Dan sejak saat itu, saya sadar bahwa selama dua bulan terakhir kami telah mencurigai orang yang salah.
Bu Ratih bukan sedang menyembunyikan sesuatu dari desa kami.
Dia sedang berusaha menyelamatkannya.
“Rumah saya?” suara saya nyaris tidak keluar.

Bu Ratih tidak menjawab. Matanya tertuju pada layar. Angka 61 berubah menjadi 64.
Alarm kembali berbunyi.
“Berapa lama kita punya waktu?” tanya saya.
“Tidak ada yang tahu.”
Pak Joko memukul meja dengan telapak tangannya.
“Anak saya masih di bawah sana!”
Bu Ratih menoleh cepat.
“Fajar berada di Tim Tiga. Jalurnya menuju akses utara. Kalau mereka mengikuti prosedur, mereka akan keluar dalam beberapa menit.”
“Kalau?”
Bu Ratih terdiam.
Satu kata itu membuat wajah Pak Joko pucat.
Saya mendekati peta.
“Tiga bulan lalu Ibu sudah tahu ada terowongan ini. Kenapa tidak melapor?”
“Saya melapor.”
Jawabannya membuat saya menoleh.
Bu Ratih membuka laci, mengambil map biru, lalu melemparkannya ke meja.
Ada salinan surat untuk dinas kabupaten, laporan geologi, permintaan pemeriksaan darurat, bahkan bukti penerimaan dokumen.
“Dua bulan saya menunggu,” katanya. “Jawabannya selalu sama. Perlu kajian tambahan.”
“Lalu para pemuda itu?”
“Saya membayar mereka untuk membantu tim teknis memetakan terowongan.”
Rudi menggeleng.
“Kenapa harus diam-diam?”
Bu Ratih menatap kami satu per satu.
“Karena kalau kabar tentang tanah yang berpotensi amblas tersebar sebelum kami tahu lokasi pastinya, harga tanah jatuh, orang panik, jalan dipenuhi warga yang mengungsi tanpa arah. Dan yang lebih buruk, orang bisa memasuki terowongan sendiri karena penasaran.”
“Jadi mereka disuruh merahasiakannya?”
“Mereka menandatangani perjanjian keselamatan. Bukan untuk melindungi saya. Untuk mencegah kepanikan sampai jalur evakuasi selesai.”
Saya ingin marah.
Sebagian diri saya tetap merasa Bu Ratih tidak berhak menentukan sendiri apa yang boleh diketahui warga.
Namun alarm di depan kami membuat perdebatan itu terasa tidak penting.
Angka menjadi 70.
Lalu radio berbunyi.
“Bu Ratih.”
Itu suara Fajar.
Napasnya terengah-engah.
“Tim Tiga berhenti. Lorong sektor tujuh runtuh sebagian.”
Pak Joko merebut radio.
“Jar, kamu tidak apa-apa?”
“Bapak?”
“Keluar sekarang!”
“Ada dua orang di belakang saya.”
Suara benturan terdengar.
Kemudian sambungan dipenuhi suara berderak.
“Fajar!”
Tidak ada jawaban.
Pak Joko berlari menuju pintu.
Saya menahannya.
“Mau ke mana?”
“Cari anak saya!”
“Anda bahkan tidak tahu pintu masuknya!”
“Saya tidak peduli!”
Bu Ratih berdiri di depan Pak Joko.
“Saya tahu jalurnya.”
Kami menatapnya.
Dia mengambil helm dan lampu kepala dari rak.
“Saya masuk.”
Petugas keamanan langsung melarang.
“Bu, terlalu berbahaya.”
“Fajar dan dua orang lainnya berada di jalur yang saya minta mereka periksa.”
Dia memasang helm.
“Kalau ada orang yang harus masuk, saya.”
Saat itulah saya melihat sesuatu yang tidak pernah saya lihat dari perempuan yang selama ini dikenal sebagai orang terkaya dan paling dingin di kecamatan kami.
Tangannya gemetar.
Saya mengambil helm lain.
“Saya ikut.”
“Pak Arman, Anda kepala desa.”
“Justru itu.”
Pak Joko mengambil helm ketiga.
“Saya juga.”
Bu Ratih hendak membantah, tetapi saya memotongnya.
“Kita buang waktu.”
Lima menit kemudian, kami sudah berada di belakang bangunan pengolahan apel tua di sisi utara perkebunan.
Di balik pintu baja terdapat tangga beton yang turun jauh ke dalam tanah.
Udara semakin dingin setiap langkah.
Bu Ratih berjalan paling depan.
Saya mengikuti.
Pak Joko di belakang saya.
Di dinding terpasang kabel, sensor, dan tanda arah baru. Tetapi di balik semua peralatan modern itu terlihat batu tua yang disusun puluhan tahun lalu.
“Tambang apa ini?” tanya saya.
“Mangan,” jawab Bu Ratih. “Diperkirakan dari akhir masa kolonial sampai awal tahun enam puluhan.”
“Kenapa tidak ada yang tahu?”
“Karena pintu-pintunya ditutup. Peta aslinya hilang.”
Kami terus berjalan sampai terdengar suara gemuruh.
Tanah bergetar.
Debu jatuh dari langit-langit.
“Cepat!” teriak Bu Ratih.
Kami mencapai persimpangan.
Dari sebelah kanan terdengar suara seseorang.
“Tolong!”
Pak Joko langsung mengenalinya.
“Fajar!”
Kami berlari.
Sekitar lima puluh meter kemudian, lorong tertutup tumpukan batu.
Cahaya lampu terlihat dari celah.
“Bapak!” suara Fajar terdengar.
Pak Joko berlutut dan mulai menarik batu dengan tangan.
“Saya di sini!”
“Jangan tarik yang besar!” teriak Bu Ratih. “Strukturnya belum stabil.”
“Ada Dimas sama Rangga!”
“Kalian terluka?”
“Rangga kakinya terjepit!”
Bu Ratih menghubungi tim penyelamat melalui radio.
Sementara menunggu, kami memindahkan batu kecil satu per satu.
Lima menit terasa seperti satu jam.
Akhirnya celah cukup besar untuk dilewati.
Fajar keluar lebih dulu.
Wajahnya penuh debu.
Pak Joko langsung memeluknya.
Saya belum pernah melihat lelaki itu menangis sebelumnya.
Namun Fajar segera melepaskan diri.
“Rangga masih di dalam.”
Tim penyelamat tiba membawa dongkrak hidrolik.
Dimas berhasil keluar.
Kemudian Rangga.
Kakinya terluka, tetapi dia masih sadar.
Saya pikir semuanya selesai.
Ternyata tidak.
Seorang teknisi menatap alat di tangannya.
“Bu Ratih, tekanan sektor tujuh terus naik.”
“Semua keluar.”
Kami bergerak kembali.
Di tengah perjalanan, saya merasakan tanah bergetar lebih kuat.
Lalu terdengar suara menggelegar dari arah selatan.
Lampu padam.
Beberapa orang berteriak.
Lampu darurat menyala merah.
Bu Ratih menatap peta kecil di tabletnya.
Wajahnya berubah.
“Ada runtuhan baru.”
“Di mana?”
Dia menatap saya.
“Jalan Melati.”
Darah saya seperti berhenti mengalir.
Rumah saya.
Istri saya, Sari, sedang berada di sana.
Dan ibu saya yang berusia tujuh puluh dua tahun sedang menginap malam itu.
Saya langsung berlari.
“Pak Arman!” teriak Bu Ratih.
Saya tidak berhenti.
Saya naik tangga dua anak tangga sekaligus.
Begitu keluar, saya mengambil ponsel.
Tidak ada sinyal.
Saya berlari menuju mobil.
Bu Ratih menyusul.
“Kita lewat jalan perkebunan. Lebih cepat.”
SUV melaju menembus jalan kecil.
Dari kejauhan terdengar sirene.
Bu Ratih rupanya sudah memerintahkan petugas menghubungi polisi, pemadam, dan BPBD.
Saat kami mendekati Jalan Melati, warga sudah keluar rumah.
Saya membuka pintu mobil sebelum kendaraan berhenti sempurna.
“Sari!”
Istri saya berdiri di seberang jalan.
Saya hampir jatuh karena lega.
Dia berlari memeluk saya.
“Ibu?”
“Di sini.”
Ibu saya duduk bersama tetangga.
Belum sempat saya mengatakan apa pun, terdengar suara retakan.
Semua orang diam.
Aspal di depan rumah saya membentuk garis panjang.
“Menjauh!” teriak saya.
Warga mundur.
Beberapa detik kemudian, sebagian halaman rumah saya turun hampir setengah meter.
Orang-orang menjerit.
Tiang pagar miring.
Tanah terus bergerak.
Kalau kejadian itu berlangsung tengah malam ketika semua orang tidur, saya tidak tahu berapa banyak yang akan terkubur.
Kami mengevakuasi seluruh Jalan Melati malam itu.
Menjelang pukul tiga pagi, lebih dari seratus warga berkumpul di aula sekolah.
Barulah rahasia itu dibuka sepenuhnya.
Bu Ratih berdiri di depan warga.
Tidak ada lagi perjanjian diam-diam.
Tidak ada lagi pintu terkunci.
Dia menjelaskan semuanya.
Tentang tambang lama.
Tentang sensor.
Tentang para pemuda.
Tentang pemetaan malam hari karena getaran kendaraan dan aktivitas warga jauh lebih rendah sehingga pengukuran lebih akurat.
Kemudian seorang ibu berdiri.
“Kalau memang mau menolong, kenapa kami tidak diberi tahu?”
Ruangan menjadi hening.
Bu Ratih tidak membela diri.
“Itu kesalahan saya.”
Saya menatapnya.
Dia melanjutkan.
“Saya terlalu takut kepanikan terjadi sebelum kami punya jawaban. Saya pikir selama saya membayar tim, memasang sensor, dan menyiapkan evakuasi, saya bisa mengendalikan keadaan.”
Dia menarik napas.
“Ternyata melindungi orang tanpa memberi mereka hak untuk memahami bahaya juga bukan keputusan yang benar.”
Untuk pertama kalinya malam itu, saya memahami bahwa orang bisa memiliki niat baik dan tetap membuat keputusan yang salah.
Keesokan paginya, tim geologi dari provinsi datang.
Dalam seminggu, tiga puluh tujuh rumah dikosongkan sementara.
Beberapa bagian jalan ditutup.
Penyelidikan dimulai.
Tetapi kejutan terbesar datang dua minggu kemudian.
Seorang ahli membawa dokumen lama yang ditemukan di arsip Surabaya.
Peta tambang asli.
Kami membentangkannya di kantor desa.
Saya, Bu Ratih, Fajar, dan beberapa petugas berdiri mengelilinginya.
Terowongan ternyata jauh lebih luas daripada perkiraan kami.
Salah satu jalurnya melewati perkebunan Bu Ratih.
Ahli itu menunjuk sebuah area.
“Bagian ini paling berbahaya.”
Saya melihat lokasinya.
Tepat di bawah rumah utama Bu Ratih.
Saya menoleh kepadanya.
“Ibu sudah tahu?”
Dia tidak menjawab.
Fajar justru membuka tas dan mengeluarkan laporan lama.
“Pak Arman harus lihat ini.”
Tanggal laporan itu dua bulan lalu.
Di sana tertulis jelas bahwa fondasi rumah Bu Ratih berada di zona kritis.
Saya merasa marah lagi.
“Kenapa rumah Anda tidak dikosongkan?”
Bu Ratih menatap perkebunan melalui jendela.
“Kalau saya pergi lebih dulu, para pekerja akan tahu ada sesuatu yang serius. Berita menyebar. Saya pikir saya masih punya waktu.”
“Jadi setiap malam Anda tidur di atas zona paling berbahaya?”
Dia tersenyum tipis.
“Tidak setiap malam.”
Saya teringat SUV hitam yang selalu keluar pukul delapan.
“Lalu Ibu pergi ke mana?”
Fajar menjawab sebelum Bu Ratih sempat menghentikannya.
“Mengantar tim.”
Saya menatapnya.
“Bu Ratih sendiri yang mengantar?”
Fajar mengangguk.
“Dia hafal semua akses. Kadang dia menunggu sampai kami selesai.”
Tiba-tiba semua cerita yang beredar selama dua bulan terasa memalukan.
Perempuan kaya memanggil pemuda setiap malam.
Mobil keluar masuk perkebunan.
Pekerjaan rahasia.
Uang tutup mulut.
Kami telah mengambil potongan-potongan fakta dan menyusunnya menjadi cerita paling buruk karena itulah cerita yang paling menarik.
Tiga bulan kemudian, perbaikan besar dimulai.
Sebagian terowongan diperkuat.
Sebagian diisi material khusus.
Keluarga yang rumahnya tidak aman direlokasi sementara.
Bu Ratih membayar sebagian besar biaya yang tidak ditanggung pemerintah.
Rumah besarnya sendiri akhirnya dikosongkan.
Suatu sore saya menemukannya berdiri di depan bangunan itu.
Para pekerja sedang memasang pagar pengaman.
“Sayang?” tanya saya.
“Rumah bisa dibangun lagi.”
Dia menatap saya.
“Kepercayaan lebih sulit.”
Saya tahu dia tidak hanya bicara tentang kepercayaan warga kepadanya.
Saya juga memikirkan kepercayaan kami kepada para pemuda yang selama berminggu-minggu kami curigai.
Bayu ternyata operator sensor.
Dimas belajar pertolongan pertama.
Fajar menjadi koordinator tim termuda.
Mereka bukan korban rahasia Bu Ratih.
Mereka adalah orang-orang yang diam-diam menjaga desa ketika kami sedang tidur.
Setahun kemudian, sebuah bangunan kecil didirikan di dekat balai desa.
Bukan monumen untuk Bu Ratih.
Dia menolak.
Bangunan itu menjadi pusat pemantauan tanah yang dikelola bersama warga.
Di dindingnya dipasang peta terowongan lama.
Di bawah peta terdapat sebuah kalimat sederhana.
Ketakutan tumbuh paling cepat di tempat yang tidak memiliki penjelasan.
Saya sering berhenti membaca kalimat itu.
Karena setiap kali melihatnya, saya teringat malam ketika kami mendobrak pintu besi dengan keyakinan bahwa kami akan menemukan kejahatan.
Padahal yang kami temukan adalah helm, radio, peta, dan puluhan nama anak muda yang sedang mempertaruhkan keselamatan mereka untuk desa.
Namun ada satu hal yang baru saya ketahui jauh setelah semuanya berakhir.
Fajar datang ke kantor membawa sebuah amplop tua.
“Ini ditemukan waktu terowongan dibersihkan.”
Di dalamnya ada foto hitam putih beberapa pekerja tambang.
Di belakang foto tertulis tahun 1962.
Salah seorang lelaki di foto memiliki nama yang membuat saya membacanya dua kali.
Pranoto.
Ayah Bu Ratih.
Fajar lalu menyerahkan selembar catatan.
Ayah Bu Ratih ternyata pernah bekerja di tambang itu.
Dalam kecelakaan tahun 1963, sebelas pekerja terkubur.
Hanya tiga yang berhasil keluar.
Salah satunya ayah Bu Ratih.
Sebelum meninggal puluhan tahun kemudian, lelaki itu meninggalkan pesan kepada putrinya bahwa suatu hari tanah Sumberrejo mungkin akan menagih utang masa lalu.
Saat saya menunjukkan catatan itu kepada Bu Ratih, dia lama tidak berbicara.
“Jadi ini alasan sebenarnya Ibu membeli perkebunan itu?”
Matanya berkaca-kaca.
Dia mengangguk.
“Saya tidak membeli perkebunan karena tanahnya subur, Pak Arman.”
“Lalu?”
Dia memandang ke arah desa.
“Saya membeli tanah itu karena ayah saya pernah bilang, kalau suatu hari saya punya cukup uang, jangan bangun rumah besar untuk membuktikan bahwa keluarga kami berhasil.”
Bu Ratih berhenti sejenak.
“Gunakan uang itu supaya tidak ada keluarga lain yang menunggu seseorang pulang dari bawah tanah.”
Saat itulah saya akhirnya memahami semuanya.
Rahasia terbesar di perkebunan Bu Ratih ternyata bukan apa yang tersembunyi di ruangan terkunci.
Bukan pula terowongan yang terkubur puluhan tahun di bawah rumah kami.
Rahasia terbesar adalah alasan mengapa seorang perempuan yang memiliki cukup uang untuk tinggal di mana saja memilih tetap tinggal tepat di atas tempat yang paling ditakutinya.
Dan sejak malam itu, setiap kali seseorang datang kepada saya membawa kabar yang belum jelas, saya tidak lagi bertanya apakah ceritanya terdengar menakutkan.
Saya bertanya satu hal yang jauh lebih penting.
Apa yang sebenarnya belum kita ketahui?
