Malam Takbiran, Suamiku Membawa Teman SMA-nya Yang Cantik Pulang Ke Rumah Mertua Untuk Makan Malam Bersama, Dia Mengupas Udang Dan Menyuapi Paha Ayam Untuk Suamiku Tepat Di Depan Mataku, Ibu Mertua Malah Tertawa Terbahak Memuji Dia Menantu Idaman, Saat Itulah Darahku Mendidih Dan Aku Putuskan Untuk Membalikkan Seluruh Meja Makan

“Ini Mira?”

Aku tidak tahu bagaimana suaraku bisa terdengar setenang itu.

Raka berdiri di ambang pintu kamarku dengan wajah yang kehilangan warna. Ponselnya masih tergenggam, layar sudah gelap, tetapi satu nama tadi seolah masih menyala di antara kami.

Mira Anggraeni.

Perempuan yang dicintainya selama sebelas tahun.

Perempuan yang namanya memenuhi ribuan unggahan rahasia.

Perempuan yang baru saja mengirim pesan bahwa aku berhak mengetahui sesuatu tentang malam sebelum pernikahanku.

Raka menelan ludah.

“Iya.”

Satu kata.

Aneh sekali bagaimana satu kata bisa membuat enam bulan pernikahan terasa seperti furnitur pajangan di rumah contoh. Cantik, rapi, tetapi mungkin tidak pernah benar-benar dihuni.

Aku mengangguk pelan.

“Telepon dia.”

“Nadira.”

“Telepon dia.”

“Aku bisa jelaskan.”

“Bagus. Jelaskan setelah kamu meneleponnya.”

Raka menatapku lama. Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku melihat ketakutan di wajah laki-laki yang selalu terlihat mampu mengendalikan segala sesuatu.

Ia memencet nama Mira.

Panggilan tersambung setelah dering kedua.

“Rak?”

Suara perempuan terdengar dari speaker.

Tidak lembut seperti yang kubayangkan.

Tidak dramatis.

Justru lelah.

Raka menarik napas.

“Aku bersama Nadira.”

Sunyi beberapa detik.

Kemudian Mira berkata, “Bagus.”

Aku tertawa pendek tanpa humor.

“Bagus?”

“Nadira,” katanya hati-hati, “aku minta maaf karena menghubungi malam-malam.”

“Aku rasa sekarang bukan jam yang paling penting untuk dibahas.”

Raka memejamkan mata.

Mira mengembuskan napas.

“Aku ingin bertemu kalian besok.”

Aku langsung menjawab, “Tidak. Sekarang.”

“Nadira…”

“Kalau kamu bisa menyimpan sesuatu selama enam bulan pernikahanku, aku tidak mau menunggu semalam lagi.”

Mira terdiam.

Lalu berkata, “Aku di Menteng.”

Empat puluh menit kemudian kami duduk di sebuah kafe yang hampir tutup.

Jakarta baru saja diguyur hujan. Trotoar mengilap di balik kaca, lampu kendaraan memantul panjang seperti garis-garis neon.

Aku duduk berhadapan dengan Mira.

Dan hal pertama yang kupikirkan ketika melihatnya adalah betapa biasa dirinya.

Bukan dalam arti buruk.

Ia tidak tampak seperti perempuan misterius yang sanggup membuat internet nasional menggila.

Rambutnya sebahu. Kemeja biru muda. Wajah tanpa riasan berlebihan. Ada bekas kelelahan di bawah matanya.

Ia terlihat seperti seseorang yang mungkin duduk di sebelahmu di kereta dan tidak akan kauingat satu jam kemudian.

Namun Raka menatapnya berbeda.

Tidak mesra.

Tidak juga penuh cinta.

Lebih seperti seseorang melihat rumah lama yang pernah terbakar.

Mira meletakkan tasnya.

“Aku akan langsung bicara.”

Aku mengangguk.

“Sebaiknya.”

Ia menatap Raka sebentar, lalu kembali padaku.

“Malam sebelum pernikahan kalian, Raka datang ke apartemenku.”

Jantungku turun.

Tanganku di bawah meja mengepal.

Raka langsung berkata, “Nadira, dengar sampai selesai.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu menyela sekali lagi, aku pulang.”

Ia diam.

Mira melanjutkan.

“Dia datang karena aku menelepon.”

“Kenapa?”

Mira memandang meja.

“Karena aku bilang aku akan pergi dari Indonesia.”

Aku tersenyum tipis.

“Tentu saja.”

“Nadira, bukan begitu.”

“Lanjutkan.”

Mira mengangkat wajah.

“Aku mengenal Raka sejak SMA. Aku tahu perasaannya. Semua orang dekat kami tahu.”

“Termasuk kamu.”

“Iya.”

“Dan kamu membiarkannya mencintaimu sebelas tahun.”

Raka bergerak gelisah.

Namun Mira tidak membela diri.

“Iya.”

Jawaban jujur itu justru membuatku kehilangan kata-kata.

Mira tersenyum pahit.

“Aku tidak pernah mencintainya seperti dia mencintaiku.”

Aku menoleh ke Raka.

Ia menunduk.

Mira melanjutkan, “Kadang aku menyukai perhatian Raka. Kadang aku bergantung padanya. Ketika hubunganku gagal, aku meneleponnya. Ketika aku takut, aku mencarinya. Aku tahu dia akan datang.”

Aku merasa mual.

“Jadi dia cadanganmu.”

Mira menatapku dengan mata merah.

“Kurang lebih.”

Raka mengusap wajah.

“Mira.”

“Biarkan aku bicara.”

Untuk pertama kalinya, nada Mira meninggi.

“Aku sudah terlalu lama membuat semuanya kabur.”

Lalu ia kembali menatapku.

“Setahun lalu aku menikah.”

Aku membeku.

Raka tidak bergerak.

Mira membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pernikahan sederhana di Yogyakarta.

Ia berdiri di samping seorang laki-laki berkacamata.

“Akun Raka berhenti hari itu,” katanya.

Tiba-tiba unggahan terakhir itu terngiang di kepalaku.

Ada orang yang harus dicintai dengan cara melepaskannya.

Aku menatap Raka.

“Jadi setahun lalu dia menikah.”

Raka mengangguk.

“Dan enam bulan kemudian kamu menikah denganku.”

Tidak ada yang menjawab.

Aku tertawa.

Kali ini benar-benar tertawa sampai mataku panas.

“Hebat.”

“Nadira.”

“Jangan.”

Aku menatap Raka.

“Jangan sebut namaku seperti itu.”

Mira berkata pelan, “Malam sebelum pernikahanmu, aku menelepon Raka karena suamiku dan aku akan pindah ke Melbourne. Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum pergi.”

“Apa?”

Wajah Mira berubah.

“Bahwa aku hamil.”

Aku terdiam.

Tidak tahu kenapa informasi itu terasa seperti pukulan terakhir.

Mira melanjutkan, “Aku takut. Pernikahanku sedang bermasalah. Aku sempat berpikir aku membuat keputusan yang salah. Dan seperti orang bodoh, aku menelepon Raka lagi.”

Aku menatap suamiku.

“Dan kamu datang.”

“Iya,” jawab Raka.

“Jam berapa?”

“Sekitar sebelas malam.”

“Kamu pulang jam?”

“Dua.”

Aku ingat malam itu.

Aku berada di rumah orang tuaku. Besok pagi aku akan menikah.

Raka mengirim pesan pukul dua lewat tujuh menit.

Tidur ya. Besok pasti melelahkan.

Aku bahkan membalas dengan emoji hati.

Sekarang aku ingin muntah.

“Terus apa yang terjadi?”

Mira menjawab, “Aku meminta Raka membawa aku pergi.”

Aku menutup mata.

Hanya sebentar.

Ternyata ada rasa sakit yang begitu besar sampai tubuhmu otomatis berusaha mematikannya.

“Ke mana?”

“Ke mana saja.”

Mira menggigit bibir.

“Aku bilang aku akan membatalkan kepindahanku. Aku bilang mungkin selama ini aku salah.”

Raka akhirnya bicara.

“Dan aku menolaknya.”

Aku membuka mata.

Raka menatapku.

“Aku menolak.”

Mira mengangguk.

“Dia bilang besok dia menikah.”

Aku tertawa pahit.

“Wah. Terima kasih sudah mengingat jadwalmu.”

“Nadira, aku tahu bagaimana kedengarannya.”

“Tidak. Kamu tidak tahu.”

Aku berdiri.

Kursiku bergeser keras.

Beberapa pegawai kafe menoleh.

Aku mengambil tas.

Raka ikut berdiri.

“Nadira, aku mencintaimu.”

Kalimat itu seharusnya menenangkan.

Aneh sekali, justru membuatku marah.

“Kamu bahkan punya akun sebelas tahun untuk membuktikan bagaimana kamu mencintai seseorang. Tentang aku ada apa, Raka?”

Ia terdiam.

“Enam bulan pernikahan. Satu tahun hubungan. Tentang aku ada apa?”

“Nadira…”

“Tidak ada, kan?”

Aku berjalan keluar.

Hujan sudah berhenti.

Namun udara dingin Jakarta setelah hujan terasa menusuk.

Raka mengejarku sampai trotoar.

“Nadira.”

Aku berbalik.

“Aku butuh waktu.”

“Aku antar pulang.”

“Aku bisa pesan mobil.”

“Jangan pergi sendiri malam-malam.”

Aku hampir berteriak.

“Berhenti bertingkah seperti suami sempurna!”

Raka membeku.

Air mataku akhirnya jatuh.

“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?”

Ia tidak menjawab.

“Bukan bahwa kamu mencintai Mira sebelas tahun.”

Aku mengusap pipiku.

“Semua orang punya masa lalu.”

Aku menatapnya lurus.

“Yang menyakitkan adalah kamu menikah denganku ketika ceritamu dengan dia baru selesai enam bulan sebelumnya. Jadi sekarang aku bahkan tidak tahu apakah aku adalah pilihanmu atau cuma tempat mendarat setelah kamu terlalu lelah mengejarnya.”

Wajah Raka hancur.

Namun aku sudah masuk ke mobil.

Aku tinggal di rumah orang tuaku selama empat hari.

Media sosial makin gila.

Identitas Mira akhirnya bocor.

Warganet menemukan bahwa ia sudah menikah.

Lalu teori berubah.

“Berarti Raka menikahi Nadira setelah patah hati?”

“Nadira rebound dong?”

“Kasihan istrinya.”

Aku mematikan semua akun.

Ibu tidak banyak bertanya.

Ayah hanya berkata satu kali saat sarapan, “Jangan membuat keputusan besar saat kamu masih ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain.”

Aku menatapnya.

“Maksud Ayah?”

“Kalau mau pergi, pergi karena memang tidak bisa tinggal. Jangan pergi cuma supaya dia menyesal.”

Hari kelima, sekretaris Raka datang membawa sebuah kotak.

Bukan bunga.

Bukan perhiasan.

Kotak kardus biasa.

Di dalamnya ada belasan buku catatan.

Serta sebuah surat.

Nadira.

Aku tidak akan meminta kamu pulang.

Aku hanya ingin menjawab pertanyaanmu.

Tentang kamu ada apa?

Aku membuka buku pertama.

Tanggalnya sekitar sebelas bulan lalu.

Hari pertama hubungan pura-pura kami.

Nadira memesan kopi terlalu pahit lalu pura-pura menyukainya supaya tidak terlihat salah pilih. Lima menit kemudian dia menukar gelasku tanpa izin.

Halaman berikutnya.

Nadira tidur di mobil setelah tiga rapat dan masih sempat bilang sopir untuk makan siang dulu sebelum mengantarnya.

Aku membalik lebih cepat.

Tentang caraku tertawa.

Tentang kebiasaanku memeriksa apakah pintu sudah terkunci tiga kali.

Tentang hari ketika aku marah pada pekerja toko karena memperlakukan pegawainya buruk.

Tentang pertama kalinya aku menangis di depannya setelah proyek besar ayahku gagal.

Tentang aku yang suka membuang topping daun bawang diam-diam ke piringnya.

Sebelas buku.

Hampir setiap hari.

Tanganku gemetar.

Di buku terakhir, tanggal sehari sebelum pernikahan kami, ada tulisan paling panjang.

Mira menelepon malam ini.

Selama bertahun-tahun aku pikir jika suatu hari dia memilihku, semua penantian akan terasa masuk akal.

Ternyata tidak.

Ketika dia meminta aku pergi bersamanya, satu-satunya yang kupikirkan adalah Nadira.

Aku takut pulang terlalu malam dan besok dia melihat mataku lelah di altar.

Aku takut dia mengira aku ragu.

Yang lebih menakutkan adalah aku baru sadar aku tidak ragu sama sekali.

Aku memang pernah mencintai Mira sangat lama.

Tetapi malam ini aku memahami perbedaan antara menunggu seseorang dan memilih seseorang.

Besok aku memilih Nadira.

Aku menutup buku itu.

Menangis begitu keras sampai Ibu datang memelukku.

Malamnya aku kembali ke rumah.

Raka sedang duduk di lantai ruang keluarga dengan laptop terbuka.

Ia berdiri begitu melihatku.

Namun tidak bergerak mendekat.

Matanya merah.

“Aku baca semuanya,” kataku.

Raka mengangguk.

“Kenapa tidak pernah bilang?”

Ia tersenyum getir.

“Karena setelah akun itu viral, kalau aku menunjukkan buku-buku itu, rasanya seperti sedang membuat pembelaan.”

“Kamu memang harus membela diri.”

“Aku lebih takut memaksamu percaya.”

Aku terdiam.

Kemudian bertanya, “Kenapa akun tentang Mira publik, tetapi semua tentang aku kamu tulis tangan dan sembunyikan?”

Raka menatap buku di tanganku.

“Karena saat mencintai Mira, aku selalu ingin seseorang tahu.”

Ia menatapku.

“Tapi saat mencintaimu, aku tidak merasa perlu ada yang melihat.”

Dadaku sesak.

Raka mendekat satu langkah.

“Aku salah karena tidak menceritakan malam itu.”

“Sangat salah.”

“Iya.”

“Dan aku belum memaafkanmu.”

“Aku tahu.”

“Bisa lama.”

“Aku tahu.”

Aku mengangguk.

Kemudian berjalan melewatinya menuju kamarku.

Raka tidak menahan.

Namun sebelum menutup pintu, aku berkata, “Besok sarapan jam tujuh.”

Ia menoleh cepat.

“Bersama?”

“Jangan membuatku berubah pikiran.”

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia tertawa kecil.

Tiga minggu kemudian, akun @langitjamempat dibuka kembali.

Satu unggahan baru muncul.

Internet kembali gaduh.

Namun kali ini bukan tentang Mira.

Raka menulis satu kalimat.

Orang sering salah mengira cinta terbesar adalah cinta yang paling lama dipertahankan. Kadang cinta terbesar justru adalah seseorang yang membuatmu akhirnya berhenti menunggu.

Tidak ada nama.

Tetapi ribuan orang langsung menandai akunku.

Aku tidak membalas.

Aku hanya memotret Raka yang sedang menggoreng telur di dapur dengan celemek miring dan mengunggahnya ke akun pribadiku.

Caption-nya pendek.

Sebelas tahun menulis tentang orang lain.

Enam bulan menikah masih belum bisa bikin telur tanpa gosong.

Unggahan itu viral dalam dua jam.

Namun tidak ada yang tahu bahwa malam sebelumnya aku menemukan satu benda lain di dasar kotak buku.

Sebuah amplop yang tidak pernah diberikan kepadaku.

Di depannya tertulis tanggal pernikahan kami.

Aku membukanya diam-diam.

Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.

Jika suatu hari Nadira bertanya apakah aku menikahinya karena gagal mendapatkan Mira, semoga aku cukup berani mengatakan kebenaran.

Aku tidak menikahi Nadira karena gagal mendapatkan orang lain.

Aku menikahinya karena untuk pertama kalinya dalam hidup, aku bertemu seseorang yang membuatku tidak ingin menjadi laki-laki yang terus menoleh ke belakang.

Di bawahnya ada satu kalimat tambahan, ditulis lebih kecil.

Dan jika suatu hari aku membuatnya ragu tentang itu, berarti aku gagal menjaganya lebih buruk daripada aku gagal menjaga cinta pertamaku.

Aku menyimpan surat itu kembali.

Karena mungkin Raka benar.

Tidak semua cinta harus dibuktikan kepada dunia.

Sebagian cukup diketahui oleh dua orang yang memilih untuk tetap duduk di meja sarapan yang sama, bahkan setelah mengetahui semua alasan yang seharusnya membuat mereka pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang