Pagi berikutnya, bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi, Suri sudah berdiri di depan toko grosir sembako milik keluarganya.
Bangunan itu tidak banyak berubah dari yang ia ingat delapan tahun lalu. Papan nama besar berwarna merah masih tergantung di atas pintu. Hanya catnya yang tampak lebih baru dan bagian depan toko kini dilengkapi pintu kaca serta kamera CCTV.
Suri berdiri beberapa saat memandanginya.
Dulu, toko itu dirintis Bapak dan Ibu dari nol. Ia masih ingat bagaimana ibunya bangun sebelum subuh untuk mencatat pesanan, menata barang, bahkan ikut mengangkat kardus ketika pegawai belum datang.
Sekarang nama ibunya seperti sudah dihapus dari sejarah tempat itu.
Suri melangkah masuk.
Beberapa karyawan yang sedang menata barang langsung menoleh.
“Mbak Suri?”
Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun menghentikan pekerjaannya. Wajahnya terlihat terkejut.
Suri mengenalinya.
“Pak Darto?”
Lelaki itu tersenyum lebar, tetapi senyum tersebut segera berubah canggung.
“Ya Allah, benar Mbak Suri. Kapan pulang?”
“Kemarin lusa.”
Suri mendekat dan menjabat tangannya.
Pak Darto adalah salah satu karyawan tertua di toko itu. Ia sudah bekerja sejak Suri masih duduk di bangku SMP.
Suri tidak ingin membuang waktu.
“Pak, saya mau bicara sebentar. Ada hal penting.”
Ekspresi Pak Darto berubah.
Matanya bergerak cepat ke arah karyawan lain.
“Mari ke belakang, Mbak.”
Mereka masuk ke sebuah ruangan kecil yang dulu digunakan ibunya sebagai tempat menyimpan buku pembukuan. Setelah pintu ditutup, Suri langsung mengeluarkan ponselnya.
“Saya mau tanya tentang Ibu.”
Wajah Pak Darto mendadak pucat.
Suri menangkap perubahan itu.
“Lima tahun lalu sebenarnya apa yang terjadi?”
Pak Darto tidak langsung menjawab.
Tangannya justru sibuk meremas ujung kemeja.
“Saya enggak tahu, Mbak.”
“Pak Darto.”
Nada suara Suri tetap tenang, tetapi tegas.
“Dokter bilang kelumpuhan Ibu kemungkinan besar disebabkan benturan keras di bagian belakang kepala.”
Pak Darto menunduk.
“Kalau Ibu cuma jatuh atau kecelakaan biasa, kenapa semua orang seperti takut membicarakannya?”
Keheningan memenuhi ruangan.
Suri kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Pak Darto mengangkat kepala.
“Ibu masih sadar.”
“Apa?”
“Ibu bisa mendengar dan memahami perkataan orang.”
Wajah lelaki itu semakin pucat.
“Semalam saya bertanya apakah Ibu tahu siapa yang membuatnya seperti itu. Ibu menjawab dengan gerakan jarinya.”
Pak Darto menarik kursi dan duduk perlahan.
Napasnya terdengar berat.
“Mbak Suri… ada hal-hal yang kadang lebih aman kalau tidak dibongkar.”
“Untuk siapa?”
Pertanyaan itu membuat Pak Darto terdiam.
“Untuk orang yang melakukan kejahatan atau untuk korban yang selama lima tahun tidak bisa bicara?”
Pak Darto mengusap wajahnya.
Beberapa detik kemudian, ia seperti menyerah.
“Lima tahun lalu, sebelum Bu Rini sakit, beliau sering bertengkar dengan Pak Warsito.”
Jantung Suri berdegup keras.
“Karena Bu Padmi?”
Pak Darto mengangguk.
“Tapi bukan cuma soal perempuan itu.”
Ia merendahkan suara.
“Bu Rini menemukan ada uang toko yang hilang.”
Suri mengernyit.
“Uang?”
“Jumlahnya besar. Ratusan juta.”
Pak Darto kemudian menjelaskan bahwa ibunya selama bertahun-tahun memegang pembukuan toko. Sekitar lima tahun lalu, Bu Rini menemukan banyak transaksi mencurigakan. Uang hasil penjualan ternyata secara berkala dipindahkan ke rekening yang tidak dikenal.
Belakangan Bu Rini mengetahui rekening itu berkaitan dengan Padmi.
“Waktu itu Bu Padmi belum tinggal terang-terangan bersama Pak Warsito,” lanjut Pak Darto. “Tapi hubungan mereka sudah berlangsung lama.”
Suri mengepalkan tangan.
“Lalu?”
“Bu Rini marah. Beliau bilang mau membawa bukti-bukti itu ke polisi kalau Pak Warsito enggak mengembalikan uang toko.”
“Setelah itu Ibu lumpuh?”
Pak Darto menatapnya.
“Iya.”
Suri merasa tengkuknya dingin.
“Apa yang terjadi malam itu?”
“Saya enggak melihat langsung.”
Pak Darto buru-buru menggeleng.
“Tapi saya melihat sesuatu setelahnya.”
“Apa?”
“Malam itu saya kembali ke toko karena kunci motor saya tertinggal. Waktu saya sampai, toko sudah hampir tutup. Saya lihat mobil Pak Warsito ada di belakang.”
Ia menelan ludah.
“Lalu saya dengar suara orang bertengkar dari gudang.”
Suri menahan napas.
“Saya kenal suara Bu Rini. Beliau menangis dan berteriak. Ada suara Pak Warsito juga. Dan…”
Pak Darto berhenti.
“Dan siapa?”
“Bu Padmi.”
Dada Suri terasa sesak.
“Beberapa menit kemudian terdengar suara benda jatuh keras.”
Pak Darto menatap lantai.
“Saya takut. Saya sembunyi di dekat lorong samping. Enggak lama kemudian saya melihat Pak Warsito dan Bu Padmi keluar dari gudang sambil membawa Bu Rini.”
Suri hampir tidak sanggup bernapas.
“Ibu sadar?”
“Enggak.”
Pak Darto menggeleng.
“Ada darah di belakang kepalanya.”
Air mata langsung memenuhi mata Suri.
“Kenapa Bapak diam selama lima tahun?”
Suara Suri bergetar.
Pak Darto menutup wajah.
“Pak Warsito tahu saya ada di sana.”
Ia mengeluarkan napas panjang.
“Besoknya beliau menemui saya. Katanya Bu Rini terpeleset dan jatuh sendiri. Beliau bilang kalau saya menyebarkan cerita lain, saya akan dipecat. Waktu itu anak saya baru masuk kuliah dan istri saya sedang sakit. Saya pengecut, Mbak.”
Suri menahan kemarahannya.
Ia ingin berteriak.
Namun ia tahu kemarahan tidak akan memberinya bukti.
“Apakah masih ada rekaman CCTV?”
“Sudah lama dihapus.”
“Dokumen transaksi?”
Pak Darto menggeleng.
“Setelah kejadian itu semua buku lama dibawa Pak Warsito.”
Suri menutup mata sesaat.

Kesaksian Pak Darto penting, tetapi belum cukup kuat.
Tiba-tiba lelaki itu seperti teringat sesuatu.
“Tunggu.”
Ia bangkit lalu membuka lemari tua di sudut ruangan.
Dari bagian paling bawah, ia menarik sebuah kardus kecil yang penuh debu.
Pak Darto membongkar beberapa map sebelum menemukan sebuah buku catatan bersampul biru.
“Ini punya Bu Rini.”
Suri langsung berdiri.
Pak Darto menyerahkannya.
“Saya menemukannya di belakang rak sehari setelah kejadian. Saya takut memberikannya kepada Pak Warsito, jadi saya simpan.”
Tangan Suri gemetar ketika membuka buku itu.
Di dalamnya terdapat catatan transaksi yang ditulis tangan ibunya. Beberapa nomor rekening diberi lingkaran merah.
Pada halaman terakhir terdapat tulisan pendek.
Jika sesuatu terjadi kepadaku, periksa rekening atas nama Padmi Lestari.
Suri menutup mulut.
Air matanya jatuh.
Ibunya sudah tahu dirinya berada dalam bahaya.
Siang itu Suri langsung membawa buku tersebut ke rumah sakit.
Ia tidak menceritakan semuanya kepada ibunya. Ia hanya duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangannya.
“Ibu, Suri sudah mulai tahu.”
Jari telunjuk Bu Rini bergerak.
“Suri bertemu Pak Darto.”
Jari itu bergerak lagi.
Suri menahan tangis.
“Waktu kejadian, Bapak ada di sana?”
Hening beberapa detik.
Lalu satu gerakan.
“Ibu dipukul Bapak?”
Tidak ada gerakan.
Suri menunggu.
Ia mengulangi pertanyaannya.
Tetap tidak ada.
Suri mengernyit.
Berarti bukan Bapak?
Ia mencoba pertanyaan lain.
“Bu Padmi?”
Jari ibunya bergerak sekali.
Tubuh Suri membeku.
Bude yang berdiri di belakangnya langsung menutup mulut.
“Bu Padmi yang memukul Ibu?”
Sekali lagi jari itu bergerak.
Air mata mengalir dari sudut mata Bu Rini.
Untuk pertama kalinya sejak Suri pulang, Suri melihat ibunya menangis.
“Ibu…”
Suri memeluk tubuh kurus itu hati-hati.
Ia tidak membutuhkan jawaban lain untuk memahami penderitaan perempuan tersebut.
Namun Suri tidak ingin bertindak gegabah.
Ia menghubungi seorang pengacara yang dikenalnya ketika bekerja di luar negeri dan meminta rekomendasi pengacara di Indonesia. Dari sana, ia mendapatkan bantuan untuk mengumpulkan bukti secara legal.
Catatan transaksi diperiksa.
Rekening lama dilacak.
Kesaksian Pak Darto dicatat.
Rekam medis Bu Rini juga diamankan.
Hasilnya jauh lebih mengejutkan daripada dugaan Suri.
Selama bertahun-tahun, sejumlah uang toko ternyata benar-benar mengalir ke rekening Padmi.
Tetapi ada satu fakta lain.
Toko grosir itu bukan sepenuhnya milik Pak Warsito.
Modal awal terbesar berasal dari tanah warisan milik Bu Rini yang dijual setelah menikah.
Lebih mengejutkan lagi, sertifikat bangunan toko masih tercatat atas nama Bu Rini.
Suri hampir tertawa ketika mengetahui fakta tersebut.
Selama ini Padmi dan Gendis hidup mewah dari sesuatu yang secara hukum bahkan tidak sepenuhnya menjadi milik Pak Warsito.
Dua minggu berlalu.
Seperti rencana mereka, Pak Warsito, Padmi, dan Gendis akhirnya pulang ke kampung.
Mereka turun dari mobil travel dengan pakaian rapi dan membawa beberapa kantong oleh-oleh yang dibeli di sekitar Jakarta agar sandiwara mereka terlihat meyakinkan.
Tetangga berdatangan.
“Alhamdulillah, sudah pulang!”
“Sehat, Pak?”
“Bagaimana di tanah suci?”
Pak Warsito tersenyum lebar.
“Alhamdulillah, lancar.”
Padmi bahkan mengenakan kerudung putih sambil membagikan kurma.
Gendis sibuk menunjukkan foto-foto pemandangan yang ia ambil dari internet kepada beberapa tetangga.
Suri berdiri di balik jendela rumah.
Ia hanya tersenyum tipis.
Malam harinya, ketika tidak ada lagi tamu, Pak Warsito langsung memanggilnya.
“Suri!”
Suri keluar dari kamar.
Pak Warsito berdiri di ruang tengah dengan wajah merah.
“Kamu keterlaluan! Bapak minta bantuan dua puluh juta saja enggak dikasih!”
Padmi mendengus.
“Kerja delapan tahun di luar negeri tapi sama orang tua pelit.”
Gendis ikut menyahut.
“Memangnya uangnya ada, Bu? Jangan-jangan cuma gaya.”
Suri tidak terpancing.
Ia duduk santai.
“Perjalanan umrohnya bagaimana?”
Ketiganya langsung terdiam.
“Lancarlah!” jawab Pak Warsito.
“Hotel di Makkah nyaman?”
“Iya.”
“Masjidil Haram ramai?”
“Ya jelas ramai!”
Suri mengangguk.
Kemudian ia mengeluarkan ponselnya.
“Menarik.”
Ia memperlihatkan layar.
“Karena menurut data imigrasi, paspor Bapak, Bu Padmi, dan Gendis tidak pernah keluar dari Indonesia dua minggu ini.”
Wajah ketiganya seketika berubah.
“Kamu…”
Pak Warsito menunjuk Suri.
“Kamu menyelidiki Bapak?”
“Bukan cuma soal umroh.”
Suri meletakkan buku bersampul biru di atas meja.
Begitu melihatnya, wajah Pak Warsito langsung pucat.
Padmi bahkan mundur selangkah.
“Kenal buku ini?”
Tidak ada jawaban.
Suri membuka halaman terakhir.
“Ini tulisan Ibu.”
Pak Warsito menelan ludah.
“Suri, dengarkan Bapak…”
“Belum selesai.”
Suri menatap Padmi.
“Pak Darto sudah bicara.”
Wajah Padmi berubah panik.
“Dia melihat kalian membawa Ibu keluar dari gudang malam itu.”
“Itu kecelakaan!” teriak Pak Warsito.
“Benar?”
Suri berdiri.
“Kalau kecelakaan, kenapa selama lima tahun Ibu tidak dibawa mendapatkan perawatan yang layak? Kenapa semua bukti pembukuan dihilangkan?”
Pak Warsito terdiam.
Padmi tiba-tiba menyela.
“Jangan sembarangan menuduh!”
Suri menatapnya tajam.
“Saya belum bilang siapa yang memukul Ibu.”
Padmi membeku.
Ruangan langsung sunyi.
Suri melangkah mendekat.
“Tapi kenapa Bu Padmi langsung merasa dituduh?”
Wajah perempuan itu semakin pucat.
Gendis menatap ibunya dengan kebingungan.
“Bu?”
“Diam!”
Padmi membentak.
Suri mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman.
Suara Suri terdengar menanyakan pertanyaan kepada ibunya.
Bu Padmi yang memukul Ibu?
Kemudian terdengar suara Suri menjelaskan gerakan jari sebagai jawaban.
Padmi mulai gemetar.
“Itu bukan bukti!”
“Memang.”
Suri mengangguk.
“Karena itu saya sudah menyerahkan bukti lain kepada polisi.”
Pak Warsito tersentak.
“Apa?”
“Rekam medis Ibu. Catatan transaksi. Kesaksian Pak Darto. Dan bukti aliran uang toko.”
Suri menatap bapaknya tanpa berkedip.
“Besok pengacara saya juga akan mengurus pemblokiran transaksi atas aset yang menjadi hak Ibu.”
Pak Warsito langsung terduduk.
Namun tiba-tiba Gendis berbicara.
“Bu… sebenarnya apa yang terjadi malam itu?”
Padmi membentaknya lagi.
“Sudah kubilang diam!”
“Aku mau tahu!”
Gendis menangis.
“Apa benar Ibu mukul Bu Rini?”
Padmi kehilangan kendali.
“Aku enggak sengaja!”
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Semua orang membeku.
Padmi baru menyadari kesalahannya setelah terlambat.
“Aku cuma mendorong dia!”
Suaranya meninggi karena panik.
“Dia mau melaporkan semuanya! Dia menghina aku! Aku ambil kayu karena emosi, tapi aku enggak berniat bikin dia lumpuh!”
Pak Warsito langsung berdiri.
“Padmi! Tutup mulutmu!”
Namun Suri justru tersenyum tipis.
Ia mengambil ponsel lain dari atas lemari.
Lampu kecil di layarnya menyala.
Merekam.
Padmi membelalak.
Pada saat yang sama terdengar ketukan keras di pintu depan.
Pak Warsito menoleh.
Suri berjalan membuka pintu.
Dua petugas kepolisian berdiri di luar bersama pengacaranya.
Wajah Pak Warsito kehilangan seluruh warna.
Suri sengaja menunggu kepulangan mereka.
Ia tahu orang yang merasa terpojok sering kali akan membuka rahasianya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, Bu Rini masih menjalani rehabilitasi intensif.
Tubuhnya memang belum kembali seperti dulu. Dokter bahkan tidak berani menjanjikan bahwa ia akan bisa berjalan lagi.
Namun kondisinya perlahan membaik.
Ia sudah mampu menggerakkan beberapa jari dan memberikan respons lebih konsisten.
Kasus Padmi dan Pak Warsito memasuki proses hukum. Padmi harus mempertanggungjawabkan kekerasan yang dilakukannya, sementara keterlibatan Pak Warsito dalam menutupi kejadian serta masalah keuangan toko ikut diperiksa.
Gendis memilih meninggalkan rumah dan tinggal bersama kerabatnya.
Sementara itu, Suri mengambil alih pengelolaan toko atas persetujuan ibunya melalui proses hukum yang diperlukan.
Suatu sore, Suri membawa kursi roda ibunya ke halaman rumah Bude.
Angin berembus pelan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Bu Rini merasakan hangat matahari sore di wajahnya.
Suri berjongkok di hadapannya.
“Ibu tahu enggak?”
Bu Rini menatap putrinya.
“Dulu Suri pulang karena mau kasih kejutan.”
Suri tersenyum sambil menahan air mata.
“Ternyata malah Suri yang dapat banyak kejutan.”
Jari Bu Rini bergerak pelan dan menyentuh tangan putrinya.
Suri tertawa kecil sambil menangis.
Kemudian sesuatu terjadi.
Bibir Bu Rini bergerak.
Sangat perlahan.
Suara yang keluar nyaris tidak terdengar.
“Su…ri…”
Suri membeku.
Delapan tahun ia menunggu pulang untuk mendengar suara ibunya lagi.
Dan setelah semua luka yang mereka lalui, satu kata itulah yang akhirnya menyambut kepulangannya.
Suri langsung memeluk ibunya.
Kali ini ia tidak lagi memikirkan balas dendam.
Ia sadar kemenangan terbesar bukan ketika orang-orang yang menyakiti ibunya menerima hukuman.
Kemenangan terbesar adalah ketika ibunya akhirnya mendapatkan kembali haknya, martabatnya, dan kesempatan untuk menjalani hidup yang selama lima tahun dirampas darinya.
Sebab keadilan bukan tentang membalas luka dengan luka.
Keadilan adalah memastikan orang yang terluka tidak lagi dipaksa hidup dalam ketakutan, sementara mereka yang berbuat zalim tidak bisa selamanya bersembunyi di balik kebohongan.
