Ciuman itu mengubah seluruh suasana ballroom.
Beberapa detik sebelumnya, Nadia masih menjadi wanita yang diam-diam dikasihani. Mantan tunangan yang ditinggalkan demi perempuan yang lebih muda. Wanita yang mungkin, menurut sebagian tamu, datang hanya untuk membuktikan bahwa dirinya baik-baik saja.
Sekarang semua mata memandangnya dengan cara berbeda.
Devan Mahendra masih berdiri begitu dekat hingga Nadia bisa mencium aroma samar parfumnya.
Nadia menahan napas.
“Apa yang sedang Anda lakukan?” bisiknya tanpa menggerakkan senyum tipis di wajahnya.
Devan justru menjawab tenang.
“Menyelamatkan malam saya dari kebosanan.”
Nadia menatap tajam.
“Saya serius.”
“Saya juga.”
Di depan mereka, Aris akhirnya menemukan suaranya.
“Pak Devan, saya tidak tahu hubungan Anda dengan Nadia, tapi saya rasa Anda tidak memahami situasinya.”
Devan menoleh perlahan.
“Saya memahami cukup banyak.”
Nada suaranya datar, tetapi justru itu yang membuat Aris semakin gugup.
Siska mencoba tertawa.
“Mungkin ini hanya salah paham kecil.”
“Benar.”
Devan menatapnya.
“Kalian salah memahami kesopanan Nadia sebagai kelemahan.”
Wajah Siska memerah.
Aris mengatupkan rahang.
“Ini masalah pribadi.”
“Kalau begitu seharusnya kamu menyelesaikannya secara pribadi, bukan mempermalukan seorang wanita di depan tiga ratus orang.”
Tidak ada yang menjawab.
Devan kemudian mengambil dua gelas dari nampan pelayan yang lewat. Satu diberikan kepada Nadia.
“Temani saya.”
Nadia tidak langsung bergerak.
Namun melihat ekspresi Aris, entah mengapa ia menerima gelas itu.
Devan membawa Nadia menjauh dari kerumunan menuju balkon ballroom.
Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, Nadia langsung melepaskan tangannya.
“Apa sebenarnya maksud Anda?”
Devan memasukkan satu tangan ke saku celana.
“Saya pikir kamu akan mengatakan terima kasih.”
“Anda mencium saya tanpa peringatan di depan tiga ratus orang.”
“Kalau saya meminta izin dulu, efeknya tidak akan sama.”
Nadia hampir kehilangan kesabaran.
“Saya tidak membutuhkan seorang pria untuk menyelamatkan saya.”
Ekspresi Devan berubah.
Untuk pertama kalinya malam itu, ketenangan dinginnya sedikit retak.
“Saya tahu.”
Jawaban itu membuat Nadia terdiam.
Devan menatap pemandangan gedung-gedung Jakarta di kejauhan.
“Saya tidak datang untuk menyelamatkanmu.”
“Lalu?”
“Saya datang karena sudah terlalu lama melihatmu membiarkan orang yang salah menentukan nilai dirimu.”
Nadia mengernyit.
“Kita bahkan hampir tidak saling mengenal.”
Devan menoleh.
“Itu yang kamu pikirkan.”
Jantung Nadia berdetak sedikit lebih cepat.
Sebelum ia sempat bertanya, seorang pria berjas abu-abu keluar ke balkon dan menghampiri Devan.
“Pak, maaf mengganggu. Pak Surya menunggu di ruang VIP.”
Devan mengangguk.
“Saya segera ke sana.”
Pria itu pergi.
Devan menatap Nadia sekali lagi.
“Jangan pulang dulu.”
“Kenapa?”
“Karena malam ini belum selesai.”
Lalu dia pergi begitu saja.
Nadia berdiri sendirian dengan lebih banyak pertanyaan daripada sebelumnya.
Ia akhirnya kembali ke ballroom.
Bisikan langsung bermunculan.
Namun kali ini Nadia tidak mendengar nada kasihan.
Ia mendengar rasa penasaran.
Beberapa orang bahkan tersenyum kepadanya.
Ironis sekali.
Empat tahun bersama Aris tidak pernah membuat mereka memandang Nadia seistimewa satu ciuman dari Devan Mahendra.
Nadia membenci kenyataan itu.
“Nadia.”
Suara Aris muncul dari belakang.
Nadia berbalik.
Siska tidak lagi bersamanya.
“Apa?”
“Sejak kapan kamu mengenal Devan?”
“Itu bukan urusanmu.”
Aris mendekat.
“Jangan bermain-main denganku.”
Nadia hampir tertawa.
“Kita sudah tidak bertunangan. Saya boleh mengenal siapa pun.”
“Devan bukan pria yang bisa kamu permainkan.”
“Menarik. Enam minggu lalu kamu bilang kehidupan saya bukan urusanmu.”
Aris menatap sekeliling sebelum merendahkan suara.
“Dengar. Perusahaan saya sedang dalam proses mendapatkan pendanaan dari konsorsium yang terafiliasi dengan Devan Group.”
Nadia akhirnya mengerti.
Bukan cemburu yang membuat Aris ketakutan.
Bisnis.
“Kamu takut dia membatalkan investasinya?”
“Nadia, ini menyangkut ribuan karyawan.”
“Jangan gunakan karyawanmu untuk membuat saya merasa bersalah.”
Aris mencengkeram lengannya.
“Katakan kepadanya bahwa masalah kita tidak ada hubungannya dengan bisnis.”
“Lepaskan tanganmu.”

Aris tidak bergerak.
Sampai sebuah suara terdengar.
“Saya rasa dia sudah cukup jelas.”
Aris langsung melepaskan Nadia.
Devan telah kembali.
Kali ini wajahnya benar-benar dingin.
“Pak Devan…”
“Besok pukul sembilan pagi, tim audit saya akan datang ke kantor Pratama Capital.”
Aris membeku.
“Audit?”
“Saya mendapat informasi bahwa sebagian dana yang diajukan dalam proposal ekspansi perusahaanmu tidak sesuai dengan laporan internal.”
“Itu tuduhan serius.”
“Karena itu kita akan memeriksanya.”
Devan menatap tangan Aris yang tadi mencengkeram Nadia.
“Dan kalau saya jadi kamu, saya tidak akan menyentuhnya lagi.”
Aris pergi tanpa berkata apa-apa.
Nadia menatap Devan.
“Apakah Anda sengaja mengancamnya karena saya?”
“Tidak.”
“Lalu audit itu?”
“Sudah direncanakan tiga minggu lalu.”
Devan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah dokumen.
Nadia membaca beberapa baris.
Matanya perlahan membesar.
Ada transfer dana dalam jumlah besar dari perusahaan Aris kepada sebuah perusahaan konsultan bernama Svarna Advisory.
Direkturnya adalah Siska Amelia.
Nadia menatap Devan.
“Siska?”
“Perusahaan itu didirikan delapan bulan lalu.”
Devan menggeser layar.
“Alamat kantornya palsu. Tidak ada pegawai. Tidak ada kegiatan operasional yang jelas. Tapi menerima lebih dari dua puluh miliar rupiah dari perusahaan Aris.”
Darah Nadia terasa dingin.
Perselingkuhan ternyata bukan satu-satunya rahasia Aris.
“Kenapa Anda menunjukkan ini kepada saya?”
“Karena nama kamu ada di dokumen lain.”
Devan membuka berkas berikutnya.
Nadia membaca.
Kemudian wajahnya kehilangan warna.
Itu surat persetujuan investasi.
Dan di bawahnya terdapat tanda tangan yang menyerupai tanda tangannya.
“Ini palsu.”
“Saya tahu.”
“Saya tidak pernah menandatangani ini.”
“Saya juga tahu.”
Nadia menatapnya.
“Bagaimana?”
Devan terdiam sesaat.
“Karena enam tahun lalu saya pernah melihat tanda tangan asli kamu.”
Nadia semakin bingung.
“Enam tahun lalu?”
Devan menatapnya lama.
“Universitas Indonesia. Seminar kewirausahaan sosial.”
Ingatan Nadia perlahan kembali.
Saat itu ia masih mahasiswa pascasarjana dan menjadi panitia sebuah seminar.
Salah satu pembicara membatalkan kehadiran karena kecelakaan. Sponsor utama mengancam menarik dukungan.
Nadia menghabiskan hampir seluruh malam menghubungi perusahaan-perusahaan untuk mencari pengganti.
Salah satu nomor yang ia hubungi adalah kantor sebuah perusahaan logistik yang ketika itu belum sebesar sekarang.
Seorang pria muda akhirnya bersedia datang menggantikan pembicara.
Pria itu berbicara hanya dua puluh menit.
Setelah acara selesai, Nadia memberinya sertifikat penghargaan yang ditandatangani oleh ketua panitia.
Oleh Nadia sendiri.
Nadia menatap Devan tidak percaya.
“Anda pembicara pengganti itu?”
Devan tersenyum tipis.
“Akhirnya ingat.”
“Tapi waktu itu…”
“Saya belum menjadi siapa-siapa.”
Nadia masih mengingat pria berjas murah yang datang tanpa rombongan.
Ia bahkan membelikan pria itu kopi karena mengetahui dia belum makan sejak pagi.
“Kopi tanpa gula,” gumam Nadia.
Devan tersenyum.
“Dan roti cokelat.”
Nadia terpaku.
Enam tahun.
Devan masih mengingatnya.
“Kenapa tidak pernah mengatakan apa-apa?”
“Ketika saya bertemu kamu lagi dua tahun kemudian, kamu sudah bersama Aris.”
“Jadi Anda…”
Devan menggeleng.
“Saya tidak pernah berniat mengganggu hubungan orang lain.”
Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat dada Nadia sesak.
Karena itulah perbedaan terbesar antara Devan dan Aris.
Devan memiliki kesempatan mendekatinya, tetapi memilih menghormati batas.
Aris justru memiliki seluruh kepercayaannya dan menghancurkannya.
Malam itu berakhir tanpa insiden lain.
Namun keesokan paginya, semuanya berubah.
Audit terhadap Pratama Capital menemukan transaksi mencurigakan yang jauh lebih besar dari perkiraan.
Aris ternyata menggunakan tanda tangan Nadia dalam beberapa dokumen karena keluarga Nadia memiliki saham minoritas di salah satu perusahaan yang dijadikan jaminan investasi.
Siska membantu menyamarkan aliran dana melalui perusahaan konsultan miliknya.
Lebih mengejutkan lagi, perselingkuhan mereka bermula bukan karena cinta.
Siska sejak awal mengetahui penyimpangan keuangan Aris.
Hubungan mereka berkembang karena keduanya saling memegang rahasia.
Ketika penyelidikan semakin dalam, mereka mulai saling menyalahkan.
Tiga minggu kemudian, Siska menyerahkan bukti kepada penyidik untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Aris kehilangan posisinya sebagai direktur utama.
Beberapa rekening perusahaan dibekukan selama penyelidikan.
Nama Nadia akhirnya dibersihkan setelah pemeriksaan forensik membuktikan tanda tangannya dipalsukan.
Namun bagi Nadia, bagian tersulit bukan menghadapi polisi, pengacara, atau media.
Melainkan menyadari bahwa selama empat tahun ia hampir menikahi seseorang yang tidak pernah benar-benar ia kenal.
Suatu sore, setelah memberikan keterangan terakhir kepada penyidik, Nadia menemukan Devan menunggunya di lobi gedung.
Tidak ada pengawal.
Tidak ada rombongan.
Hanya Devan dengan dua gelas kopi.
Dia menyerahkan satu kepadanya.
Nadia melihat labelnya.
Latte tanpa gula.
“Kali ini bukan kopi yang saya pesan enam tahun lalu.”
“Saya tahu.”
“Kok tahu saya minum latte?”
Devan menatapnya.
“Gala Yayasan Nusantara tahun lalu. Kamu memesan latte tanpa gula.”
Nadia mengangkat alis.
“Anda memperhatikan saya sejak tahun lalu?”
Devan tidak menjawab.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
Mereka berjalan keluar.
Hujan baru saja berhenti.
“Nadia.”
“Hm?”
“Saya berutang permintaan maaf.”
“Untuk apa?”
“Ciuman malam itu.”
Nadia berhenti.
Devan ikut berhenti.
“Saya seharusnya meminta izin.”
“Ya.”
“Saya terbawa emosi.”
“Pria paling ditakuti di dunia bisnis ternyata bisa terbawa emosi?”
“Kalau menyangkut kamu, rupanya bisa.”
Nadia terdiam.
Devan menarik napas.
“Saya tidak meminta kamu menjawab apa pun sekarang. Kamu baru keluar dari hubungan empat tahun. Kamu butuh waktu.”
“Lalu Anda mau menunggu?”
“Saya sudah menunggu enam tahun.”
Nadia menatapnya beberapa detik.
Kemudian tertawa kecil.
Itulah pertama kalinya Devan melihatnya tertawa lepas sejak malam gala.
Enam bulan kemudian, Yayasan Nusantara kembali mengadakan sebuah acara.
Kali ini skalanya lebih kecil.
Nadia datang sendirian.
Setidaknya, begitulah yang terlihat.
Devan sedang berbicara dengan beberapa pengusaha ketika Nadia menghampirinya.
“Pak Devan.”
Devan menoleh.
Nadia tersenyum.
“Bisa bicara sebentar?”
Mereka berjalan menuju balkon yang sama.
Devan bersandar pada pagar.
“Ada apa?”
Nadia menatapnya.
“Saya sudah memikirkan sesuatu selama enam bulan.”
“Apa?”
“Utang Anda.”
Devan mengernyit.
“Utang?”
“Permintaan izin.”
Devan langsung memahami maksudnya.
Untuk pertama kalinya, pria yang membuat direktur-direktur perusahaan besar gugup hanya dengan satu tatapan itu terlihat kehilangan kata-kata.
Nadia maju satu langkah.
“Enam bulan lalu Anda bilang seharusnya meminta izin.”
Devan menatap matanya.
“Benar.”
“Sekarang minta.”
Hening beberapa detik.
“Boleh saya mencium kamu?”
Nadia tersenyum.
“Boleh.”
Namun sebelum Devan sempat bergerak, Nadia lebih dulu menarik kerah jasnya dan menciumnya.
Kali ini tidak ada Aris.
Tidak ada Siska.
Tidak ada tiga ratus pasang mata.
Tidak ada seorang wanita yang perlu diselamatkan.
Hanya dua orang yang akhirnya bertemu pada waktu yang tepat.
Setahun kemudian, Nadia menerima sebuah amplop tanpa nama pengirim.
Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.
Fotokopi sertifikat seminar enam tahun lalu.
Di sudut bawahnya terdapat tanda tangannya.
Dan di belakangnya, tulisan tangan Devan.
Saya menyimpan ini karena malam itu seseorang memperlakukan saya seperti manusia ketika semua orang hanya melihat nilai perusahaan saya.
Nadia membaca kalimat itu dua kali.
Barulah ia memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah dikatakan Devan.
Devan tidak jatuh cinta kepadanya ketika Nadia memakai gaun zamrud di ballroom mewah.
Bukan ketika ratusan orang mengenal namanya.
Bukan pula ketika Nadia menjadi mantan tunangan seorang pengusaha terkenal.
Perasaan itu dimulai enam tahun sebelumnya.
Saat Devan belum menjadi pria yang ditakuti siapa pun.
Saat Nadia bahkan tidak tahu siapa dirinya.
Saat yang Nadia lihat hanyalah seorang pria kelelahan yang belum makan seharian.
Dan mungkin itulah alasan Devan tidak pernah melupakan Nadia.
Karena di dunia yang selalu menilai manusia berdasarkan kekuasaan, kekayaan, dan nama belakang, Nadia pernah memperlakukannya dengan baik ketika semua hal itu belum dimilikinya.
Nadia membalik kertas tersebut.
Di bagian paling bawah ada satu kalimat tambahan.
Terima kasih karena dulu kamu melihat saya sebelum dunia melihat siapa saya.
Nadia tersenyum sambil menahan air mata.
Enam tahun sebelumnya, ia mengira dirinya hanya memberikan secangkir kopi dan sepotong roti kepada seorang pria asing.
Ia tidak pernah menyangka kebaikan kecil itu akan kembali kepadanya pada malam ketika dirinya merasa paling dipermalukan.
Bukan dalam bentuk penyelamatan.
Melainkan dalam bentuk seseorang yang mengingatkan bahwa harga diri Nadia tidak pernah ditentukan oleh pria yang mengkhianatinya.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nadia memahami bahwa kehilangan Aris bukanlah akhir dari kisah cintanya.
Itu hanyalah pintu yang akhirnya tertutup agar ia bisa melihat seseorang yang ternyata sudah lama menunggu di sisi lain.
