PULANG MENDADAK DARI EROPA, SEORANG MILIARDER MENEMUKAN PUTRINYA YANG BERUSIA 7 TAHUN MENGGOSOK LANTAI SAAT ISTRINYA DUDUK MENONTON

Saat Nara mengatakan bahwa Bimo tahu semua yang terjadi di rumah itu, aku merasa seolah baru saja dihantam sesuatu tepat di dada.

Aku menatap adikku tanpa berkedip.

Bimo adalah satu-satunya orang yang paling kupercaya selama aku berada di Eropa. Setiap minggu dia mengirim pesan bahwa Nara baik-baik saja. Kadang dia bahkan mengirim foto Nara sedang belajar, makan, atau tersenyum di taman.

Aku mempercayainya karena dia adikku sendiri.

Sekarang dia berdiri beberapa meter di depanku dengan wajah sepucat kertas.

“Apa maksud Nara?” tanyaku.

Bimo menelan ludah.

“Mas, aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan.”

Siska langsung menyela.

“Arga, jangan percaya semua yang dikatakan anak kecil. Nara sedang marah padaku.”

Aku menatapnya tajam.

“Aku sedang bicara dengan adikku.”

Siska terdiam.

Bimo menarik napas panjang.

“Aku memang sering datang ke sini.”

“Aku tahu. Aku yang menyuruhmu.”

“Tapi situasinya tidak seperti yang kamu lihat sekarang.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Nara yang masih memeluk pinggangku tiba-tiba berbisik.

“Om Bimo pernah lihat aku dihukum enggak makan malam.”

Aku menatap Bimo.

Dia menghindari tatapanku.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

“Kamu melihatnya?”

Bimo diam.

“Kamu melihat anakku tidak diberi makan?”

“Aku sudah bilang ke Siska jangan keterlaluan.”

“Jangan keterlaluan?”

Suaraku meninggi untuk pertama kalinya.

Nara tersentak.

Aku langsung menurunkan nada suaraku dan mengusap rambutnya.

“Maaf, Sayang.”

Bimo mendekat satu langkah.

“Mas, dengarkan dulu. Siska bilang Nara sulit diatur sejak kamu pergi. Aku pikir dia cuma sedang mendisiplinkannya.”

“Anak tujuh tahun tidur di gudang dan menggosok lantai sampai tangannya luka, lalu kamu menyebut itu disiplin?”

Bimo tidak menjawab.

Aku mengambil ponsel lama dari tangan Nara.

“Ada rekaman lain?”

Nara mengangguk.

Siska tiba-tiba berbalik menuju pintu.

Dua petugas keamanan perempuan baru saja masuk bersama kepala keamanan perusahaanku.

“Bu Siska, mohon tetap di tempat,” kata salah satu petugas.

“Aku tidak ditahan!”

“Memang tidak. Tapi Pak Arga meminta kami menjaga putrinya dan memastikan tidak ada barang yang dipindahkan sampai situasinya jelas.”

Siska menatapku dengan kebencian yang selama ini tak pernah kulihat.

“Kamu mempermalukanku di rumahku sendiri.”

Aku tidak menjawab.

Dokter keluarga datang sekitar dua puluh menit kemudian.

Namanya dr. Ratna. Dia sudah mengenal Nara sejak bayi.

Begitu memeriksa tangan Nara, ekspresinya berubah.

“Ada dermatitis akibat paparan bahan pembersih berulang. Beberapa bagian kulitnya juga lecet.”

Dia kemudian memeriksa berat badan Nara.

“Nara turun hampir empat kilogram sejak pemeriksaan terakhir.”

Empat kilogram.

Untuk anak berusia tujuh tahun, angka itu membuat kepalaku berdengung.

“Ada bekas memar di lengan dan punggung,” lanjut dr. Ratna pelan. “Saya menyarankan pemeriksaan lengkap di rumah sakit.”

Siska langsung berkata, “Dia sering jatuh.”

Nara menunduk.

Dr. Ratna menatapku, lalu Siska.

Aku memahami tatapan itu.

“Dok, tolong dokumentasikan semuanya.”

Siska langsung berdiri.

“Untuk apa?”

“Karena aku ingin tahu apa yang terjadi pada anakku selama aku tidak ada.”

Malam itu Nara tidak mau melepaskan tanganku bahkan ketika kami menuju rumah sakit.

Di mobil, dia duduk di sampingku dengan kepala bersandar di lenganku.

“Ayah marah sama Nara?”

Aku terkejut.

“Kenapa Ayah harus marah?”

“Karena aku enggak cerita dari awal.”

Aku memeluk bahunya.

“Ayah justru minta maaf.”

Dia mengangkat kepala.

“Kenapa?”

“Karena Ayah terlalu percaya kepada orang dewasa sampai lupa memastikan sendiri keadaan orang yang paling Ayah sayangi.”

Nara diam cukup lama.

Lalu dia bertanya, “Ayah bakal pergi ke Eropa lagi?”

Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pisau.

Aku memegang pipinya.

“Kalau Ayah harus bekerja ke luar negeri lagi, Nara ikut.”

Untuk pertama kalinya sejak aku pulang, dia tersenyum kecil.

Pemeriksaan rumah sakit selesai menjelang tengah malam. Tidak ada cedera serius yang mengancam nyawa, tetapi dokter menemukan tanda kekurangan nutrisi ringan, luka kulit, serta beberapa memar dengan usia berbeda.

Aku membawa Nara ke apartemen pribadiku di Jakarta Selatan malam itu.

Siska tidak ikut.

Sebelum tidur, Nara menyerahkan ponsel lama itu kepadaku.

“Ayah dengarkan semuanya kalau Nara sudah tidur.”

Ada tujuh belas rekaman.

Aku mendengarkannya satu per satu.

Pada rekaman ketiga, aku mendengar Siska memarahi Nara karena menumpahkan susu.

Pada rekaman kelima, terdengar Nara menangis karena dikunci di ruang belakang.

Pada rekaman kedelapan, suara Bimo muncul.

“Sudahlah, Sis. Jangan sampai ada bekas. Kalau Mas Arga pulang, kita yang repot.”

Tanganku mengepal.

Namun rekaman kesebelas membuatku benar-benar membeku.

Suara Siska terdengar lebih pelan.

“Kapan Arga tanda tangan dokumen yang dari Swiss itu?”

Kemudian Bimo menjawab.

“Minggu depan. Dia pikir itu cuma restrukturisasi aset perusahaan.”

“Kalau sudah tanda tangan?”

“Sebagian saham holding pindah ke perusahaan baru. Setelah itu kita tinggal tunggu.”

“Tunggu apa?”

“Dia tidak mungkin terus sehat selamanya.”

Aku menghentikan rekaman.

Untuk beberapa detik, aku bahkan tidak bisa bernapas dengan normal.

Ini bukan lagi sekadar kekerasan terhadap Nara.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar.

Keesokan paginya aku menghubungi pengacaraku, Adrian.

Aku meminta tim audit internal memeriksa seluruh dokumen yang dikirim Bimo selama tiga bulan terakhir.

Hasil awal keluar sore harinya.

Bimo ternyata membuat perusahaan cangkang menggunakan nama dua orang kepercayaannya. Beberapa dokumen yang dia kirim kepadaku memang terlihat seperti restrukturisasi biasa, tetapi terdapat klausul yang memungkinkan pengalihan hak pengendalian atas sebagian aset jika aku menandatangani paket dokumen terakhir.

Aku belum menandatanganinya.

Kepulanganku tiga hari lebih cepat telah menghancurkan rencana mereka.

Tapi masih ada pertanyaan yang lebih menggangguku.

Kenapa mereka menyiksa Nara?

Jawabannya datang dari Nara sendiri.

Sore itu kami duduk di balkon apartemen. Dia sedang makan sup ayam ketika tiba-tiba berkata, “Ayah, Tante Siska pernah cari sesuatu di kamar Nara.”

“Apa?”

“Kertas Mama.”

Jantungku seperti berhenti.

Ibu kandung Nara, Maya, meninggal lima tahun sebelumnya karena kecelakaan. Sebelum menikah denganku, Maya berasal dari keluarga pengusaha properti di Surabaya.

Sebagian besar warisannya ditempatkan dalam trust untuk Nara.

Nilainya sangat besar.

Dan hanya sedikit orang yang mengetahuinya.

“Apa Tante Siska bilang?”

“Dia tanya Mama pernah kasih surat apa ke Nara.”

Aku langsung teringat boneka kelinci tua di kamar belakang.

Boneka itu hadiah terakhir Maya.

“Nara, boneka kelincimu di mana?”

“Masih di rumah.”

Aku langsung menelepon Adrian.

Malam itu kami kembali ke rumah ditemani petugas keamanan.

Siska sudah tidak berada di sana. Setelah pemeriksaan Nara, pengacaraku menyarankan agar kami tidak melakukan konfrontasi lebih jauh dan menyerahkan proses berikutnya kepada pihak berwenang.

Bimo juga menghilang.

Kami masuk ke kamar belakang.

Boneka kelinci itu masih ada.

Aku memeriksanya.

Di bagian bawah terdapat jahitan yang tampak berbeda.

Setelah dibuka, aku menemukan sebuah USB kecil dan amplop plastik.

Tanganku gemetar ketika melihat tulisan tangan di atasnya.

Untuk Arga, jika suatu hari Nara membutuhkannya.

Tulisan Maya.

Di dalam USB terdapat salinan dokumen trust dan rekaman video.

Aku memutarnya.

Wajah Maya muncul di layar.

Dia terlihat jauh lebih kurus daripada yang kuingat pada bulan-bulan terakhir hidupnya.

“Arga, kalau kamu menonton ini, mungkin aku sudah tidak ada.”

Aku menahan napas.

“Nara adalah penerima manfaat utama aset keluargaku. Jangan pernah menyerahkan pengelolaannya kepada siapa pun sebelum dia dewasa. Termasuk keluargamu sendiri.”

Aku membeku.

Maya melanjutkan.

“Aku pernah menemukan Bimo mencoba mendapatkan informasi tentang trust ini. Aku tidak punya bukti dia berniat buruk, jadi aku tidak ingin merusak hubungan kalian hanya karena kecurigaanku. Tapi kalau suatu hari sesuatu terjadi, lindungi Nara.”

Aku menutup mata.

Maya sudah memperingatkanku lima tahun lalu.

Dan aku tidak pernah menemukan pesan itu karena mengira boneka tersebut hanyalah kenang-kenangan untuk Nara.

Tiga hari kemudian, penyelidikan menemukan fakta yang lebih buruk.

Siska dan Bimo ternyata memiliki hubungan sebelum Siska menikah denganku.

Mereka tidak pernah benar-benar berpisah.

Pernikahanku dengan Siska adalah bagian dari rencana untuk masuk ke kehidupanku dan memperoleh akses terhadap aset keluarga.

Namun mereka baru mengetahui tentang warisan Nara beberapa bulan sebelumnya.

Itulah alasan kamar Nara dibongkar.

Mereka mencari dokumen Maya.

Ketika tidak menemukannya, mereka mulai menekan Nara, berharap anak itu mengetahui tempat penyimpanannya.

Mbak Rini ternyata tidak berhenti.

Dia dipecat setelah memergoki Siska mengunci Nara di kamar belakang.

Pak Darto dipecat karena mencoba menghubungiku.

Nomor mereka kemudian diblokir dari ponsel rumah dan ponsel Nara.

Foto-foto yang dikirim Bimo kepadaku selama di Eropa ternyata diambil dalam dua hari pertama setelah kepergianku, lalu dikirim secara bertahap seolah-olah merupakan foto terbaru.

Semua sudah direncanakan.

Siska akhirnya ditemukan di sebuah hotel di Bandung.

Bimo ditangkap beberapa hari kemudian ketika mencoba meninggalkan Indonesia melalui Batam.

Proses hukum berjalan panjang.

Aku tidak pernah membawa Nara ke ruang sidang kecuali ketika benar-benar diperlukan.

Bagiku, kemenangan terbesar bukan melihat Siska dan Bimo menerima konsekuensi atas perbuatan mereka.

Kemenangan terbesar terjadi enam bulan kemudian.

Suatu sore aku pulang lebih awal dari kantor.

Aku menemukan Nara duduk di lantai ruang keluarga.

Ada cat air di mana-mana.

Tangannya penuh warna.

Lantai marmer yang mahal juga terkena beberapa tetes cat.

Begitu melihatku, wajahnya langsung pucat.

Dia buru-buru berdiri.

“Maaf, Yah. Nara bersihin sekarang.”

Dia langsung mencari kain.

Aku menahan tangannya.

“Tidak perlu.”

“Tapi lantainya kotor.”

“Memangnya kenapa?”

Dia menatapku bingung.

“Nanti Ayah marah.”

Aku jongkok di depannya.

“Nara, dengarkan Ayah.”

Aku mengambil kuas kecil dari lantai dan membuat satu garis biru di atas kertas gambarnya.

“Rumah itu bukan tempat yang harus selalu bersih.”

Aku membuat garis kedua.

“Rumah adalah tempat kita boleh melakukan kesalahan tanpa takut kehilangan kasih sayang.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Kalau Nara nakal?”

“Ayah tegur.”

“Kalau Nara bikin berantakan?”

“Kita rapikan bersama.”

“Kalau Nara bikin Ayah marah?”

“Ayah tetap sayang.”

Air matanya jatuh.

Dia memelukku.

Aku memeluknya kembali.

Beberapa bulan kemudian aku menjual rumah lama itu.

Aku tidak ingin Nara tumbuh bersama bayangan pintu gudang tempat dia pernah tidur sendirian.

Kami pindah ke rumah yang lebih kecil.

Tidak ada kolam besar.

Tidak ada belasan pegawai.

Tidak ada ruang marmer yang dibuat untuk mengesankan tamu bisnis.

Tapi ada taman kecil tempat Nara menanam stroberi.

Ada kamar dengan dinding penuh gambar buatannya.

Dan ada satu aturan yang tidak pernah boleh dilanggar.

Tidak ada pekerjaan yang lebih penting daripada pulang ketika seseorang yang kita cintai membutuhkan kita.

Suatu malam, sebelum tidur, Nara bertanya sesuatu.

“Ayah masih miliarder?”

Aku tertawa kecil.

“Kenapa tanya begitu?”

“Soalnya rumah kita sekarang lebih kecil.”

Aku berpikir sebentar.

Kemudian aku menunjuk gambar kami berdua yang ditempel di dinding.

“Ayah pernah punya banyak perusahaan, rumah besar, dan uang yang bahkan sulit dihitung.”

“Lalu?”

Aku mencium keningnya.

“Tapi Ayah hampir kehilangan satu-satunya hal yang membuat semua itu berarti.”

Nara tersenyum.

“Aku?”

Aku mengangguk.

Dia memeluk boneka kelinci peninggalan Maya, lalu memejamkan mata.

Sebelum tertidur, dia berkata pelan,

“Kalau begitu sekarang Ayah lebih kaya.”

Aku mematikan lampu dan duduk beberapa menit di sampingnya.

Untuk pertama kalinya, aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh sekolah bisnis mana pun.

Kekayaan terbesar bukanlah memiliki sesuatu yang tak bisa dibeli orang lain.

Kekayaan terbesar adalah ketika seseorang yang pernah takut memanggil namamu akhirnya bisa tidur dengan tenang karena tahu kau akan tetap berada di sana saat dia membuka mata.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang