SUAMI CURI UANG RP4,5 MILIAR DARI REKENING WARISAN SAYA UNTUK BELI PERHIASAN ADIKNYA! SAAT MERTUA MENGAMUK DI DEPAN UMUM, SAYA BONGKAR RAHASIA YANG SELAMA INI SAYA SIMPAN!

Saya menarik map cokelat itu dari dalam tas.

Suara gesekan kertasnya terdengar kecil, tetapi entah kenapa membuat wajah Rendy semakin tegang.

Ibu Nur masih berdiri di depan saya dengan napas memburu.

“Kamu dengar tidak, Maya? Kamu sudah mempermalukan kami di depan orang banyak. Kalau cuma soal uang, nanti Rendy ganti.”

Saya memandangnya beberapa detik.

“Nanti?”

“Iya. Nanti setelah urusan lamaran Kirana selesai.”

Kirana buru-buru mengangguk.

“Benar, Mbak. Lagipula Mas Rendy juga punya penghasilan. Masa gara-gara uang segitu keluarga jadi ribut?”

Saya hampir tertawa lagi.

Bukan karena lucu.

Tetapi karena orang-orang di depan saya benar-benar menganggap Rp4,5 miliar yang diambil tanpa izin sebagai persoalan kecil.

Saya meletakkan map di atas meja kaca.

“Kalau begitu, mungkin sekarang waktu yang tepat untuk membicarakan penghasilan Rendy.”

Rendy langsung menatap saya.

“Maya, jangan di sini.”

“Kenapa?”

“Aku bilang jangan di sini.”

Nada suaranya berubah.

Bukan lagi membujuk.

Melainkan memperingatkan.

Saya justru membuka map itu.

Di halaman pertama terdapat ringkasan audit internal perusahaan keluarga saya.

Nama Rendy tercetak jelas.

Di bawahnya ada daftar transfer, pembayaran vendor, dan pengeluaran operasional yang tidak memiliki dokumen pendukung.

Totalnya Rp812.750.000.

Saya mendorong dokumen itu ke tengah meja.

“Enam bulan terakhir, perusahaan menemukan kebocoran dana lebih dari delapan ratus juta rupiah.”

Ibu Nur mengernyit.

“Terus apa hubungannya dengan Rendy?”

Saya menunjuk salah satu kolom.

“Semua persetujuan awal menggunakan akun internal milik Rendy.”

Wajah Ibu Nur berubah sedikit.

Namun hanya sesaat.

Dia segera mendengus.

“Paling juga salah administrasi.”

“Awalnya saya juga berharap begitu.”

Saya membalik halaman berikutnya.

“Tapi tiga vendor yang menerima pembayaran ternyata tidak pernah bekerja sama dengan perusahaan kami.”

Rendy mengepalkan tangan.

“Maya.”

Saya tetap melanjutkan.

“Dua nomor rekening vendor itu terhubung dengan sebuah perusahaan kecil bernama PT Aruna Kreasi Bersama.”

Kirana yang sejak tadi memegang kalung tiba-tiba menurunkan tangannya.

Saya melihat perubahan kecil di wajahnya.

Dan saat itulah saya tahu ada sesuatu yang belum saya pahami.

Saya menatapnya.

“Kirana, kamu kenal perusahaan itu?”

“Enggak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Rendy langsung memotong.

“Sudah cukup. Ini urusan kantor. Jangan bawa-bawa keluarga.”

Saya tersenyum tipis.

“Justru karena ini menyangkut keluarga, saya belum selesai.”

Saya mengeluarkan satu lembar dokumen lain.

“Pemegang saham terbesar PT Aruna Kreasi Bersama adalah Kirana Nur Azzahra.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Bahkan staf galeri yang tadi berdiri di dekat pintu terlihat menahan napas.

Saya menatap Kirana.

Wajahnya kini benar-benar pucat.

Ibu Nur memalingkan kepala ke arah anak perempuannya.

“Kirana?”

Kirana membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Rendy langsung menyambar dokumen dari meja.

Namun saya lebih cepat menariknya kembali.

“Jangan sentuh.”

“Maya, kamu salah paham.”

“Kalau saya salah paham, jelaskan.”

Dia terdiam.

“Delapan ratus juta itu pergi ke perusahaan adikmu. Hari ini kamu mencoba mengambil empat setengah miliar dari rekening warisan saya untuk membeli perhiasan untuk adikmu. Jadi tolong jelaskan bagian mana yang saya salah pahami.”

Kirana tiba-tiba melepas kalung dari lehernya dengan tangan gemetar.

“Mbak, aku bisa jelasin.”

Ibu Nur langsung menatapnya.

“Kamu tahu soal uang kantor itu?”

Kirana menunduk.

Saya belum pernah melihat Ibu Nur kehilangan kata-kata sebelumnya.

Selama tiga tahun menikah, perempuan itu selalu punya jawaban untuk apa pun.

Kalau Rendy pulang terlambat, saya yang dianggap terlalu menuntut.

Kalau Kirana meminjam mobil saya tanpa izin, saya yang dibilang pelit.

Kalau saya memilih bekerja daripada datang ke acara keluarga, saya dianggap tidak menghargai mertua.

Namun kali ini dia diam.

Rendy menarik napas panjang.

“Uang itu bukan dicuri.”

Saya menatapnya.

“Lalu?”

“Aku cuma pinjam.”

“Dari perusahaan?”

“Aku punya posisi di sana.”

“Posisi bukan berarti kepemilikan.”

“Aku suamimu.”

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diri saya benar-benar putus.

Saya tidak marah.

Justru sebaliknya.

Tiba-tiba semuanya menjadi sangat jelas.

Selama ini Rendy bukan tidak memahami batas.

Dia memahami batas itu.

Dia hanya merasa batas tersebut tidak berlaku untuk dirinya.

Saya menutup map.

“Mulai hari ini aksesmu ke rekening dan sistem keuangan perusahaan dibekukan.”

Rendy mendekat.

“Kamu tidak bisa mengambil keputusan sepihak.”

“Bisa.”

“Itu perusahaan keluarga kita.”

Saya menggeleng.

“Itu perusahaan keluarga saya.”

Wajahnya memerah.

Saya melanjutkan dengan suara tenang.

“Kamu masuk ke sana dua tahun lalu karena saya meminta dewan memberi kamu kesempatan. Saham yang kamu pegang hanya dua persen dan berasal dari program insentif manajemen. Kamu tidak punya hak untuk mengambil uang perusahaan sesuka hati.”

Ibu Nur kembali menyela.

“Jangan merendahkan suamimu di depan orang!”

Saya berbalik menatapnya.

“Ibu tadi bilang uang istri adalah uang suami. Sekarang saya ingin bertanya. Kalau utang suami, apakah utang itu juga menjadi utang istri?”

Dia terdiam.

Saya mengeluarkan dokumen lain.

“Karena ternyata masalahnya bukan hanya Rp800 juta.”

Rendy langsung membeku.

Kali ini ekspresinya berbeda.

Ada ketakutan yang nyata.

Saya sebenarnya juga baru menerima dokumen itu pagi tadi.

Tim audit menemukan satu hal lain ketika memeriksa transaksi PT Aruna.

Ada pinjaman atas nama Rendy dari sebuah lembaga pembiayaan swasta.

Nilainya Rp2,7 miliar.

Jaminannya?

Saham dua persen miliknya di perusahaan.

Dan lebih mengejutkan lagi, dalam dokumen pengajuan pinjaman terdapat surat pernyataan aset rumah yang kami tempati sebagai aset bersama.

Padahal rumah itu dibeli menggunakan dana saya sebelum menikah.

Tanda tangan saya di dokumen tersebut palsu.

Saya menatap Rendy.

“Kenapa ada tanda tangan saya di sini?”

Tidak ada jawaban.

Ibu Nur mengambil dokumen itu.

Dia membaca beberapa baris.

Lalu suaranya mengecil.

“Rendy… ini apa?”

Rendy masih diam.

Untuk pertama kalinya hari itu, Ibu Nur tidak sedang membela anaknya.

Dia sedang menunggu penjelasan.

Kirana mulai menangis.

“Mas, bilang aja semuanya.”

Rendy menoleh tajam.

“Diam.”

Ucapan itu malah membuat saya sadar bahwa Kirana tahu lebih banyak.

Saya menatapnya.

“Semuanya tentang apa?”

Kirana mengusap air mata.

“Mbak, sebenarnya aku enggak pernah minta kalung ini.”

Ibu Nur langsung memandangnya.

“Kirana!”

“Aku enggak minta, Bu!”

“Terus kenapa kamu tadi pakai?”

“Karena Ibu bilang Mas Rendy sudah bayar!”

Dia menangis semakin keras.

“Yang aku minta cuma bantuan buat nutup utang perusahaan.”

Saya mengernyit.

“Utang perusahaan?”

Kirana menarik napas terbata-bata.

PT Aruna ternyata benar-benar dia dirikan satu tahun lalu.

Bisnisnya bergerak di bidang event dan dekorasi.

Awalnya berjalan cukup baik.

Namun enam bulan terakhir perusahaan itu mengalami kerugian besar setelah sebuah proyek pernikahan mewah dibatalkan mendadak dan salah satu rekan bisnisnya membawa kabur uang muka klien.

Kirana terjerat utang hampir Rp1,6 miliar.

Dia meminta bantuan Rendy.

Alih-alih mengaku kepada saya atau mengajukan pinjaman resmi, Rendy mulai memindahkan uang dari perusahaan keluarga sedikit demi sedikit untuk menutup tagihan Kirana.

Ketika jumlahnya membesar dan audit mulai bergerak, dia mengambil pinjaman pribadi Rp2,7 miliar untuk menutup sebagian jejak transaksi.

Namun bunga pinjaman itu tinggi.

Sementara acara lamaran Kirana dengan keluarga calon suaminya tinggal satu hari lagi.

Ibu Nur takut keluarga calon besan mengetahui kondisi keuangan mereka.

Maka muncullah gagasan membeli perhiasan mahal.

Bukan karena Kirana membutuhkannya.

Melainkan untuk menciptakan kesan bahwa keluarga mereka sangat kaya.

Saya memandang Ibu Nur.

“Ibu tahu soal utang Kirana?”

Dia tidak menjawab.

“Kapan Ibu tahu?”

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

Kirana menjawab pelan.

“Dari awal.”

Saya menutup mata beberapa detik.

Ternyata lebih buruk daripada yang saya bayangkan.

“Jadi Ibu tahu Rendy mengambil uang perusahaan?”

“Tidak tahu caranya,” jawab Ibu Nur cepat. “Rendy cuma bilang dia akan membantu adiknya.”

“Tapi Ibu tahu dia membeli perhiasan ini menggunakan kartu saya?”

Ibu Nur terdiam.

Itu sudah cukup sebagai jawaban.

Saya menatap perempuan yang sejak tadi meneriaki saya di depan umum.

“Dan Ibu masih mengatakan saya yang mempermalukan keluarga?”

Matanya berkaca-kaca, tetapi kesombongannya belum benar-benar hilang.

“Kamu tidak mengerti posisi seorang ibu.”

“Saya mungkin memang tidak mengerti.”

Saya mengangguk.

“Tapi saya mengerti satu hal. Menyelamatkan anak tidak berarti membiarkan anak lain menjadi pencuri.”

Rendy menghantam telapak tangannya ke meja.

“Cukup!”

Semua orang terkejut.

Dia menatap saya dengan mata merah.

“Aku melakukan semua ini karena aku capek!”

Saya diam.

“Capek jadi suami yang selalu berada di bawah bayang-bayangmu.”

Suara Rendy mulai bergetar.

“Rumah atas namamu. Perusahaan keluargamu. Tabunganmu lebih banyak. Orang kantor lebih menghormati kamu. Bahkan setiap kali Ibu datang, dia selalu membandingkan aku dengan almarhum ayahmu.”

Saya tidak pernah tahu dia menyimpan semua itu.

“Tiap hari aku merasa seperti numpang hidup.”

Saya menatapnya lama.

“Lalu karena merasa kecil, kamu memutuskan mengambil milik saya?”

“Aku cuma ingin membuktikan bahwa aku juga bisa menjaga keluarga!”

“Dengan mencuri?”

“Jangan bilang mencuri!”

“Lalu apa?”

Dia kembali diam.

Saya melangkah satu langkah mendekat.

“Rendy, kalau kamu datang kepada saya dan bilang Kirana terlilit utang, mungkin saya akan membantu mencari solusi. Kalau kamu bilang kamu merasa tidak dihargai dalam pernikahan kita, kita bisa bicara. Kalau kamu ingin keluar dari perusahaan dan membangun usaha sendiri, saya bahkan mungkin akan mendukungmu.”

Saya menunjuk kartu hitam di tangannya.

“Tapi kamu tidak melakukan semua itu.”

“Kamu membuka brankas saya.”

“Kamu mengambil kartu saya.”

“Kamu memalsukan tanda tangan saya.”

“Kamu memindahkan uang perusahaan.”

“Dan sekarang kamu ingin saya menyebut semua itu sebagai bentuk kasih sayang kepada keluarga?”

Rendy tidak mampu menjawab.

Saya mengambil ponsel dan menelepon kepala legal perusahaan.

Di depan mereka semua, saya meminta audit forensik dilanjutkan dan seluruh akses Rendy diblokir.

Saya juga meminta pihak bank memblokir kartu debit yang dicurinya.

Namun saya belum melapor ke polisi.

Setidaknya belum hari itu.

Bukan karena saya memaafkannya.

Saya hanya ingin mengetahui seluruh kebenaran terlebih dahulu.

Ketika saya hendak pergi, Ibu Nur memanggil.

“Maya.”

Saya berhenti.

Suaranya kali ini tidak lagi keras.

“Kalau kamu melakukan semua ini… Rendy bisa masuk penjara.”

Saya menoleh.

“Saya tahu.”

“Dia suamimu.”

Saya menatap Rendy.

Kemudian kembali menatap Ibu Nur.

“Justru karena dia suami saya, saya sudah memberinya kepercayaan yang tidak saya berikan kepada banyak orang.”

Saya menarik napas.

“Dan dia menggunakan kepercayaan itu sebagai kunci untuk membuka brankas saya.”

Saya meninggalkan galeri sendirian.

Malam itu saya tidak pulang ke rumah.

Saya menginap di apartemen milik ibu saya.

Sekitar pukul dua dini hari, Rendy mengirim pesan panjang.

Dia meminta maaf.

Dia mengaku mengambil uang perusahaan.

Mengaku memalsukan tanda tangan.

Mengaku membuka brankas.

Dia berjanji akan mengembalikan semuanya.

Namun ada satu kalimat di akhir pesan yang membuat saya tidak langsung memblokir nomornya.

“Ada satu hal yang belum kamu tahu tentang rekening warisan itu. Besok tanyakan kepada ibumu.”

Pagi berikutnya saya langsung menemui Ibu.

Ketika saya menunjukkan pesan Rendy, wajah Ibu berubah.

Dia duduk lama tanpa bicara.

Kemudian berjalan menuju lemari dokumen dan mengambil sebuah amplop tua.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan almarhum Ayah.

Ternyata rekening Rp36 miliar itu bukan sekadar warisan.

Ayah sengaja menempatkan sebagian aset tunai atas nama saya setelah mengetahui sesuatu tentang keluarga Rendy bahkan sebelum kami menikah.

Dua puluh lima tahun lalu, ayah Rendy pernah menjadi rekan bisnis Ayah.

Dan pernah menggelapkan uang perusahaan.

Jumlahnya cukup besar sampai hampir membuat usaha Ayah bangkrut.

Kasus itu akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan karena ayah Rendy mengembalikan sebagian uang dan meminta kesempatan kedua.

Ayah saya tidak pernah menceritakannya.

Dia tidak ingin dosa orang tua diwariskan kepada anak.

Namun dalam suratnya, Ayah menulis satu kalimat yang membuat tangan saya gemetar.

“Jika suatu hari Maya menikah dengan Rendy, jangan larang. Anak tidak selalu menjadi bayangan orang tuanya. Tetapi pastikan Maya memiliki sesuatu yang tidak bisa disentuh siapa pun tanpa izinnya.”

Saya menangis saat membacanya.

Bukan karena merasa Ayah telah benar sejak awal.

Justru karena sampai akhir hidupnya, Ayah masih memilih memberi Rendy kesempatan.

Kesempatan yang kemudian disia-siakan Rendy sendiri.

Tiga minggu kemudian, saya mengajukan gugatan cerai.

Audit forensik selesai dua bulan setelahnya.

Rendy diwajibkan mengembalikan dana perusahaan dan mempertanggungjawabkan pemalsuan dokumen melalui proses hukum.

Kirana menjual aset usahanya, membatalkan pesta pertunangan mewah, dan mulai mencicil utangnya sendiri.

Anehnya, dari semua orang dalam keluarga itu, justru Kirana yang paling berubah.

Suatu sore dia datang menemui saya.

Tanpa berlian.

Tanpa tas mahal.

Tanpa Ibu Nur.

Dia menyerahkan sebuah amplop berisi bukti transfer pertama untuk mengembalikan sebagian uang yang pernah masuk ke perusahaannya.

“Mbak,” katanya pelan, “aku dulu pikir kelihatan kaya itu sama dengan punya harga diri.”

Saya menatapnya.

Dia tersenyum pahit.

“Ternyata kalau untuk terlihat kaya kita harus mengambil milik orang lain, yang hilang justru harga diri kita sendiri.”

Saya tidak langsung memaafkannya.

Tetapi saya menerima amplop itu.

Beberapa bulan kemudian, rumah tangga saya resmi berakhir.

Pada hari putusan cerai keluar, saya pulang ke rumah lama untuk mengambil barang terakhir.

Brankas yang dulu dibuka Rendy masih berada di tempat yang sama.

Saya berdiri cukup lama di depannya.

Lalu saya mengganti kombinasi kuncinya.

Bukan dengan tanggal lahir saya.

Bukan dengan tanggal pernikahan.

Bukan dengan angka yang berkaitan dengan siapa pun.

Saya memilih angka acak yang hanya saya sendiri ketahui.

Saat pintu brankas tertutup, saya tiba-tiba teringat ucapan Ibu tiga tahun lalu.

Perempuan boleh mencintai sepenuh hati.

Tetapi cinta tidak pernah seharusnya meminta seseorang menyerahkan seluruh benteng pertahanannya.

Hari itu saya akhirnya memahami maksudnya.

Yang menghancurkan pernikahan saya bukan uang Rp4,5 miliar.

Bukan pula Rp800 juta yang hilang dari perusahaan.

Yang benar-benar menghancurkannya adalah keyakinan Rendy bahwa karena saya mencintainya, semua yang saya miliki otomatis menjadi haknya.

Padahal cinta yang sehat tidak pernah berkata, “Milikmu adalah milikku.”

Cinta yang sehat tahu kapan harus mengetuk pintu.

Dan tahu bahwa pintu yang terkunci tetap tidak boleh dibuka tanpa izin.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang