Tok.
Tok.
Tok.
Suara itu terdengar lagi dari balik dinding bawah tanah.
Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat puluhan orang yang berdiri di sekitar gudang mendadak membisu.
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
Komandan Damkar yang tadi memegang tas merah muda langsung memberi isyarat kepada anak buahnya.

“Semua mundur. Jangan ada warga yang masuk.”
Sela berdiri di dekatku. Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya berbeda dari perempuan yang selama ini kami kenal. Tidak ada tawa aneh. Tidak ada gumaman tanpa arah.
Dia menunjuk lubang di lantai.
“Di belakang tembok,” katanya pelan. “Suara itu dari belakang tembok.”
Pak Jatmiko tiba-tiba meronta dari pegangan Pak Surya.
“Saya bilang itu cuma saluran lama!”
Semua mata beralih kepadanya.
“Kalau cuma saluran, kenapa Bapak mau kabur?” tanyaku tanpa sadar.
Pak Jatmiko menatapku tajam.
“Apa urusanmu, Arif?”
Sebelum aku menjawab, suara sirene lain terdengar dari ujung gang.
Kali ini mobil polisi.
Dua petugas turun, disusul beberapa anggota lain. Setelah berbicara singkat dengan komandan Damkar, mereka memasang garis pembatas dan meminta kami menjauh.
Pak Jatmiko langsung dibawa ke sisi jalan.
“Saya pemilik bangunan, bukan penjahat!” teriaknya.
Tak seorang pun menjawab.
Dua petugas Damkar dan seorang polisi turun melalui tangga besi.
Aku berdiri di belakang garis pembatas bersama Pak Surya dan beberapa warga. Sela berada tidak jauh dari kami.
Lima menit terasa seperti satu jam.
Kemudian terdengar teriakan dari bawah.
“Ada orang hidup!”
Suasana langsung pecah.
Beberapa warga menutup mulut. Seorang ibu di belakangku menangis tanpa tahu siapa yang ditemukan.
Petugas medis yang baru tiba berlari membawa tandu.
Tak lama kemudian, seorang gadis diangkat keluar.
Tubuhnya kurus. Rambutnya panjang dan kusut. Wajahnya hampir seluruhnya tertutup debu. Kedua tangannya gemetar saat cahaya pagi mengenai matanya.
Dia masih hidup.
Umurnya mungkin sekitar lima belas atau enam belas tahun.
Sela menatapnya lama.
“Itu bukan Maya,” bisiknya.
Ada kelegaan sekaligus kehancuran di wajahnya.
Gadis itu segera dibawa ke ambulans. Namun sebelum pintunya ditutup, tangannya mencengkeram lengan seorang polisi.
“Yang lain,” katanya lemah.
Petugas membungkuk.
“Ada orang lain?”
Gadis itu mengangguk.
“Dulu banyak.”
Aku merasa dadaku sesak.
Polisi kembali turun.
Pencarian berlangsung hampir satu jam. Mereka membongkar sebuah dinding tipis yang ternyata menutupi lorong sempit menuju ruangan lain.
Di sana ditemukan rantai, pakaian anak-anak, dokumen, beberapa kartu pelajar, telepon genggam lama, serta kotak-kotak plastik yang berisi barang pribadi.
Tidak ada seorang pun yang berani berbicara lagi.
Orang-orang yang satu jam sebelumnya melempari Sela kini bahkan tidak sanggup menatapnya.
Pak Jatmiko diborgol.
Saat polisi hendak membawanya pergi, dia berteriak.
“Saya tidak melakukan apa-apa! Gudang itu milik keluarga saya, tapi saya tidak tahu apa yang ada di bawah!”
Sela mendekatinya.
Seorang polisi mencoba menahan, tetapi dia berhenti sendiri beberapa langkah di depan Pak Jatmiko.
“Enam tahun,” katanya.
Pak Jatmiko diam.
“Enam tahun aku bilang Maya masuk ke gudangmu.”
“Saya tidak tahu!”
“Aku melihat mobilmu malam itu.”
Wajah Pak Jatmiko berubah.
“Kamu gila.”
Kalimat itu terdengar begitu familiar hingga terasa menjijikkan.
Selama bertahun-tahun kami juga mengatakan hal yang sama.
Sela gila.
Sela berhalusinasi.
Sela mencari perhatian.
Sela tidak bisa menerima anaknya hilang.
Sekarang untuk pertama kalinya aku bertanya dalam hati, bagaimana jika selama ini bukan pikirannya yang rusak, melainkan kami yang terlalu nyaman untuk mempercayai kebohongan?
Polisi membawa Pak Jatmiko pergi.
Pagi itu kampung kami tidak lagi sama.
Dalam dua hari berikutnya, gudang tua itu berubah menjadi lokasi penyelidikan. Polisi datang dan pergi. Tim forensik membongkar hampir seluruh lantai.
Berita tentang ruang rahasia itu menyebar.
Gadis yang ditemukan hidup bernama Rani. Dia dilaporkan hilang dari kota lain hampir delapan bulan sebelumnya.
Menurut keterangan awalnya, dia tidak pernah melihat wajah penculiknya dengan jelas karena setiap kali seseorang masuk, lampu dimatikan dan orang itu memakai penutup wajah.
Namun dia ingat satu hal.
Pelakunya tidak bekerja sendirian.
Kabar itu membuat kampung kami semakin tegang.
Pak Jatmiko tetap menyangkal.
Dia mengaku ruang bawah tanah itu dibangun ayahnya puluhan tahun lalu sebagai tempat penyimpanan barang. Katanya, dia tidak pernah menggunakannya.
Anehnya, polisi belum langsung menetapkannya sebagai pelaku utama.
Itulah yang membuatku gelisah.
Tiga malam setelah kebakaran, aku tidak bisa tidur.
Sekitar pukul sebelas, aku keluar membeli kopi di warung dekat ujung gang.
Dalam perjalanan pulang, aku melihat Sela duduk sendirian di trotoar seberang gudang yang kini dipasangi garis polisi.
Aku menghampirinya.
“Sela.”
Dia tidak menjawab.
Aku duduk dengan jarak sekitar satu meter.
“Maaf.”
Baru kali itu dia menoleh.
“Untuk apa?”
Aku kesulitan menjawab.
Untuk tidak mempercayainya?
Untuk membiarkan orang-orang melemparinya?
Untuk ikut tertawa ketika dia mengatakan ada orang di bawah tanah?
“Mungkin untuk semuanya.”
Sela tersenyum tipis.
“Aku memang pernah gila, Rif.”
Aku menatapnya.
“Setelah Maya hilang, aku tidak tidur berhari-hari. Aku dengar suaranya di mana-mana. Kadang aku bicara sendiri. Kadang aku lupa makan.”
Dia menarik napas.
“Tapi soal gudang itu, aku tidak pernah salah.”
“Kenapa kamu membakarnya?”
“Karena tidak ada yang mau membuka lantainya.”
Aku terdiam.
Sela lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah kunci kecil berkarat.
“Ini punya Maya.”
“Dari mana?”
“Aku menemukannya di dekat pintu belakang gudang enam tahun lalu.”
Aku mengambilnya.
Pada kepala kunci terdapat angka 17.
“Kenapa tidak diberikan ke polisi?”
“Sudah.”
Aku menatapnya.
“Polisi yang dulu menangani kasus Maya bilang itu mungkin kunci biasa.”
Sela menatap gudang.
“Pak Surya juga bilang begitu.”
Aku membeku.
“Pak Surya?”
Sela mengangguk.
Saat itulah aku teringat sesuatu.
Malam kebakaran, Pak Surya adalah orang pertama yang menenangkan Pak Jatmiko.
Nanti kita urus Sela. Banyak saksi.
Kemudian ketika Pak Jatmiko hendak pergi, Pak Surya memang menangkap lengannya.
Saat itu kami menganggap dia mencegah Pak Jatmiko kabur.
Tapi bagaimana jika bukan itu alasannya?
Aku berdiri.
“Sela, ikut aku.”
Kami mendatangi pos keamanan kampung.
Kosong.
Aku menelepon Pak Surya.
Tidak diangkat.
Kami menuju rumahnya.
Lampu ruang tamu menyala, tetapi pintu terbuka.
“Pak Surya?”
Tidak ada jawaban.
Di lantai dekat meja terdapat sebuah cangkir pecah.
Jantungku berdegup semakin cepat.
Kemudian terdengar suara mesin mobil dari belakang rumah.
Aku berlari keluar.
Sebuah mobil hitam melaju meninggalkan gang belakang.
“Sela, telepon polisi!”
Aku tidak mengejar. Aku mencatat nomor platnya.
Saat itulah aku melihat pintu gudang kecil di belakang rumah Pak Surya terbuka.
Entah kenapa aku masuk.
Ruangan itu dipenuhi perkakas, kardus dan dokumen lama.
Di salah satu rak terdapat kotak besi kecil.
Lubang kuncinya sangat kecil.
Aku menatap kunci di tanganku.
Angka 17.
Tanganku gemetar ketika memasukkannya.
Klik.
Kotak itu terbuka.
Di dalamnya ada beberapa kartu identitas, foto anak-anak, dan sebuah ponsel lama.
Sela mengambil salah satu foto.
Tubuhnya langsung lemas.
“Maya.”
Aku melihatnya.
Maya berdiri di depan sebuah minimarket. Foto itu diambil dari kejauhan tanpa sepengetahuannya.
Di belakang foto tertulis tanggal.
Tiga hari sebelum Maya menghilang.
Sela menangis.
Bukan menangis keras.
Air matanya hanya mengalir sementara tangannya gemetar memegang foto anaknya.
Polisi tiba sekitar sepuluh menit kemudian.
Malam itu Pak Surya menjadi buronan.
Penyelidikan berikutnya membongkar sesuatu yang jauh lebih besar daripada dugaan kami.
Pak Jatmiko memang terlibat, tetapi dia bukan orang yang mengendalikan semuanya.
Gudang itu diwarisi Pak Jatmiko dari ayahnya. Karena terlilit utang, beberapa tahun lalu dia menyewakan ruang bawah tanah kepada Pak Surya secara diam-diam.
Awalnya dia mengaku tidak tahu untuk apa tempat itu digunakan.
Namun bukti transfer dan percakapan lama menunjukkan bahwa dia akhirnya mengetahui sebagian kegiatan tersebut dan memilih diam karena menerima uang.
Pak Surya ternyata menggunakan gudang sebagai tempat transit rahasia. Beberapa korban hanya berada di sana selama beberapa hari sebelum dipindahkan.
Itulah sebabnya pemeriksaan gudang bertahun-tahun lalu tidak menemukan apa-apa.
Yang lebih mengejutkan, pemeriksaan itu ternyata sudah diatur.
Pak Surya, sebagai tokoh yang dipercaya warga, selalu tahu kapan pemeriksaan dilakukan.
Setiap kali Sela membuat laporan, dia menjadi orang pertama yang “membantu”.
Padahal dialah yang memastikan ruangan bawah tanah sudah kosong.
Namun satu pertanyaan tetap menghantui Sela.
Di mana Maya?
Jawabannya datang dua minggu kemudian.
Polisi menemukan sebuah rumah kosong di pinggiran Semarang berdasarkan dokumen dari kotak Pak Surya.
Di sana mereka menemukan catatan nama korban.
Nama Maya tercantum.
Di sampingnya terdapat satu keterangan.
Melarikan diri.
Sela hampir pingsan ketika mendengarnya.
Penyelidikan dilanjutkan.
Tiga hari kemudian, seorang perempuan berusia dua puluh tahun datang ke kantor polisi setelah melihat berita di televisi.
Dia tinggal di Yogyakarta.
Namanya sekarang Alya.
Namun nama lahirnya adalah Maya Lestari.
Aku ikut mengantar Sela ke kantor polisi ketika mereka dipertemukan.
Aku tidak akan pernah melupakan momen itu.
Pintu ruangan terbuka.
Seorang perempuan muda masuk perlahan.
Sela berdiri.
Mereka saling menatap.
Tidak ada yang langsung berlari.
Enam tahun terlalu panjang.
Wajah berubah. Tubuh berubah. Suara berubah.
Namun Maya mengangkat tangan dan menyentuh bekas luka kecil di alis kirinya.
“Dulu Ibu bilang luka ini bikin Maya kelihatan seperti jagoan.”
Sela menutup mulut.
Kakinya hampir tidak kuat berdiri.
“Maya?”
Perempuan itu menangis.
“Ibu.”
Sela berlari memeluknya.
Tangis mereka memenuhi ruangan.
Maya ternyata berhasil melarikan diri beberapa minggu setelah diculik. Dalam keadaan trauma dan tanpa dokumen, dia ditolong pasangan suami istri di sebuah kota kecil. Dia terlalu takut untuk pulang karena para penculik mengancam akan membunuh ibunya jika dia bicara.
Bertahun-tahun kemudian, ketika keberaniannya mulai kembali, dia mencari informasi tentang Sela.
Namun yang ditemukannya di media sosial justru berbagai unggahan warga yang menyebut ibunya sebagai perempuan gila.
Maya takut keadaan ibunya sudah terlalu buruk.
Sampai berita kebakaran gudang muncul.
Sampai dia melihat foto tas merah muda dengan gantungan kelinci.
Tas miliknya.
Pak Surya akhirnya ditangkap sebulan kemudian di sebuah rumah kontrakan di Jawa Timur.
Kasusnya berkembang jauh melampaui kampung kami.
Beberapa orang lain ikut ditangkap.
Sedangkan Pak Jatmiko akhirnya mengakui bahwa dia memilih uang daripada melaporkan apa yang diketahuinya.
Gudang tua itu kemudian diratakan.
Tidak ada warga yang menolak.
Beberapa bulan kemudian, lahan tersebut dijadikan taman kecil dan pos layanan pengaduan warga.
Suatu sore aku melihat Sela duduk di bangku taman bersama Maya.
Rambut Sela sudah rapi. Wajahnya terlihat lebih sehat.
Namun setiap kali orang kampung menyapanya, selalu ada sedikit rasa malu dalam tatapan mereka.
Termasuk aku.
Pak Surya pernah menjadi orang yang paling dipercaya di kampung.
Sementara Sela menjadi orang yang paling sering kami tertawakan.
Kami percaya kepada seseorang karena dia berpakaian rapi, berbicara tenang dan memiliki jabatan.
Kami menolak seseorang karena dia berteriak, rambutnya berantakan dan pikirannya pernah terluka.
Padahal kebenaran tidak selalu datang dari orang yang terlihat meyakinkan.
Kadang kebenaran datang dari seseorang yang suaranya sudah terlalu lama diabaikan.
Aku duduk di sebelah Sela.
Maya sedang membeli minuman di seberang jalan.
“Masih suka duduk dekat gudang?” tanyaku bercanda.
Sela melihat lahan yang kini dipenuhi bunga.
“Gudangnya sudah nggak ada.”
“Benar juga.”
Dia tersenyum.
Lalu berkata pelan, “Baguslah.”
“Kenapa?”
Sela memandang anaknya yang sedang berjalan kembali ke arah kami.
“Karena sekarang tidak ada lagi orang di bawah lantai yang harus berteriak supaya didengar.”
Aku tidak menjawab.
Sela menoleh kepadaku.
“Tapi, Rif, ada satu hal yang masih lebih menakutkan daripada gudang itu.”
“Apa?”
Dia memandang rumah-rumah di sekitar kami.
“Orang-orang yang sudah mendengar teriakan, tapi memilih menganggapnya kegilaan.”
Maya tiba dan menyerahkan minuman kepada ibunya.
Mereka berjalan pulang bersama.
Aku tetap duduk di bangku itu cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa malam ketika Sela membakar gudang bukanlah malam seorang perempuan gila mencoba menghancurkan kampung kami.
Itu adalah malam seorang ibu yang sudah kehilangan segalanya memaksa kami membuka mata.
Api memang menghancurkan gudang tua itu.
Tetapi yang benar-benar hangus malam itu adalah kebohongan yang selama enam tahun kami pilih untuk percaya.
