harap Ibu bisa melihat wajah kami lagi. Bukan hanya hari ini, tapi untuk selamanya.”
Doña Carmen terdiam seribu bahasa. Ia tidak bisa berkata-kata, wajahnya pucat pasi melihat refleksi dirinya di cermin. Untuk pertama kalinya, ia merasakan penghinaan yang sama persis dengan yang ia berikan kepada cucunya sendiri.
Mark berbalik, menggandeng tangan Lani dan Leo, lalu berjalan meninggalkan ibunya yang terduduk lemas di lantai. Sejak hari itu, Doña Carmen tidak pernah lagi berani mencampuri urusan keluarga mereka. Ia tidak hanya terdiam, ia benar-benar kehilangan keberanian untuk sekadar menatap mata cucunya.
