Namaku Laras Anindita, dan dua belas tahun lalu, ketika aku masih siswi SMA yang terlalu takut menunjukkan tulisanku kepada siapa pun, Wira Pradana adalah orang pertama yang mengatakan bahwa kata-kataku layak dibaca.
Aku menatap pria tua di depanku seolah Jakarta mendadak kehilangan seluruh suaranya.
“Bapak… Wira Pradana yang dulu mengelola rubrik cerpen Suara Kota?”
Wajahnya sedikit terangkat.
Untuk pertama kalinya sejak kami bicara, ekspresinya berubah.
“Kamu tahu Suara Kota?”
Dadaku sesak.

“Tahun 2014 saya pernah mengirim cerpen ke sana. Judulnya Rumah dengan Jendela Biru.”
Tangannya yang menggenggam tongkat mendadak kaku.
“Laras?”
Aku tidak mampu menjawab selama beberapa detik.
Dia masih mengingat namaku.
“Bapak ingat?”
Wira tersenyum tipis.
“Cerita tentang anak perempuan yang setiap malam menyalakan lampu teras untuk ayahnya yang tidak pernah pulang.”
Air mataku langsung menggenang.
Dua belas tahun.
Ribuan naskah pasti pernah melewati mejanya.
Namun dia masih mengingat ceritaku.
Saat itu aku berumur tujuh belas tahun. Cerpen tersebut ditolak untuk dimuat karena dianggap terlalu panjang. Tetapi beberapa minggu kemudian, sebuah amplop datang ke rumahku.
Di dalamnya ada naskahku dan satu lembar surat.
Wira Pradana menulis bahwa penolakan bukan berarti sebuah cerita tidak berharga. Ia memintaku terus menulis karena, menurutnya, aku memiliki sesuatu yang tidak bisa diajarkan di kelas mana pun: kemampuan membuat orang merasakan kehilangan yang bukan milik mereka.
Surat itulah yang kusimpan sampai hari ini.
Surat itulah yang membuatku memilih menjadi penulis.
Dan sekarang orang yang menulisnya berdiri di depanku dengan pakaian lusuh, tongkat putih, dan kaleng bekas biskuit berisi recehan.
“Apa yang terjadi pada Bapak?”
Belum sempat Wira menjawab, Rudi meraih lengannya.
“Sudah cukup. Kita pulang.”
Aku menahan tangannya.
“Jangan sentuh beliau.”
Rudi menepis tanganku.
“Kamu pikir karena pernah kenal dia, kamu tahu semuanya?”
Aldi tiba-tiba berseru, “Kakek bukan pengemis!”
Semua orang terdiam.
Wira menundukkan kepala.
“Aldi.”
“Tapi benar, Kek!”
Anak itu terlihat hampir menangis.
“Kakek cuma disuruh duduk di sini.”
Aku menatap Rudi.
“Disuruh siapa?”
Aldi menunjuknya.
“Dia.”
Beberapa ponsel langsung terangkat lebih tinggi.
Rudi memaki pelan.
“Anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa.”
“Dia cucu saya,” kata Wira.
Kalimat itu membuat Rudi terdiam.
Wira kemudian meraba bahu Aldi dan menarik anak itu mendekat.
“Cukup. Kita pulang.”
“Tidak,” kataku.
Aku sendiri terkejut mendengar ketegasan suaraku.
“Kalau Bapak pergi sekarang, besok semuanya akan terjadi lagi.”
Wira tidak bergerak.
Aku menunjuk kaleng.
“Berapa banyak yang dia ambil setiap hari?”
Wira tetap diam.
Aldi yang menjawab.
“Semuanya.”
Rudi langsung maju, tetapi dua pria yang sejak tadi merekam berdiri menghalanginya.
“Santai, Pak,” kata salah satunya. “Banyak kamera di sini.”
Wajah Rudi pucat.
Akhirnya Wira duduk kembali.
Lalu perlahan, seperti membuka pintu yang sudah bertahun-tahun dikunci, dia mulai bercerita.
Enam tahun sebelumnya, penglihatannya mulai menghilang akibat penyakit mata yang tidak segera ditangani. Dalam waktu kurang dari dua tahun, dunia di sekelilingnya berubah menjadi bayangan, kemudian gelap sepenuhnya.
Pada saat yang hampir bersamaan, Suara Kota bangkrut.
Tabungannya habis untuk pengobatan istrinya yang terkena stroke. Setelah istrinya meninggal, Wira tinggal bersama putrinya, Mira, dan Aldi.
Lalu tiga tahun lalu Mira meninggal dalam kecelakaan.
Aldi baru berumur sebelas tahun.
Wira menjual rumah kecilnya untuk melunasi utang pengobatan dan biaya sekolah Aldi. Setelah uangnya menipis, mereka menyewa kamar sempit di Tanah Abang.
Di situlah Rudi muncul.
Dia mengaku bisa membantu Wira mendapatkan penghasilan.
Caranya sederhana.
Duduk beberapa jam di lokasi tertentu.
Membawa kaleng.
Memegang karton.
“Saya pikir daripada mencuri,” kata Wira pelan, “setidaknya saya masih bisa membawa Aldi sekolah.”
“Dan uangnya?” tanyaku.
Wira tersenyum pahit.
“Katanya untuk biaya tempat, keamanan, dan sewa kamar.”
Aldi mengepalkan tangan.
“Bohong. Kamar kami juga hampir ditendang pemiliknya bulan lalu.”
Rudi mulai mundur.
Seorang perempuan di kerumunan berkata, “Pak, jangan pergi dulu.”
Rudi berhenti.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Saya akan hubungi polisi.”
Wira langsung meraih tanganku.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Bukan cuma Rudi.”
Aku membeku.
“Ada orang lain?”
Wira mengangguk.
Dia kemudian mengatakan bahwa setiap pagi sebuah mobil membawa beberapa orang lanjut usia dan penyandang disabilitas ke titik berbeda di Jakarta. Sore hari mereka dijemput. Sebagian besar uang yang mereka dapatkan disetor.
Rudi hanyalah orang lapangan.
Kerumunan mendadak gaduh.
Rudi berbalik dan berlari.
Beberapa orang mencoba mengejarnya, tetapi aku tidak ikut.
Aku memilih tetap bersama Wira dan Aldi.
Hari itu video kejadian di Sabang tersebar lebih cepat daripada yang bisa kubayangkan.
Seseorang mengunggah rekaman saat Aldi mengatakan uang kakeknya diambil. Orang lain merekam pengakuan Wira.
Namun bagian yang paling banyak dibagikan justru karton yang kutulis.
Sore itu, kalimat tersebut muncul di ribuan unggahan.
HARI INI INDAH, TAPI SAYA TIDAK BISA MELIHATNYA.
Aku tidak menulis kata miskin.
Tidak menulis lapar.
Tidak meminta belas kasihan.
Aku hanya mengingatkan orang-orang tentang sesuatu yang mereka miliki tetapi terlalu sibuk untuk disadari.
Langit.
Cahaya.
Wajah orang yang mereka sayangi.
Kota yang masih bisa mereka lihat.
Tiga hari kemudian, polisi menghubungi Wira.
Rudi ditangkap.
Dari keterangannya, aparat menemukan jaringan yang mengeksploitasi belasan orang rentan di beberapa kawasan Jakarta.
Tetapi hidup tidak berubah seperti film.
Setelah kamera pergi, Wira tetap buta.
Aldi tetap harus sekolah.
Tagihan tetap datang.
Dan viral tidak otomatis berarti bahagia.
Aku mulai mengunjungi mereka setiap akhir pekan.
Suatu sore, aku menemukan Wira duduk dekat jendela kamar kontrakannya.
“Laras.”
“Iya, Pak?”
“Kamu masih menulis?”
Aku tertawa.
“Masih. Karena Bapak.”
“Jangan menyalahkan saya.”
Aku ikut tertawa.
Kemudian dia bertanya, “Kenapa kamu menulis kalimat itu?”
Aku berpikir sebentar.
“Karena tulisan lama Bapak hanya menjelaskan keadaan Bapak. Orang-orang sudah tahu Bapak buta. Tapi mereka tidak merasakan apa artinya.”
Wira mengangguk perlahan.
“Itulah menulis.”
Aku menatapnya.
“Bapak masih mengajar saya rupanya.”
“Penulis tidak menjelaskan rasa sakit,” katanya. “Penulis membuat orang lain menemukannya di dalam diri mereka sendiri.”
Kalimat itu menempel di kepalaku berhari-hari.
Seminggu kemudian, aku datang membawa laptop.
“Aku punya ide.”
Wira terlihat curiga.
“Biasanya ide penulis merepotkan.”
“Kita bikin kanal audio.”
“Untuk apa?”
“Bapak membaca cerita.”
Dia tertawa keras.
“Saya buta, Laras.”
“Bapak tidak perlu membaca dengan mata.”
Aku mengeluarkan beberapa rekaman lama Suara Kota yang berhasil kutemukan di internet.
Suara Wira terdengar dari laptop, membacakan cerpen para penulis muda dalam sebuah acara radio bertahun-tahun lalu.
Wira diam lama.
Tangannya perlahan menutupi mulut.
“Itu suara saya?”
“Iya.”
Aku lalu meletakkan alat perekam kecil di meja.
“Bapak punya sesuatu yang orang lain belum tentu punya.”
“Apa?”
“Suara yang membuat orang mau mendengar.”
Kami menamai kanal itu Cerita dalam Gelap.
Awalnya sederhana.
Setiap malam Minggu, aku datang membawa satu cerpen. Aku membacakannya kepada Wira beberapa kali, lalu dia menceritakannya kembali dengan gaya sendiri.
Aldi membantu merekam.
Episode pertama hanya didengar 312 orang.
Episode kedua 870.
Episode kelima menembus 20 ribu.
Tiga bulan kemudian, jumlah pendengarnya melewati setengah juta.
Orang-orang mengirim cerita.
Ada mahasiswa yang gagal kuliah.
Ibu yang kehilangan anak.
Ayah yang tidak pernah berani meminta maaf.
Pekerja yang merantau bertahun-tahun.
Wira mendengarkan semuanya.
Lalu suatu malam, sebuah surel masuk.
Pengirimnya sebuah penerbit besar di Jakarta.
Mereka menawarkan Wira program audio mingguan berbayar sekaligus kontrak buku.
Aku berlari ke rumahnya membawa kabar itu.
“Pak, kita berhasil!”
Namun Wira tidak tersenyum.
Dia justru menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
“Apa ini?”
“Buka.”
Di dalamnya ada kertas tua yang sudah menguning.
Aku langsung mengenalinya.
Rumah dengan Jendela Biru.
Cerpen pertamaku.
Di halaman terakhir terdapat tulisan tangan Wira.
Tetapi bukan surat yang dulu dikirim kepadaku.
Ini catatan lain.
Aku membacanya.
“Penulis ini masih sangat muda. Jangan dimuat sekarang. Kalau langsung diberi panggung, mungkin dia akan mengejar tepuk tangan. Kirim surat pribadi. Suruh dia terus menulis.”
Aku menatap Wira.
“Bapak sengaja menolak cerpen saya?”
Dia tersenyum.
“Aku editormu, Laras. Tugas editor bukan membuat penulis senang.”
“Tapi kenapa naskah ini masih ada?”
“Aku menyimpan beberapa tulisan yang menurutku suatu hari akan berarti.”
Dadaku terasa hangat.
Namun di bagian bawah ada satu kalimat lagi.
Tulisan tangan yang berbeda.
Aku membacanya perlahan.
“Pak Wira, kalau suatu hari Laras kembali, bilang bahwa ayahnya membaca cerita ini.”
Tanganku gemetar.
“Ayah saya?”
Wira menghela napas panjang.
Ayahku meninggalkan rumah ketika aku berumur sembilan tahun. Ibuku selalu mengatakan dia pergi dan tidak pernah peduli lagi.
Aku tumbuh dengan kemarahan itu.
“Bapak kenal ayah saya?”
“Dia bekerja sebagai petugas percetakan di Suara Kota.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Namanya Bagas Anindita?”
Wira mengangguk.
“Dia yang pertama membaca cerpenmu setelah aku.”
Air mataku jatuh.
“Kenapa dia tidak pulang?”
Wira terdiam lama.
“Karena saat itu dia sakit keras. Dia tidak ingin kamu melihatnya memburuk.”
Ternyata ayahku meninggal beberapa bulan setelah cerpen itu kukirim.
Sebelum meninggal, dia meminta Wira tidak memberitahuku sampai suatu hari aku datang sendiri mencari jawabannya.
“Ayahmu bilang,” lanjut Wira, “‘Kalau Laras benar-benar menjadi penulis, suatu hari dia pasti mencari asal cerita pertamanya.’”
Aku menangis sampai tidak mampu bicara.
Selama dua belas tahun, aku mengira surat Wira adalah alasan pertama aku menjadi penulis.
Ternyata ada seseorang lain yang diam-diam membaca ceritaku sebelum dunia mengenal namaku.
Ayahku.
Beberapa bulan kemudian, buku pertama Cerita dalam Gelap diterbitkan.
Di halaman pembuka, Wira memintaku menulis satu kalimat.
Aku berpikir lama.
Kemudian kutulis:
Kadang-kadang, orang yang mengubah hidup kita tidak datang untuk memberi sesuatu. Mereka hanya membuat kita melihat apa yang selama ini ada di depan mata.
Saat acara peluncuran buku, seorang wartawan bertanya kepada Wira tentang hari ketika kami bertemu di trotoar Sabang.
“Pak Wira, menurut Bapak, kalimat di karton itukah yang mengubah hidup Bapak?”
Wira tersenyum.
“Bukan.”
Ruangan hening.
“Lalu apa?”
Wira mengarahkan wajahnya ke tempat aku duduk.
“Yang mengubah hidup saya adalah seseorang berhenti.”
Aku menunduk, menahan air mata.
Karena akhirnya aku mengerti.
Hari itu ribuan orang melewati Wira.
Aku hanya kebetulan menjadi satu orang yang berhenti.
Dan mungkin dunia tidak selalu membutuhkan orang yang mampu melakukan sesuatu yang besar.
Kadang dunia hanya membutuhkan seseorang yang cukup peduli untuk tidak terus berjalan.
