Aku menatap pesan Mahesa sampai huruf-huruf di layar ponsel terasa kabur.
Sekarang kamu tahu kenapa aku sengaja menyuruhmu mengantarnya pulang.
Tanganku gemetar.
Aku mengetik cepat.
Apa yang sebenarnya kamu tahu?
Tidak ada jawaban.
Aku menelepon lagi. Tetap tidak diangkat.

Akhirnya aku mengirim satu kalimat.
Kalau ini permainan untuk membalas dendam, hentikan.
Kali ini balasannya datang hampir seketika.
Besok. Jam tujuh pagi. Kantorku.
Aku tidak tidur malam itu.
Satu kata terus berputar di kepalaku.
USB.
Sembilan tahun lalu, benda kecil itulah yang menghancurkan hidup kami.
Aku masih ingat malam ketika Mahesa berdiri di depan apartemenku dengan wajah pucat. Tangannya menggenggam USB yang ditemukan di tasku.
“Aku cuma mau dengar dari kamu,” katanya waktu itu. “Katakan kamu tidak melakukannya.”
Aku ingin mengatakannya.
Aku ingin memeluknya dan bersumpah bahwa aku tidak pernah menjual data perusahaannya.
Tetapi beberapa jam sebelumnya, seseorang sudah mengirim foto ibuku yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
Pesannya singkat.
Mengaku dan pergi dari Jakarta, atau ibumu tidak akan pulang.
Aku berusia dua puluh lima tahun.
Takut.
Bodoh.
Dan sendirian.
Jadi ketika Mahesa bertanya apakah aku mengkhianatinya, aku hanya berkata, “Maaf.”
Itulah kebohongan terbesar dalam hidupku.
Keesokan paginya aku tiba di kantor Mahesa sebelum pukul tujuh.
Dia sudah menunggu.
Tidak ada sekretaris. Tidak ada staf.
Hanya kami berdua.
Mahesa meletakkan sebuah tablet di meja.
“Duduk.”
“Aku tidak datang untuk diperintah.”
“Dan aku tidak mengundangmu untuk bertengkar.”
Aku tetap berdiri.
“Calista bicara tentang USB. Apa hubungannya dengan sembilan tahun lalu?”
Mahesa menatapku lama sebelum menggeser tablet ke arahku.
Di layar terdapat foto laporan transaksi bank.
Rekening atas namaku.
Transfer yang dulu dianggap sebagai pembayaran karena aku menjual data perusahaan.
Namun ada sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Rekening pengirim.
Gunawan Strategic Holdings.
Aku merasa udara di ruangan itu menghilang.
“Keluarga Calista?”
Mahesa mengangguk.
“Perusahaan induk milik ayahnya.”
“Tidak mungkin.”
“Justru sangat mungkin.”
Mahesa membuka dokumen berikutnya.
Sembilan tahun lalu, kompetitor yang memperoleh data startup Mahesa ternyata menerima pendanaan tidak langsung dari perusahaan milik keluarga Gunawan.
“Aku menemukan hubungan itu tiga tahun lalu,” katanya.
Aku menatapnya.
“Tiga tahun?”
“Awalnya kupikir kebetulan. Lalu aku mulai menyelidiki.”
“Kenapa tidak mencariku?”
Rahang Mahesa mengeras.
“Karena semua bukti tetap mengatakan kamu yang mengambil data.”
Aku tertawa kecil, pahit.
“Jadi kamu masih menganggapku bersalah.”
“Aku tidak tahu.”
Jawabannya lebih menyakitkan daripada tuduhan.
Mahesa bangkit.
“Tapi ada sesuatu yang membuatku berubah pikiran.”
Dia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah amplop tua.
Aku langsung mengenali tulisan tangan di bagian depan.
Untuk Mahesa.
Tulisan tanganku sendiri.
Darahku berdesir.
“Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Ibumu.”
Aku membeku.
Mahesa menatapku lurus.
“Beliau menemuiku dua bulan sebelum meninggal.”
Mataku langsung panas.
Ibuku meninggal tiga tahun lalu.
Selama bertahun-tahun, dia satu-satunya orang yang mengetahui sebagian kebenaran.
“Dia memberikan surat ini,” lanjut Mahesa. “Katanya kamu menulisnya malam sebelum meninggalkan Jakarta, tetapi tidak pernah berani mengirimkannya.”
Aku mengambil amplop itu.
Di dalamnya tertulis pengakuanku.
Tentang ancaman.
Tentang foto ibu di rumah sakit.
Tentang seseorang yang memaksaku pergi.
Tentang keyakinanku bahwa jika aku bicara, Mahesa juga akan dihancurkan.
Mahesa berkata pelan, “Kenapa kamu tidak pernah mencariku setelah semuanya aman?”
Aku menutup mata.
“Karena tidak pernah benar-benar aman.”
Aku membuka ponsel lama yang selalu kusimpan di tas.
Di sebuah folder tersembunyi terdapat foto yang tidak pernah kuhapus.
Mahesa melihatnya.
Foto ibuku terbaring di rumah sakit.
Foto rumah kami.
Foto Mahesa sedang keluar dari kantornya.
Semua dikirim dari nomor anonim.
Pesan terakhir berbunyi.
Kalau kamu kembali kepadanya, kali ini dia yang akan kehilangan segalanya.
Wajah Mahesa berubah.
“Kenapa kamu tidak melapor?”
“Melapor dengan apa? Nomor sekali pakai? Foto yang bisa diambil siapa saja?”
“Setidaknya kamu bisa memberitahuku.”
“Aku melihat perusahaanmu hancur karena aku berada di dekatmu, Mahesa.”
Suaraku pecah untuk pertama kalinya.
“Aku pikir satu-satunya cara menyelamatkanmu adalah menghilang.”
Dia berdiri diam.
Kemudian berkata sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Aku datang ke atelier itu bukan untuk membuatmu melihatku menikah.”
Aku menatapnya.
“Aku datang karena aku butuh kamu.”
Mahesa menjelaskan bahwa enam bulan terakhir, seseorang menjual data internal Adiprana Digital Logistics kepada pihak luar.
Polanya hampir sama dengan sembilan tahun lalu.
Namun kali ini Mahesa memasang jebakan.
Dia membuat beberapa USB dengan data berbeda dan mencatat siapa yang memiliki akses.
Satu USB diberikan kepada Calista.
Data di dalamnya bukan rahasia perusahaan yang sebenarnya, melainkan informasi palsu yang sengaja dirancang agar bisa dilacak.
“Telepon yang kamu dengar semalam adalah bukti pertama bahwa dia mencoba menjualnya.”
“Lalu kenapa melibatkan aku?”
“Karena aku ingin melihat reaksinya ketika mendengar namamu.”
Aku teringat wajah Calista yang membeku.
Mahesa sudah merencanakan semuanya.
“Jadi pernikahan kalian?”
Mahesa tidak langsung menjawab.
“Pertunangan kami nyata.”
Entah mengapa dadaku terasa sesak.
“Tapi aku belum pernah menetapkan tanggal pernikahan.”
Aku menatapnya.
“Lalu setelan itu?”
“Alasan untuk mendekatimu tanpa membuat Calista curiga.”
Aku hampir tertawa karena marah.
“Kamu mempermainkanku.”
“Aku sedang mencoba mencari tahu apakah sembilan tahun lalu aku menghukum orang yang salah.”
Sebelum aku sempat menjawab, pintu ruang kerja terbuka.
Calista berdiri di sana.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
“Jawabannya iya.”
Mahesa bergerak cepat.
“Calista.”
Perempuan itu masuk dan meletakkan ponselnya di meja.
“Kamu menghukum orang yang salah.”
Ruangan mendadak sunyi.
Calista menatapku.
“Aku memang mengenal namamu, Keira.”
“Karena ayahmu?”
Dia tersenyum getir.
“Karena kakakku.”
Aku mengernyit.
Calista kemudian menyebut sebuah nama yang sudah lama tidak kudengar.
Adrian Gunawan.
Aku mengenalnya.
Sembilan tahun lalu Adrian adalah salah satu investor awal startup Mahesa.
Orang yang sering datang ke kantor.
Orang yang mengetahui jadwal kami.
Orang yang pernah meminjam laptopku karena katanya ingin mengirim presentasi.
Aku menatap Mahesa.
Dia juga tampak terkejut.
“Adrian yang mengambil datanya,” kata Calista.
“Bohong,” ujar Mahesa.
“Aku berharap begitu.”
Calista mengeluarkan USB kecil dari tasnya.
“Ini yang sebenarnya ingin kujual.”
Mahesa tidak menyentuhnya.
Calista tertawa pelan.
“Tenang. Bukan data perusahaanmu.”
“Lalu?”
“Pengakuan kakakku.”
Adrian meninggal empat bulan sebelumnya akibat serangan jantung.
Sebelum meninggal, dia meninggalkan sejumlah dokumen dan rekaman suara kepada Calista.
Dari situlah Calista mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sembilan tahun lalu.
Adrian mencuri data Mahesa dan menjualnya kepada kompetitor.
Namun rencananya hampir terbongkar.
Dia membutuhkan kambing hitam.
Keira Anindhita.
Aku.
Dia menggunakan akses ke laptopku untuk menyalin file, memasukkan USB ke tasku, kemudian meminta salah satu perusahaan ayahnya mentransfer uang ke rekeningku.
“Ancaman terhadap ibumu juga dari Adrian,” kata Calista.
Lututku terasa lemas.
Selama sembilan tahun aku hidup dalam ketakutan terhadap seseorang yang kini sudah mati.
“Kenapa kamu meminta dua belas miliar?” tanyaku.
Calista menatap USB itu.
“Karena ada orang lain yang terlibat.”
Mahesa menyipitkan mata.
“Siapa?”
Calista menjawab pelan.
“Ayahku.”
Ternyata Adrian tidak bekerja sendiri.
Ayah Calista mengetahui pencurian data tersebut dan membantu menutupinya demi memperoleh keuntungan dari kehancuran startup Mahesa.
Setelah Adrian meninggal, Calista menemukan bukti itu.
Dia menghubungi ayahnya sendiri dan meminta dua belas miliar.
Bukan untuk dirinya.
“Aku ingin melihat apakah dia masih bersedia membayar untuk mengubur kejahatan yang sama,” katanya.
“Dan dia setuju.”
Calista memperlihatkan rekaman percakapan di ponselnya.
Suara seorang laki-laki terdengar jelas.
Hancurkan USB itu setelah uang masuk. Jangan sampai Mahesa tahu apa yang terjadi pada Keira sembilan tahun lalu.
Aku menutup mulut.
Mahesa tidak bergerak.
Wajahnya kehilangan seluruh warna.
Calista menatapnya.
“Sekarang kamu punya bukti.”
Mahesa memandang calon istrinya.
“Kamu tahu semua ini sejak kapan?”
“Empat bulan.”
“Dan kamu tidak memberitahuku?”
“Aku tidak tahu apakah kamu akan percaya.”
Calista kemudian menatapku.
“Persis seperti Keira sembilan tahun lalu.”
Kalimat itu menghantam kami semua.
Orang yang takut tidak dipercaya akhirnya memilih diam.
Dan diam ternyata bisa menghancurkan lebih banyak hal daripada kebohongan.
Kasus itu kemudian diserahkan kepada polisi.
Penyelidikan terhadap transaksi lama dibuka kembali. Sejumlah mantan eksekutif diperiksa, termasuk ayah Calista.
Pertunangan Mahesa dan Calista berakhir.
Bukan karena pengkhianatan.
Calista sendiri yang mengembalikan cincin itu.
“Aku menyayangimu,” katanya kepada Mahesa di atelier beberapa minggu kemudian. “Tapi sejak awal sebagian hubungan kita dibangun di atas rahasia keluargaku. Kita pantas mendapatkan hidup yang tidak dimulai dari utang masa lalu.”
Mahesa tidak menahannya.
Aku menghormati Calista karena itu.
Tiga bulan berlalu.
Suatu sore Mahesa datang lagi ke atelier.
Sendirian.
Dia membawa setelan yang kujahit.
“Kenapa dibawa kembali?”
“Tidak jadi dipakai.”
“Bisa disimpan.”
“Aku tidak mau.”
Aku menghela napas.
“Mahesa, setelan custom tidak bisa dikembalikan hanya karena pernikahannya batal.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
Dia menggantung setelan itu di depan cermin.
Kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku.
Sebuah kotak kecil.
Aku langsung mundur.
“Jangan.”
Mahesa terdiam.
“Keira.”
“Jangan melakukan ini karena merasa bersalah.”
“Aku tidak merasa bersalah.”
Aku menatapnya tajam.
“Selama sembilan tahun kamu membenciku.”
“Ya.”
“Dan sekarang setelah tahu kebenarannya, kamu pikir kita bisa kembali seperti dulu?”
“Tidak.”
Jawabannya membuatku diam.
Mahesa mendekat satu langkah.
“Kita tidak akan pernah kembali seperti dulu.”
Dia meletakkan kotak itu di meja tanpa membukanya.
“Aku kehilangan sembilan tahun karena aku memilih mempercayai bukti daripada orang yang kucintai. Kamu kehilangan sembilan tahun karena memilih melindungiku tanpa memberiku kesempatan memilih.”
Mataku mulai panas.
“Kita sama-sama salah.”
Dia tersenyum kecil.
“Jadi aku tidak datang untuk meminta sembilan tahun itu kembali.”
“Lalu?”
“Aku ingin mengenalmu lagi.”
Aku memandang laki-laki di depanku.
Bukan Mahesa berusia dua puluh lima tahun.
Dan aku bukan lagi Keira yang ketakutan di sebuah apartemen kecil.
Kami adalah dua orang berbeda yang membawa luka dari cerita yang sama.
Mahesa menunjuk setelan itu.
“Ini tetap akan kupakai suatu hari nanti.”
“Percaya diri sekali.”
“Penjahitnya pernah berjanji.”
Aku tertawa untuk pertama kalinya di depannya setelah sembilan tahun.
Namun aku tidak mengambil kotak di meja.
Belum.
Setahun kemudian, setelan itu akhirnya keluar dari lemari atelier.
Aku memperbaiki bagian pinggangnya karena Mahesa ternyata sedikit bertambah berat.
Dia protes sepanjang fitting.
Dan pada suatu Sabtu pagi di sebuah gedung kecil di Jakarta Selatan, Mahesa mengenakannya.
Bukan di pesta mewah.
Tidak ada ratusan tamu.
Hanya keluarga dan orang-orang yang benar-benar kami percaya.
Sebelum akad dimulai, Mahesa berdiri di depanku.
“Bagaimana?”
Aku membetulkan kerah jasnya.
“Lumayan.”
“Cuma lumayan?”
Aku tersenyum.
“Setidaknya kali ini kamu menikahi perempuan yang tepat.”
Dia menggenggam tanganku.
Aku mengira sembilan tahun lalu seseorang telah mencuri masa depan kami.
Ternyata aku salah.
Masa depan tidak pernah bisa dicuri.
Yang bisa dicuri hanyalah waktu.
Dan selama kita masih hidup, selalu ada kesempatan untuk membangun sesuatu dari waktu yang tersisa.
Mahesa menatap setelan yang kujahit untuknya, lalu menatap gaun putih sederhana yang kukenakan.
“Keira.”
“Ya?”
“Dulu kamu berjanji akan membuat setelan pernikahanku.”
Aku tersenyum.
“Aku ingat.”
Dia menggenggam tanganku lebih erat.
“Ternyata dari awal kamu cuma salah satu hal.”
“Apa?”
“Pengantinnya juga seharusnya kamu.”
