AKU PULANG LEBIH CEPAT—WANITA YANG DUDUK DI SOFAKU MENYURUHKU MEMBERSIHKAN KAMAR MANDI, JADI SEBELUM SUAMIKU PULANG, AKU JUSTRU MEMBERESKAN SEMUA BARANG MEREKA KELUAR DARI RUMAH

Aku menurunkan ponsel perlahan.

Ruang tamu yang beberapa menit lalu dipenuhi suara televisi kini terasa seperti ruang interogasi. Tidak ada yang bergerak. Bahkan Nadin, yang sejak tadi begitu percaya diri, berdiri kaku beberapa langkah dari Raka.

“Rp4,8 miliar?” tanyaku.

Raka mengusap wajahnya. “Alya, dengarkan aku dulu.”

“Aku sedang mendengarkan.”

“Ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”

Aku hampir tersenyum.

Kalimat itu terdengar sangat klise, tetapi rupanya orang yang terpojok memang sering kehilangan kreativitas.

Aku kembali berbicara kepada Dimas melalui telepon.

“Pengajuan pinjamannya sudah diproses?”

“Belum, Bu. Pihak bank meminta verifikasi tambahan karena sertifikat rumah tercatat atas nama Ibu. Saya sudah menghubungi bagian legal mereka dan meminta seluruh proses dihentikan.”

“Bagus.”

“Bu Alya, sebaiknya dokumen asli diamankan. Kalau memungkinkan, jangan biarkan Pak Raka membawanya.”

Raka langsung menatap ke arah kamar.

Gerakan kecil itu cukup.

Aku tahu persis apa yang sedang dipikirkannya.

Aku berjalan lebih dulu menuju kamar utama.

“Alya!”

Raka mengejarku.

Aku membuka laci dan mengambil map cokelat tadi.

Begitu tanganku memegangnya, Raka mencoba merebutnya.

Aku mundur.

“Jangan sentuh.”

“Aku cuma mau jelasin.”

“Jelaskan dari sana.”

Nadin berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat.

“Aku nggak tahu soal surat itu,” katanya cepat. “Sumpah, aku nggak tahu.”

Raka menoleh tajam.

“Nadin, diam.”

“Kenapa aku harus diam?” suaranya meninggi. “Kamu bilang rumah ini sudah jadi milik kamu!”

Aku menatap Nadin.

“Kapan dia bilang begitu?”

Nadin menggigit bibir.

“Nadin.”

Dia akhirnya menjawab.

“Sekitar tiga minggu lalu.”

Tiga minggu.

Sedangkan surat hibah palsu itu bertanggal dua minggu lalu.

Aku mulai melihat urutannya.

“Dia bilang apa lagi?”

“Alya, jangan libatkan dia,” potong Raka.

Aku mengabaikannya.

Nadin menarik napas.

“Dia bilang kalian sedang proses cerai. Katanya kamu sudah pindah sebagian besar waktu karena kerja. Dia bilang rumah ini akan jadi miliknya setelah pembagian aset selesai.”

Aku menatap pakaian perempuan itu di lemari.

“Makanya kamu pindah ke sini?”

“Aku nggak pindah sepenuhnya.”

Nadin terdengar malu.

“Aku cuma beberapa kali menginap.”

“Sejak kapan?”

“Dua bulan.”

Dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.

Dua bulan.

Selama dua bulan terakhir aku memang sering berada di luar kota. Perusahaanku sedang menangani tiga proyek besar sekaligus di Tangerang, Bekasi, dan Bandung. Ada minggu-minggu ketika aku hanya pulang dua atau tiga malam.

Aku selalu merasa bersalah kepada Raka.

Aku bahkan beberapa kali meminta maaf karena terlalu sibuk.

Ternyata ketika aku sedang memikirkan bagaimana menjaga pernikahan kami, dia sedang menggunakan ketidakhadiranku untuk membangun kehidupan lain di rumahku sendiri.

“Keluar,” kataku.

Raka menatapku.

“Alya.”

“Bukan kamu.”

Aku menatap Nadin.

“Ambil barangmu di teras. Pulang.”

Nadin langsung berjalan, tetapi Raka menahan lengannya.

“Kamu jangan pergi dulu.”

Nadin menepis tangannya.

“Jangan sentuh aku.”

“Nadin.”

“Kamu bohong sama aku!”

“Bisa kita bicarakan nanti.”

“Nanti?”

Nadin tertawa getir.

“Kamu punya istri. Kamu palsukan surat rumahnya. Kamu mau pinjam hampir lima miliar pakai rumah dia, dan kamu masih bilang nanti?”

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan nyata di wajah Raka.

Bukan karena kehilangan aku.

Karena kehilangan kendali.

Ponsel Raka tiba-tiba berdering.

Dia melihat layar, lalu buru-buru mematikannya.

Aku sempat membaca nama yang muncul.

Pak Hendra.

Nama itu kukenal.

Hendra adalah teman lama Raka yang beberapa kali datang ke rumah. Setahun lalu mereka membuka usaha distribusi bahan bangunan. Raka mengatakan bisnis itu berjalan baik.

Aku tidak pernah ikut campur karena dia selalu berkata ingin membangun sesuatu dengan usahanya sendiri.

“Angkat,” kataku.

“Nggak penting.”

“Kalau begitu, kenapa tanganmu gemetar?”

Raka memasukkan ponsel ke saku.

Aku menghubungi Dimas lagi.

“Mas, tolong cek perusahaan Raka. Semua yang bisa ditemukan.”

Raka langsung berubah.

“Kamu nggak punya hak mengacak-acak bisnisku.”

Aku menatapnya.

“Dan kamu punya hak memalsukan tanda tanganku?”

Dia diam.

Aku kembali ke ruang tamu dan duduk.

Aneh sekali. Itu rumahku, tetapi baru sore itu aku merasa seperti sedang melihatnya untuk pertama kali.

Foto pernikahan kami masih tergantung di dinding.

Dalam foto itu Raka memeluk pinggangku sambil tersenyum.

Lima tahun.

Lima tahun pernikahan bisa terlihat begitu meyakinkan dalam sebuah bingkai.

Nadin sudah mengangkat dua kantong barangnya ketika dia tiba-tiba berhenti.

“Ada sesuatu yang harus Mbak Alya tahu.”

Raka langsung berdiri.

“Nadin.”

“Diam!”

Nadin membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel.

“Dua minggu lalu Raka pernah minta aku jadi saksi tanda tangan dokumen.”

Aku menatapnya.

“Dokumen apa?”

“Aku nggak baca semuanya. Dia cuma bilang dokumen usaha.”

Raka mendekat, tetapi Nadin mundur.

“Aku sempat foto karena namaku dicantumkan sebagai saksi. Aku takut kalau ada masalah.”

Dia membuka galeri.

Sebuah foto muncul.

Aku memperbesarnya.

Dokumen itu bukan surat hibah.

Itu surat pernyataan persetujuan pasangan untuk menjaminkan aset.

Dan di bawah namaku ada tanda tangan palsu yang sama.

Tetapi ada sesuatu yang lebih menarik.

Di pojok foto terlihat sebagian layar laptop Raka.

Sebuah file terbuka.

Namanya terlihat jelas.

TTD ALYA FINAL.png.

Aku merasakan tengkukku dingin.

Raka tidak sekadar menggunakan satu tanda tangan.

Dia menyimpan file tanda tanganku.

“Dari mana kamu mendapatkannya?” tanyaku.

Raka menunduk.

Aku langsung teringat.

Enam bulan lalu Raka pernah memintaku mengirimkan scan surat kuasa untuk mengambil mobil perusahaan yang sedang diperbaiki. Surat itu memiliki tanda tanganku.

Dia pasti mengambilnya dari sana.

Ponselku kembali berbunyi.

Dimas.

Kali ini aku langsung mengangkatnya.

“Bu, saya menemukan masalah yang jauh lebih besar.”

Raka memejamkan mata.

“Perusahaan Pak Raka memiliki utang sekitar Rp6,3 miliar kepada beberapa pihak. Ada dua gugatan perdata dan beberapa tagihan jatuh tempo. Salah satu krediturnya memberi tenggat sampai akhir bulan.”

Aku menatap Raka.

“Bisnis kamu baik-baik saja?”

Dia tidak menjawab.

“Jawab.”

“Nggak.”

Suaranya nyaris berbisik.

“Sejak kapan?”

“Hampir setahun.”

Aku tercekat.

Setahun.

“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Apa yang harus aku bilang?” Raka tiba-tiba membentak. “Bahwa aku gagal?”

Aku berdiri.

“Ya.”

Dia tertawa pahit.

“Gampang buat kamu ngomong begitu. Kamu punya perusahaan. Kamu punya proyek di mana-mana. Orang manggil kamu Bu Alya, menunggu keputusan kamu, menghormati kamu. Sementara aku?”

“Aku nggak pernah merendahkanmu.”

“Tapi aku merasa kecil setiap hari!”

Aku terdiam.

Akhirnya keluar juga.

Bukan cinta.

Bukan kesalahan.

Harga diri.

“Aku mencoba membangun sesuatu sendiri,” lanjutnya. “Aku pinjam modal. Aku tambah gudang. Aku pikir kontrak besar itu bakal masuk. Ternyata batal. Utang menumpuk.”

“Lalu solusimu mencuri rumahku?”

“Aku cuma butuh waktu!”

“Kamu memalsukan tanda tanganku.”

“Aku akan bayar pinjamannya.”

“Dengan apa?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengangguk pelan.

“Itu masalahnya, Raka. Kamu tidak punya rencana. Kamu cuma berharap asetku cukup besar untuk menutupi kegagalanmu.”

Wajahnya memerah.

“Rumah ini kita tempati bersama!”

“Rumah ini dibeli tiga tahun sebelum kita menikah.”

“Aku suamimu!”

“Dan itu bukan surat kepemilikan.”

Nadin berdiri tanpa suara.

Untuk sesaat aku hampir lupa dia ada di sana.

Kemudian dia berkata pelan, “Aku pergi.”

Aku mengangguk.

Namun sebelum keluar, dia berhenti di depanku.

“Maaf.”

Aku menatapnya.

“Aku benar-benar nggak tahu Mbak masih jadi istrinya.”

Aku percaya sebagian.

Mungkin dia memang dibohongi.

Tetapi dia juga sudah masuk ke rumah orang lain dan merasa cukup nyaman untuk memerintah seseorang yang dikiranya pembantu.

“Aku bukan orang yang harus memutuskan kamu orang baik atau bukan,” kataku. “Tapi lain kali, sebelum merasa memiliki rumah seseorang, pastikan dulu siapa yang membayar cicilan furniturnya.”

Nadin menunduk.

Lalu pergi membawa kantong-kantong hitam itu.

Tinggal aku dan Raka.

“Alya.”

Nada suaranya berubah lembut.

Nada yang dulu selalu berhasil membuatku luluh.

“Kita sudah lima tahun menikah.”

“Aku tahu.”

“Kamu mau buang semuanya gara-gara satu kesalahan?”

Aku menatapnya lama.

“Satu?”

Dia terdiam.

“Perempuan lain dua bulan. Kebohongan soal perceraian. Tanda tangan palsu. Surat hibah palsu. Pengajuan pinjaman Rp4,8 miliar. Kamu menyebut semuanya satu kesalahan?”

Raka duduk.

Bahu yang selama ini selalu terlihat tegap tiba-tiba jatuh.

“Aku takut.”

Untuk sesaat aku melihat laki-laki yang dulu kunikahi.

Raka yang menungguku sampai tengah malam ketika aku lembur.

Raka yang membuatkan kopi sebelum presentasi pertamaku.

Raka yang pernah berkata dia bangga melihatku berhasil.

Mungkin sebagian dari dirinya masih ada.

Tetapi cinta tidak menghapus bukti.

Dan kenangan baik tidak membuat pengkhianatan menjadi halal.

“Aku bisa bantu kalau kamu datang dan bilang kamu terlilit utang,” kataku. “Aku bahkan mungkin akan membantu menjual sebagian aset untuk menyelamatkanmu.”

Raka mengangkat kepala.

“Tapi kamu tidak datang sebagai suami yang meminta bantuan. Kamu datang diam-diam sebagai orang yang mencoba mengambil sesuatu yang bukan milikmu.”

“Alya, please.”

“Keluar dari rumah ini malam ini.”

Dia membeku.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

“Aku mau tinggal di mana?”

Aku menatap kantong kecil berisi beberapa barangnya yang tadi tanpa sadar ikut kumasukkan bersama barang Nadin.

“Kamu orang dewasa. Cari tempat.”

Malam itu Raka pergi.

Dua hari kemudian aku membuat laporan resmi terkait pemalsuan dokumen dan percobaan penggunaan aset tanpa persetujuanku. Dimas membantu mengamankan sertifikat dan mengirim pemberitahuan kepada pihak-pihak terkait agar tidak memproses transaksi apa pun atas rumah itu tanpa kehadiranku.

Aku juga mengajukan gugatan cerai.

Kupikir semuanya selesai.

Ternyata belum.

Seminggu kemudian, Dimas datang ke kantorku membawa sebuah berkas.

“Ada sesuatu yang aneh, Bu.”

“Apa?”

“Pengajuan Rp4,8 miliar itu sebenarnya bukan pertama.”

Aku menatapnya.

Dimas meletakkan tiga lembar dokumen di meja.

“Empat bulan lalu ada percobaan pengajuan lain sebesar Rp2 miliar. Gagal karena dokumennya kurang.”

Aku membaca nama pemohon.

Raka.

Namun ada nama lain sebagai penjamin tambahan.

Aku mengenalnya.

Hendra.

“Jadi mereka bekerja sama?”

“Sepertinya.”

Dimas kemudian menggeser lembar terakhir.

“Tapi ini yang menarik.”

Itu salinan percakapan yang diserahkan Hendra melalui pengacaranya setelah mengetahui kasus pemalsuan mulai diperiksa.

Dalam salah satu pesan, Raka menulis:

Begitu dana cair, rumah aman. Alya nggak pernah periksa dokumen pribadi. Setelah itu gue ajukan cerai. Bilang saja utang usaha, sisanya gue bawa keluar.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Tanganku tidak gemetar.

Tidak ada lagi air mata.

Justru sesuatu di dalam diriku menjadi sangat tenang.

Jadi bahkan penjelasannya tentang rasa takut dan kegagalan bisnis pun hanya separuh kebenaran.

Dia bukan sekadar suami yang panik.

Dia sudah merencanakannya.

Aku menyerahkan kembali berkas itu kepada Dimas.

“Lanjutkan proses hukumnya.”

Beberapa bulan kemudian, perceraian kami selesai.

Rumah itu tetap menjadi milikku.

Bisnis Raka akhirnya runtuh, sementara proses hukum terkait dokumen palsu terus berjalan. Aku tidak pernah mencari tahu apa yang terjadi antara dia dan Nadin.

Aku juga mengganti sofa ruang tamu.

Bukan karena sofa lama rusak.

Aku hanya tidak ingin setiap kali pulang melihat tempat seorang perempuan asing pernah duduk sambil mengira rumahku adalah miliknya.

Suatu sore, Mbak Yuni datang setelah beberapa hari pulang kampung.

Dia melihat sofa baru itu lalu tersenyum.

“Wah, Bu, sofanya baru?”

“Iya.”

“Yang lama kenapa?”

Aku memandang ruang tamu yang kini terasa jauh lebih luas.

“Sudah nggak cocok.”

Mbak Yuni mengangguk tanpa bertanya lagi.

Lalu, sambil mengambil kain lap, dia berkata, “Kamar mandi tamu sekalian saya bersihkan, ya, Bu?”

Aku langsung tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tertawa sampai mataku berair.

“Nggak usah sekarang, Mbak.”

Aku berjalan ke jendela dan membukanya lebar-lebar.

Udara sore masuk memenuhi rumah.

Hari itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Kadang kita pulang lebih cepat dan menemukan kehidupan kita berantakan.

Rasanya menyakitkan.

Tetapi ada kekacauan yang memang harus ditemukan sebelum terlambat.

Sebab kalau rapatku hari itu tidak dibatalkan, mungkin aku akan pulang malam seperti biasa. Nadin sudah pergi. Barang-barangnya sudah disembunyikan. Surat palsu itu tetap berada di dalam laci.

Dan beberapa minggu kemudian, mungkin aku baru mengetahui semuanya ketika rumahku sudah terikat utang miliaran rupiah.

Aku dulu mengira kepulanganku yang lebih cepat telah menghancurkan pernikahanku.

Ternyata tidak.

Pernikahan itu sudah dihancurkan jauh sebelum aku membuka pintu.

Aku hanya pulang tepat waktu untuk menyelamatkan diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang