PUTRI SAYA YANG SEDANG HAMIL TERBARING DI DALAM PETI SAAT KAMI BERDUKA

Dunia seakan berhenti berputar. Kata-kata Marcus seperti belati yang menghujam tepat di jantung saya. Di balik keanggunan peti putih itu, putri saya sedang berjuang untuk membawa kehidupan, sementara pria yang berjanji melindunginya justru merayakan kehancurannya.

Saya tidak menangis. Air mata saya sudah mengering, digantikan oleh ketenangan yang menakutkan bahkan bagi diri saya sendiri. Saya menatap lurus ke mata Marcus—mata yang sama yang dulu pernah menatap Diana dengan tatapan penuh cinta di hari pernikahan mereka. Sekarang, mata itu hanyalah cermin kekosongan dan ambisi.

“Surat kematian?” suara saya rendah, hampir berupa bisikan, namun menggema di ruangan yang sunyi itu. “Kamu datang ke rumah Tuhan, di depan peti istri dan anakmu yang belum lahir, hanya untuk dokumen?”

Veronica, wanita di sampingnya, melangkah maju dengan angkuh. Dia menyapukan pandangan ke sekeliling kapel seolah sedang melihat dekorasi pesta yang membosankan. “Oh, ayolah, Bu. Jangan terlalu dramatis. Marcus perlu surat itu untuk mengurus klaim asuransi jiwa dan aset properti yang diwariskan Diana. Kami punya rencana besar untuk pindah ke luar negeri minggu depan. Waktu kami berharga.”

Rasa jijik itu membuat perut saya mual. Diana, putri saya yang begitu polos dan mencintai Marcus dengan seluruh hatinya, ternyata selama ini hidup bersama iblis.

“Kamu ingin surat kematiannya?” tanya saya, perlahan melangkah mendekati Marcus. Saya tidak lagi gemetar. “Kamu ingin klaim asuransi itu?”

Marcus menyeringai, merasa menang. “Tepat sekali. Berikan saja, dan kami akan pergi. Kami tidak ingin membuang waktu di tempat yang suram ini.”

Saya menoleh ke arah peti Diana, lalu kembali menatap Marcus. “Kamu benar, Marcus. Diana memang sudah tiada. Tapi kamu lupa satu hal: Diana adalah putri tunggal saya. Semua harta yang dia miliki, termasuk asuransi itu, tidak pernah berasal dari kantongmu.”

Saya memberi isyarat kepada pengacara keluarga saya yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan dengan tas dokumen di tangannya. Pengacara itu melangkah maju.

“Marcus,” ucap saya dengan nada sedingin es. “Dua hari sebelum kecelakaan itu, Diana datang kepada saya. Dia menangis. Dia menceritakan semuanya—tentang perselingkuhanmu, tentang ancamanmu padanya, dan tentang niatmu yang ingin menceraikannya setelah asuransi itu cair. Diana tahu. Dia sudah mengubah surat wasiatnya dan menunjuk saya sebagai satu-satunya wali atas semua asetnya, termasuk asuransi jiwa itu.”

Senyum di wajah Marcus perlahan memudar. Wajahnya yang semula penuh kemenangan berubah menjadi pucat pasi. “Itu… itu tidak mungkin! Dia tidak punya hak!”

“Oh, dia punya hak sepenuhnya,” sahut saya. “Dan bukan hanya itu. Polisi kini sedang menyelidiki laporan saya mengenai keganjilan dalam catatan pemeliharaan mobil Diana. Kami menemukan bukti sabotase pada sistem remnya. Kamu pikir kamu datang ke sini untuk merayakan kemenangan, Marcus? Kamu sebenarnya berjalan langsung ke dalam perangkap yang kamu buat sendiri.”

Tiba-tiba, suara sirene polisi terdengar dari luar kapel, semakin mendekat dan akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama. Beberapa petugas kepolisian berseragam masuk dengan tenang namun tegas.

“Marcus Anderson?” salah satu petugas memanggil. “Anda ditahan atas dugaan keterlibatan dalam persekongkolan dan sabotase kendaraan yang menyebabkan kematian Diana Anderson.”

Veronica menjerit kecil dan mencoba melangkah mundur, namun petugas lain sudah menghadang jalannya. Marcus terhuyung ke belakang, wajahnya yang penuh kesombongan tadi kini tampak hancur, terpojok oleh kenyataan bahwa keserakahannya adalah penggali kuburnya sendiri.

Saat mereka menyeret Marcus dan Veronica keluar dari kapel, saya tidak melihat ke arah mereka. Saya kembali mendekati peti Diana, menyentuh kayu dingin itu dengan penuh kasih sayang.

“Kamu sudah tenang sekarang, Nak,” bisik saya pelan, air mata yang selama ini saya tahan akhirnya jatuh juga. “Keadilan sudah ditegakkan. Kamu dan cucuku bisa beristirahat dengan damai. Ibu tidak akan membiarkan siapa pun lagi menyentuh warisanmu—bukan hartamu, tapi kehormatanmu.”

Suasana kapel kembali sunyi, namun kali ini, ada rasa lega yang menyelimuti. Marcus mungkin mendapatkan surat kematian yang ia cari, namun ia juga mendapatkan konsekuensi yang akan menghantuinya seumur hidup. Di depan peti Diana, saya berjanji: ini bukan akhir dari cerita, ini adalah awal dari pembersihan nama putri saya dari segala kebohongan yang Marcus coba bangun di atas makamnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang