Rendy menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut.
Ia membuka aplikasi kartu kredit, lalu menutupnya lagi.
Membuka aplikasi perbankan.
Menutupnya.
Kemudian menoleh kepada petugas katering sambil berusaha mempertahankan senyum.
“Mungkin sistem bank sedang gangguan. Coba kartu ini sekali lagi.”
Petugas itu mengangguk sopan.
Kartu ditempelkan.
Bip.
DITOLAK.
Kali ini suara mesin EDC terdengar jauh lebih keras di tengah ruang makan yang mendadak sunyi.
Salah seorang teman Ibu Heni, Bu Ratna, meletakkan sendoknya perlahan.
“Rendy, bukannya tadi kamu bilang limit kartumu ratusan juta?”
Rendy tertawa kaku.
“Ya memang. Mungkin ada maintenance.”
Maya menyesap air putih tanpa mengatakan apa pun.
Ibu Heni mulai gelisah.
“Pakai kartu yang lain saja.”
Rendy mengeluarkan dua kartu dari dompet.
Kartu pertama gagal.
Kartu kedua juga gagal.
Petugas katering mulai terlihat tidak nyaman.
“Maaf, Pak. Kalau memang ada kendala, pembayaran bisa dilakukan melalui transfer.”
“Tentu.”
Rendy segera membuka aplikasi bank pribadinya.
Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah.
Saldo rekeningnya hanya Rp3.271.450.
Tidak cukup.
Maya melihat perubahan itu.
Ia tahu persis berapa saldo Rendy.
Sebagai orang yang selama bertahun-tahun membereskan hampir seluruh keuangan rumah tangga, Maya bahkan tahu Rendy baru menerima gaji empat hari sebelumnya.
Namun sebagian besar uang itu sudah habis untuk cicilan SUV, nongkrong, dan pembelian jam tangan baru yang katanya diperlukan agar “terlihat kredibel di depan klien.”
“Kenapa diam?” tanya Ibu Heni.
Rendy menelan ludah.
“Ada sedikit masalah.”
“Masalah apa?”
“Saldo di rekening ini lagi dipindahkan untuk investasi.”
Maya hampir tersenyum.
Investasi.
Kebohongan baru, diciptakan kurang dari lima detik.
Bu Ratna mengangkat alis.
“Investasi apa?”
“Reksa dana.”
“Lewat bank mana?”
Rendy terdiam.
Bu Ratna kebetulan bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah bank swasta.
Ia menatap Rendy beberapa detik, lalu bersandar di kursinya.
“Kalau reksa dana, uangnya tidak tiba-tiba menghilang dari rekening tanpa ada pencatatan.”
Ibu Heni buru-buru memotong.
“Ah, Ratna. Jangan membahas urusan pribadi anak saya. Dia sudah jadi kepala regional. Uangnya mungkin tersebar di banyak tempat.”
Maya memandang suaminya.
Rendy menghindari tatapannya.
Petugas katering kembali berkata dengan hati-hati, “Pak, kami tetap harus menyelesaikan tagihan malam ini.”
Rendy akhirnya menoleh kepada Maya.
Untuk pertama kalinya sejak makan malam dimulai, nada suaranya terdengar rendah.
“Maya.”
Maya meletakkan gelas.
“Ya?”
“Pakai kartumu dulu.”
Beberapa tamu saling pandang.
Ibu Heni langsung menyela.
“Ya sudah, Maya. Bayarkan. Besok Rendy ganti.”
Besok.
Versi lain dari nanti.
Maya menatap ibu mertuanya tenang.
“Bukankah tadi Ibu bilang makanan ini bukan dibeli pakai uang saya?”
Wajah Ibu Heni menegang.
“Itu bukan maksud Ibu.”
“Lalu maksud Ibu apa?”
Tidak ada jawaban.
Maya melanjutkan.
“Tadi saya juga diminta makan kentang karena makanan enak katanya untuk orang yang benar-benar bekerja.”
“Jangan diperpanjang,” kata Rendy cepat. “Sekarang kita cuma perlu menyelesaikan pembayaran.”
Maya mengangguk.
“Silakan selesaikan.”
“Maya.”
“Aku tidak melarang.”
Rendy merendahkan suara.
“Kartunya kenapa ditolak?”
Maya menatapnya langsung.
“Karena sudah kublokir.”
Ruangan itu seketika membeku.
Ibu Heni yang tadi memegang gelas langsung meletakkannya terlalu keras hingga air tumpah sedikit.
“Kamu apa?”
“Saya memblokir kartu tambahan yang terhubung ke rekening saya.”
Rendy berdiri.
“Kamu gila?”
Beberapa tamu tersentak.
Maya tetap duduk.
“Jangan teriak di rumahku.”
Kalimat itu sederhana, tetapi membuat Rendy berhenti.
Maya belum pernah berbicara seperti itu kepadanya.
Selama ini Maya selalu memilih mengalah karena merasa pernikahan bukan arena untuk menghitung siapa yang lebih banyak berkorban.
Namun malam itu, ia baru sadar bahwa diam terlalu lama bisa membuat orang lain menganggap pengorbanan sebagai kewajiban.
Ibu Heni menunjuk Maya.
“Kamu sengaja mempermalukan anak saya di depan teman-teman Ibu?”
“Saya tidak memesan makanan Rp14.850.000.”
“Ini untuk merayakan keberhasilan suamimu.”
“Keberhasilan apa?”
Suasana kembali senyap.
Rendy langsung menatap Maya tajam.
“Maya.”
Namun Maya sudah terlalu lama menjaga kebohongan suaminya.
“Jabatan barumu?”
Wajah Rendy memucat.
Maya berdiri.
“Kalau memang kita merayakan jabatan baru Rendy sebagai kepala regional, mungkin sebaiknya kita mulai dari fakta bahwa Rendy bukan kepala regional.”
Bu Ratna menoleh cepat.
“Apa?”
Ibu Heni tertawa tidak percaya.
“Jangan iri pada suami sendiri.”
Maya mengambil ponselnya.

Ia membuka email internal perusahaan yang masih tersimpan.
“Dua minggu lalu Rendy dipindahkan dari staf penjualan menjadi spesialis layanan komersial.”
Ia menunjukkan layar kepada Ibu Heni.
“Tidak ada promosi ke kepala regional.”
Rendy meraih ponsel itu.
“Cukup!”
Namun Bu Ratna sudah sempat melihat.
Ia mengerutkan kening.
“Jadi bukan kepala regional?”
Rendy mengusap wajah.
“Itu cuma masalah istilah.”
“Beda jauh,” ujar salah satu tamu lainnya, Bu Siska.
Ibu Heni terlihat kebingungan.
“Rendy bilang kantornya sekarang punya anak buah.”
Maya menjawab, “Tidak.”
“Ruangan pribadi?”
“Tidak.”
“Gajinya naik?”
Maya menatap Rendy.
“Tidak.”
Ibu Heni perlahan duduk.
Untuk pertama kalinya malam itu, kebanggaan di wajahnya retak.
Rendy berbalik kepada Maya.
“Kamu puas?”
“Belum.”
Satu kata itu membuat Rendy terdiam.
Maya membuka aplikasi banknya.
Ia mencari riwayat transfer.
Dua puluh empat transaksi dengan nominal yang sama muncul.
Rp8.000.000.
Setiap awal bulan.
Selama dua tahun.
Maya meletakkan ponsel di atas meja, tepat di depan Ibu Heni.
“Bu, selama ini siapa yang Ibu kira mengirim uang bulanan?”
Ibu Heni mengerutkan dahi.
“Rendy.”
Rendy membeku.
Maya tidak perlu mengatakan apa pun lagi.
Tatapan Ibu Heni berpindah dari layar ke wajah putranya.
“Rendy?”
Rendy menjawab cepat.
“Aku yang mengatur semuanya.”
Maya menggeleng.
“Rekening pengirimnya atas nama siapa, Bu?”
Ibu Heni mendekatkan wajah ke layar.
Nama itu jelas.
Maya Mendoza.
Bukan Rendy Setiawan.
Tangannya mulai gemetar.
“Ini…”
“Dua tahun,” kata Maya. “Setiap bulan delapan juta. Untuk obat, terapi, kontrol dokter, dan kebutuhan rumah Ibu.”
Bu Siska menutup mulutnya.
Bu Ratna menatap Rendy tajam.
Ibu Heni seakan kehilangan suara.
“Tapi Rendy bilang…”
“Saya tahu.”
“Kamu tahu dia bilang uang itu dari dia?”
“Baru malam ini saya benar-benar memahaminya.”
Rendy segera membela diri.
“Aku tidak pernah bilang langsung uang itu dari aku.”
Ibu Heni menatap putranya.
“Kamu bilang, ‘Ibu enggak perlu pikir biaya, Rendy yang tanggung.’”
“Itu kan maksudnya aku sebagai kepala keluarga.”
“Kepala keluarga?”
Maya tidak bisa menahan tawa kecil.
Bukan tawa bahagia.
Lebih seperti kelelahan yang akhirnya menemukan jalan keluar.
“Kamu bahkan minta aku membayar uang muka mobilmu.”
Rendy membalas, “Mobil itu untuk pekerjaan!”
“Makan malam klien?”
“Untuk pekerjaan.”
“Jam tangan dua belas juta?”
Rendy diam.
“Knalpot Rp6.800.000 pagi tadi?”
Beberapa tamu otomatis menoleh ke arah balkon tempat kotak knalpot diletakkan.
Maya menghela napas.
“Semua untuk pekerjaan?”
Rendy mengepalkan tangan.
Petugas katering yang sejak tadi berdiri canggung akhirnya berdeham.
“Maaf, Pak, Bu. Untuk tagihannya…”
Ibu Heni langsung meraih tasnya.
“Tunggu.”
Ia mengeluarkan dompet.
Tangannya membongkar beberapa kartu.
Satu kartu debit.
Ia menyerahkannya.
“Pakai ini.”
Rendy langsung mendekat.
“Ibu, jangan.”
“Diam.”
Nada Ibu Heni berubah.
Petugas memproses pembayaran.
Bip.
BERHASIL.
Rp14.850.000 terpotong dari rekening Ibu Heni.
Wanita itu memejamkan mata beberapa detik.
Maya tahu uang tersebut kemungkinan besar berasal dari tabungan yang selama ini sengaja tidak disentuh Ibu Heni.
Namun Maya tidak merasa puas melihatnya.
Yang ia rasakan justru sedih.
Semua ini seharusnya tidak perlu terjadi.
Petugas katering berpamitan.
Tak lama kemudian, satu per satu teman Ibu Heni juga mulai mencari alasan untuk pulang.
Bu Siska mengatakan suaminya menunggu.
Bu Ratna mengatakan besok harus bangun pagi.
Sebelum pergi, Bu Ratna berhenti di dekat Maya.
Ia meremas ringan tangan Maya.
“Kamu terlalu sabar.”
Maya hanya tersenyum.
Ketika pintu tertutup setelah tamu terakhir pergi, apartemen menjadi sangat sunyi.
Sisa ikan bakar masih memenuhi meja.
Udang, cumi, nasi, sup, sambal, dan kentang yang tadi dijadikan simbol penghinaan sekarang tampak seperti makanan yang kehilangan rasa.
Ibu Heni duduk dengan wajah kosong.
Rendy berdiri dekat jendela.
“Aktifkan lagi kartunya,” katanya.
Maya menatapnya.
“Tidak.”
“Jangan kekanak-kanakan.”
“Justru aku baru berhenti memperlakukanmu seperti anak kecil.”
Rendy berbalik.
“Jadi sekarang karena penghasilanmu lebih besar, kamu merasa bisa mengontrol semuanya?”
Maya menarik napas.
“Masalahnya bukan siapa yang penghasilannya lebih besar.”
“Lalu?”
“Kamu berbohong.”
“Aku cuma menjaga harga diri.”
“Dengan uangku?”
Rendy terdiam.
“Dengan membuat ibumu percaya kamu membayar kebutuhannya? Dengan membiarkan dia merendahkanku karena mengira aku bergantung padamu? Dengan membeli barang menggunakan rekeningku tanpa izin?”
Rendy menundukkan kepala sesaat.
“Aku akan ganti.”
Kalimat itu lagi.
Namun kali ini Maya tidak merasakan apa pun saat mendengarnya.
“Tidak perlu.”
Rendy mendongak.
“Mulai besok, kita pisahkan seluruh keuangan.”
“Maya.”
“Cicilan mobil kamu bayar sendiri. Kartu kreditmu sendiri. Pengeluaranmu sendiri. Semua.”
“Bagaimana dengan rumah?”
Maya menatap sekeliling apartemen.
“Apartemen ini milikku sebelum kita menikah.”
Wajah Rendy kembali berubah.
Selama ini teman-temannya juga percaya apartemen itu dibeli Rendy.
Maya belum selesai.
“Dan mulai bulan depan, transfer otomatis untuk Ibu juga sudah kubatalkan.”
Ibu Heni mendongak cepat.
“Apa?”
Maya menatapnya.
“Saya tidak akan membiarkan Ibu kesulitan soal pengobatan. Tapi mulai sekarang saya akan membayar langsung ke rumah sakit, apotek, atau tempat terapi. Tidak melalui Rendy.”
Rendy menatapnya tajam.
“Kamu tidak percaya aku?”
“Tidak.”
Jawaban itu terdengar begitu tenang hingga justru lebih menyakitkan.
Ibu Heni perlahan memandang putranya.
“Selama ini uang delapan juta itu…”
Rendy tidak menjawab.
“Semua dari Maya?”
Diam.
“Kamu bahkan tidak pernah ikut menambah?”
Rendy mengalihkan pandangan.
Ibu Heni menutup wajah dengan kedua tangan.
Maya tidak pernah melihat wanita itu sekecil itu.
Namun beberapa detik kemudian, Ibu Heni berdiri dan berjalan menuju dapur.
Ia kembali membawa mangkuk kentang rebus.
Mangkuk yang tadi ia tunjukkan kepada Maya dengan penuh penghinaan.
Ia meletakkannya di depan dirinya sendiri.
Lalu duduk.
“Maya.”
Maya menatapnya.
“Ibu tidak tahu.”
Maya mengangguk kecil.
“Saya tahu.”
“Tapi ketidaktahuan Ibu bukan alasan untuk memperlakukan kamu seperti tadi.”
Rendy terlihat tidak nyaman.
“Ibu, sekarang bukan saatnya…”
“Diam, Rendy.”
Kali ini suara Ibu Heni benar-benar keras.
Ia menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.
“Ibu membanggakan kamu kepada semua orang karena Ibu percaya kamu yang membiayai hidup Ibu.”
Rendy berusaha mendekat.
“Aku memang berniat begitu.”
“Niat tidak membayar obat.”
Kalimat itu membuat Rendy berhenti.
Ibu Heni menarik mangkuk kentang lebih dekat.
Kemudian mengambil satu kentang dan mulai memakannya perlahan.
Air matanya jatuh.
“Malam ini Ibu makan kentang.”
Maya terdiam.
“Bukan karena Ibu tidak berhak makan ikan,” lanjut wanita itu, “tapi supaya Ibu ingat bagaimana rasanya ketika seseorang mempermalukan orang lain hanya karena uang.”
Maya tidak menyangka mendengar kalimat itu.
Namun kejutan terbesar datang keesokan paginya.
Pukul tujuh, bel apartemen berbunyi.
Seorang pria berjaket perusahaan pembiayaan berdiri di depan pintu bersama seorang petugas lain.
“Kami mencari Bapak Rendy Setiawan.”
Rendy yang baru keluar kamar langsung pucat.
“Kenapa?”
Petugas menunjukkan surat.
“Tunggakan kendaraan sudah tiga bulan. Kalau hari ini tidak ada pelunasan minimum, sesuai prosedur kendaraan akan kami tarik.”
Maya menatap suaminya.
“Tiga bulan?”
Rendy tidak menjawab.
Maya tiba-tiba memahami satu hal.
Cicilan mobil yang katanya selalu dibayar Rendy ternyata tidak dibayar.
Ia hanya melunasi sebagian tagihan menggunakan kartu Maya, sementara cicilan utama menumpuk.
Ibu Heni keluar dari kamar tamu.
“Ada apa?”
Tak lama kemudian, suara mesin SUV terdengar dari area parkir bawah tanah.
Mobil yang selama ini menjadi simbol kesuksesan Rendy dibawa pergi oleh perusahaan pembiayaan.
Rendy berdiri di balkon tanpa suara.
Tidak ada kepala regional.
Tidak ada rekening besar.
Tidak ada mobil mewah.
Tidak ada kartu tambahan.
Seluruh kehidupan yang ia bangun untuk mengesankan orang lain runtuh hanya dalam waktu kurang dari dua belas jam.
Tiga minggu kemudian, Rendy pindah dari apartemen.
Maya tidak langsung mengajukan perceraian.
Ia memberinya pilihan yang sederhana.
Konseling pernikahan, keterbukaan finansial penuh, dan berhenti menggunakan ibunya sebagai alasan untuk mempertahankan kebohongan.
Rendy menolak dua kali.
Pada pertemuan ketiga, ketika Maya sudah membawa berkas konsultasi perceraian, Rendy akhirnya datang sendiri ke konselor.
Untuk pertama kalinya, ia mengakui sesuatu yang tidak pernah berani ia katakan.
Sejak kecil, ia selalu dibandingkan dengan kakaknya yang dianggap lebih pintar dan lebih sukses.
Ketika menikahi Maya yang kariernya terus naik, rasa minder itu semakin besar.
Alih-alih menghadapinya, Rendy membangun citra.
Mobil.
Jam tangan.
Jabatan palsu.
Tagihan.
Kebohongan demi kebohongan.
Maya mendengarnya.
Ia memahami alasannya.
Namun memahami bukan berarti langsung memaafkan.
Kepercayaan tidak kembali hanya karena seseorang akhirnya berkata jujur.
Enam bulan kemudian, mereka masih menjalani konseling.
Rendy menjual hampir semua barang mewahnya.
Ia datang ke kantor menggunakan motor bekas yang dibelinya tunai.
Ia juga mulai mengirim Rp2.000.000 dari gajinya sendiri setiap bulan untuk membantu biaya ibunya.
Tidak besar.
Namun itu benar-benar uangnya.
Sementara Maya tidak lagi menyembunyikan pencapaiannya demi menjaga ego siapa pun.
Ia belajar bahwa mengecilkan diri sendiri tidak pernah benar-benar membuat orang lain tumbuh.
Suatu malam, Ibu Heni datang membawa satu wadah makanan.
Ketika Maya membukanya, ternyata isinya ikan bakar dengan udang dan cumi.
Di sampingnya ada kentang rebus.
Ibu Heni tersenyum malu.
“Kali ini Ibu yang bayar.”
Maya tertawa kecil.
“Berapa, Bu?”
“Jangan tanya. Nanti Ibu sakit hati.”
Mereka tertawa bersama.
Rendy yang duduk di seberang meja ikut tersenyum.
Tidak ada tamu.
Tidak ada kamera.
Tidak ada cerita tentang jabatan.
Tidak ada siapa pun yang perlu dibuat terkesan.
Maya mengambil satu kentang dan meletakkannya di piringnya.
Ibu Heni langsung protes.
“Lho, kenapa kentang?”
Maya menatapnya sambil tersenyum.
“Karena sebenarnya saya memang suka kentang, Bu.”
Untuk beberapa detik, mereka semua terdiam.
Kemudian Ibu Heni tertawa sampai matanya berair.
Dan malam itu, di meja makan yang sama tempat harga diri pernah diukur dari siapa yang mampu membayar hidangan paling mahal, mereka akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Masalahnya tidak pernah ada pada ikan seharga jutaan rupiah atau kentang yang murah.
Masalahnya adalah ketika uang digunakan untuk menentukan siapa yang pantas dihormati.
Karena pada akhirnya, rekening bisa diblokir, mobil bisa ditarik, jabatan bisa hilang, dan kehidupan mewah bisa runtuh dalam satu malam.
Tetapi kebohongan selalu meninggalkan tagihan.
Dan tidak semua tagihan bisa dibayar dengan uang.
