PENGUSAHA KAYA PULANG DEMI MENGAMBIL PASPOR, NAMUN MENEMUKAN IBU KANDUNGNYA BERLUTUT SAMBIL MENGGENDONG BAYI KEMBAR DI PUNGGUNG… REKAMAN RAHASIA MEMBONGKAR RENCANA KEJAM SANG ISTRI!

Rian masih memegang brosur panti jompo itu ketika ambulans datang.

Tangannya gemetar.

Nama ibunya tercetak jelas di sana.

Rahmawati.

Usia 68 tahun.

Tanggal masuk Jumat.

Bahkan kamar yang akan ditempati sudah dipilih.

Rian menatap Clara.

“Apa ini?”

Clara membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

“Aku tanya, apa ini?”

“Mas, dengarkan dulu.”

“Kenapa nama Ibu ada di formulir panti jompo?”

Clara menelan ludah.

“Aku cuma mencari informasi. Belum tentu jadi.”

Rian memandang ibunya yang sedang dipindahkan petugas medis ke tandu.

Wajah Ibu Rahma pucat.

Di kedua lengannya terlihat lebam yang selama ini selalu tertutup baju panjang.

Salah satu petugas medis menatap Rian serius.

“Pak, ibu Anda harus dibawa ke rumah sakit. Tekanan darahnya turun dan kami khawatir ada cedera di bagian pinggul.”

Rian mengangguk tanpa benar-benar mendengar.

Matanya tetap menatap Clara.

Untuk pertama kalinya selama tujuh tahun pernikahan mereka, perempuan itu tampak takut kepadanya.

Clara buru-buru mendekati kedua bayinya.

“Mas, aku ikut ke rumah sakit.”

“Tidak.”

Clara berhenti.

“Rian…”

“Kamu tetap di rumah.”

“Tapi anak-anak…”

“Aku bawa mereka.”

“Mas, mereka masih kecil. Mereka butuh aku.”

Rian menatapnya dingin.

“Ibuku juga butuh keluarganya.”

Kalimat itu membuat Clara membeku.

Satu jam kemudian, Ibu Rahma berada di ruang pemeriksaan sebuah rumah sakit swasta di Tangerang.

Dokter menemukan memar pada pinggul, dehidrasi ringan, tekanan darah rendah, dan luka lama di pergelangan tangan.

Untungnya tidak ada tulang yang patah.

Namun dokter meminta Ibu Rahma dirawat setidaknya dua malam untuk observasi.

Rian duduk di samping ranjang sambil memegang tangan ibunya.

Rizky dan Rival tertidur di stroller dekat jendela.

Ketika Ibu Rahma akhirnya membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah putranya.

Air matanya langsung mengalir.

“Rian…”

“Ibu jangan bicara dulu.”

“Maaf.”

Kata itu justru membuat dada Rian sesak.

“Ibu kenapa minta maaf?”

Ibu Rahma mengalihkan pandangan.

“Karena Ibu membuat rumah tanggamu kacau.”

Rian terdiam beberapa detik.

“Sejak kapan Clara memperlakukan Ibu seperti itu?”

Ibu Rahma tidak menjawab.

“Bu.”

“Rian…”

“Sejak kapan?”

Suara Rian pecah.

Ibu Rahma menarik napas panjang.

“Hampir setahun.”

Rian merasa seperti baru saja dipukul.

“Hampir setahun?”

Ibu Rahma mengangguk pelan.

“Sejak kamu mulai sering ke luar kota.”

“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”

“Karena dia bilang kamu akan menganggap Ibu pikun.”

Rian menutup mata.

Beberapa bulan terakhir, Clara memang berkali-kali mengatakan bahwa Ibu Rahma mulai pelupa.

Ia pernah mengatakan Ibu Rahma menaruh sendok di lemari pakaian.

Pernah mengatakan Ibu Rahma hampir meninggalkan kompor menyala.

Bahkan dua minggu lalu Clara menyarankan agar mereka membawa Ibu Rahma ke dokter saraf.

Saat itu Rian percaya.

Bukan karena ia meragukan ibunya.

Ia hanya mengira istrinya benar-benar khawatir.

“Brosur panti jompo itu bagaimana?”

Wajah Ibu Rahma berubah.

“Ibu menemukannya di meja kerja Clara tadi pagi.”

“Ada formulir pendaftarannya?”

Ibu Rahma mengangguk.

“Sudah diisi.”

Rian berdiri.

“Kenapa dia ingin memasukkan Ibu ke sana?”

Ibu Rahma memejamkan mata.

“Karena Jumat kamu seharusnya berangkat ke Singapura selama sepuluh hari.”

Rian membeku.

Ia memang punya perjalanan bisnis ke Singapura pada Jumat pagi.

Tidak banyak orang yang tahu jadwal itu.

Hanya sekretarisnya, Clara, dan dua orang direksi.

“Ibu dengar Clara menelepon seseorang,” lanjut Ibu Rahma.

“Dia bilang setelah Ibu masuk panti, rumah ini akan lebih mudah dijual.”

Rian menatap ibunya.

“Dijual?”

“Ibu tidak tahu.”

Rumah di BSD itu dibeli Rian lima tahun lalu.

Sertifikatnya atas nama Rian.

Clara tidak mungkin menjualnya tanpa persetujuan.

Setidaknya itulah yang Rian pikirkan.

Malam itu, setelah memastikan ibunya tidur dan kedua bayinya dijaga pengasuh dari rumah sakit, Rian kembali ke rumah.

Clara menunggunya di ruang tamu.

Matanya sembap.

Koper kecil tergeletak di dekat sofa.

“Aku mau menjelaskan semuanya.”

Rian meletakkan brosur panti jompo di meja.

“Jelaskan.”

Clara menarik napas.

“Aku memang salah memperlakukan Ibu.”

“Salah?”

“Aku kehilangan kontrol.”

“Dengan memaksanya mengepel sambil menggendong dua bayi?”

Clara mulai menangis.

“Aku capek, Mas. Aku mengurus anak, rumah, semua sendiri.”

“Kita punya tiga asisten rumah tangga.”

“Mereka tidak selalu ada.”

“Dua orang tinggal di belakang.”

Clara terdiam.

Rian menatapnya tajam.

“Di mana mereka hari ini?”

Clara tidak menjawab.

Rian langsung memanggil salah satu asisten rumah tangga melalui telepon.

Tidak aktif.

Ia mencoba nomor yang lain.

Sama.

“Kamu memberhentikan mereka?”

“Mereka pulang kampung.”

“Kapan?”

“Beberapa hari lalu.”

Rian tertawa pendek, tanpa sedikit pun rasa lucu.

“Clara, jangan bohong lagi.”

“Aku tidak bohong.”

Rian berjalan menuju ruang kerjanya.

Ia membuka laci.

Paspor yang tadi pagi ia cari sebenarnya masih tergeletak di meja.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Sebuah map biru yang biasanya tersimpan di lemari besi tidak ada.

Map itu berisi salinan sertifikat rumah, akta perusahaan, dan beberapa dokumen penting keluarganya.

Rian menoleh.

“Di mana map biruku?”

Clara langsung pucat.

“Aku tidak tahu.”

Rian tidak menjawab.

Ia membuka aplikasi kamera keamanan rumah dari laptop.

Clara tersentak.

Selama ini Rian memang memasang beberapa kamera di area luar, garasi, ruang keluarga, dan koridor demi keamanan anak-anak.

Namun beberapa bulan terakhir, Clara selalu mengatakan sistemnya bermasalah.

Rian jarang memeriksa karena sibuk.

Anehnya, rekaman dua kamera memang tidak aktif.

Tapi kamera kecil di dekat rak buku masih menyimpan rekaman ke server cadangan.

Rian memutar rekaman seminggu terakhir.

Clara berdiri kaku di belakangnya.

Pada rekaman tiga hari sebelumnya, terlihat Clara memasuki ruang kerja setelah Rian tidur.

Ia membuka laci.

Mengambil map biru.

Lalu memotret beberapa dokumen menggunakan telepon genggam.

Rian menghentikan video.

“Untuk apa?”

Clara mulai menangis lebih keras.

“Aku cuma…”

Rian melanjutkan rekaman.

Dua hari sebelumnya, seorang pria datang ketika Rian tidak berada di rumah.

Pria itu mengenakan kemeja abu-abu dan membawa tas kerja.

Mereka berbicara di ruang keluarga.

Suara rekaman tidak terlalu jelas.

Rian memperbesar volume.

“Kalau surat kuasa ini sudah ditandatangani, rumah bisa diagunkan.”

Suara pria itu terdengar.

Rian merasakan tubuhnya dingin.

Clara menjawab.

“Dia sering tanda tangan tanpa baca kalau saya taruh di antara dokumen kantor.”

“Dan ibunya?”

“Jumat saya keluarkan dari rumah.”

“Kalau nanti dia curiga?”

“Tidak akan. Saya sudah buat semua orang percaya dia mulai pikun.”

Rian menghentikan video.

Ruang kerja seketika hening.

Clara menutup wajah.

“Mas, aku bisa jelaskan.”

“Belum selesai.”

Rian melanjutkan video.

Pria itu bertanya, “Utangmu sebenarnya berapa?”

Clara diam beberapa detik.

“Delapan miliar.”

Rian menatap layar tanpa berkedip.

“Kalau rumah ini masuk jaminan, sebagian besar selesai,” kata pria itu.

“Setelah itu bagaimana dengan perusahaan suamimu?”

Clara menjawab pelan.

“Pelan-pelan. Saya sudah punya akses ke beberapa rekening operasional.”

Rian langsung berdiri.

“Apa?”

Clara mundur.

“Rian…”

“Kamu menyentuh rekening perusahaan?”

“Tidak seperti yang kamu pikir.”

Rian segera menelepon kepala keuangannya.

Sudah hampir tengah malam.

Namun beberapa menit kemudian, suara panik terdengar dari seberang.

“Pak, ada beberapa transaksi yang memang aneh. Saya kira Bapak yang menyetujui karena menggunakan token cadangan.”

Rian menatap Clara.

Token cadangan itu disimpan di rumah.

“Total?”

“Sekitar satu koma dua miliar dalam tiga bulan terakhir.”

Rian tidak mengatakan apa-apa.

Ia menutup telepon.

Clara jatuh terduduk.

“Aku bisa kembalikan.”

“Dengan menggadaikan rumah?”

“Aku terjebak.”

“Utang apa sampai delapan miliar?”

Clara menangis.

Awalnya ia berbisnis barang mewah dengan beberapa teman sosialitanya.

Tas impor, jam tangan, investasi barang koleksi.

Lalu ia meminjam uang untuk menutup kerugian.

Kemudian mencoba trading.

Kerugiannya semakin besar.

Agar Rian tidak tahu, Clara menggunakan kartu kredit tambahan, pinjaman pribadi, dan akhirnya uang perusahaan.

Namun masalahnya bukan hanya uang.

Ibu Rahma tanpa sengaja pernah melihat pesan penagih utang di telepon Clara.

Sejak hari itu, Clara mulai takut.

Takut Ibu Rahma bicara.

Takut Rian tahu.

Maka Clara membangun cerita bahwa Ibu Rahma mulai pikun.

Sedikit demi sedikit.

Sampai semua orang percaya.

“Kenapa menyiksa Ibu?”

Rian bertanya dengan suara pelan.

Pertanyaan itu justru lebih menakutkan daripada teriakan.

Clara menatap lantai.

“Aku marah setiap melihat dia.”

“Kenapa?”

“Karena dia tahu.”

“Itu saja?”

Clara menangis.

“Karena dia selalu membuatku merasa gagal.”

Rian mengernyit.

“Ibu bahkan tidak pernah ikut campur urusan kita.”

“Itu masalahnya.”

Clara tertawa kecil di antara tangisannya.

“Dia tidak perlu mengatakan apa-apa. Setiap kali dia melihatku, aku merasa dia tahu aku bukan perempuan sebaik yang kamu kira.”

Rian menatap istrinya cukup lama.

Kemudian ia mengambil telepon genggam.

“Aku akan menyerahkan semua rekaman ini ke polisi.”

Clara langsung berdiri.

“Rian, jangan!”

“Kamu mencuri uang perusahaan.”

“Demi anak-anak kita, Mas.”

“Jangan gunakan anak-anak untuk menyelamatkan dirimu.”

“Aku ibu mereka!”

Rian menatapnya.

“Ibuku juga seorang ibu.”

Clara terdiam.

Keesokan paginya, polisi datang.

Pria dalam rekaman diketahui bernama Andre, seorang perantara pinjaman ilegal yang sudah beberapa kali dilaporkan terkait pemalsuan dokumen.

Telepon Clara diperiksa.

Dari sana ditemukan percakapan tentang rencana memalsukan tanda tangan Rian, menjadikan rumah sebagai jaminan, serta memindahkan Ibu Rahma ke sebuah panti.

Namun polisi menemukan sesuatu yang bahkan tidak diketahui Rian.

Clara ternyata sudah membayar uang muka tiga bulan untuk panti tersebut.

Di formulir medis, ia menuliskan bahwa Ibu Rahma mengalami demensia sedang dan kerap membahayakan cucunya.

Semua dibuat agar staf panti tidak mudah mempercayai apa pun yang dikatakan Ibu Rahma setelah masuk.

Rian membaca dokumen itu di rumah sakit.

Tangannya mengepal.

“Dia benar-benar ingin membuat semua orang berpikir Ibu gila.”

Ibu Rahma duduk di ranjang sambil menatap jendela.

“Sudahlah, Nak.”

“Bagaimana Ibu bisa bilang sudahlah?”

“Karena marah terus tidak akan mengembalikan waktu.”

Rian menundukkan kepala.

“Aku gagal melindungi Ibu.”

Ibu Rahma menatap putranya.

“Kamu tidak gagal.”

“Aku tinggal serumah dan tidak melihat apa pun.”

“Kamu percaya kepada istrimu. Itu bukan kejahatan.”

Rian menangis untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal belasan tahun sebelumnya.

Ia menggenggam tangan ibunya.

“Aku bahkan hampir membawa Ibu ke dokter karena kukira Ibu pikun.”

Ibu Rahma tersenyum tipis.

“Ibu tahu.”

“Kenapa Ibu tidak marah?”

“Karena Ibu tahu suatu hari kamu akan melihat sendiri.”

Rian terdiam.

Lalu Ibu Rahma mengatakan sesuatu yang membuatnya mengangkat kepala.

“Sebenarnya Ibu punya rekaman juga.”

“Apa?”

Ibu Rahma meminta Rian mengambil tas kain kecil yang dibawa perawat dari rumah.

Di dalamnya ada sebuah gantungan kunci berbentuk bunga.

“Ini?”

“Tekan bagian tengahnya.”

Rian melakukannya.

Terdengar suara.

Rekaman.

Beberapa bulan lalu, seorang tetangga Ibu Rahma yang bekerja di toko elektronik memberinya alat perekam kecil setelah Ibu Rahma bercerita bahwa teleponnya sering disita Clara.

Ibu Rahma tidak pernah berani menggunakannya.

Sampai tiga minggu sebelumnya.

Rian mendengarkan puluhan rekaman.

Bentakan Clara.

Ancaman.

Suara benda dibanting.

Tangisan bayi.

Lalu sebuah percakapan yang membuat semuanya berubah.

Suara Clara terdengar berbicara melalui telepon.

“Kalau Rian tidak mau tanda tangan, aku punya pilihan lain.”

Suara laki-laki menjawab samar.

“Apa?”

“Asuransi.”

Rian menghentikan rekaman.

Wajahnya kehilangan warna.

Ia memutar lagi.

Clara melanjutkan.

“Dia punya polis besar sejak dua tahun lalu. Kalau sesuatu terjadi saat perjalanan bisnis, semuanya selesai.”

Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang bergerak.

Rian menatap ibunya.

“Ibu sudah dengar ini?”

Ibu Rahma mengangguk pelan.

“Itulah alasan Ibu memasukkan brosur panti ke celemek.”

Rian bingung.

“Maksud Ibu?”

“Ibu tahu kamu akan kembali.”

“Bagaimana?”

Ibu Rahma tersenyum lemah.

“Paspor itu bukan tertinggal.”

Rian membeku.

“Ibu yang memindahkannya dari tasmu ke meja.”

Rian menatap ibunya tak percaya.

“Kenapa Ibu tidak langsung bilang?”

“Telepon Ibu diambil. Ibu juga tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Tapi Ibu tahu satu hal.”

Ibu Rahma menggenggam tangan putranya.

“Kamu tidak pernah naik pesawat ke luar kota tanpa paspor di tas kerja.”

Air mata Rian jatuh.

Jadi kepulangannya pagi itu bukan kebetulan.

Ibunya sengaja menciptakan satu kesempatan terakhir agar ia melihat kebenaran dengan matanya sendiri.

Penyelidikan kemudian menemukan bahwa Clara memang pernah mencari informasi tentang polis asuransi Rian dan jadwal penerbangannya.

Polisi tidak menemukan bukti cukup bahwa rencana itu sudah sampai pada tahap percobaan pembunuhan, tetapi rekaman tersebut memperkuat penyelidikan terhadap ancaman, pemalsuan, penggelapan, dan kekerasan kepada lansia.

Proses hukum berlangsung berbulan-bulan.

Rian mengajukan perceraian.

Hak pengasuhan sementara Rizky dan Rival diberikan kepadanya.

Rumah di BSD tidak pernah jadi digadaikan.

Namun Rian memutuskan menjualnya setelah kasus selesai.

Bukan karena masalah uang.

Ia tidak sanggup lagi melihat kamar mandi di lantai dua itu.

Setahun kemudian, Rian membeli rumah yang jauh lebih kecil di Bogor.

Ada taman sederhana di belakang.

Tidak ada marmer impor.

Tidak ada lampu kristal.

Tidak ada ruangan yang dibuat hanya untuk memamerkan kekayaan.

Ibu Rahma tinggal di kamar lantai bawah dengan jendela menghadap taman.

Setiap pagi, Rizky dan Rival yang sudah mulai berjalan akan berlari kecil masuk ke kamar nenek mereka.

Suatu sore, Rian menemukan ibunya duduk di teras bersama kedua cucunya.

Rizky tertidur di pangkuannya.

Rival sibuk memainkan ujung jilbab neneknya.

Rian membawa secangkir teh.

“Ibu.”

“Hmm?”

“Kenapa waktu itu Ibu masih melindungi Clara? Bahkan di rumah sakit Ibu bilang jangan laporkan kekerasannya.”

Ibu Rahma terdiam cukup lama.

Lalu ia berkata,

“Karena Ibu pernah takut kamu kehilangan keluarga.”

Rian duduk di sampingnya.

“Sekarang?”

Ibu Rahma menatap kedua cucunya.

“Sekarang Ibu paham. Keluarga bukan berarti mempertahankan semua orang di dalam rumah.”

Ia mengusap kepala Rival.

“Kadang-kadang keluarga justru harus diselamatkan dari seseorang yang tinggal di dalamnya.”

Rian menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa rumah terbesar yang pernah dimilikinya bukanlah rumah delapan ratus meter persegi di BSD.

Rumah terbesar adalah tempat di mana tidak ada seorang pun yang harus takut mengatakan bahwa dirinya sedang kesakitan.

Dan setiap kali Rian melihat paspornya setelah hari itu, ia selalu teringat satu hal.

Dokumen kecil itulah yang dulu ia kira tertinggal karena kelalaiannya.

Padahal sebenarnya, benda itu adalah pesan diam dari seorang ibu yang sedang berjuang menyelamatkan putranya.

Bahkan ketika dirinya sendiri sedang berlutut di lantai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang