Malam Takbiran, Suamiku Membawa Teman SMA-nya Yang Cantik Pulang Ke Rumah Mertua Untuk Makan Malam Bersama, Dia Mengupas Udang Dan Menyuapi Paha Ayam Untuk Suamiku Tepat Di Depan Mataku, Ibu Mertua Malah Tertawa Terbahak Memuji Dia Menantu Idaman, Saat Itulah Darahku Mendidih Dan Aku Putuskan Untuk Membalikkan Seluruh Meja Makan

Aku tidak membalik meja itu malam itu.

Aku melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk.

Aku berdiri perlahan sambil menopang pinggang. Kandunganku yang berusia dua puluh dua minggu terasa menegang, mungkin karena sejak tadi aku menahan marah. Bagas masih menatapku dengan wajah menantang. Tangannya bahkan belum lepas dari bahu Laras.

“Kamu mau ngapain lagi, hah?” bentaknya.

Aku memandang satu per satu wajah di meja makan itu. Bu Lastri terlihat kesal. Laras berdiri dengan mata sembap tetapi bibirnya menyimpan kemenangan kecil. Pak Harno tampak tidak nyaman. Mbak Wulan menunduk.

Lalu aku tersenyum.

“Enggak ngapa-ngapain. Aku cuma sadar kalian benar.”

Bagas mengernyit.

Aku mengambil piringku, lalu duduk kembali.

“Kalau aku orang luar, berarti mulai malam ini aku enggak perlu repot-repot bertingkah seperti anggota keluarga.”

“Kirana, jangan mulai lagi,” gerutu Bu Lastri.

Aku mengangguk.

“Enggak, Ma. Aku justru selesai.”

Aku makan dengan tenang.

Tidak ada yang tahu bahwa lima menit sebelumnya, satu keputusan besar sudah terbentuk di kepalaku.

Dan keputusan itu bukan soal Laras.

Masalah sebenarnya adalah aku baru menyadari betapa bodohnya aku selama tiga tahun terakhir.

Aku mengenal Bagas ketika kami bekerja di Jakarta. Saat menikah, karierku justru sedang naik. Aku menjadi account manager di sebuah agency digital, sementara Bagas bekerja sebagai sales supervisor di perusahaan distribusi.

Penghasilanku lebih besar darinya.

Tapi setelah aku hamil, Bagas terus membujukku berhenti.

Katanya perjalanan ke kantor melelahkan. Katanya bayi membutuhkan ibunya. Katanya penghasilannya sudah cukup.

Seminggu lalu aku akhirnya menandatangani surat resign.

Untungnya, surat itu belum efektif.

Hari terakhirku masih tiga minggu lagi.

Malam itu, ketika semua orang sibuk menenangkan Laras, aku diam-diam membuka WhatsApp di bawah meja.

Aku mengirim pesan kepada atasanku, Raka.

Mas, maaf ganggu malam Takbiran. Kalau surat resign saya belum diproses final, saya mau tarik kembali. Setelah Lebaran saya jelaskan semuanya.

Balasannya datang sebelas menit kemudian.

Belum final. HR baru proses setelah libur. Santai. Posisi kamu tetap aman.

Aku hampir tertawa.

Untuk pertama kalinya malam itu, dadaku terasa longgar.

Setelah makan, Laras sengaja membantu Bu Lastri membereskan meja. Bagas ikut membawa piring sambil bercanda dengannya.

Aku tidak membantu.

Aku duduk di ruang tamu bersama Mbak Wulan.

Bu Lastri akhirnya menyindir dari dapur.

“Yang hamil lima bulan malah duduk manis. Wulan hamil tujuh bulan masih bantu.”

Biasanya aku akan merasa bersalah.

Malam itu aku menjawab santai, “Kan ada Laras, Ma. Menantu idaman harus dikasih kesempatan menunjukkan kemampuan.”

Mbak Wulan hampir tersedak teh.

Dari dapur terdengar piring diletakkan agak keras.

Sekitar pukul sepuluh malam, Laras belum pulang.

Aku mulai curiga ketika mendengar Bagas berkata, “Udah malam. Kamu tidur sini aja, Ra.”

Aku menoleh.

Bu Lastri malah setuju.

“Iya. Kamar belakang kosong.”

Laras berpura-pura ragu.

“Nanti Mbak Kirana enggak nyaman.”

Semua mata mengarah kepadaku.

Aku tersenyum.

“Kenapa harus enggak nyaman? Katanya ini rumah Laras juga.”

Bagas terlihat bingung karena aku tidak bereaksi seperti yang dia harapkan.

Malam itu aku tidur di kamar tamu bersama Bagas.

Atau lebih tepatnya, aku berpura-pura tidur.

Sekitar pukul satu dini hari, ponsel Bagas yang diletakkan di meja bergetar.

Layar menyala.

Nama yang muncul hanya satu huruf.

L.

Aku tidak pernah membuka ponselnya selama menikah.

Malam itu aku melakukannya.

Kode sandinya masih tanggal lahirku.

Ironis.

Pesan pertama membuat ujung jariku dingin.

Aku senang akhirnya bisa Lebaran sama kamu lagi. Rasanya kayak dulu sebelum semuanya berantakan.

Pesan Bagas sebelumnya lebih buruk.

Sabar. Setelah anaknya lahir, semuanya lebih gampang dibicarakan.

Aku membaca percakapan mereka ke atas.

Ternyata Laras bukan kebetulan mudik sendirian.

Bagas yang memintanya datang.

Mereka sudah bertemu beberapa kali di Jakarta.

Kopi.

Makan siang.

Dua kali makan malam.

Belum ada bukti mereka tidur bersama. Tapi yang membuatku lebih takut justru percakapan mengenai uang.

Bagas menulis bahwa setelah aku berhenti bekerja, aku akan lebih mudah diajak pindah permanen ke Solo.

Dia ingin aku menjual apartemen kecil milikku di Jakarta.

Apartemen itu kubeli sebelum menikah.

Rencananya uang hasil penjualan akan dipakai sebagai modal usaha bersama Bagas dan Pak Harno.

Aku baru sadar mengapa selama tiga bulan terakhir Bu Lastri terus mengatakan membesarkan anak di Jakarta terlalu mahal.

Mereka bukan sedang memikirkan cucunya.

Mereka sedang menghitung asetku.

Aku memotret seluruh percakapan menggunakan ponselku.

Kemudian aku mengembalikan ponsel Bagas ke tempat semula.

Pagi Idulfitri, aku mengenakan gamis sederhana berwarna sage. Bagas bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Setelah salat Id, keluarga berkumpul di ruang tengah untuk sungkeman.

Laras masih ada.

Dia bahkan sudah berdandan.

Aku tidak mengatakan apa pun.

Dua hari berikutnya, aku memainkan peran istri bodoh dengan sempurna.

Ketika Bagas bertanya soal apartemen, aku menjawab, “Nanti kita bahas setelah pulang Jakarta.”

Ketika Bu Lastri berkata bayi lebih baik dibesarkan di Solo, aku mengangguk.

Ketika Laras sengaja mengunggah foto keluarga dan berdiri di sebelah Bagas, aku bahkan menawarkan diri memotret.

Mereka mulai merasa menang.

Pada hari ketiga Lebaran, Bagas mengajakku bicara di teras belakang.

“Kir, aku mau ngomong serius.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Papa punya rencana buka cabang toko bahan bangunan. Prospeknya bagus banget.”

Akhirnya.

“Terus?”

“Kalau apartemen kamu dijual, modalnya cukup. Nanti secara enggak langsung itu juga investasi buat masa depan anak kita.”

Aku sengaja terdiam.

Bagas meraih tanganku.

“Toh kamu sudah resign. Kita bisa pindah Solo. Mama bantu jaga bayi.”

Aku menarik tanganku perlahan.

“Apartemen itu dibeli sebelum kita menikah.”

Wajahnya berubah sedikit.

“Aku tahu. Tapi kita suami istri. Jangan hitung-hitungan begitu.”

Aku tersenyum.

“Kalau Laras?”

Dia membeku.

“Laras kenapa?”

“Dia ikut investasi juga?”

Bagas langsung berdiri.

“Kamu mulai lagi.”

Aku ikut berdiri.

“Enggak. Aku cuma tanya.”

“Kirana, Laras enggak ada hubungannya sama rumah tangga kita.”

“Bagus.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Lalu maksud pesan setelah anaknya lahir semuanya lebih gampang dibicarakan itu apa?”

Wajah Bagas seketika pucat.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat ketakutan sungguhan di matanya.

“Kamu buka HP aku?”

“Aku juga tahu kalian ketemu di Jakarta.”

“Kirana, dengerin dulu.”

“Dan aku tahu kamu sengaja ngajak dia ke rumah malam Takbiran.”

Bagas mencoba merebut ponselku.

Aku mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Suara kami membuat semua orang keluar.

Bu Lastri datang paling dulu.

“Ada apa lagi?”

Bagas diam.

Aku menatap ibu mertuaku.

“Bagas mau aku jual apartemen untuk modal usaha Papa.”

Pak Harno yang baru datang dari ruang depan mendadak berhenti.

“Apa?”

Aku menoleh kepadanya.

“Cabang toko bahan bangunan.”

Pak Harno mengerutkan kening.

“Cabang apa?”

Keheningan jatuh.

Aku melihat Bagas.

Bagas melihat ayahnya.

Saat itulah aku sadar bahkan cerita investasi itu bohong.

Pak Harno mendekati anaknya.

“Kamu ngomong apa ke Kirana?”

“Pa, sebenarnya aku punya rencana sendiri.”

“Rencana apa?”

Bagas tidak menjawab.

Aku membuka tangkapan layar lain.

Transfer.

Ada beberapa bukti transfer Bagas kepada Laras.

Jumlahnya tidak kecil.

Lima juta.

Delapan juta.

Dua belas juta.

Total hampir empat puluh juta rupiah dalam enam bulan.

“Laras,” panggilku.

Perempuan itu keluar dari kamar.

Wajahnya berubah ketika melihat ponsel di tanganku.

“Aku cuma mau tanya satu hal. Uang ini buat apa?”

Laras menatap Bagas.

Bagas menatap lantai.

Bu Lastri mengambil ponselku.

Tangannya mulai gemetar ketika melihat bukti transfer.

“Gas, ini uang dari mana?”

Bagas diam terlalu lama.

Kemudian Mbak Wulan berkata pelan dari belakang kami.

“Jangan-jangan uang Mama?”

Semua menoleh.

Mbak Wulan mengambil napas.

“Mama pernah cerita tabungan deposito buat renovasi toko berkurang hampir lima puluh juta. Waktu itu Bagas bilang Papa yang pindahin ke rekening lain.”

Wajah Pak Harno mengeras.

“Bagas.”

“Pa, aku bisa jelasin.”

“Uang itu kamu ambil?”

Bagas akhirnya kehilangan kendali.

“Aku pinjam!”

“Untuk apa?”

Tidak ada jawaban.

Laras mulai menangis.

“Aku enggak tahu itu uang orang tua Mas Bagas. Dia bilang itu uang dia sendiri.”

Aku menatap perempuan yang malam Takbiran lalu begitu percaya diri menyebutku orang luar.

Sekarang tangannya gemetar.

“Aku butuh uang untuk salon,” katanya terbata. “Mas Bagas bilang mau bantu aku buka cabang. Katanya nanti kalau Mbak Kirana jual apartemen, uangnya bisa diganti.”

Bu Lastri terduduk.

Seolah baru sekarang dia memahami seluruh gambarannya.

Anak laki-laki yang selama ini dibanggakannya ternyata berencana menggunakan aset istrinya untuk menutup uang orang tua yang diam-diam dia ambil demi perempuan lain.

Bagas mencoba mendekatiku.

“Kir, aku memang salah. Tapi aku enggak selingkuh. Aku cuma bantu Laras.”

Aku tertawa kecil.

“Bagas, perselingkuhan itu enggak selalu dimulai di tempat tidur.”

Dia terdiam.

“Kadang dimulai ketika seorang suami memberikan waktu, uang, perlindungan, dan penghormatan kepada perempuan lain, sementara istrinya sendiri dipermalukan di depan keluarganya.”

Bu Lastri mulai menangis.

“Kirana, Mama enggak tahu.”

Aku menatapnya.

“Tapi Mama tahu saya dipermalukan malam itu.”

Dia tidak bisa menjawab.

Aku masuk kamar dan menarik koper yang sudah kukemas sejak subuh.

Bagas mengejarku.

“Kamu mau ke mana?”

“Jakarta.”

“Kamu sudah resign.”

Aku berhenti di depan pintu.

“Nah, itu bagian terbaiknya.”

Aku menatap matanya.

“Aku batal resign.”

Wajahnya berubah.

“Mulai Senin aku kembali kerja.”

“Kirana, kita punya anak!”

Aku memegang perutku.

“Justru karena aku punya anak, aku harus berhenti membuat keputusan yang menjadikanku bergantung pada laki-laki yang tidak bisa menghormatiku.”

Bagas mencengkeram rambutnya frustrasi.

“Aku suami kamu!”

“Dan aku istrimu. Tapi malam Takbiran kemarin kamu sendiri yang bilang aku orang luar.”

Aku mengangkat koper.

“Jadi sekarang orang luar ini pulang ke rumahnya sendiri.”

Tiga bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi laki-laki sehat di Jakarta.

Bagas datang ke rumah sakit.

Kami belum resmi bercerai saat itu. Dia sudah meminta maaf berkali-kali, mengikuti konseling, dan mengembalikan uang orang tuanya dengan menjual mobilnya.

Laras menghilang dari hidupnya setelah salon yang dijanjikan tidak pernah terwujud.

Tapi aku tidak kembali hanya karena Bagas berubah.

Aku belajar bahwa penyesalan seseorang tidak otomatis menciptakan kewajiban bagi orang yang disakitinya untuk menerima kembali.

Setahun kemudian, perceraian kami resmi.

Bagas tetap boleh menemui anaknya. Aku tidak pernah menggunakan anak kami sebagai alat balas dendam.

Yang paling mengejutkan justru Bu Lastri.

Pada Lebaran berikutnya, sebuah paket tiba di apartemenku.

Isinya satu kotak udang matang yang sudah dikupas bersih.

Ada secarik kartu.

Kirana, Mama tidak meminta kamu kembali kepada Bagas. Mama cuma ingin minta maaf karena malam itu Mama ikut membuatmu merasa seperti orang asing di keluarga yang seharusnya melindungimu.

Aku membaca kartu itu dua kali.

Kemudian tertawa sambil menangis.

Malam Takbiran setahun sebelumnya, aku memang ingin membalikkan seluruh meja makan.

Untung aku tidak melakukannya.

Karena pada akhirnya aku membalik sesuatu yang jauh lebih besar.

Aku membalik hidupku sendiri.

Dan sejak malam itu aku mengerti satu hal.

Perempuan tidak selalu harus berteriak untuk memenangkan pertarungan.

Kadang dia hanya perlu berhenti meminta tempat di meja orang lain, lalu membangun mejanya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang