SETIAP MINGGU IBU MERTUAKU MENGOSONGKAN KULKAS KAMI, SUAMIKU MENYEBUTKU PELIT, SAMPAI KUTARUH SATU KOTAK RAHASIA YANG MEMBUAT MEREKA BERDUA MEMOHON MAAF DI DEPANKU PAGI ITU

Minggu pagi itu, untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku melihat Rian tidak mampu membela ibunya.

Tangannya masih menggenggam mutasi rekening ketika Bu Sari tiba-tiba berkata dengan suara gemetar.

“Uang itu bukan Mama yang minta.”

Aku menatapnya.

Rian langsung mengangkat kepala.

“Mama.”

“Biar Maya tahu semuanya.”

Wajah Rian menegang. “Ma, jangan sekarang.”

Aku tertawa pendek. Bukan karena lucu, tetapi karena kalimat itu terdengar begitu keterlaluan.

“Kalau bukan sekarang, kapan? Setelah tabungan rumah kita habis?”

Rian menunduk.

Aku menarik kursi dan duduk di hadapan mereka.

“Enam bulan. Satu setengah juta setiap bulan. Total sembilan juta. Belum makanan yang hampir dua juta bulan ini. Aku mau tahu uang itu ke mana.”

Bu Sari memejamkan mata sejenak.

“Untuk Dinda.”

Jawaban itu sebenarnya sudah kuduga, tetapi tetap terasa seperti sesuatu menghantam dadaku.

“Usahanya?”

Bu Sari mengangguk.

“Awalnya katering Dinda hampir tutup. Dia punya utang ke pemasok. Mama kasihan.”

“Jadi makanan dari kulkas kami dibawa untuk kateringnya?”

Bu Sari tidak menjawab.

Diamnya sudah cukup.

Aku menoleh kepada Rian.

“Dan kamu tahu?”

Rian mengusap wajah.

“Aku tahu soal uang.”

“Kalau makanan?”

Dia diam.

“Rian.”

“Aku tahu sebagian.”

Aku mengangguk perlahan.

Ternyata orang yang selama berbulan-bulan menyebutku pelit tahu persis mengapa kulkas kami selalu kosong.

“Jadi setiap kali aku bilang belanja kita habis, kamu tahu Mama membawanya untuk usaha Dinda?”

“Aku cuma ingin bantu keluarga.”

“Keluarga?”

Suaraku mulai bergetar.

“Aku ini apa?”

Rian mendongak.

“May, jangan begitu.”

“Jawab.”

“Kamu istriku.”

“Kalau begitu kenapa keputusan tentang uang kita justru dibuat tanpa aku?”

Dia tidak menjawab.

Aku berdiri dan mengambil salah satu amplop lain.

“Masih ada satu.”

Rian terlihat bingung.

Bu Sari juga.

Kubuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah lembar kertas.

Itu simulasi kredit rumah yang kami incar selama hampir setahun.

Rumah kecil di daerah Antapani.

Dua kamar.

Halaman sempit.

Tidak mewah, tetapi setiap kali melewati kompleksnya aku selalu membayangkan menanam bunga di depan rumah.

Target uang muka kami seratus juta.

Tiga bulan lalu tabungan kami sudah mencapai delapan puluh tujuh juta.

Aku bekerja lembur.

Berhenti membeli kopi di kantor.

Membawa bekal.

Bahkan menunda mengganti ponsel yang layarnya retak.

Aku meletakkan kertas itu di depan Rian.

“Kemarin aku ke bank.”

Rian menatapku.

“Untuk apa?”

“Karena saldo tabungan kita tidak sesuai.”

Wajahnya berubah.

Aku melanjutkan.

“Ternyata bukan cuma transfer satu setengah juta.”

Bu Sari menoleh cepat kepada anaknya.

“Rian?”

Aku mengeluarkan lembar berikutnya.

“Dua bulan lalu ada penarikan dua puluh juta.”

Bu Sari langsung berdiri.

“Dua puluh juta?”

Rian pucat.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Ke mana uangnya?”

“May, aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Dia menelan ludah.

“Dinda butuh modal.”

Aku sampai tidak bisa langsung bicara.

Bu Sari justru lebih dulu berseru.

“Kamu bilang uang itu dari bonus kantor!”

Rian memejamkan mata.

Saat itulah aku sadar.

Bu Sari ternyata tidak tahu semuanya.

“Bonus apa?” tanyaku.

Bu Sari menatapku, lalu Rian.

“Dua bulan lalu Rian kasih Dinda dua puluh juta. Katanya bonus proyek.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

Berarti suamiku tidak hanya berbohong kepadaku.

Dia juga berbohong kepada ibunya agar seolah-olah bantuan itu berasal dari uang pribadinya.

“Kenapa?” tanyaku.

Rian mulai terdengar putus asa.

“Karena Dinda hampir bangkrut. Dia punya karyawan. Ada cicilan alat. Kalau aku tidak bantu, semuanya selesai.”

“Lalu rumah kita?”

“Nanti kita kumpulkan lagi.”

Aku tersenyum pahit.

“Nanti?”

“May, kita masih muda.”

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku akhirnya patah.

Selama ini aku mengira masalah kami adalah Bu Sari yang terlalu bebas mengambil makanan.

Ternyata masalah sebenarnya berdiri tepat di depanku.

Suamiku.

Rian selalu menempatkan kebutuhan keluarganya di atas rumah tangga kami, lalu membuatku merasa bersalah ketika aku mempertanyakannya.

Belum sempat aku menjawab, bel apartemen berbunyi.

Semua terdiam.

Bu Sari menatap pintu.

“Siapa?”

Aku sudah tahu.

Aku berjalan dan membukanya.

Dinda berdiri di luar membawa tas besar.

Wajahnya cerah.

“Kak Rian, pesanan hari ini banyak banget. Mama bilang ada ayam sama telur yang bisa…”

Kalimatnya berhenti ketika melihat meja makan.

Struk.

Foto.

Mutasi rekening.

Wajahnya langsung pucat.

“Masuk, Din,” kataku.

Dia tidak bergerak.

“Aku…”

“Masuk.”

Dinda akhirnya melangkah pelan.

Bu Sari menatap putrinya.

“Dinda, kamu tahu uang dua puluh juta itu dari tabungan rumah mereka?”

Dinda memandang Rian.

Itu jawabannya.

Bu Sari menepuk meja.

“Kamu tahu?”

Air mata langsung memenuhi mata Dinda.

“Kak Rian bilang nanti diganti.”

Aku hampir tertawa lagi.

“Nanti lagi.”

Dinda mendekat kepadaku.

“Kak Maya, aku memang salah. Tapi usaha itu satu-satunya penghasilanku.”

“Aku tidak pernah melarang kalian punya usaha.”

“Aku tahu.”

“Kalau kamu datang dan bilang butuh bantuan, mungkin aku akan membantu.”

Dinda menunduk.

“Tapi kalian tidak meminta bantuan. Kalian mengambil.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Ada bedanya.”

Dinda mulai menangis.

Rian mencoba menyela.

“May, sudah. Jangan bikin Dinda merasa…”

Aku menoleh tajam.

“Merasa apa? Bersalah?”

Dia diam.

“Dia memang harus merasa bersalah. Kamu juga.”

Bu Sari tiba-tiba menangis.

“Maya.”

Aku menatapnya.

Perempuan yang selama berbulan-bulan membuatku takut menghadapi hari Minggu itu sekarang terlihat jauh lebih tua.

“Mama yang mulai,” katanya lirih.

“Waktu usaha Dinda sepi, Mama bilang ambil saja bahan dari rumah kalian. Mama pikir Rian yang beli semuanya.”

Aku mengernyit.

Bu Sari mengusap air mata.

“Rian selalu bilang dia yang menanggung belanja rumah.”

Aku menoleh kepada suamiku.

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Apa?”

Rian langsung berdiri.

“Ma, itu bukan…”

“Diam.”

Untuk pertama kalinya, Bu Sari membentak anaknya sendiri.

Dia memandangku.

“Rian bilang gajimu sebagian besar kamu simpan sendiri. Dia bilang belanja rumah, listrik, apartemen, semua dia yang bayar.”

Aku menatap Rian cukup lama.

Lalu aku mengambil ponsel.

Kubuka catatan pengeluaran kami.

“Biaya apartemen dibagi dua. Listrik aku. Internet aku. Belanja dapur hampir semuanya aku. Tabungan rumah, setiap bulan aku masuk enam juta. Rian empat juta.”

Bu Sari terlihat terpukul.

Dinda berhenti menangis.

“Enam juta?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Jadi uang yang kalian ambil selama ini sebagian besar berasal dari penghasilanku.”

Bu Sari menutup mulut.

Rian mencoba mendekatiku.

“May, aku cuma tidak mau Mama berpikir aku tidak mampu menafkahi istri.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Jadi semua ini karena harga diri.

Dia ingin terlihat sebagai anak laki-laki sukses yang membiayai rumah tangganya sendiri.

Dan untuk menjaga kebohongan itu, aku dijadikan perempuan pelit yang keberatan memberi makanan kepada mertua.

“Kamu membuatku terlihat buruk supaya kamu terlihat hebat.”

“Bukan begitu.”

“Persis begitu.”

Rian memegang lenganku.

Aku langsung melepaskannya.

“Jangan sentuh aku.”

Dia membeku.

Aku berjalan ke kamar.

Rian mengikutiku.

“May, mau ke mana?”

Aku menarik koper kecil dari bawah tempat tidur.

Wajahnya langsung panik.

“Kamu serius?”

Aku mulai memasukkan pakaian.

“May, kita bisa selesaikan.”

“Aku sudah berbulan-bulan mencoba menyelesaikan. Setiap kali aku bicara, kamu menyebutku pelit.”

“Aku minta maaf.”

Aku berhenti.

“Aku tidak butuh permintaan maaf karena kamu ketahuan.”

Dia terdiam.

“Aku butuh suami yang tidak membuat istrinya mempertanyakan apakah dirinya orang jahat hanya karena ingin menjaga uang rumah tangganya sendiri.”

Matanya mulai merah.

“Aku akan kembalikan semuanya.”

“Bukan cuma uangnya.”

Aku menutup koper.

“Kepercayaanku juga sudah kamu ambil.”

Aku keluar ke ruang tamu.

Bu Sari dan Dinda masih di sana.

Ketika melihat koperku, Bu Sari langsung berdiri.

“Maya, jangan pergi. Kalau ada yang harus pergi, Mama.”

Aku berhenti.

Bu Sari mengambil tasnya.

Kemudian, sesuatu yang tidak pernah kubayangkan terjadi.

Dia berdiri tepat di depanku dan menundukkan kepala.

“Maafkan Mama.”

Aku terdiam.

“Mama salah mengambil barang dari rumahmu tanpa izin. Mama juga salah langsung percaya cerita Rian dan menganggap kamu perempuan yang terlalu perhitungan.”

Dinda ikut berdiri.

“Kak Maya, aku juga minta maaf.”

Dia membuka tas besar yang tadi dibawanya.

Di dalamnya bukan wadah makanan.

Ada sebuah buku catatan dan amplop tebal.

“Aku sebenarnya datang hari ini mau kasih ini ke Kak Rian.”

Dia mengeluarkan uang.

“Usahaku mulai untung dua minggu terakhir. Ini tujuh juta. Aku baru bisa mengembalikan segini.”

Rian menatap adiknya.

Dinda menggeleng.

“Jangan lihat aku begitu, Kak. Kamu bilang Kak Maya tahu soal uangnya. Kalau aku tahu dia tidak tahu, aku tidak akan menerimanya.”

Aku tidak langsung percaya.

Namun Dinda membuka ponselnya dan menunjukkan percakapan mereka.

Aku membaca satu pesan dari dua bulan lalu.

Kak Maya tidak masalah?

Jawaban Rian berada tepat di bawahnya.

Santai. Maya tahu. Ini keputusan kami berdua.

Aku mengembalikan ponselnya.

Ternyata kebohongan Rian memiliki lebih banyak korban daripada yang kukira.

Aku tidak jadi pergi pagi itu.

Bukan karena langsung memaafkan.

Aku meminta Rian yang keluar.

Dia tinggal sementara di kos teman kantornya.

Selama tiga minggu kami hampir tidak bertemu.

Bu Sari tidak pernah lagi datang mengambil makanan.

Anehnya, dia justru mulai datang membawa sesuatu.

Kadang singkong dari Sumedang.

Kadang sayur.

Kadang hanya dua bungkus tahu.

Setiap kali datang dia selalu berdiri di pintu dan bertanya.

“Mama boleh masuk?”

Kalimat sederhana itu membuatku sadar bahwa batas sebenarnya bukan tentang makanan.

Batas adalah tentang menghormati hak orang lain.

Dinda mengembalikan uang sedikit demi sedikit.

Dia bahkan membuat pembukuan khusus bernama Utang Kak Maya.

Aku tertawa ketika pertama kali melihatnya.

Empat bulan kemudian, seluruh uang dua puluh juta kembali.

Sedangkan Rian melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Dia menjual motor keduanya.

Motor itu hobinya.

Dari uang penjualan tersebut, dia mengembalikan semua transfer yang pernah diam-diam diambil dari tabungan rumah.

Namun aku tetap belum mengizinkannya pulang.

Sampai suatu malam dia datang membawa sebuah map.

Aku mengira itu dokumen rumah.

Ternyata bukan.

Isinya perjanjian sederhana yang dia buat sendiri.

Semua pengeluaran bersama harus diketahui kedua pihak.

Tidak ada bantuan kepada keluarga menggunakan uang bersama tanpa persetujuan.

Tidak ada lagi kebohongan tentang siapa yang membayar apa.

Dan di bagian paling bawah ada satu kalimat.

Kalau aku kembali membuatmu merasa bersalah karena mempertahankan batas yang sehat, kamu berhak meninggalkanku.

Aku menatapnya.

“Kamu pikir kertas ini memperbaiki semuanya?”

“Tidak.”

Jawabannya membuatku terdiam.

Rian menatapku dengan mata merah.

“Aku cuma ingin menunjukkan bahwa sekarang aku mengerti masalahnya bukan dua puluh juta. Masalahnya aku tidak menghormatimu sebagai pasangan.”

Untuk pertama kalinya, dia tidak mencari alasan.

Kami tidak langsung kembali seperti dulu.

Butuh berbulan-bulan.

Ada konseling.

Ada pertengkaran.

Ada malam ketika aku masih teringat semua kebohongannya.

Namun perlahan kami belajar membangun rumah tangga yang baru, bukan memperbaiki yang lama.

Setahun kemudian, kami akhirnya mendapatkan rumah kecil yang dulu kuinginkan.

Bukan rumah di Antapani itu.

Rumah tersebut sudah terjual kepada orang lain.

Kami menemukan rumah lain yang lebih kecil di pinggiran Bandung.

Pada Minggu pertama setelah pindah, Bu Sari datang.

Aku sedang memasak ketika mendengar kulkas dibuka.

Tubuhku refleks menegang.

Lalu terdengar suaranya.

“May.”

Aku menoleh.

Bu Sari berdiri di depan kulkas sambil memegang sekotak stroberi.

“Mama boleh ambil dua?”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian kami sama-sama tertawa.

“Ambil sekotak juga tidak apa-apa, Bu.”

Dia menggeleng cepat.

“Dua saja. Mama sudah kapok.”

Rian yang sedang memasang rak di ruang tamu ikut tertawa.

Aku kembali mengaduk masakan.

Di pintu kulkas rumah baru kami tidak ada lagi catatan pengeluaran.

Tidak ada struk.

Tidak ada foto bukti.

Hanya sebuah magnet kecil berbentuk rumah.

Di bawahnya terselip kertas dari kotak putih yang kusimpan sejak hari itu.

TOTAL MAKANAN YANG DIBAWA DARI RUMAH INI DALAM EMPAT MINGGU: RP1.782.500.

Rian pernah bertanya mengapa aku masih menyimpannya.

Aku mengatakan karena kertas itu mengingatkanku pada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang.

Keluarga boleh saling membantu.

Anak boleh membantu orang tua.

Kakak boleh menolong adik.

Suami dan istri boleh berkorban untuk keluarga mereka.

Tetapi kasih sayang yang sehat tidak membutuhkan kebohongan.

Dan kebaikan yang dipaksakan dengan membuat seseorang merasa bersalah bukanlah kebaikan.

Lucunya, kotak kosong yang sengaja kutaruh di kulkas untuk mempermalukan mereka justru menyelamatkan rumah tanggaku.

Bukan karena empat amplop di dalamnya.

Melainkan karena pagi itu, untuk pertama kalinya, semua orang berhenti mengambil sesuatu dariku dan mulai mendengarkan apa yang selama ini tidak pernah berani kukatakan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang