Namun sebelum Siska sempat menjawab, pintu utama rumah keluarga Wibisono terbuka keras.
Arga berlari keluar.
Rania, tunggu.
Aku segera mengunci pintu mobil.
Siska tersentak di sampingku. Wajahnya yang sejak tadi pucat berubah semakin tegang.
Jangan buka pintunya, bisiknya.
Arga mengetuk kaca.

Kita bisa jelaskan semuanya. Kamu cuma dengar sebagian percakapan.
Aku menatapnya tanpa bergerak.
Empat tahun.
Empat tahun aku mengenal lelaki itu. Aku tahu cara dia tersenyum ketika gugup, caranya mengusap tengkuk saat berbohong tentang hal kecil, bahkan kebiasaannya mengetukkan jari telunjuk ke meja ketika sedang kesal.
Tapi malam itu aku sadar ada satu sisi Arga yang sama sekali tidak kukenal.
Aku menyalakan mesin.
Dia berdiri tepat di depan mobil.
Rania.
Minggir.
Dengar dulu.
Minggir, Arga.
Mungkin nada suaraku membuatnya sadar bahwa aku tidak lagi menjadi perempuan yang beberapa jam sebelumnya sibuk memilih warna bunga untuk pernikahan kami.
Dia mundur.
Aku membawa Siska pergi.
Sepanjang perjalanan menuju kantor Dimas, dia hampir tidak bicara. Kedua tangannya terus menggenggam ujung jaket.
Baru setelah kami memasuki gedung perkantoran di kawasan Kuningan, aku berani bertanya lagi.
Siapa Bima?
Siska berhenti berjalan.
Dia kakakku.
Aku pernah mendengar nama itu.
Menurut cerita Arga, Bima adalah sepupu mereka yang pindah ke Australia tiga tahun lalu setelah mengalami masalah dengan keluarganya.
Tapi ekspresi Siska mengatakan cerita sebenarnya jauh berbeda.
Dimas sudah menunggu di ruang rapat. Laptopnya terbuka, dokumen yang dikirim Arga terpampang di layar.
Begitu melihat Siska, dia tidak langsung bertanya.
Dia mengambil air mineral dan meletakkannya di meja.
Kalau kamu belum siap bicara, kita tunggu.
Siska menggeleng.
Aku sudah terlalu lama menunggu.
Dia menarik napas.
Tiga tahun lalu, Bima adalah direktur keuangan salah satu perusahaan keluarga Wibisono. Bukan perusahaan besar, tetapi perusahaan itu memiliki beberapa aset gudang dan tanah di Bekasi.
Bima menemukan transaksi mencurigakan.
Pinjaman atas nama perusahaan.
Jaminan yang tidak pernah disetujui pemegang saham.
Pemindahan aset ke beberapa perusahaan cangkang.
Orang yang mengatur semuanya adalah ayah Arga, Pak Surya.
Bima ingin melapor.
Tiga hari sebelum dia menemui auditor, dia mengalami kecelakaan.
Aku menelan ludah.
Kecelakaan apa?
Mobilnya menabrak pembatas jalan.
Polisi menyebut kecelakaan tunggal. Tetapi sebelum kejadian, Bima sempat mengirim pesan kepadaku.
Siska membuka ponselnya.
Pesan itu masih disimpan.
Jika sesuatu terjadi padaku, cari map abu abu di rumah lama Ayah.
Dimas langsung bertanya, Kamu menemukannya?
Siska mengangguk.
Isinya salinan transaksi, dokumen perusahaan, dan beberapa rekaman.
Lalu kenapa tidak dibawa ke polisi?
Karena sehari setelah pemakaman Bima, Bu Mira datang ke rumahku.
Aku menatapnya.
Pemakaman?
Siska menatapku lurus.
Bima meninggal, Rania.
Ruangan itu mendadak terasa terlalu sunyi.
Selama empat tahun Arga mengatakan Bima tinggal di Melbourne.
Dia bahkan pernah menunjukkan foto seorang pria di depan gedung apartemen dan mengatakan itu foto terbaru Bima.
Aku merasa mual.
Mereka bohong soal orang mati selama tiga tahun.
Siska melanjutkan.
Bu Mira tahu aku punya salinan dokumen. Dia bilang kalau aku menyerahkannya, ibuku akan ikut terseret karena beberapa rekening pernah menggunakan namanya.
Jadi kamu diam?
Aku malu mendengar nada suaraku sendiri.
Siska menunduk.
Aku takut.
Aku segera menggenggam tangannya.
Maaf.
Tidak apa apa. Aku juga marah pada diriku sendiri.
Dimas memutar laptopnya ke arah kami.
Masalah kita sekarang bukan hanya apa yang terjadi pada Bima. Dokumen halaman 18 menunjukkan ada upaya sistematis mengambil kendali atas perusahaan Rania.
Dia memperbesar bagian tanda tangan digital.
Kalau tanda tangan ini palsu, mereka mungkin sudah menyiapkan dokumen lain.
Aku teringat sesuatu.
Dua bulan lalu Arga memintaku membuka rekening bersama untuk biaya pernikahan.
Aku menolak.
Seminggu kemudian dia meminta contoh tanda tanganku untuk formulir vendor gedung resepsi.
Saat itu aku memberikannya tanpa berpikir.
Dimas menatapku.
Masih punya percakapannya?
Ada.
Simpan semuanya.
Malam itu kami tidak pulang.
Dimas menghubungi seorang pengacara pidana yang dia percaya dan menyarankan agar bukti diserahkan melalui prosedur resmi.
Sementara aku meminta kepala keuangan Nara Komunika membekukan semua perubahan data perusahaan tanpa persetujuanku langsung.
Aku juga meminta tim IT mengganti seluruh akses surel, penyimpanan cloud, dan akun administrasi.
Keputusan itu ternyata menyelamatkan perusahaan.
Pukul 02.46 dini hari, sistem kami mencatat percobaan masuk ke akun administrasi dari perangkat yang tidak dikenal.
Kata sandi lama digunakan tiga kali.
Aku mengenali alamat surel pemulihan yang muncul dalam log.
Itu milik Arga.
Dimas menatap layar.
Sekarang kita tahu mereka tidak menunggu pernikahan.
Pagi berikutnya, Arga meneleponku 37 kali.
Aku tidak mengangkat.
Bu Mira mengirim pesan panjang.
Katanya keluarga mereka menyayangiku.
Katanya Siska memiliki masalah emosional sejak kematian kakaknya.
Katanya percakapan malam tadi hanyalah pembicaraan bisnis yang kusalahartikan.
Lalu datang satu pesan dari Arga.
Kalau kamu terus bersama Siska, kamu akan menyesal.
Aku menunjukkan pesan itu kepada Dimas.
Dia hanya berkata, Simpan.
Siang harinya kami mendatangi rumah lama ayah Siska di Depok.
Rumah itu kosong sejak ibunya pindah ke Bandung.
Map abu abu yang disebut Bima ternyata masih ada.
Bukan di lemari.
Bima menyembunyikannya di balik panel kayu bawah tangga.
Di dalamnya terdapat puluhan salinan dokumen.
Nama perusahaan.
Nomor rekening.
Akta pemindahan saham.
Dan satu nama yang membuatku berhenti bernapas.
Nara Komunika.
Tanggal dokumennya sebelas bulan lalu.
Jauh sebelum lamaran.
Aku membukanya dengan tangan gemetar.
Salah satu perusahaan keluarga Wibisono pernah mengajukan fasilitas kredit dengan menyebut rencana akuisisi Nara Komunika sebagai bagian dari proyeksi aset.
Mereka bahkan mencantumkan estimasi nilai perusahaanku.
Artinya mereka tidak memutuskan mengambil perusahaanku setelah Arga melamarku.
Hubungan kami sendiri mungkin merupakan bagian dari rencana.
Aku duduk di lantai.
Semua kenangan tiba tiba berubah bentuk.
Pertemuan pertamaku dengan Arga di sebuah acara bisnis.
Kebetulan dia duduk di meja sebelah.
Kebetulan dia mengenal salah satu klienku.
Kebetulan dia selalu tertarik mendengar bagaimana struktur saham perusahaanku.
Ternyata mungkin tidak ada yang kebetulan.
Siska duduk di sampingku.
Ada sesuatu lagi.
Dia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari saku.
Bima mengirim ini kepadaku seminggu sebelum meninggal.
Kenapa baru sekarang?
Aku takut membukanya.
Dimas membawa flashdisk itu kepada ahli forensik digital.
Malam berikutnya kami menerima hasilnya.
Ada beberapa rekaman suara.
Dalam salah satunya terdengar suara Pak Surya.
Perusahaan komunikasi itu berkembang cepat. Kalau anaknya bisa dekat dengan pemilik, kita punya jalan masuk.
Kemudian terdengar suara lain.
Arga.
Aku bisa mendekatinya.
Aku berhenti mendengarkan.
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Dimas mematikan rekaman.
Kamu tidak perlu mendengar sisanya sekarang.
Tidak.
Aku menyalakannya kembali.
Aku ingin tahu semuanya.
Suara Arga terdengar santai.
Beri aku waktu.
Rekaman itu dibuat empat tahun tiga bulan lalu.
Aku bertemu Arga empat tahun lalu.
Aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena kalau aku tidak tertawa, mungkin aku akan hancur.
Jadi empat tahun ini bohong?
Siska menggenggam bahuku.
Aku pulang ke apartemen menjelang subuh.
Gaun pengantin yang baru dikirim dua hari sebelumnya masih tergantung di dekat jendela.
Aku berdiri menatapnya lama.
Aku membayangkan diriku mengenakannya.
Berjalan menuju Arga.
Menandatangani dokumen.
Lalu suatu hari dokter keluarganya menyatakan aku tidak mampu mengurus perusahaan.
Mungkin mereka akan mengatakan aku mengalami depresi.
Kelelahan.
Gangguan emosional.
Apa pun yang dibutuhkan agar klausul halaman 18 bisa digunakan.
Untuk pertama kalinya aku memahami kenapa Bima mati dalam cerita mereka bahkan sebelum kebenaran tentang kematiannya benar benar diketahui.
Orang seperti keluarga Wibisono tidak hanya mengambil aset.
Mereka mengambil kendali atas cerita.
Tiga hari kemudian aku akhirnya bertemu Arga.
Bukan sendirian.
Pertemuan dilakukan di kantor pengacara.
Arga datang bersama Bu Mira dan dua pengacara.
Wajahnya tampak lelah.
Ran, katanya pelan. Aku tahu kamu marah.
Aku meletakkan cincin pertunangan di atas meja.
Aku tidak marah.
Dia memandang cincin itu.
Aku sudah selesai.
Bu Mira langsung menyela.
Jangan membuat keputusan emosional.
Aku tersenyum.
Kalimat itu menarik.
Kenapa?
Karena kata emosional juga muncul dalam dokumen halaman 18.
Wajahnya berubah.
Dimas mendorong salinan dokumen ke tengah meja.
Kami sudah melakukan pemeriksaan forensik terhadap tanda tangan digital.
Pengacara keluarga Wibisono mulai membisikkan sesuatu.
Aku menatap Arga.
Kamu mendekatiku karena perusahaan?
Dia diam.
Jawab.
Awalnya iya.
Dunia terasa berhenti sesaat.
Lalu dia buru buru menambahkan.
Tapi kemudian semuanya berubah. Aku benar benar mencintaimu.
Aku hampir percaya.
Mungkin karena sebagian kecil diriku masih ingin empat tahun hidupku tidak sepenuhnya sia sia.
Lalu Dimas memutar rekaman Bima.
Suara Arga memenuhi ruangan.
Kalau nanti dia mulai curiga, kita bisa gunakan klausul ketidakmampuan. Dokter sudah aman.
Arga langsung berdiri.
Matikan.
Aku menatapnya.
Rekaman itu dibuat dua bulan lalu.
Bukan empat tahun lalu.
Dua bulan lalu kami sedang memilih lokasi bulan madu.
Jadi bahkan setelah katanya mencintaiku, dia masih merencanakan semuanya.
Aku berdiri.
Pertemuan selesai.
Bu Mira kehilangan ketenangannya.
Kamu pikir perusahaan kecilmu akan selamat setelah mempermalukan keluarga kami?
Aku berbalik.
Nara Komunika mungkin kecil bagi kalian.
Tapi aku membangunnya tanpa menipu siapa pun.
Dan ada satu hal yang tidak kalian tahu.
Dimas tersenyum tipis.
Sejak malam pertama, kami tidak hanya mengamankan perusahaan.
Bukti mengenai dokumen palsu, percobaan akses ilegal, transaksi perusahaan keluarga Wibisono, dan rekaman Bima sudah diserahkan kepada pihak berwenang.
Wajah Bu Mira memucat.
Arga tidak berkata apa apa lagi.
Penyelidikan berlangsung berbulan bulan.
Aku tidak pernah mendapatkan kepuasan dramatis seperti dalam film.
Tidak ada satu malam ketika seluruh keluarga Wibisono tiba tiba kehilangan segalanya.
Yang terjadi jauh lebih lambat.
Pemeriksaan.
Pemanggilan.
Audit.
Penyitaan dokumen.
Kesaksian.
Satu per satu kebohongan mereka mulai terbuka.
Kasus kematian Bima juga diperiksa kembali setelah ditemukan bukti bahwa laporan awal kecelakaan mengandung sejumlah kejanggalan. Aku tidak tahu apakah seluruh kebenaran tentang malam kematiannya akan pernah terungkap.
Tetapi setidaknya namanya tidak lagi menjadi rahasia yang dikubur keluarga sendiri.
Siska pindah ke Bandung bersama ibunya.
Sebelum pergi dia datang ke kantorku.
Aku berutang terima kasih kepadamu, kataku.
Dia menggeleng.
Aku seharusnya bicara lebih cepat.
Kamu bicara ketika kamu akhirnya mampu.
Dia tersenyum untuk pertama kalinya sejak malam itu.
Kadang kadang keberanian datang terlambat.
Aku menggeleng.
Tidak. Selama kebenaran masih bisa menyelamatkan seseorang, keberanian tidak pernah benar benar terlambat.
Setahun kemudian Nara Komunika memiliki 58 pegawai.
Aku tidak menjual perusahaan.
Aku juga tidak berhenti percaya kepada manusia.
Tapi sekarang aku memahami sesuatu yang dulu tidak pernah kupikirkan.
Cinta bukan alasan untuk menyerahkan kendali atas hidupmu.
Kepercayaan tidak berarti berhenti membaca halaman terakhir.
Suatu sore, ketika sedang membereskan dokumen lama, aku menemukan kembali draf perjanjian pernikahan itu.
Aku membukanya ke halaman 18.
Ada tanda tangan palsuku di sana.
Aku menatapnya cukup lama sebelum memasukkan seluruh berkas ke kotak bukti yang masih kusimpan.
Lalu aku melihat satu detail kecil yang dulu terlewat.
Di bawah tanda tangan palsuku terdapat kode dokumen.
NK 1807.
Aku mengenali format itu.
Nara Komunika berdiri pada tanggal 18 Juli.
Aku menghubungi Dimas.
Kamu pernah perhatikan kode halaman 18?
Dia diam beberapa detik.
Belum. Kenapa?
NK 1807 bukan kode acak.
Aku membuka dokumen lama perusahaan.
Dan benar.
Empat tahun lalu, tiga minggu sebelum aku pertama kali bertemu Arga, seseorang pernah meminta profil lengkap Nara Komunika melalui surel perusahaan.
Nama pengirimnya palsu.
Tetapi nomor telepon yang tercantum masih tersimpan dalam arsip CRM lama.
Dimas memeriksanya.
Nomor itu pernah terdaftar atas nama Bima Wibisono.
Aku membeku.
Selama ini kami mengira Bima hanya menemukan rencana keluarga Wibisono setelah bekerja di perusahaan mereka.
Ternyata dia sudah mengetahui rencana terhadapku bahkan sebelum Arga mendekatiku.
Beberapa hari kemudian Siska menemukan satu surel lama Bima yang tidak pernah terkirim karena tersimpan sebagai draf.
Isinya hanya dua kalimat.
Mereka sudah memilih perempuan berikutnya.
Kalau aku gagal menghentikan mereka, pastikan Rania tahu sebelum dia menikah dengan Arga.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Bima tidak mengenalku.
Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya.
Tetapi bertahun tahun sebelum Siska menyelipkan kertas ke tanganku, seorang lelaki yang namanya kemudian dihapus dari cerita keluarganya sendiri sudah berusaha memperingatkanku.
Malam pukul 22.07 itu ternyata bukan awal dari penyelamatanku.
Itu adalah akhir dari sebuah peringatan yang membutuhkan tiga tahun untuk sampai kepadaku.
Dan sejak hari itu, setiap kali seseorang menyerahkan dokumen kepadaku sambil berkata, Tenang saja, ini cuma formalitas, aku selalu tersenyum.
Lalu aku membaca semuanya.
Terutama halaman 18.
