AYAHKU MERUSAK GAUN PENGANTINKU DUA MALAM SEBELUM PERNIKAHAN UNTUK

Aku berdiri tegak, menyeka air mata yang sempat jatuh—bukan karena sedih, melainkan karena kemarahan yang kini telah berubah menjadi ketenangan yang tajam. Aku menatap mata Don Roberto, pria yang tak pernah menganggapku anak, hanya aset yang bisa diperjualbelikan.

“Kalian pikir gaun itu adalah segalanya?” suaraku terdengar rendah namun bergema di ruangan yang kini hening. “Kalian menghancurkan kain yang memang aku siapkan untuk acara itu, tapi kalian lupa satu hal: aku adalah seorang penjahit, bukan sekadar pelayan keluarga ini.”

Marco mendengus, mencoba kembali meremehkanku. “Penjahit? Apa gunanya? Kau bahkan tidak akan punya waktu—”

“Diam, Marco!” bentakku, memotong ucapannya dengan otoritas yang membuat pria itu tertegun.

Aku berjalan menuju meja kerjaku, membuka laci rahasia yang terkunci rapat dengan kode digital yang tak pernah bisa mereka tembus. Aku mengambil sebuah map cokelat tebal dan melemparkannya ke lantai tepat di depan kaki mereka.

“Ayah bilang, pernikahan dengan Walikota itu untuk melunasi utang keluarga di bank karena korupsi Ayah, bukan?” tanyaku dengan senyum miring.

Ayahku mengerutkan dahi, mengambil map itu dengan tangan gemetar. “Apa ini? Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan, Elara!”

“Bacalah, Pa. Itu bukan sekadar kontrak. Itu adalah bukti transaksi luar negeri yang Ayah lakukan selama lima tahun terakhir. Rekening rahasia di Kepulauan Cayman, suap dari perusahaan konstruksi untuk proyek jembatan yang tak pernah selesai, dan catatan penggelapan dana publik yang Ayah ambil dari perusahaan kakek.”

Wajah Don Roberto berubah pucat pasi, lalu memerah padam. “Bagaimana… bagaimana kau bisa mendapatkan ini?”

“Aku penjahit, Pa. Aku sangat teliti. Saat Ayah memintaku menjahitkan jas-jas formal untuk pertemuan ‘bisnis’ Ayah, aku sering menemukan dokumen yang tertinggal di saku atau di dalam tas kantor Ayah yang aku perbaiki. Aku menyalin semuanya. Dan bukan hanya itu…”

Aku menatap Ibu, yang kini mulai gemetar hebat. “Ibu, aku juga punya rekaman pembicaraan Ibu dengan Marco tentang bagaimana kalian berencana memalsukan kematian kakek demi mencairkan asuransi pribadinya lebih awal. Semua ada di sana. Tersimpan di awan (cloud) dan akan terkirim otomatis ke kantor polisi dan media nasional jika aku tidak memasukkan kode khusus setiap 24 jam.”

Hening yang mencekam menyelimuti kamar itu. Marco, yang tadi tertawa, kini tampak seperti orang yang baru saja melihat hantu.

“Kalian merobek gaunku?” Aku melangkah maju, mendekati mereka satu per satu. “Kalian baru saja merobek satu-satunya jembatan yang menghubungkan kalian dengan kebebasan. Jika aku tidak menikah dengan Mateo lusa, atau jika ada satu goresan saja di tubuhku, dokumen ini akan sampai di meja jaksa dalam hitungan menit.”

Don Roberto menjatuhkan map itu ke lantai. Kakinya goyah. “Kau… kau akan menghancurkan nama keluarga kita sendiri, Elara! Kita akan dipenjara!”

“Nama keluarga sudah hancur sejak kalian memilih keserakahan di atas kasih sayang,” jawabku dingin. “Sekarang, ambil sisa-sisa kain itu dan keluar dari kamarku. Aku punya waktu 48 jam untuk menjahit gaun baru. Dan percayalah, gaun yang kubuat kali ini akan menjadi saksi kehancuran kalian, bukan pernikahanku.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka keluar dari kamarku dengan tertunduk malu dan ketakutan yang luar biasa. Aku menutup pintu, menguncinya, dan kembali ke manekin. Aku tidak perlu menangis. Aku sudah memegang kendali.

Pernikahanku dengan Mateo akan tetap terjadi, dan dunia mereka—dunia yang mereka bangun di atas kebohongan—akan runtuh tepat saat aku mengucapkan janji setiaku di depan altar.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang