“Kamu pikir selembar buku nikah bisa membuatku menjadi suami yang mencintaimu?”

Begitu pintu apartemen tertutup, Rhea tidak langsung bergerak.

Ia berdiri di ruang tengah dengan koper di samping kakinya, menatap daun pintu yang baru saja menelan sosok suaminya bersama perempuan lain.

Aneh.

Beberapa jam lalu, melihat Saka menyentuh Maya membuat dadanya seperti dihantam berkali-kali. Namun sekarang, setelah mendengar dengan telinganya sendiri bagaimana lelaki itu berjanji akan menceraikannya dalam satu atau dua tahun, Rhea justru merasa tenang.

Sangat tenang.

Seolah sesuatu di dalam dirinya akhirnya mati.

Rhea menunduk menatap pergelangan tangannya. Bekas cengkeraman Saka masih terlihat merah.

Lalu ia tersenyum tipis.

“Baiklah, Saka,” gumamnya. “Kalau aku harus tinggal, aku akan tinggal.”

Ia membawa kembali kopernya ke kamar tamu.

Namun bukan karena takut.

Bukan pula karena berharap Saka berubah.

Rhea tinggal karena baru saja menyadari satu hal.

Pergi malam itu hanya akan membuat Saka bebas.

Dan Rhea tidak berniat memberinya kebebasan semudah itu.

Pagi berikutnya, Saka pulang sekitar pukul enam.

Rhea sudah duduk di meja makan dengan secangkir kopi dan laptop terbuka di depannya.

Saka berhenti ketika melihatnya.

“Kamu belum pergi?”

Rhea mengangkat wajah.

“Bukankah tadi malam kamu menyuruhku tetap tinggal?”

Saka tampak tidak nyaman dengan ketenangan istrinya.

“Kamu tidak membuat masalah?”

“Masalah apa?”

“Menelepon Ayah. Atau siapa pun.”

Rhea menutup laptopnya.

“Aku tidak tertarik mengadukan perselingkuhanmu seperti anak kecil yang mengadu kepada orang tua.”

Saka mendengus.

“Bagus.”

Ia hendak berjalan menuju kamar, tetapi suara Rhea menghentikannya.

“Aku punya satu syarat.”

Saka menoleh.

“Syarat?”

“Kalau kamu ingin aku tetap tinggal di sini, mulai sekarang jangan ikut campur dengan hidupku.”

Saka tertawa pendek.

“Kamu mau melakukan apa?”

“Apa pun yang kuinginkan.”

“Selama tidak mempermalukan keluarga Saputra.”

Rhea menatapnya lama.

“Kamu benar-benar tidak pernah berubah.”

“Apa maksudmu?”

“Bahkan setelah semua yang kamu lakukan, yang kamu pikirkan tetap nama keluargamu.”

Saka mengabaikannya.

“Pokoknya jangan membuat masalah.”

Rhea kembali membuka laptop.

“Tenang saja. Aku tidak akan membuat masalah.”

Setidaknya, bukan masalah yang bisa Saka lihat datang.

Siang itu Rhea pergi ke sebuah kantor hukum di kawasan Sudirman, Jakarta.

Ia menemui seorang perempuan bernama Nadine Prasetyo, sahabat lamanya semasa kuliah yang kini menjadi pengacara korporasi.

Begitu melihat Rhea, Nadine langsung memeluknya.

“Kamu kurusan.”

“Karena menikah ternyata program diet paling efektif.”

Nadine tertawa, tetapi tawanya segera hilang setelah melihat bekas merah di pergelangan tangan Rhea.

“Ini apa?”

Rhea menarik lengan bajunya.

“Bukan alasan aku datang.”

“Rhea.”

“Aku serius.”

Mereka duduk berhadapan.

Rhea mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya.

“Aku ingin kamu memeriksa ini.”

Nadine membuka map tersebut.

Di dalamnya terdapat salinan sejumlah dokumen lama milik mendiang ayah Rhea, Adrian Wijaya.

Semakin lama Nadine membaca, ekspresinya semakin serius.

“Dari mana kamu dapat semua ini?”

“Dari kotak penyimpanan Papa.”

“Rhea, kamu tahu apa artinya dokumen ini?”

“Itulah yang ingin kutanyakan.”

Nadine menyusun beberapa lembar kertas di meja.

“Perusahaan ayahmu tidak sepenuhnya dijual kepada keluarga Saputra.”

Rhea terdiam.

“Apa?”

“Menurut perjanjian ini, ayahmu hanya memberikan hak pengelolaan dan sebagian saham kepada Surya Saputra sebagai jaminan restrukturisasi utang.”

Jantung Rhea mulai berdetak lebih cepat.

“Tapi setelah Papa meninggal, Om Surya bilang seluruh perusahaan sudah menjadi miliknya.”

“Itu yang aneh.”

Nadine menunjuk sebuah klausul.

“Empat puluh satu persen saham masih tercatat atas nama ayahmu. Dan berdasarkan surat wasiat ini, saham itu diwariskan kepadamu.”

Rhea menatap dokumen tersebut tanpa berkedip.

“Empat puluh satu persen?”

Nadine mengangguk.

“Itu belum semuanya.”

Ia mengambil dokumen lain.

“Ada klausul bahwa apabila perusahaan menghasilkan laba selama tiga tahun berturut-turut setelah restrukturisasi, hak pengelolaan tertentu harus dikembalikan kepada ahli waris Adrian Wijaya.”

Rhea merasa tenggorokannya mengering.

“Perusahaan itu sudah untung empat tahun terakhir.”

“Benar.”

“Jadi…”

“Secara hukum, ada kemungkinan sangat kuat bahwa keluarga Saputra selama ini mengendalikan aset yang sebagian besar hak ekonominya masih terkait denganmu.”

Rhea terdiam lama.

Tiba-tiba semua kepingan masa lalu terasa tersambung.

Pernikahan mendadak.

Desakan Surya agar ia menikahi Saka.

Saka yang berkali-kali mengatakan ayahnya tidak boleh tahu jika rumah tangga mereka bermasalah.

Bahkan ancaman halus mengenai nama baik ayahnya.

Bukan karena Surya menyayanginya.

Bukan pula karena ia ingin memenuhi janji kepada Adrian.

Pernikahan itu adalah cara termudah untuk memastikan Rhea tetap berada di dalam keluarga Saputra.

“Jadi aku bukan menantu yang mereka tolong,” bisik Rhea.

Nadine menatapnya tajam.

“Kemungkinan besar, justru kamu alasan mereka bisa mempertahankan sebagian kendali atas perusahaan.”

Rhea tertawa pelan.

Namun matanya mulai berkaca-kaca.

Selama ini ia mengira dirinya tidak memiliki apa-apa.

Ternyata orang-orang yang membuatnya merasa tidak berdaya justru membutuhkan dirinya.

“Jangan lakukan apa pun dulu,” pesan Nadine. “Aku perlu memeriksa dokumen di AHU, catatan pemegang saham, laporan keuangan, dan beberapa akta perubahan perusahaan.”

“Berapa lama?”

“Beberapa minggu.”

Rhea mengangguk.

“Aku punya waktu.”

Sejak hari itu, hidup Rhea berubah.

Ia tetap tinggal di apartemen bersama Saka, tetapi tidak lagi menjalani peran sebagai istri yang berusaha menyenangkan suaminya.

Ia berhenti memasak untuk Saka.

Berhenti menunggu kepulangannya.

Berhenti bertanya ke mana ia pergi.

Yang paling mengganggu Saka justru bukan kemarahan Rhea.

Melainkan ketidakpeduliannya.

Suatu malam, Saka pulang dan menemukan Rhea mengenakan blazer sambil berdiri di depan cermin.

“Kamu mau ke mana?”

“Makan malam.”

“Dengan siapa?”

Rhea menatap pantulan wajah Saka.

“Kukira kita sepakat tidak ikut campur hidup masing-masing.”

“Aku suamimu.”

Rhea tersenyum.

“Menarik. Kamu baru ingat?”

Saka langsung terdiam.

Rhea mengambil tasnya dan berjalan keluar.

Untuk pertama kalinya, Saka merasakan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.

Gelisah.

Malam berikutnya ia bahkan pulang lebih awal.

Namun Rhea belum ada.

Jam sebelas malam, perempuan itu baru kembali.

Saka sedang duduk di sofa.

“Kamu dari mana?”

“Keluar.”

“Sama siapa?”

“Teman.”

“Laki-laki?”

Rhea berhenti.

“Kenapa? Kamu cemburu?”

“Tentu tidak.”

“Bagus.”

Rhea berjalan menuju kamarnya.

Saka berdiri.

“Rhea.”

Perempuan itu menoleh.

“Jangan membuat sesuatu yang bisa mempermalukan aku.”

Rhea tersenyum tipis.

“Lucu sekali mendengar kalimat itu dari lelaki yang membawa selingkuhannya ke ranjang pernikahannya sendiri.”

Pintu kamar tertutup.

Saka berdiri sendirian dengan rahang mengeras.

Beberapa minggu kemudian, Nadine menghubungi Rhea.

“Kita punya cukup bukti.”

Mereka bertemu kembali.

Kali ini Nadine membawa satu map tebal.

“Empat puluh satu persen saham itu sah milikmu sebagai ahli waris.”

Rhea menarik napas panjang.

“Dan soal hak pengelolaan?”

“Bisa kita tuntut. Ada juga beberapa transaksi yang mencurigakan. Dana perusahaan dialihkan ke perusahaan lain yang ternyata terafiliasi dengan keluarga Saputra.”

“Berapa besar?”

“Hampir seratus delapan puluh miliar rupiah dalam lima tahun.”

Rhea membeku.

Nadine melanjutkan, “Kalau ini terbukti sebagai transaksi tanpa persetujuan yang semestinya, mereka bisa menghadapi masalah serius.”

Rhea menatap Jakarta dari balik jendela.

“Aku ingin mengambil kembali milik Papa.”

“Kita bisa mulai dengan somasi dan permintaan RUPS luar biasa.”

“Jangan dulu.”

Nadine mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Aku ingin melihat wajah mereka ketika semuanya dibuka.”

Kesempatan itu datang lebih cepat dari dugaan.

Tiga hari kemudian, Surya Saputra mengundang Rhea dan Saka makan malam di rumah keluarga.

Maya tentu tidak hadir.

Di meja panjang itu hanya ada Surya, istrinya, Saka, Rhea, serta beberapa anggota keluarga.

Suasana awalnya biasa saja.

Sampai Surya berkata, “Saka, bulan depan Ayah akan mengumumkan kamu sebagai direktur utama baru.”

Saka tersenyum lebar.

“Terima kasih, Yah.”

“Tapi ada satu syarat.”

Surya menoleh kepada Rhea.

“Kalian harus menunjukkan kepada publik bahwa rumah tangga kalian baik-baik saja.”

Senyum Saka sedikit menghilang.

Rhea meletakkan sendoknya.

“Kenapa pernikahan kami begitu penting untuk perusahaan?”

Surya tersenyum.

“Karena keluarga adalah fondasi kepercayaan.”

“Benarkah?”

“Tentu.”

Rhea mengangguk perlahan.

“Kalau begitu aku punya kabar.”

Semua orang menatapnya.

“Aku akan menggugat cerai Saka.”

Sendok di tangan ibu Saka jatuh.

Saka langsung berdiri.

“Rhea!”

Surya berubah pucat.

“Kamu sedang bercanda.”

“Tidak.”

“Kita bisa membicarakan ini di rumah.”

“Kita sedang berada di rumah.”

Surya menatapnya tajam.

“Jangan mengambil keputusan karena emosi.”

Rhea hampir tertawa.

“Lucu. Semua orang selalu mengira perempuan mengambil keputusan karena emosi ketika keputusan itu tidak menguntungkan mereka.”

Saka menghantam meja.

“Kamu sudah janji akan tetap tinggal!”

“Aku tidak pernah berjanji.”

“Rhea!”

“Dan ada satu hal lagi.”

Rhea mengambil sebuah amplop dari tasnya lalu meletakkannya di meja.

Surya menatap amplop itu.

“Apa ini?”

“Undangan RUPS luar biasa.”

Wajah Surya seketika berubah.

Saka tampak kebingungan.

“RUPS? Kamu bicara apa?”

Rhea memandang suaminya.

“Sepertinya ayahmu belum pernah memberi tahu.”

“Memberi tahu apa?”

Rhea menatap Surya.

Untuk pertama kalinya, lelaki yang selama bertahun-tahun membuatnya merasa kecil itu terlihat takut.

“Empat puluh satu persen saham Wijaya Sentosa masih milik Papa. Sekarang saham itu milikku.”

Saka tertawa tidak percaya.

“Omong kosong.”

“Kalau omong kosong, tanyakan kepada ayahmu.”

Saka menoleh.

“Ayah?”

Surya tidak menjawab.

“Ayah!”

“Diam!”

Bentakan Surya membuat seluruh meja membeku.

Namun keheningan itu justru menjadi jawaban.

Wajah Saka perlahan kehilangan warna.

Rhea berdiri.

“Dan aku sudah menemukan transaksi hampir seratus delapan puluh miliar rupiah yang dilakukan tanpa transparansi kepada pemegang saham.”

Surya ikut berdiri.

“Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan.”

“Aku tahu.”

“Kamu akan menghancurkan perusahaan ayahmu sendiri!”

“Tidak.”

Rhea menatapnya lurus.

“Aku sedang menyelamatkannya.”

Surya mendekatinya.

“Rhea, dengarkan Om. Kita keluarga.”

Rhea tersenyum getir.

“Keluarga?”

Ia menoleh kepada Saka.

“Apakah keluarga membiarkan anaknya mempermalukan istri dengan membawa perempuan lain ke rumah?”

Wajah ibu Saka berubah.

“Apa maksudmu?”

Saka panik.

“Rhea, cukup!”

Namun Rhea tidak berhenti.

“Saka punya kekasih bernama Maya. Mereka bahkan tidur bersama di apartemen kami ketika aku ada di kamar sebelah.”

“SAKA!”

Suara ibunya menggema.

Saka menatap Rhea penuh amarah.

“Kamu sengaja menghancurkan semuanya!”

Rhea menatapnya tenang.

“Bukan aku yang menghancurkannya. Aku hanya berhenti menutupi apa yang kalian lakukan.”

Ia mengambil tasnya.

Namun sebelum pergi, Surya berkata sesuatu yang membuat langkahnya berhenti.

“Kalau kamu menceraikan Saka, kamu pikir semua akan selesai?”

Rhea menoleh.

Surya tertawa pendek.

“Ayahmu sendiri yang meminta pernikahan kalian.”

Rhea membeku.

“Apa?”

“Adrian tahu kondisi perusahaan. Dia tahu kalau sesuatu terjadi padanya, kamu akan sendirian. Dia meminta aku menjaga kamu.”

Rhea merasakan dadanya sesak.

“Jangan bawa Papa ke dalam kebohongan kalian.”

“Aku tidak berbohong.”

Surya berjalan ke ruang kerjanya dan kembali membawa sebuah amplop tua.

“Ini surat ayahmu.”

Rhea mengambilnya dengan tangan gemetar.

Tulisan tangan di dalamnya benar-benar milik Adrian.

Namun semakin ia membaca, semakin deras air matanya.

Ayahnya memang meminta Surya menjaga Rhea.

Tetapi tidak pernah meminta Rhea menikahi Saka.

Justru kalimat terakhir surat itu berbunyi sangat jelas.

Jangan pernah gunakan Rhea untuk menyelesaikan urusan bisnis kita. Semua yang menjadi haknya harus dikembalikan ketika waktunya tiba.

Rhea mengangkat wajah.

Surya tidak berani menatapnya.

“Jadi Papa tidak pernah meminta pernikahan ini.”

Tidak ada jawaban.

“OM TIDAK PERNAH DIMINTA MENIKAHKAN AKU DENGAN SAKA!”

Suara Rhea bergetar memenuhi ruangan.

Surya menunduk.

Saat itulah semuanya menjadi jelas.

Pernikahan itu bukan permintaan terakhir ayahnya.

Itu jebakan.

Rhea tertawa sambil menangis.

“Terima kasih.”

Saka menatapnya bingung.

“Untuk apa?”

“Karena akhirnya aku tahu kebenarannya.”

Ia melipat surat ayahnya dan memasukkannya ke tas.

Lalu menatap Saka untuk terakhir kalinya.

“Dulu aku pikir malam ketika kamu tidur dengan Maya adalah malam terburuk dalam hidupku.”

Saka membisu.

“Ternyata aku salah.”

Rhea tersenyum di antara air matanya.

“Itu justru malam yang menyelamatkanku.”

Enam bulan kemudian, perceraian mereka resmi.

Penyelidikan internal terhadap transaksi perusahaan memaksa Surya melepaskan kendali operasional. Beberapa aset dikembalikan, jajaran direksi direstrukturisasi, dan Rhea mendapatkan kembali hak yang selama bertahun-tahun disembunyikan darinya.

Saka kehilangan pencalonannya sebagai direktur utama.

Yang lebih ironis, Maya meninggalkannya tak lama setelah itu.

Bukan karena Rhea.

Bukan pula karena perceraian.

Maya pergi setelah mengetahui bahwa Saka ternyata tidak akan menerima kekayaan sebesar yang selama ini ia bayangkan.

Suatu sore, beberapa bulan setelah semuanya selesai, Saka menunggu Rhea di lobi kantor.

“Aku cuma mau bicara lima menit.”

Rhea berhenti.

Saka terlihat berbeda.

Tidak ada lagi jas mahal yang selalu dipakainya dengan penuh percaya diri. Tidak ada lagi tatapan arogan.

“Apa?”

“Aku dan Maya sudah selesai.”

Rhea mengangguk.

“Itu bukan urusanku.”

“Aku salah.”

“Ya.”

“Aku seharusnya tidak memperlakukanmu seperti itu.”

“Ya.”

Saka tampak kesulitan menerima jawaban Rhea yang begitu sederhana.

“Apa kamu benar-benar tidak punya apa pun lagi untuk dikatakan?”

Rhea menatapnya.

Kemudian tersenyum.

“Ada.”

Saka menunggu.

Rhea teringat satu kalimat yang pernah diucapkan lelaki itu kepadanya.

Kalimat yang dulu menghancurkan harga dirinya.

“Kamu pernah bertanya apakah selembar buku nikah bisa membuatmu menjadi suami yang mencintaiku.”

Wajah Saka menegang.

Rhea melanjutkan dengan suara tenang.

“Sekarang aku tahu jawabannya.”

“Apa?”

“Selembar buku nikah memang tidak bisa membuat seseorang mencintai kita.”

Rhea berjalan melewatinya.

“Tapi selembar surat cerai bisa mengingatkan kita bahwa kita berhak berhenti tinggal bersama orang yang tidak pernah menghargai kita.”

Saka tidak mengejarnya.

Dan Rhea juga tidak pernah menoleh lagi.

Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, ia tidak merasa sedang kehilangan keluarga, rumah, perusahaan, ataupun seorang suami.

Ia justru merasa mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga.

Dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang