DIA MEMBAWA PUTRINYA UNTUK MEMBERIKAN KEJUTAN KEPADA SUAMINYA DI SEBUAH ACARA MEWAH

Lima menit setelah panggilan Maya berakhir, kekacauan yang semula terlihat seperti gangguan teknis mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih serius.

Ponsel Siska terus bergetar.

Ia mengangkat satu panggilan dengan wajah kesal.

“Halo? Ya, saya di lobi.”

Ekspresinya berubah.

“Apa?”

Ia menoleh cepat ke arah Maya.

“Tidak mungkin. Coba cek lagi.”

Suara dari seberang terdengar begitu keras hingga beberapa orang di dekatnya ikut mendengar potongan kalimat tentang akses sistem yang dinonaktifkan, rekening escrow yang dibekukan, dan satu perusahaan afiliasi yang baru saja membatalkan fasilitas kredit.

Siska menutup telepon.

Belum sempat ia bicara, telepon lain masuk.

Kali ini dari bagian keuangan.

“Bu Siska, fasilitas kredit jangka pendek kita ditarik. Bank meminta pelunasan lebih cepat.”

“Kenapa bicara dengan saya? Hubungi Pak Rendy!”

“Pak Rendy tidak mengangkat.”

Wajah Siska mulai pucat.

Maya tidak mengatakan apa pun.

Ia hanya menggenggam tangan Aurel lebih erat.

“Ma,” bisik Aurel, “kita pulang saja?”

Maya menunduk.

Bibirnya melengkung tipis.

“Sebentar lagi, Sayang.”

Siska akhirnya kehilangan kesabaran.

“Kamu melakukan apa?”

Maya menatapnya.

“Saya?”

“Jangan pura-pura bodoh.”

Siska maju satu langkah.

“Kamu menelepon seseorang, lalu semuanya kacau.”

Maya tersenyum tanpa kehangatan.

“Tadi kamu bilang saya bukan siapa-siapa.”

Siska terdiam.

“Kalau begitu,” lanjut Maya, “kenapa kamu takut pada satu telepon dari orang yang bukan siapa-siapa?”

Beberapa tamu mulai berkumpul.

Bisikan semakin ramai.

Siska terlihat hendak membalas ketika pintu tangga darurat di sisi lobi terbuka keras.

Rendy muncul.

Jas hitamnya masih rapi, tetapi dasinya sudah longgar dan wajahnya dipenuhi kepanikan.

Di belakangnya berjalan dua direktur perusahaan dan kepala bagian keuangan.

Begitu melihat Maya, langkah Rendy langsung terhenti.

“Maya?”

Suaranya terdengar seperti orang yang baru melihat sesuatu yang mustahil.

Aurel yang sejak tadi diam tiba-tiba berseru.

“Papa!”

Gadis kecil itu melepaskan tangan ibunya dan berlari dua langkah.

Namun Rendy justru membeku.

Matanya bergerak dari Aurel menuju Siska.

Lalu kembali ke Maya.

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

Pertanyaan itu membuat Aurel berhenti.

Wajah kecilnya berubah bingung.

Maya melihat perubahan itu.

Dan sesuatu di dalam dirinya runtuh.

Bukan karena Rendy tidak memeluk putrinya.

Bukan pula karena wajah pria itu tidak menunjukkan kebahagiaan.

Melainkan karena nada suaranya.

Seolah kehadiran istri dan anaknya adalah masalah.

Bukan kejutan.

Siska buru-buru mendekati Rendy.

“Pak, saya sudah mencoba mengusir mereka, tapi Bu Maya malah membuat keributan.”

Rendy menatap Siska tajam.

“Mengusir?”

Siska tampak gugup.

“Saya hanya mengikuti instruksi.”

Maya menangkap kalimat itu.

“Ikuti instruksi siapa?”

Siska langsung bungkam.

Rendy mengusap wajahnya.

“Maya, ini bukan waktunya.”

“Bukan waktunya untuk apa?”

“Kita bisa bicara di rumah.”

Maya menatapnya lama.

“Rumah yang mana?”

Rendy mengernyit.

Maya melanjutkan.

“Rumah saya dan Aurel? Atau rumah tempat istri sah dan putra kandungmu tinggal?”

Wajah Rendy langsung pucat.

Suasana lobi yang tadi dipenuhi bisikan mendadak sunyi.

Siska menelan ludah.

“Maya…”

Rendy menurunkan suara.

“Jangan bicara sembarangan.”

Maya tertawa kecil.

Tidak ada sedikit pun kegembiraan di dalamnya.

“Saya juga berharap saya sedang bicara sembarangan.”

Ia menoleh kepada Siska.

“Katanya istri sah Pak Rendy ada di atas. Bersama putranya.”

Siska mundur.

Untuk pertama kalinya, ia tidak berani menatap Maya.

Rendy menatap sekretarisnya dengan marah.

“Kamu bilang apa ke dia?”

“Saya hanya…”

“Siska!”

Bentakan itu menggema di lobi.

Aurel tersentak.

Maya segera menarik putrinya mendekat.

“Jangan berteriak di depan anak saya.”

Rendy mengusap rambutnya frustrasi.

“Ini salah paham.”

“Bagus.”

Maya mengangguk.

“Kalau begitu kita selesaikan di atas.”

Rendy langsung menggeleng.

“Tidak perlu.”

Maya menatapnya lekat-lekat.

“Kenapa?”

“Acaranya sedang kacau.”

“Karena saya?”

Rendy tidak menjawab.

Tiba-tiba salah satu direktur mendekat.

“Pak Rendy.”

Pria itu berbicara pelan tetapi terdengar jelas.

“Perwakilan Widjaja Capital sudah mengirim surat penghentian fasilitas investasi.”

Rendy memejamkan mata.

Direktur itu melanjutkan.

“Dan Nusantara Meridian juga membatalkan penjaminan pinjaman untuk proyek Makassar.”

Maya mengenali nama perusahaan itu.

Perusahaan kakak keduanya.

Dari tangga darurat, dua staf lain muncul tergesa-gesa.

“Pak, ada masalah lagi.”

“Apa?”

“Vendor sistem gedung menarik akses maintenance. Mereka bilang kontrak dibekukan karena invoice selama dua tahun dibayar oleh perusahaan afiliasi yang bukan atas nama Surya Utama.”

Tatapan banyak orang kembali beralih kepada Maya.

Rendy menatap istrinya dengan campuran marah dan takut.

“Kamu benar-benar melakukan ini?”

Maya menjawab tenang.

“Saya hanya meminta keluarga saya berhenti menanggung hal yang bukan kewajiban mereka.”

“Kamu mau menghancurkan saya?”

Maya hampir tertawa.

“Tidak.”

Ia menggeleng.

“Saya cuma ingin tahu seberapa tinggi kamu bisa berdiri tanpa pijakan yang selama ini keluarga saya sediakan diam-diam.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada tuduhan apa pun.

Rendy terdiam.

Aurel menatap ayahnya.

Kalung kertas di tangannya kini semakin kusut.

“Papa…”

Suara kecil itu membuat semua orang kembali diam.

Aurel mendekati Rendy perlahan.

“Aku bikin ini.”

Ia mengangkat kalung tersebut.

“Buat Papa.”

Rendy menatap kalung itu.

Maya melihat sesuatu melintas di wajah suaminya.

Rasa bersalah.

Namun hanya sebentar.

Karena dari arah tangga darurat terdengar suara seorang perempuan.

“Rendy?”

Semua kepala menoleh.

Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun berjalan turun ditemani seorang anak laki-laki berumur sekitar sembilan tahun dan dua orang tua.

Wanita itu mengenakan gaun biru tua yang elegan.

Di jarinya terlihat cincin berlian besar.

Aurel spontan menggenggam tangan Maya.

“Ma…”

Wanita itu berhenti begitu melihat Maya.

Wajahnya sama terkejutnya.

Rendy memejamkan mata.

Maya justru merasa pikirannya menjadi sangat jernih.

“Jadi dia?”

Maya menatap Rendy.

“Siapa?”

Rendy tidak menjawab.

Wanita tersebut malah bertanya.

“Rendy, siapa mereka?”

Maya hampir tersenyum.

Pertanyaan itu menjawab lebih banyak daripada yang seharusnya.

Berarti wanita tersebut juga tidak mengenal Maya.

Bukan hanya Maya yang ditipu.

Perempuan itu ikut menjadi korban.

Siska terlihat ingin pergi, tetapi Maya menahannya dengan satu tatapan.

“Jangan ke mana-mana.”

Wanita bergaun biru mendekat.

“Saya Nadine.”

Maya mengangguk.

“Maya.”

Nadine memandang Aurel.

Kemudian matanya bergerak ke wajah Rendy.

“Siapa dia?”

Rendy membuka mulut.

Tidak ada suara keluar.

Maya akhirnya menjawab.

“Saya menikah dengan Rendy tujuh tahun lalu.”

Wajah Nadine kehilangan warna.

Anak laki-laki di sisinya menatap Rendy.

“Papa?”

Aurel ikut menatap ayahnya.

Dua anak.

Satu kata yang sama.

Suasana di lobi terasa mencekik.

Nadine mundur satu langkah.

“Itu tidak mungkin.”

Maya membuka ponselnya.

Ia mencari foto pernikahan.

Bukan untuk mempermalukan siapa pun.

Hanya untuk menghentikan kebohongan.

Foto itu menunjukkan Maya dan Rendy berdiri di depan penghulu dengan buku nikah di tangan.

Tanggal tujuh tahun lalu terlihat jelas.

Nadine menutup mulutnya.

“Mereka bilang kamu duda.”

Maya menatap Rendy.

“Siapa mereka?”

Nadine menunjuk pasangan tua di belakangnya.

“Orang tua Rendy.”

Maya mengikuti arah jarinya.

Ia mengenal mereka.

Mertua yang selama tujuh tahun hanya datang ke rumah beberapa kali dan selalu berdalih menetap di luar kota karena kesehatan.

Ibu Rendy menundukkan kepala.

Maya tertawa pelan.

Kali ini terdengar benar-benar pahit.

“Hebat.”

Ia mengangguk.

“Berarti satu keluarga tahu.”

Rendy akhirnya berbicara.

“Maya, dengarkan dulu.”

“Berapa lama?”

“Maya…”

“Berapa lama?”

Suara Maya naik sedikit.

Rendy terdiam.

Nadine memandangnya dengan mata merah.

“Jawab.”

Akhirnya Rendy berkata nyaris berbisik.

“Empat tahun.”

Nadine seperti kehilangan keseimbangan.

Anak laki-lakinya memegang lengannya.

Maya memejamkan mata sesaat.

Empat tahun.

Selama empat tahun Rendy membagi dua hidupnya.

Satu rumah dengan Maya.

Satu kehidupan lain dengan Nadine.

Satu anak perempuan yang menunggu ayahnya pulang.

Satu anak laki-laki yang mungkin melakukan hal sama.

Rasa sakit Maya perlahan berubah menjadi sesuatu yang berbeda.

Bukan marah.

Melainkan jijik.

“Bagaimana?”

Nadine menatap Rendy.

“Kita menikah tiga tahun lalu.”

Rendy tidak menjawab.

Maya berkata pelan.

“Mungkin pernikahan kalian tidak pernah tercatat secara sah.”

Nadine menatapnya.

“Apa?”

Maya menoleh kepada Rendy.

“Benar?”

Rendy tetap diam.

Diamnya adalah jawaban.

Nadine menampar Rendy.

Suara tamparan menggema.

Tidak ada yang bergerak.

“Jadi selama ini saya apa?”

Nadine menangis.

“Perempuan simpanan yang kamu dandani seperti istri?”

“Nadine, bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Rendy mencoba memegang lengannya.

Nadine menepisnya.

Aurel tiba-tiba menangis.

Tidak keras.

Hanya air mata yang turun perlahan.

Kalung buatannya jatuh ke lantai.

Salah satu manik plastik terlepas dan menggelinding sampai ke sepatu Rendy.

Pria itu menatap benda kecil itu.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar runtuh.

“Aurel…”

Ia membungkuk ingin mengambil kalung tersebut.

Namun Aurel lebih cepat.

Gadis kecil itu mengambilnya sendiri.

“Tidak usah.”

Rendy terdiam.

Aurel mengusap air matanya.

“Papa tidak mau pakai.”

Maya merasa dadanya sesak.

Ia memeluk putrinya.

“Ayo kita pulang.”

Saat itulah pintu utama terbuka.

Seorang pria sekitar empat puluh tahun masuk bersama dua orang berjas gelap.

Anton Widjaja.

Ia berjalan lurus menuju Maya.

Tidak melihat siapa pun selain adiknya.

“Kamu baik-baik saja?”

Maya mengangguk.

Anton menatap Aurel.

Wajahnya melunak.

“Kita pulang sama Om, ya?”

Aurel mengangguk.

Barulah Anton menoleh kepada Rendy.

Tatapannya berubah.

“Saya sudah menunggu tujuh tahun untuk melihat apakah kamu layak mendapatkan kepercayaan adik saya.”

Rendy berdiri kaku.

Anton melanjutkan.

“Ternyata jawabannya tidak.”

Rendy menelan ludah.

“Mas Anton, kita bisa bicara.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

Anton menyerahkan sebuah map kepada salah satu direktur.

“Surya Utama punya waktu tiga puluh hari untuk mencari pendanaan pengganti. Kami tidak menutup perusahaan ini. Ribuan karyawan tidak bersalah.”

Maya menatap kakaknya.

Anton tahu apa yang dipikirkannya.

“Kita tarik semua fasilitas yang berkaitan langsung dengan posisi Rendy. Bukan operasional dasar perusahaan.”

Maya mengembuskan napas lega.

Ia memang marah kepada suaminya.

Tetapi tidak ingin ribuan orang kehilangan pekerjaan.

Anton kembali menatap Rendy.

“Kamu selalu mengira keberhasilanmu datang karena semua orang membutuhkanmu.”

Ia menunjuk Maya.

“Padahal selama ini banyak pintu terbuka karena orang menghormati dia.”

Rendy terlihat hendak bicara.

Namun Maya sudah berbalik.

“Ma.”

Aurel menarik ujung bajunya.

Maya menunduk.

“Kalungnya bagaimana?”

Maya menatap benda kusut di tangan putrinya.

“Boleh Mama simpan?”

Aurel berpikir sebentar.

Kemudian mengangguk.

“Buat Mama saja.”

Maya tersenyum.

“Kenapa?”

Aurel memeluk pinggangnya.

“Karena Mama yang selalu pulang.”

Kalimat itu membuat Maya tidak mampu menahan air mata lagi.

Ia memeluk anaknya erat.

Di belakang mereka, Rendy berdiri diam.

Tidak ada kekuatan perusahaan.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada sekretaris yang bisa menyelamatkan harga dirinya.

Hanya dua anak yang kini mengetahui siapa ayah mereka sebenarnya dan dua perempuan yang baru menyadari bahwa selama bertahun-tahun mereka telah hidup di dalam kebohongan pria yang sama.

Tiga bulan kemudian, Maya mengajukan gugatan cerai.

Nadine menjadi salah satu saksi.

Mereka tidak pernah menjadi sahabat, tetapi tidak pula menjadi musuh.

Keduanya memahami satu hal.

Mereka sama-sama ditipu.

Siska dipecat setelah penyelidikan internal menemukan bahwa ia mengetahui kehidupan ganda Rendy dan membantu menyusun jadwal, perjalanan, serta alasan palsu untuk menutupi semuanya.

Rendy kehilangan jabatannya setelah dewan direksi menyatakan konflik kepentingan dan manipulasi dokumen perusahaan telah merusak kepercayaan investor.

Namun PT Surya Utama tidak runtuh.

Manajemen baru berhasil mendapatkan investor pengganti setahun kemudian.

Maya sendiri tidak pernah meminta satu kursi pun di perusahaan tersebut.

Ia memilih kembali membangun hidupnya.

Suatu sore, hampir dua tahun setelah malam di Menara Graha Utama, Maya sedang membereskan lemari ketika menemukan sebuah kotak kecil.

Di dalamnya ada kalung kertas buatan Aurel.

Glitternya sudah banyak yang lepas.

Warna kertasnya mulai pudar.

Salah satu maniknya hilang.

Aurel yang kini berusia sembilan tahun masuk ke kamar.

“Mama masih simpan?”

Maya tersenyum.

“Tentu.”

Aurel mengambil kalung itu lalu memasangkannya ke leher ibunya.

“Sekarang lebih cocok buat Mama.”

Maya tertawa kecil.

“Kenapa?”

Aurel memandangnya serius.

“Dulu aku kira hadiah itu harus dikasih ke orang yang paling kita sayang.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi sekarang aku tahu, hadiah juga harus diberikan ke orang yang tahu cara menjaganya.”

Maya terdiam.

Kemudian memeluk putrinya.

Kalung sederhana itu mungkin tidak pernah menghiasi leher seorang eksekutif di pesta mewah.

Tidak pernah dipamerkan di depan para investor.

Tidak pernah terlihat dalam foto perusahaan.

Namun bagi Maya, kalung itulah benda paling berharga yang tersisa dari malam ketika hidupnya hancur.

Karena malam itu ia kehilangan seorang suami.

Tetapi mendapatkan kembali harga dirinya.

Dan Aurel akhirnya belajar bahwa keluarga bukanlah tentang siapa yang paling pandai mengaku sebagai milik kita.

Melainkan siapa yang tetap memilih tinggal, menjaga, dan pulang ketika semua pesta telah berakhir.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang