Aku berhenti tepat di depan gerbang ketika melihat dua koperku tergeletak di atas rumput yang basah.
Hujan masih turun, membasahi pakaian yang dilempar sembarangan dari dalam rumah. Sepasang sepatuku terendam genangan air. Kotak kecil berisi foto-fotoku bersama Arga terbuka di dekat pagar.
Beberapa jam sebelumnya, aku masih berdiri di samping liang lahat suamiku.
Sekarang keluarganya sudah membuangku seperti orang asing.

Di balkon lantai dua, Bu Ratih berdiri sambil memegang cangkir kopi. Bima, adik Arga, berada di sampingnya.
“Ambil barangmu sebelum semuanya rusak,” katanya.
Aku memungut foto pernikahanku yang basah.
“Pemakaman Arga baru selesai hari ini.”
Bu Ratih turun bersama Bima dan berhenti beberapa meter dariku.
“Kamu sudah cukup lama menikmati hidup sebagai istri Arga,” katanya dingin. “Sekarang semuanya kembali kepada keluarga.”
Mereka tidak tahu bahwa delapan bulan sebelumnya, Arga telah memindahkan saham pengendali perusahaan, rumah ini, beberapa rekening investasi, dan aset lainnya ke namaku.
Nilainya hampir delapan triliun rupiah.
Semua dilakukan secara sah di hadapan notaris.
Arga hanya memintaku merahasiakannya.
“Kalau aku tidak ada nanti, jangan langsung beri tahu mereka,” katanya saat masih dirawat.
“Kenapa?”
“Aku ingin kamu melihat bagaimana mereka memperlakukanmu ketika mereka mengira kamu tidak punya apa-apa.”
Saat itu aku menganggap permintaannya terlalu kejam.
Ternyata Arga hanya mengenal keluarganya jauh lebih baik daripada aku.
Bu Ratih kemudian menyerahkan sebuah amplop.
Di dalamnya terdapat surat pernyataan waris yang menyebut seluruh kepemilikan Arga kembali kepada dirinya dan Bima.
Tanggalnya tiga minggu sebelum Arga masuk rumah sakit.
Aku langsung tahu ada yang tidak beres.
Arga selalu menandatangani dokumen pribadinya dengan pena bertinta biru tua. Namun tanda tangan di halaman terakhir surat itu menggunakan tinta hitam.
“Kalian yakin ini dokumen terakhir yang ditandatangani Arga?”
“Tentu,” jawab Bu Ratih.
Aku menyimpan salinannya.
Mereka mengira aku takut.
Mereka tidak tahu bahwa mereka baru saja menyerahkan bukti kepadaku.
Tidak lama kemudian, mobil hitam milik Pak Aditya berhenti di depan gerbang. Pengacara pribadi Arga itu memandang barang-barangku yang berserakan, lalu menatap Bu Ratih.
“Saya sebenarnya berharap keluarga Pak Arga menunggu beberapa hari.”
“Kami tidak membutuhkan izinmu,” balas Bu Ratih.
Pak Aditya hanya mengangguk.
“Kalau begitu, saya sarankan besok pagi tidak ada yang meninggalkan Jakarta. Pukul sembilan ada rapat darurat pemegang saham.”
Bima tertawa.
“Kami pemegang sahamnya.”
Pak Aditya menutup tas kerjanya.
“Besok kita akan tahu apakah pernyataan itu masih benar.”
Malam itu aku tidak pergi ke hotel murah seperti yang mungkin dibayangkan Bu Ratih.
Aku menuju sebuah apartemen di kawasan Sudirman yang dibeli Arga dua tahun lalu atas namaku.
Aku tidak bisa tidur.
Jas Arga masih tergantung di lemari apartemen itu. Aku mendekapnya sambil duduk di lantai.
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, aku menangis tanpa berusaha menahan diri.
Aku tidak menangisi rumah, perusahaan, atau delapan triliun rupiah.
Aku hanya ingin Arga kembali.
Sekitar pukul dua pagi, ponselku berbunyi.
Pesan dari nomor tidak dikenal.
Jangan datang ke rapat besok kalau masih ingin hidup tenang.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Lalu sebuah foto masuk.
Foto diriku saat memasuki apartemen.
Seseorang mengikutiku.
Aku segera menelepon Pak Aditya.
Dia datang bersama seorang pria bernama Reza, mantan kepala keamanan perusahaan yang selama bertahun-tahun dipercaya Arga.
Pak Aditya melihat pesan itu.
“Mulai sekarang jangan pergi sendirian.”
“Siapa yang mengirim ini?”
“Kita belum tahu.”
Aku menatapnya.
“Pak, sebenarnya apa yang terjadi sebelum Arga meninggal?”
Pak Aditya terdiam cukup lama.
Kemudian dia membuka laptop.
“Tiga bulan lalu Pak Arga meminta audit internal dilakukan diam-diam.”
Dia menunjukkan beberapa transaksi.
Selama hampir dua tahun, uang perusahaan dialihkan melalui vendor fiktif. Nilainya lebih dari seratus delapan puluh miliar rupiah.
Nama yang berkaitan dengan beberapa perusahaan tersebut membuat dadaku sesak.
Bima Pradana.
“Arga tahu?”
“Dia tahu.”
“Kenapa tidak melaporkannya?”
“Karena dia ingin memastikan siapa saja yang terlibat.”
Pak Aditya lalu menatapku.
“Pak Arga juga mencurigai ibunya mengetahuinya.”
Aku menutup mata.
Tiba-tiba semua menjadi masuk akal.
Warisan palsu itu bukan sekadar perebutan harta.
Mereka membutuhkan kendali perusahaan sebelum audit terbuka.
Keesokan paginya, ruang rapat utama di lantai tiga puluh dua dipenuhi direksi, komisaris, pengacara, dan perwakilan pemegang saham.
Bu Ratih datang mengenakan setelan hitam.
Bima berjalan di belakangnya dengan wajah percaya diri.
Ketika melihatku duduk di ujung meja, langkahnya berhenti.
“Kamu?”
Aku tidak menjawab.
Bu Ratih meletakkan tasnya.
“Rania tidak memiliki kepentingan di perusahaan ini. Saya minta dia keluar.”
Pak Aditya berdiri.
“Justru rapat ini tidak dapat dimulai tanpa Bu Rania.”
Bima tertawa.
“Dia bahkan tidak pernah bekerja di perusahaan.”
“Benar.”
Pak Aditya menyalakan layar besar.
“Tetapi delapan bulan lalu Pak Arga mengalihkan empat puluh delapan persen saham pribadinya kepada istrinya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Wajah Bima kehilangan warna.
Bu Ratih menatap layar.
“Tidak mungkin.”
Dokumen akta pengalihan saham muncul.
Notaris, nomor registrasi, tanggal, dan bukti pelaporan semuanya lengkap.
Pak Aditya melanjutkan.
“Ditambah saham yang sebelumnya dimiliki Bu Rania melalui perusahaan investasi keluarga, total hak suara yang dikendalikannya adalah lima puluh tiga koma tujuh persen.”
Bima berdiri.
“Itu manipulasi!”
Aku akhirnya bicara.
“Duduk, Bima.”
Dia menatapku seolah baru pertama kali melihat siapa aku sebenarnya.
Bu Ratih mencoba mempertahankan ketenangannya.
“Arga sedang sakit. Dia tidak berada dalam kondisi yang memungkinkan membuat keputusan sebesar ini.”
Pak Aditya tersenyum tipis.
“Pengalihan dilakukan dua bulan sebelum diagnosis terakhirnya dan dilengkapi pemeriksaan medis mengenai kapasitas hukumnya.”
Lalu aku mengeluarkan surat yang mereka berikan kemarin.
“Kalau begitu kita bisa membahas dokumen kalian.”
Wajah Bu Ratih berubah.
Aku menyerahkannya kepada Pak Aditya.
“Surat ini menyatakan Arga mengembalikan seluruh hartanya kepada mereka.”
Pak Aditya memasukkan beberapa data ke layar.
“Masalah pertama, nomor akta yang tercantum di sini tidak pernah terdaftar.”
Dia mengganti halaman.
“Masalah kedua, notaris yang namanya tercantum dalam surat ini sedang berada di Singapura pada tanggal penandatanganan.”
Bima mulai gelisah.
“Dan masalah ketiga,” lanjut Pak Aditya, “tanda tangan Pak Arga diduga merupakan hasil pemindaian dari dokumen lain.”
Ruangan mulai dipenuhi bisikan.
Aku memandang Bima.
“Masih mau mengatakan Arga sadar siapa keluarganya?”
Bima menghantam meja.
“Kamu menjebak kami!”
“Tidak.”
Suaraku tetap tenang.
“Kalian melakukan semuanya sendiri.”
Bu Ratih tiba-tiba menatapku dengan mata merah.
“Semua ini seharusnya milik anak-anak saya.”
Aku menahan napas.
“Saya juga keluarga Arga.”
“Kamu cuma istrinya!”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Aku tersenyum getir.
“Lima tahun saya mendampinginya. Saya tidur di kursi rumah sakit ketika kondisinya memburuk. Saya memegang tangannya saat dia takut operasi. Saya ada ketika dia kehilangan rambut karena pengobatan. Tapi bagi Ibu, saya cuma istrinya?”
Bu Ratih tidak menjawab.
Aku mengeluarkan satu dokumen lagi.
“Rumah tempat Ibu mengusir saya kemarin juga sudah atas nama saya.”
Wajahnya langsung pucat.
Bima menoleh cepat kepada ibunya.
“Apa?”
“Sejak delapan bulan lalu,” lanjutku. “Secara hukum, kemarin kalian mengeluarkan barang pemilik rumah dari rumahnya sendiri.”
Bu Ratih kehilangan kata-kata.
Aku seharusnya merasa puas.
Anehnya, tidak.
Yang kurasakan hanya kosong.
Kemudian pintu ruang rapat terbuka.
Dua penyidik masuk bersama petugas keamanan perusahaan.
Pak Aditya telah menyerahkan hasil audit malam sebelumnya.
Bima mundur.
“Apa-apaan ini?”
Salah seorang penyidik menunjukkan identitas.
“Kami membutuhkan Saudara Bima untuk memberikan keterangan terkait dugaan penggelapan dana dan pemalsuan dokumen.”
Bima langsung menatap ibunya.
“Ma!”
Bu Ratih berdiri.
“Saya akan hubungi pengacara.”
“Silakan,” jawab penyidik.
Bima kemudian menunjukku.
“Ini semua gara-gara dia!”
Aku menatapnya.
“Tidak, Bima. Ini akibat pilihanmu sendiri.”
Namun sebelum dibawa keluar, Bima mengatakan sesuatu yang membuatku membeku.
“Kalau Arga tidak sok suci, dia mungkin masih hidup.”
Aku berdiri.
“Apa maksudmu?”
Bu Ratih langsung berteriak.
“Diam, Bima!”
Terlambat.
Semua orang mendengarnya.
Pak Aditya menatap penyidik.
“Ada sesuatu yang harus kalian periksa.”
Investigasi yang awalnya hanya berkaitan dengan keuangan kemudian berkembang.
Polisi memeriksa rekaman CCTV rumah, riwayat telepon, serta obat-obatan Arga.
Ternyata tiga minggu sebelum masuk rumah sakit untuk terakhir kalinya, Arga pernah bertengkar hebat dengan Bima karena audit.
Setelah itu, salah satu obat jantung yang biasa diminum Arga sempat hilang selama dua hari.
Aku hampir tidak sanggup menerima kemungkinan terburuk.
Namun hasil pemeriksaan akhirnya menunjukkan tidak ada bukti bahwa Bima menyebabkan kematian Arga.
Penyakit Arga memang sudah berada pada tahap serius.
Kalimat Bima hanyalah kemarahan seorang adik yang menyalahkan kakaknya karena mulai membongkar kejahatannya.
Aneh rasanya.
Sebagian diriku lega.
Sebagian lain tetap hancur.
Bima akhirnya menjadi tersangka dalam kasus penggelapan dan pemalsuan dokumen. Beberapa orang di bagian keuangan ikut diperiksa.
Bu Ratih tidak ditahan karena bukti tidak cukup untuk menunjukkan keterlibatannya dalam penggelapan. Namun penyelidikan terhadap surat waris palsu terus berjalan.
Tiga hari setelah rapat, aku kembali ke rumah.
Barang-barang Bu Ratih dan Bima masih ada di sana.
Mereka mungkin mengira aku akan melakukan hal yang sama.
Melempar koper mereka ke halaman.
Bu Ratih duduk sendirian di ruang keluarga ketika aku masuk.
Dia tampak jauh lebih tua dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
“Kamu datang untuk mengusir saya?”
Aku berdiri di hadapannya.
“Tidak.”
Dia mengangkat wajah.
“Kenapa?”
Aku meletakkan sebuah map di meja.
“Arga menyiapkan rumah lain untuk Ibu sejak setahun lalu. Rumah itu atas nama Ibu. Semua biaya sudah dibayar.”
Tangannya gemetar saat membuka dokumen.
“Kenapa Arga tidak pernah bilang?”
“Karena dia masih berharap Ibu memilih menjadi ibunya, bukan orang yang menghitung hartanya.”
Bu Ratih menangis.
Untuk pertama kalinya, tidak ada kesombongan di wajahnya.
Hanya seorang ibu yang kehilangan anak dan baru menyadari betapa buruk caranya menghadapi kehilangan itu.
Aku memberinya waktu satu bulan untuk pindah.
Bukan karena dia pantas mendapat belas kasihan.
Aku melakukannya karena aku tidak ingin keserakahan mereka mengubahku menjadi orang yang sama.
Sebelum meninggalkan ruangan, Bu Ratih memanggilku.
“Rania.”
Aku berhenti.
“Arga benar-benar memberikan semuanya kepadamu?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Dia bingung.
“Lalu?”
Aku memandang foto Arga yang masih tergantung di dinding.
“Arga tidak memberikan semuanya kepada saya.”
Beberapa minggu setelah itu, dalam pembacaan dokumen terakhir yang disimpan Pak Aditya, aku mengetahui rahasia yang bahkan tidak pernah Arga ceritakan kepadaku.
Dari seluruh aset hampir delapan triliun rupiah itu, sebagian besar memang ditempatkan di bawah kendaliku.
Namun Arga meninggalkan instruksi khusus.
Hampir satu triliun rupiah harus digunakan untuk mendirikan yayasan yang membiayai pengobatan pasien penyakit kronis dari keluarga kurang mampu.
Nama yayasan itu bukan nama Arga.
Bukan pula namaku.
Namanya Yayasan Kesempatan Kedua.
Dalam sebuah rekaman video yang dibuat beberapa bulan sebelum meninggal, Arga duduk di depan kamera dengan tubuh yang masih terlihat sehat.
“Rania,” katanya, “kalau kamu menonton ini, berarti aku sudah tidak bisa menjelaskan semuanya sendiri.”
Air mataku langsung jatuh.
Arga tersenyum seperti biasanya.
“Aku tidak mewariskan kekayaan supaya kamu menjadi orang paling kaya di ruangan. Aku memberikannya kepadamu karena dari semua orang yang kukenal, kamu satu-satunya yang tidak pernah bertanya berapa banyak yang kumiliki.”
Dia berhenti sejenak.
“Dan kalau keluargaku menyakitimu setelah aku pergi, jangan habiskan hidupmu untuk membalas mereka. Kekayaan bisa membeli rumah, perusahaan, pengacara, bahkan kekuasaan. Tapi jangan biarkan uang membeli bagian buruk dari dirimu.”
Aku menutup mulut, berusaha menahan tangis.
Di akhir rekaman, Arga tersenyum kecil.
“Oh ya, soal rumah itu. Kalau Mama mengusirmu, jangan langsung mengusirnya balik. Aku kenal kamu. Kamu pasti kepikiran melakukannya.”
Aku tertawa di tengah tangis.
Bahkan setelah meninggal, dia masih mengenalku terlalu baik.
Setahun kemudian, rumah besar itu tidak lagi kutinggali.
Aku mengubah sebagian bangunannya menjadi pusat kegiatan Yayasan Kesempatan Kedua.
Kamar Arga tetap kubiarkan seperti terakhir kali dia meninggalkannya.
Bukan karena aku tidak mampu melepaskan.
Melainkan karena ada cinta yang tidak harus dihapus agar seseorang bisa melanjutkan hidup.
Pada hari peresmian yayasan, aku berdiri di halaman yang sama tempat koperku pernah dilempar ke tengah hujan.
Anak-anak berlarian di atas rumput.
Para orang tua berbicara dengan dokter dan relawan.
Aku menatap gerbang.
Dulu aku berdiri di sana dengan dua koper, pakaian basah, dan hati yang baru saja kehilangan segalanya.
Saat itu Bu Ratih dan Bima mengira mereka sedang mengusir perempuan miskin dari rumah keluarga mereka.
Mereka tidak tahu rumah itu milikku.
Mereka juga tidak tahu aku memegang kendali atas kekayaan hampir delapan triliun rupiah.
Namun setahun kemudian, aku akhirnya memahami bahwa rahasia terbesar yang ditinggalkan Arga bukanlah jumlah warisan itu.
Rahasia terbesar itu adalah alasan dia mempercayaiku.
Karena pada akhirnya, uang hanya memperbesar apa yang sudah ada di dalam diri seseorang.
Di tangan Bima, uang berubah menjadi keserakahan.
Di mata Bu Ratih, uang berubah menjadi ukuran keluarga.
Dan melalui Arga, aku belajar membuatnya menjadi kesempatan kedua bagi orang lain.
Aku menatap langit Jakarta yang mulai mendung.
Untuk pertama kalinya sejak kematiannya, aku tidak berharap Arga kembali.
Aku hanya berharap, di mana pun dia berada, dia tahu bahwa aku akhirnya memahami pesannya.
Aku tidak memenangkan rumah itu.
Aku tidak memenangkan perusahaan.
Aku bahkan tidak memenangkan delapan triliun rupiah.
Aku hanya berhasil keluar dari semuanya tanpa kehilangan diriku sendiri.
Dan ternyata, itulah warisan paling mahal yang pernah Arga tinggalkan untukku.
