Di Umur 17 Aku Kabur Ke Luar Negeri Karena Surat Cintaku Sampai Ke Tangannya, Di Umur 23 Aku Pulang Jadi Bos Penagih Utang Dan Klien Pertama Yang Masuk Ternyata Dia, Pria Yang Dulu Membuat Seluruh Masa Remajaku Bergetar Dan Kini Menatapku Seolah Tidak Pernah Melupakan Satu Detikpun Tentangku

Aku meremas map cokelat itu sampai ujungnya terlipat.

Enam tahun aku membangun hidup baru agar nama Arka Wijaya Adhitama tidak lagi punya kuasa atas detak jantungku. Ternyata hanya butuh tiga baris tinta hitam untuk menghancurkan semua pertahanan itu.

Dita menatapku heran.

“Kak, kenal sama kliennya?”

“Tidak.”

Jawabanku terlalu cepat.

Dita mengangkat alis, tetapi sebelum sempat bertanya lagi, telepon meja berbunyi.

Resepsionis berkata seseorang dari Wijaya Group sudah datang untuk membahas kontrak.

Aku menarik napas panjang.

“Suruh masuk.”

Aku sempat berharap yang datang pengacara atau direktur keuangan mereka.

Pintu terbuka.

Dan dunia seolah kembali ke enam tahun lalu.

Arka berdiri di ambang pintu dengan setelan abu-abu gelap, kemeja putih tanpa dasi, dan jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya. Rambutnya sedikit lebih pendek daripada yang kuingat. Wajahnya lebih matang, garis rahangnya semakin tegas.

Hanya matanya yang sama.

Mata yang dulu membuat seorang gadis tujuh belas tahun menulis tiga lembar surat cinta sambil menangis.

Dia menatapku lama.

Terlalu lama untuk dua orang yang katanya sudah enam tahun tidak bertemu.

“Kirana.”

Suaranya rendah.

Aku berdiri dan memaksakan senyum profesional.

“Pak Arka. Silakan duduk.”

Alisnya bergerak sedikit ketika mendengar panggilan itu.

Dia duduk di hadapanku.

Dita mulai menjelaskan kontrak, tetapi aku nyaris tidak mendengar apa pun. Fokusku hanya pada cara Arka sesekali menatapku seolah sedang memastikan aku benar-benar berada di sana.

PT Cahaya Garmen Abadi ternyata berutang lima belas miliar kepada Wijaya Group setelah gagal membayar pembelian bahan baku dan sewa gudang selama sebelas bulan.

“Kami sudah mengirim tiga somasi,” kata Arka. “Tidak ada hasil.”

“Kenapa memilih perusahaan saya?”

Aku akhirnya menanyakan hal yang sejak tadi menggangguku.

“PT Tagih Tuntas bahkan belum punya rekam jejak di Indonesia.”

Arka menyandarkan tubuh.

“SwiftCollect punya.”

Aku terdiam.

“Kamu menyelesaikan sengketa Brightstone senilai delapan juta dolar Singapura tanpa pengadilan. Kamu juga menangani kasus Eastern Maritime tahun lalu.”

Dadaku mengencang.

Dia tahu.

Bukan sekadar tahu aku pulang.

Dia mengikuti karierku.

“Riset bisnis biasa,” katanya seakan membaca pikiranku.

Aku tersenyum tipis.

“Riset yang cukup mendalam.”

Tatapan kami bertemu.

Untuk sesaat tidak ada CEO, tidak ada kontrak, tidak ada perusahaan penagihan utang.

Hanya Kirana dan Kak Arka.

Lalu dia berkata pelan, “Aku selalu melakukan riset terhadap sesuatu yang penting.”

Jantungku seperti ditarik.

Aku segera mengalihkan pandangan.

“Kita bicara pekerjaan saja.”

“Baik.”

Arka kembali menjadi dingin.

Namun sebelum meninggalkan kantor, dia berhenti di depan pintu.

“Kirana.”

Aku menoleh.

“Selamat pulang.”

Entah kenapa dua kata itu terasa jauh lebih berbahaya daripada seluruh kontrak lima belas miliar di mejaku.

Tiga hari berikutnya aku tenggelam dalam pekerjaan.

Timku menemukan sesuatu yang aneh.

PT Cahaya Garmen sebenarnya tidak bangkrut. Mereka masih memiliki pabrik aktif di Tangerang, pesanan ekspor berjalan, bahkan baru membeli mesin senilai hampir empat miliar.

Artinya mereka mampu membayar.

Mereka hanya sengaja tidak membayar Wijaya Group.

Aku menemui pemiliknya, Surya Hartono, di kantornya.

Pria lima puluhan itu tersenyum ketika melihatku.

“Anak muda sekarang berani sekali.”

“Saya datang menagih kewajiban, Pak. Bukan keberanian.”

Aku meletakkan dokumen di mejanya.

“Lima belas miliar. Saya memberi waktu tujuh hari untuk proposal penyelesaian.”

Surya tertawa.

“Kalau saya tidak mau?”

“Kami akan menelusuri aset perusahaan, transaksi afiliasi, dan dugaan pengalihan aset setelah somasi pertama.”

Senyumnya menghilang.

Aku tahu kami menemukan titik lemahnya.

Namun saat hendak pergi, Surya berkata sesuatu yang membuat langkahku berhenti.

“Kamu tahu kenapa Wijaya begitu ngotot mengejar utang ini?”

Aku menoleh.

“Karena mereka kreditur.”

“Bukan.”

Dia tersenyum miring.

“Karena Arka Wijaya butuh uang.”

Aku hampir tertawa.

Wijaya Group bernilai triliunan.

Tetapi Surya melanjutkan.

“Perusahaannya sedang berdarah.”

Malam itu aku memeriksa laporan keuangan publik, catatan kredit, gugatan perdata, sampai struktur anak perusahaan Wijaya Group.

Pukul dua pagi aku menemukan jawabannya.

Tiga tahun terakhir, Arka menanggung kerugian besar dari sebuah proyek kawasan industri. Salah satu mitra asing menarik diri setelah pandemi, sementara Arka menolak melakukan PHK massal.

Dia menjual dua aset pribadi untuk menutup gaji ribuan karyawan.

Aku menatap layar lama.

Pria yang dulu terlihat memiliki segalanya ternyata selama beberapa tahun terakhir berdiri sendirian menahan perusahaan keluarganya agar tidak runtuh.

Keesokan harinya aku mendatangi kantornya.

“Kamu tidak bilang kondisi Wijaya Group.”

Arka bahkan tidak mengangkat kepala dari laptop.

“Itu tidak relevan dengan pekerjaanmu.”

“Kalau debitur tahu kamu sedang membutuhkan likuiditas, posisi negosiasimu melemah.”

Sekarang dia menatapku.

“Kamu khawatir?”

“Aku profesional.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

Aku menghela napas.

“Kak Arka.”

Untuk pertama kalinya panggilan lama itu keluar tanpa sengaja.

Matanya langsung berubah.

Aku membeku.

Arka berdiri perlahan.

“Sudah lama aku tidak mendengar kamu memanggilku begitu.”

Aku mundur satu langkah.

“Lupakan.”

“Aku tidak bisa.”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak terasa sempit.

Dia berjalan mendekat, tetapi berhenti dengan jarak aman.

“Kirana, kenapa kamu benar-benar pergi enam tahun lalu?”

Aku tertawa kecil karena gugup.

“Bukankah jelas?”

“Tidak.”

“Surat itu sampai ke tanganmu.”

“Aku tahu.”

“Semua orang membacanya.”

“Aku tahu.”

“Aku malu setengah mati.”

“Aku juga tahu.”

“Lalu apa lagi yang perlu dijelaskan?”

Arka diam beberapa detik.

“Kamu tidak pernah menunggu jawabanku.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Kamu pergi malam itu.”

Tanganku perlahan menjadi dingin.

“Aku datang ke rumahmu besok paginya. Mamamu bilang kamu sudah terbang ke Singapura.”

Aku tidak bisa berkata-kata.

Arka menarik napas.

“Kirana, waktu itu kamu tujuh belas tahun.”

“Tepat sekali. Anak SMA bodoh yang jatuh cinta kepada pria dewasa.”

“Karena itu aku tidak bisa membalas perasaanmu.”

Aku tertawa hambar.

“Nah. Selesai.”

“Belum.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak bisa membalasnya waktu itu bukan berarti aku tidak merasakan apa pun.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Arka memalingkan wajah sebentar, seolah kalimat berikutnya jauh lebih sulit daripada negosiasi bisnis mana pun.

“Kamu masih anak-anak. Aku dua puluh lima. Kalau aku mengatakan sesuatu saat itu, aku akan menjadi laki-laki paling egois dalam hidupmu.”

Mataku mulai panas.

“Jadi kamu diam?”

“Aku memilih menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Kamu tumbuh. Menemukan hidupmu sendiri. Mengenal dunia di luar komplek Pondok Indah dan di luar bayangan seorang kakak tetangga yang kamu kagumi sejak kecil.”

Aku menggeleng.

“Enam tahun, Kak.”

“Aku tahu.”

“Kamu bahkan tidak pernah menghubungiku.”

“Aku pernah.”

Dia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil.

Di dalamnya ada amplop.

Namaku tertulis di sana.

Kirana.

Tulisan tangan Arka.

“Aku menulis ini sebulan setelah kamu pergi.”

Tanganku gemetar ketika mengambilnya.

“Kenapa tidak dikirim?”

“Karena setelah kubaca ulang, aku sadar aku masih sedang mencoba memengaruhi keputusan seorang gadis delapan belas tahun.”

Aku membuka surat itu.

Hanya beberapa baris.

Kirana, kalau enam tahun dari sekarang kamu pulang dan perasaanmu sudah hilang, aku akan bersyukur karena berarti kamu menemukan hidup yang lebih luas daripada aku. Tapi kalau suatu hari kita bertemu lagi sebagai dua orang dewasa dan kamu masih melihatku dengan mata yang sama, kali ini biarkan aku yang berjalan ke arahmu.

Air mataku jatuh.

Aku membenci diriku karena menangis di kantor klien.

“Aku tidak pernah tahu.”

“Aku memang tidak ingin kamu tahu.”

“Lalu kenapa sekarang?”

Arka menatapku.

“Karena sekarang kamu dua puluh tiga. Kamu membangun perusahaanmu sendiri. Kamu tidak membutuhkan aku untuk menentukan hidupmu.”

Sebelum aku bisa menjawab, ponselku berbunyi.

Dita.

“Kak, ada masalah. PT Cahaya Garmen baru mengajukan gugatan terhadap Wijaya Group. Mereka menuduh kontrak awalnya tidak sah.”

Aku langsung kembali ke kenyataan.

Tiga minggu berikutnya berubah menjadi perang.

Surya berusaha membalikkan keadaan. Dia mengirim dokumen yang seolah menunjukkan Wijaya Group pernah menyetujui restrukturisasi utang.

Namun ada sesuatu yang tidak cocok.

Tanda tangan Arka.

Aku pernah menghabiskan masa remajaku meniru tanda tangannya di buku harian.

Aku mengenali setiap lekuknya.

“Itu palsu.”

Aku menunjukkan dokumen itu kepada Arka.

Tim hukum Wijaya Group melakukan pemeriksaan forensik.

Benar.

Tanda tangan dipalsukan.

Lebih buruk lagi, salah satu mantan direktur keuangan Wijaya Group ternyata bekerja sama dengan Surya untuk mengalihkan pembayaran ke rekening perusahaan cangkang.

Kasus itu berubah total.

Ketika bukti transaksi ditunjukkan, Surya akhirnya menyerah.

PT Cahaya Garmen menyepakati pembayaran penuh berikut penalti. Dana pertama sebesar sembilan miliar masuk dua hari kemudian.

Tagih Tuntas mendapat fee sesuai kontrak.

Dua koma dua lima miliar.

Seharusnya aku merayakannya.

Namun sore itu Arka datang ke kantorku membawa satu dokumen lagi.

“Apa ini?”

“Kontrak baru.”

Aku membacanya.

Nilainya nol rupiah.

Aku mengernyit.

“Jasa apa?”

“Menagih utang pribadi.”

Aku menatapnya curiga.

“Siapa debiturnya?”

“Aku.”

Aku hampir tertawa.

“Kamu berutang kepada siapa?”

Arka menatapku lurus.

“Kamu.”

Aku terdiam.

“Enam tahun.”

Suaranya rendah.

“Aku berutang enam tahun jawaban.”

Aku menutup dokumen itu.

“Dan sekarang mau bayar pakai apa?”

Dia tersenyum.

Senyum yang sama seperti anak tiga belas tahun yang pernah menggendongku dua puluh tahun lalu.

“Waktu.”

Mataku panas lagi.

Tetapi sebelum suasana berubah terlalu dramatis, pintu kantor terbuka keras.

“KIRANA!”

Aku mengenali suara itu.

Bima.

Musuh bebuyutanku sejak TK masuk sambil membawa tas golf dan wajah panik.

Begitu melihat Arka, dia langsung menunjuk kakaknya.

“Gue sudah bilang jangan tembak dia sebelum gue jelasin!”

Aku melongo.

“Jelasin apa?”

Bima mendadak diam.

Arka memejamkan mata.

“Bima.”

“Sudah telanjur.”

Aku berdiri.

“JELASIN APA?”

Bima menelan ludah.

“Surat cinta lo dulu.”

Dadaku langsung tidak enak.

“Kenapa?”

“Gue tidak menjatuhkannya di kantin.”

Ruangan sunyi.

“Apa?”

Bima meringis.

“Gue sengaja taruh di meja.”

Aku merasa ingin membunuh seseorang.

“BIMA WIJAYA!”

“Tunggu dulu!”

Dia berlindung di belakang sofa.

“Waktu itu gue tahu lo suka Kak Arka. Tapi gue juga tahu umur lo baru tujuh belas. Gue takut lo benar-benar ngasih surat itu langsung dan Kak Arka jadi serba salah.”

“Jadi solusi otak jenius ranking satu adalah membuat suratku viral satu sekolah?”

“Gue cuma mau bikin lo malu sedikit supaya batal!”

“SEDIKIT?”

“Gue tidak tahu anak-anak bakal foto!”

Aku mengambil bantal sofa dan melemparkannya.

Bima menghindar.

Arka malah tertawa.

Aku menoleh tajam.

Itulah pertama kalinya aku mendengar Arka Wijaya Adhitama tertawa lepas.

Dan anehnya, amarahku perlahan ikut pecah menjadi tawa.

Enam tahun aku mengira hidupku hancur karena satu surat cinta.

Padahal surat itu justru memaksaku pergi.

Karena pergi, aku belajar hidup sendiri.

Aku kuliah.

Aku membangun perusahaan.

Aku gagal berkali-kali, kehilangan uang, ditipu klien, menangis sendirian di kamar sewaan, lalu bangkit lagi.

Kalau surat itu tidak pernah tersebar, mungkin aku tidak pernah meninggalkan Jakarta.

Mungkin aku akan terus menjadi gadis yang menunggu mobil Alphard hitam lewat depan rumah.

Aku menatap Arka.

Sekarang aku tidak lagi melihat pria sempurna yang kupuja saat remaja.

Aku melihat seorang laki-laki yang keras kepala, lelah, penuh kekurangan, yang diam-diam memilih menjaga batas ketika aku terlalu muda untuk memahami arti cinta.

Dan mungkin itulah pertama kalinya aku benar-benar mencintainya.

Bukan sebagai Kak Arka.

Sebagai Arka.

“Aku belum bilang iya,” kataku.

Arka mengangguk.

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak mau langsung pacaran hanya karena surat enam tahun lalu.”

“Baik.”

“Kamu harus mulai dari nol.”

“Baik.”

“Dan jangan mentang-mentang CEO terus merasa bisa mengatur.”

“Baik.”

Bima menyela, “Kak, harga diri lo ke mana?”

Arka mengambil bantal yang tadi kulempar dan melemparkannya tepat ke wajah Bima.

Aku tertawa.

Malam itu kami bertiga makan nasi goreng tektek di depan rumah lama kami di Pondok Indah.

Mama dan Tante Rina berdiri di teras sambil tersenyum seperti dua orang yang sudah mengetahui akhir cerita jauh sebelum kami.

Arka duduk di sampingku.

Tidak terlalu dekat.

Tidak menyentuh tanganku.

Tidak meminta jawaban.

Untuk pertama kalinya, dia benar-benar melakukan apa yang pernah ditulisnya enam tahun lalu.

Berjalan ke arahku.

Pelan-pelan.

Dan aku akhirnya memahami sesuatu.

Ada perasaan yang memang harus diperjuangkan.

Tetapi ada juga perasaan yang justru menjadi indah karena seseorang cukup dewasa untuk tidak mengambilnya sebelum waktunya.

Enam tahun lalu aku kabur karena malu surat cintaku sampai ke tangannya.

Enam tahun kemudian aku pulang sebagai penagih utang.

Lucunya, dari semua utang yang pernah kutagih, hanya satu yang tidak ingin kulunasi secepat mungkin.

Utang enam tahun antara aku dan Arka.

Karena kali ini, kami punya waktu untuk membayarnya perlahan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang